Dipaksa Jodoh

Dipaksa Jodoh
Bab. 54. di luar Batas Normal.


__ADS_3

Brak.


Gavin langsung menghentikan apa yang sedang dia lakukan saat mendengar suara benturan yang sangat keras, sontak dia melihat ke arah pintu di mana dua orang lelaki sudah berdiri di sana.


"Siapa kalian?" Gavin langsung beranjak turun dari ranjang, sementara Zeva berusaha untuk melepaskan ikatan yang ada di tangannya.


"Cepat, kita harus segera melepaskan Nona."


Ternyata dua orang itu adalah anak buah Haris yang diperintahkan untuk mengikuti Zeva. Sebelumnya mereka menunggu di depan apartemen itu, tetapi setelah menunggu lama Zeva tidak juga keluar dari tempat itu dan malah ada wanita lain yang keluar.


Merasa ada sesuatu yang tidak beres, sontak mereka langsung menghubungi Haris dan mengatakan semuanya.


Haris yang merasa khawatir langsung memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam apartemen itu, dan di sinilah mereka sekarang.


Kedua orang itu langsung menyerang Gavin agar bisa melumpuhkannya, mereka harus segera melepaskan tali yang mengikat tangan Zeva.


Zeva sendiri tidak tinggal diam walaupun dia penasaran siapa kedua lelaki itu, yang paling penting saat ini adalah melepaskan diri.


Dia terus berusaha untuk melepaskan ikatan itu walaupun tangannya sudah merah dan lebam, bahkan dia tidak peduli jika tangan itu hancur yang penting dia bisa terlepas.


Usaha ternyata tidak mengkhianati hasil, tali yang mengikat tangan Zeva langsung terlepas saat dia menariknya dengan sangat kuat walaupun harus menahan rasa sakit yang teramat dalam.


Begitu tali itu terlepas, Zeva langsung beranjak bangun dengan memegangi kemejanya yang sudah tidak terbentuk lagi.


Brak.


Tubuh Gavin melayang ke arah lemari akibat tendangan dari mereka membuat laki-laki itu langsung pingsan seketika.


"Anda baik-baik saja, Nona?"


Zeva memundurkan tubuhnya kerasa merasa sangat takut, dia takut kalau kedua orang itu akan berniat jahat padanya.


"Jangan takut, Nona. Kami adalah anak buah tuan Arion dan juga tuan Haris,"


"Be-benarkah?"


"Benar, Nona."


Sebuah senyum langsung terbit di wajah Zeva saat mengetahui siapa mereka berdua, dia juga bernapas lega karena Arion ternyata masih sangat mengkhawatirkannya.


"Pakailah ini, Nona." Salah satu dari mereka memberikan jasnya pada Zeva agar bisa menutupi tubuh wanita itu.


Zeva langsung menerima dan juga memakai jas itu, setelahnya mereka semua pergi dari tempat itu menuju apartemen Arion.


Pada saat yang sama, Arion sedang ditemani oleh 5 orang wanita yang sudah tidak memakai sehelai benang pun ditubuh mereka. Tentu saja semua itu atas perintah darinya, padahal selama ini dia tidak pernah melakukam hal semacam ini.

__ADS_1


Haris yang ada di tempat itu sampai tidak bisa melakukan apapun lagi, dia bahkan sudah terkena pukulan laki-laki itu saat menghalangi semua ini.


"Tuan." Haris merasa benar-benar sedih. Rasa kecewanya terhadap Zeva semakin besar, bagaimana mungkin wanita itu bisa berbuat sekejam ini pada Arion? Bukan hanya sekali, bahkan sudah berkali-kali Zeva melakukannya.


"Kalau semua ini memang bisa membalas rasa sakit hati Anda, maka saya akan membiarkannya, Tuan. Dan saya akan memastikan kalau istri Anda melihat semua ini. Tapi, saya benar-benar tidak sanggup melihat Anda merusak diri Anda sendiri."


Bagi seorang wanita, mungkin wajar saja jika harus menjaga diri agar tidak tersentuh oleh laki-laki yang bukan suaminya. Namun, tidak bagi laki-laki. Banyak di antara mereka yang berlaku bebas karena tidak akan meninggalkan bekas, tetapi tidak untuk Arion.


Selama ini dia selalu menjaga dirinya sendiri agar tidak melewati batas, bahkan dia sampai tidak pernah berhubungan dengan wanita lain selain istrinya.


Namun, saat ini yang terjadi benar-benar diluat batas normal. Orang yang jatuh cinta mungkin akan melakukan segala macam cara diluar kebiasaan yang lainnya, tetapi orang yang putus cinta akan bertindak tidak normal yang mampu mengguncangkan semua orang.


Arion duduk di atas sofa dengan setengah sadar. Saat ini dia hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada, matanya bergerak ke sana kemari memperhatikan para wanita yang mencoba untuk menghiburnya, tetapi si*al dia malah melihat wajah Zeva di mana pun matanya memandang.


"Si*alan!"


Para wanita itu memekik kaget saat mendengar umpatan Arion, tetapi mereka tidak menghentikan aksi yang sedang mereka lakukan.


Salah satu dari wanita itu mulai naik ke atas tubuh Arion dan duduk dipangkuannya, sementara para wanita yang lain menggodanya dengan bergerak secara erotis serta menempelkan aset mereka ke tubuhnya.


