Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 52. Pertengkaran yang Tidak Berarti.


__ADS_3

Tiba-tiba Arion menjadi khawatir karena takut terjadi sesuatu dengan Zeva, dan tidak berselang lama datanglah wanita itu ke dalam ruangan.


"Kau?"


Zeva terlonjak kaget saat melihat keberadaan Arion. "Astaga, bikin kaget saja." Dia mengusap dadanya yang berdebar keras.


"Kau dari mana saja?" tanya Arion dengan tajam.


"Aku, dari rooftop," jawab Zeva dengan santai, "ada apa? Apa kau sudah tidak marah denganku?"


Arion mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Marah? Memangnya sejak kapan aku marah padamu?"


"Kalau tidak marah, kenapa kau melakukan hal seperti itu?" Zeva jadi merasa bingung sekarang. "Kenapa tadi-"


"Arion."


Lagi-lagi ucapan Zeva terhenti karena kedatangan Siva, dia melirik ke arah wanita itu dengan sinis walaupun dia tidak berniat untuk kembali membuat keributan.


"Aku harus pulang sekarang, dan jangan lupa acara nanti malam, ya."


Cup.


Siva langsung mengecup pipi Arion membuat Zeva mengepalkan tangannya penuh emosi, dia lalu beranjak pergi dari tempat itu tanpa melihat ke arah Zeva sama sekali.


Arion langsung melirik ke arah Zeva yang tampak sangat murka dengan apa yang baru saja terjadi. "Dia tidak sengaja melakukannya, dan aku juga tidak mambalas itu kan?"


Zeva menghela napas kasar, dia lalu kembali duduk dikursi kerjanya tanpa berniat untuk menanggapi apa yang laki-laki itu katakan.


Setelah semua pekerjaan selesai, tepat pukul 6 sore Zeva mematikan laptopnya dan menyusun berkas-berkas yang ada di atas meja. Dia ingin segera pulang dan berendam air dingin agar hati dan juga pikirannya tidak panas membara.


"Apa kau sudah siap?"


Zeva membalikkan tubuhnya saat mendengar suara Arion, dia lalu menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan laki-laki itu.


Kemudian mereka berdua kembali pulang ke apartemen dengan kesunyian, karena sepanjang jalan Zeva terus diam sambil melihat ke arah jalanan dan enggam untuk bicara dengan Arion.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Zeva langsung bergegas untuk keluar dari mobil dengan membuka sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuhnya.


"Tunggu."


Zeva yang sudah membuka pintu mobil itu menghentikan kakinya yang akan segera turun untuk mendengar apa yang ingin laki-laki itu katakan.


"Malam ini aku ada acara dengan Siva, jadi-"

__ADS_1


"Jadi, kau akan meninggalkanku di apartemen sendirian?" Zeva menatap Arion dengan tajam membuat laki-laki itu langsung terdiam. "Sejak pagi aku terus berpikir mungkinkah aku membuat kesalahan padamu, sampai-sampai kau melakukan semua ini padaku? Jadi biar ku tanya, apa aku membuat kesalahan?"


Arion diam sambil menatap wajah Zeva yang saat ini sudah memerah, dia tau kalau wanita itu pasti sedang menahan marah dan juga sedih di saat bersamaan.


"Kau tidak mau mengatakannya?"


"Tidak. Memangnya apa yang aku aku katakan saat kau tidak membuat masalah?"


"Hah." Zeva tersenyum sinis membuat Arion menaikkan sebelah alisnya. "Lalu, kenapa kau seperti ini? Dari pagi kau terus saja berubah-ubah, seperti sengaja ingin membuatku marah atau apalah itu aku tidak tau." Dia sendiri tidak bisa menyebutkan apa yang salah dengan laki-laki itu, tetapi dia merasa kalau Arion sengaja melakukan semua itu.


"Sudahlah, lupakan saja. Kalau kau memang ingin pergi bersamanya, maka pergilah. Kau tidak perlu memikirkan aku." Zeva langsung berbalik dan beranjak keluar dari mobil itu, dia membanting pintunya sampai membuat Arion tersentak kaget.


Zeva terus berjalan dengan cepat sampai masuk ke dalam apartemen, dia kembali menutup pintunya dengan kasar karena emosi yang sedang meletup-letup.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia bertingkah seperti ini?" teriak Zeva membuat suaranya menggema di tempat itu. Dia lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa.


Arion yang masih berada di dalam mobil terdiam, dia sendiri bingung sebenarnya apa yang saat ini sedang dia lakukan. "Si*alan! Kenapa aku seperti ini sih?" Dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku harus membuatnya hancur dalam sekali serangan, dan bukannya seperti ini."


Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya membuat Arion langsung melihat ke arah samping.


Ternyata sejak tadi Gavin terus mengikuti mereka sampai ke apartemen, dia ingin mengatakan sesuatu pada Arion.


Arion langsung turun dari mobil saat melihat laki-laki itu, dan saat ini mereka sudah berdiri dengan saling berhadapan. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?"


"Apa?" Arion terkekeh mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan. "Apa kau sudah tidak waras?"


