
Keesokan harinya, Zeva terbangun saat ada sebuah tangan yang menindih perut dan dadanya membuat kedua matanya terbuka lebar.
Senyum tipis terlukis diwajahnya saat melihat sosok lelaki yang ada di depan matanya saat ini. Dia memperhatikan wajah tenang Arion yang masih terlelap, sungguh sebuah pemandangan yang tidak ingin dia lewatkan.
"Arion, bangun!" Zeva menggoyang lengan Arion yang sedang memeluk tubuhnya dengan erat.
"Hem." Arion hanya berdehem saja dan semakin menenggelamkan kepalanya di dada Zeva membuat wanita itu semakin tersenyum lebar.
"Baiklah, 10 menit lagi saja ya." Zeva mengusap puncak kepala Arion dengan lembut. Entah kenapa saat ini dia merasa sangat bahagiaò sekali, sampai-sampai tidak sadar kalau hubungannya dengan laki-laki itu seharusnya tidak seperti ini.
Tepat 10 menit kemudian, Arion mengerjapkan kedua matanya sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. "Selamat pagi, Zeva." Cup. Arion kembali mengecup kening Zeva membuat wajah wanita itu memerah. "Jam berapa ini?" Dia mencoba untuk mengambil ponsel yang ada di ujung ranjang.
"I-ini jam 10,"
"Ooh, jam sepu- apa?" Arion terlonjak kaget saat mendengar ucapan Zeva, sontak dia melompat dari ranjang dan bergegas untuk menelpon Haris.
"Haris, siapkan pakaianku dan juga Zeva!" perintahnya saat Haris sudah mengangkat teleponnya, kemudian dia mematikan panggilan itu dan kembali duduk di atas ranjang.
"Maaf karena aku bangun kesiangan," ucap Zeva, dia merasa bersalah karena bangun terlalu siang.
Arion mengalihkan pandangan ke arah Zeva. "Kenapa minta maaf? Kau pasti lelah karena persiapan pesta semalam, jadi wajar saja kalau kesiangan."
Zeva menganggukkan kepala, kemudian dia turun dari ranjang dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Arion sendiri keluar dari ruangan itu dan berjalan ke dekat jendela. Pantas matahari sudah bersinar terik, rupanya pagi sudah beranjak menuju siang.
Beberapa saat kemudian, Haris masuk ke dalam ruangan Arion dengan membawa pakaian untuk sang tuan dan juga istrinya. "Saya juga sudah menyiapkan sarapan, Tuan."
"Baiklah, terima kasih, Haris."
Hari mengangguk. "Sama-sama, Tuan. Kalau gitu saya permisi dulu." Dia segera keluar dari ruangan itu saat melihat anggukan kepala tuannya.
Arion kembali masuk ke ruang istirahat dengan membawa pakaian untuk Zeva, tampak wanita itu kembali memakai pakaian semalam.
__ADS_1
"Ini pakaian untukmu, pakailah!"
Zeva tersenyum melihat paper bag yang diberi oleh Arion. "Wah, terima kasih, Arion." Dia kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Setelah semua selesai, mereka langsung menikmati sarapan yang sudah sangat terlambat sekali.
Hari ini Arion akan bertemu dengan salah satu klien yang bekerja sama dalam proyek pembangunan hotel. mereka akan bertemu dilokasi pembangunan, yang berjarak sekitar 2 jam dari pusat kota.
"Aku akan pergi dengan Haris, jadi kau harus mengurus semua yang ada di sini."
Zeva menganggukkan kepalanya. "Kau tenang saja, aku pasti akan menyelesaikan pekerjaanku dengan baik."
Arion merasa senang, dia lalu beranjak pergi dari tempat itu bersama dengan Haris sebelum hari semakin siang.
Setelah kepergian Arion, Zeva kembali melanjutkan pekerjaannya. Ada banyak sekali laporan yang harus dia periksa, dan jangan sampai ada sedikit saja kesalahan yang terjadi.
Tok, tok. "Nona!"
Pekerjaan Zeva terhenti saat mendengar suara ketukan di depan pintu. "Ya, masuk."
"Tidak apa-apa. Jadi, apa yang ingin Anda katakan?" tanya Zeva kemudian.
"Maaf, Nona. Ada salah satu wanita yang mengaku sebagai teman tuan Arion, dan dia ingin bertemu dengan tuan."
Zeva memgernyitkan keningnya dengan bingung. "Teman?"
"Iya, Nona. Saat ini beliau sedang menunggu di lobi."
Zeva beranjak bangun dan keluar ruangan untuk menemui wanita itu, dia merasa penasaran dengan wanita yang mengaku sebagai teman suaminya.
Seorang wanita yang tinggi, putih dan langsing tampak duduk di atas sofa. Wanita itu memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan orang yang sangat dia rindukan.
Zeva menghentikan langkahnya untuk sejenak. Dia mengamati bentuk tubuh dan juga wajah wanita yang sangat cantik itu. "Apa yang aku pikirkan?" Dia menggelengkan kepala lalu melanjutkan langkahnya untuk mendekati wanita itu.
__ADS_1
"Permisi."
Wanita itu mendonggakkan kepala saat mendengar suara seseorang. "Ya?" Dia memandang dengan penuh tanda tanya.
"Apa Anda yang mencari suami saya?"
Wanita itu tampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. "Su-suami? Maksud Anda, Arion itu suami Anda?"
Zeva mengangguk. "Benar, Nona. Lalu, Anda ini-"
Zeva tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba wanita itu memeluk tubuhnya dengan erat, bahkan lidahnya terasa keluh untuk menanyakan apa maksud dari pelukan itu.
"Wah, aku tidak menyangka kalau ternyata Arion sudah menikah." Wanita itu melepaskan pelukannya dengan senyum lebar. "Tapi, kenapa dia jahat sekali sih? Bisa-bisanya menikah tapi tidak mengatakannya padaku."
Zeva hanya tersenyum saja untuk menanggapi ucapan wanita itu. "Siapa wanita ini? Bukannya dia tidak pernah dekat dengan wanita lain selain aku?" Dia mulai diliputi rasa bersalah dan juga marah.
"Em ... maaf, Nona. Apa benar Nona ini teman suami saya?" tanya Zeva, dia memilih untuk langsung bertanya karena sudah sangat penasaran.
"Benar, Nona. Kenalkan, nama saya Siva." Wanita bernama Siva itu mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Zeva.
"Saya Zeva." Zeva kemudian melepaskan jabatan tangan mereke. "Bagaimana kalau kita ke kafe yang ada di samping perusahaan ini saja? Rasanya kurang nyaman jika bicara di tempat ini."
Siva mengangguk dengan penuh semangat. "Oke, ayo kita pergi!" Dia memeluk lengan Zeva dengan erat dan membawa wanita itu kekuar dari tempat itu.
Zeva yang ditarik paksa tentu saja tersentak kaget, dia tidak menyangka kalau wanita itu akan memperlakukannya dengan dekat seperti ini.
Mereka hanya perlu berjalan kaki saja untuk sampai ke kafe yang dimaksud, karena lokasinya benar-benar dekat dengan perusahaan Arion.
"Kalau boleh tau, dari mana Anda dan Arion bisa saling kenal?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.