"Si*al." Haris yang melihat semua itu merasa gerah sendiri, adik kecilnya sudah berdiri tegak meminta untuk dikeluarkan dari dalam sangkarnya.


"Tidak. Jika manusia paling sempurna seperti Tuan Arion saja bisa menahan diri, lalu butiran debu sepertiku kenapa tidak bisa?" Sekuat tenaga dia menahan hasratnya yang mulai naik lalu beranjak mendekati mereka.


"Ba-baik, Tuan." Kelima wanita itu mengangguk dengan patuh, sementara Arion tidak bereaksi apa-apa dan hanya terus menikmati minuman yang sudah disediakan.


Haris memutuskan untuk ke dapur sejenak, dia ingin menenangkan diri sekaligus menenangkan adik kecilnya yang terus memberontak.


Sebenarnya kelima wanita itu sudah benar-benar sangat berhasrat sekali, tetapi yang anehnya kenapa Arion sama sekali tidak menginginkan mereka. Bahkan tangan laki-laki itu saja tidak bergeming, padahal gundukan sintal mereka benar-benar sangat menggiurkan.


"Apa Tuan Arion itu impoten?"


Itulah yang sempat terbesit di dalam benak mereka semua, tetapi saat melihat tonjolan yang ada di balik celana Arion. Maka pemikiran itu langsung terpatahkan, karena mereka yakin sesuatu yang menonjol itu sangat besar dan panjang. Pasti akan terasa sangat nikmat sekali.


Brak.


Tiba-tiba pintu apartemen itu terbuka lebar membuat semua orang yang ada di dalamnya langsung menoleh ke arah tersebut.


Zeva berlari masuk ke dalam apartemen karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arion. "A-" Tubuh Zeva membeku seketika saat melihat pemandangan yang berhasil mengguncang jiwanya, bahkan jiwa itu terasa dicabut paksa dari tubuhnya saat ini.


Arion yang tidak sadar dengan keberadaan Zeva terus saja menikmati minumannya, sementara para wanita yang ada di tempat itu diam kaku.


Haris yang mendengar suara benturan keras langsung beranjak pergi dari dapur, tetapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Zeva yang berdiri tegak di depan pintu.


"Kenapa kalian diam? Cepat puaskan aku, aku ingin menikmati surga dunia sekarang."

__ADS_1


Tubuh Zeva bergetar hebat saat menyaksikan adegan panas yang terjadi di depan matanya. Wanita manapun pasti akan sangat syok dengan kejadian ini, apalagi pemeran utamanya adalah suami sendiri.


"Ya ya, benar. Seperti itu," racau Arion membuat darah Zeva kian mendidih.


"Arion!" Teriakan Zeva menggema di tempat itu membuat semua orang terlonjak kaget, begitu juga dengan Arion yang mendadak sadar dengan keadaan saat ini.


Mata Arion menatap tajam ke arah Zeva yang juga sedang menatapnya, dia lalu mengalihkan pandangan ke arah para wanita yang berada di sekeliling tubuhnya. Bahkan ada yang berada tepat dipangkuannya.


"Beraninya, beraninya kau melakukan semua ini, Arion!" teriak Zeva dengan wajah merah padam, bahkan air mata tampak keluar dari sudut matanya.


Arion tersenyum sinis dan beranjak bangun dari tempat itu, dia mendekati Zeva dengan sempoyongan karena menahan berat di kepalanya.


"Kenapa, kenapa kau melakukan ini, Arion?"


"Ssst, jangan berteriak, Zeva. Kau bisa membuat para wanitaku menjadi takut." Arion menempelkan jari telunjuknya ke bibir.


Zeva benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Arion lakukan saat ini, dia lalu mengalihkan pandangan ke arah para wanita itu dengan nyalang.


"Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat keluar dari sini sekarang juga!"


Semua orang langsung terlonjak kaget mendengar teriakan Zeva, apalagi saat ini wanita itu tampak benar-benar sangat menyeramkan.


"Tidak ada yang boleh pergi dari tempat ini tanpa perintahku!" ucap Arion dengan penuh penekanan membuat Zeva menatap dengan nanar.


Semua orang yang ada di ruangan itu membeku dengan keadaan ini, termasuk Haris yang sejak tadi memperhatikan penampilan Zeva.


"Apa yang terjadi padanya? Apa dia baru saja dilecehkan?" Haris terus memperhatikan seluruh tubuh Zeva dengan tajam.


"Arion, kau-" Zeva tidak bisa lagi mengeluarkan suaranya karena lidahnya terasa keluh. Seluruh tubuhnya bergetar dengan rasa sakit yang teramat menusuk hatinya.


Arion menatap Zeva dengan tajam, dan untuk beberapa saat mereka saling bertatapan dengan rasa sakit yang menghunjam dada masing-masing.


"Kenapa, kenapa kau melakukan semua ini, Arion? Kenapa?" Suara Zeva terdengar lirih, dan itu berhasil menggores hati Arion hingga kedua tangannya terkepal.


"Tentu saja aku melakukannya karena ingin, Zeva. Memangnya apalagi?" Arion menatap Zeva dengan sinis. "Tapi apa, ini?" Arion baru sadar dengan penampilan Zeva yang sangat berantakan.


"Wah, hebat sekali." Arion bertepuk tangan dengan meriah membuat suasana kian mencekam. "Kau benar-benar hebat, Zeva. Aku di sini menyewa beberapa ja*l*ang, dan kau? Kau sendiri pergi menemui kekasihmu sebagai seorang ja*l*ang!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2