Gavin yang sudah sangat emosi langsung mencengkram kerah kemeja laki-laki itu dan membenturkan tubuh Arion ke dinding. "Aku bilang kembalikan Zeva padaku, atau aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal."


"Lakukan saja, apa kau pikir aku takut padamu?" Arion langsung menghampaskan kedua tangan Gavin sampai cengkraman laki-laki itu terlepas. "Seharusnya kau sadar diri, seorang laki-laki sepertimu tidak pantas untuk bersaing denganku!"


Rahang Gavin mengeras saat mendengar ucapan Arion, dengan cepat dia melayangkan pukulan ke arah laki-laki itu.


Arion yang tahu kalau Gavin akan memukulnya tentu langsung menghindar, dan memberikan serangan balasan yang langsung mengenai pipi sebelah kanannya. "Brengs*ek! Dia itu milikku, dan kau tidak berhak untuk bersamanya."


"Apa? Milikmu? Hahahaha, kau benar-benar sudah tidak waras. Pergi sekarang juga atau aku akan membunuhmu!" ucap Arion dengan penuh penekanan membuat tubuh Gavin bergetar.


"Lihat saja, Arion. Aku pasti akan membalasmu." Dia segera berbalik dan pergi dari tempat itu.


Arion tersenyum puas membuat wajah tidak berdaya Gavin, dan setelah ini dia juga akan melakukan sesuatu pada laki-laki itu. "Kau pikir aku akan diam saja, Gavin? Kau tunggu saja giliranmu." Dia lalu berjalan ke arah apartemen karena sudah tidak mood untuk menemui Siva.


Zeva yang saat itu masih duduk di atas sofa terkejut mendengar pintu terbuka, sontak dia langsung melihat ke arah pintu untuk memastikan siapa yang masuk ke dalam apartemen.


"Kau?" Dia menatap Arion dengan heran. "Bukannya kau mengatakan kalau akan menemui temanmu?" Dia beranjak dari sofa dan mendekati Arion yang sedang berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau juga ingin bertemu dengan mantan kekasihmu?"


Zeva mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Apa, apa maksudmu?"


"Sudahlah, semua itu tidak penting." Arion langsung berjalan cepat ke arah kamar karena malas berbicara dengan Zeva, sementara wanita itu juga melangkahkan kakinya untuk menyusul kepergiannya.


Brak.


Arion membuka pintu kamarnya dengan kasar, tentu saja dengan diikuti oleh Zeva yang benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Sebenarnya ada apa denganmu, Arion? Kenapa kau terus saja membuatku bingung?" teriak Zeva, suaranya menggema sampai memenuhi langit-langit kamar. "Sejak tadi kau bersikap aneh, bahkan sampai sekarang kau masih tidak berubah juga. Bisakah kau tidak bersikap seperti anak-anak?"


"Apa? Anak-anak kau bilang?" Mata Arion menatap tajam ke arah Zeva dengan tidak terima. "Lebih baik kau katakan semua itu pada mantan kekasihmu itu, atau bahkan masih menjadi kekasihmu."


Deg.


Sudah Zeva duga kalau Arion bersikap seperti ini karena ada alasannya, tetapi dia tidak menyangka kalau semua ini berhubungan dengan Gavin.


"Dengar, Arion. Aku sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya, aku bahkan tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengan laki-laki itu,"


"Ooh, benarkah?" Arion menatap Zeva dengan tidak percaya. "Kau tidak berhubungan lagi dengannya, tapi laki-laki itu masih sering mondar-mandir ke tempat ini."


"Apa?" Zeva terkejut saat mendengarnya, dia bahkan tidak tau tentang semua itu.


"Kenapa? Apa kau terkejut karena aku mengetahui semuanya?" tanya Arion.


Zeva menghela napas kasar dengan apa yang sedang terjadi saat ini. "Kita tidak perlu ribut hanya karena masalah ini, Arion. Aku bersumpah kalau aku tidak pernah bertemu atau pun berhubungan lagi dengan laki-laki itu." Dia menatap Arion dengan tajam seoalah-olah mengatakan kalau apa yang dia katakan adalah benar.


"Baiklah, terserah kau saja." Dia beranjak masuk ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan apa yang baru saja Zeva katakan.


"Sebenarnya apa yang sudah Gavin lakukan?" Zeva menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar. "Aku harus bertanya langsung padanya." Dia lalu keluar dari kamar untuk menelepon laki-laki itu.


"Brengs*ek!" Arion yang berada di dalam kamar mandi langsung meninju kaca yang ada di hadapannya sampai membuat tangannya terluka. "Aku terlalu lemah menghadapi wanita sepertinya, bagaimana mungkin hatiku menjadi luluh saat melihat wajahnya?" Dia merasa benar-benar emosi.


Tidak, dia tidak bisa terus seperti ini. Apapun yang terjadi, dia akan membalas apa yang sudah mereka lakukan


Sementara itu, Zeva yang berada di ruang tengah dibikin bertambah kesal karena Gavin tidak juga mengangkat panggilannya. "Tidak, aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus bertemu dengan Gavin saat ini juga."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2