
"Zeva!"
Arion terbangun dari tidurnya saat bermimpi aneh tentang Zeva, dadanya bergerak naik turun dengan napas tersengal-sengal.
Brak.
"Tuan!" Haris berlari masuk ke dalam kamar dan langsung mengampiri Arion. Dia yang baru saja keluar dari kamar terlonjak kaget saat mendengar suara teriakan laki-laki.
"Minum dulu, Tuan." Haris memberikan segelas air yang langsung diminum sampai habis oleh Arion, dia lalu kembali meletakkan gelas kosong itu ke atas meja. "Anda baik-baik saja, Tuan?"
Arion langsung melihat ke arah Haris dengan tajam. "Tidak, aku sedang tidak baik-baik saja." Dia menggelengkan kepalanya dengan tangan meraba daerah dada yang berdenyut sakit. "Di mana Zeva?"
Deg.
Haris terdiam saat mendengar pertanyaan Arion, wajahnya mendadak jadi pucat seperti tidak teraliri oleh darah.
"Kenapa diam saja? Di mana-" Arion tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam kepala, yaitu di saat Zeva berteriak memanggil namanya.
Jantung Arion kembali berpacu cepat saat satu persatu kejadian tadi malam berlarian dalam kepalanya, tubuhnya bergetar hebat saat dia berhasil mengingat semua kejadian yang sudah terhadi.
"Tidak, aku harus mencarinya,"
"Tuan!"
Arion beranjak turun dari ranjang untuk mencari keberadaan Zeva. "Sssh." Baru dua langkah dia mendesis kesakitan sambil memegangi kepala membuat Haris langsung kembali membawanya ke ranjang.
"Lepaskan aku, Haris. Aku harus mencari Zeva,"
"Anak buah kita sedang mencarinya, Tuan. Jadi lebih baik-"
"Tidak. Harus aku sendiri yang mencarinya, aku yakin saat ini dia pasti menungguku." Arion mencoba untuk kembali bangun tetapi kepalanya terasa benar-benar seperti mau pecah.
"Saya akan memanggil Dokter, Tuan." Haris segera menelepon Dokter pribadi keluarga Lavaro dan mengatakan kondisi Arion saat ini.
"Aku harus mencari Zeva, Haris. Cepat bantu aku." Arion tetap berusaha untuk bangun dengan berpegangan pada sisi ranjang.
"Kita akan mencarinya setelah Anda diperiksa oleh Dokter, Tuan." Haris menahan tangan Arion yang sudah akan bangum dari ranjang.
"Tapi Haris, Zeva-"
"Berhenti menkhawatirkan tentang dia, Tuan!"
Tubuh Ation terlonjak kaget saat mendengar teriakan Haris, untuk pertama kalinya laki-laki itu berteriak padanya.
"Saya yakin kalau Nona pasti baik-baik saja, tapi Anda. Bagaimana mungkin Anda ingin mencarinya dalam kondisi seperti ini? Tolong pikirkan diri Anda dulu sebelum memikirkan orang lain!" teriak Haris lagi, dia benar-benar kesal melihat kekeras kepalaan Arion.
Arion langsung diam saat mendengar ucapan Haris, sementara Haris yang baru sadar dengan apa yang dia lakukan langsung menunduk lesu.
Arion melirik ke arah Haris yang sedang tertunduk di sampingnya, dia tau kalau saat ini laki-laki itu pasti menyesal karena sudah meneriakinya. "Kau benar, Haris. Aku harus dalam keadaan sehat jika ingin mencari Zeva, aku yakin kalau dia pasti berada di rumah temannya.
Haris langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Arion. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud-"
__ADS_1
"Aw, kepalaku sakit sekali, Haris,"
"A-apa Anda baik-baik saja, Tuan?" Haris langsung panik saat melihat Arion kesakitan seperti itu, sementara Arion langsung tersenyum lebar melihat wajah panik laki-laki itu.
Haris yang sadar sudah ditipu oleh Arion langsung bersungut-sungut marah. "Apa, ini? Apa aku sudah ditipu oleh seseorang?" Dia bsrsedekap dada sambil menatap Arion dengan tajam
"Tidak, aku tidak sedang menipu." Arion membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Sekarang bawa Dokter itu padaku, kepalaku benar-benar sakit."
"Ba-baik, Tuan." Haris langsung keluar dari kamar itu untuk menunggu kedatangan Dokter yang sudah dia telepon tadi.
"Hah." Arion memejamkan kedua matanya denga tangan di atas kepala, tiba-tiba air mata mengalir dari kedua sudut matanya. "Kau di mana, Zeva? Apa kau pulang ke rumah orang tuamu?" Dia mendessa frustasi dengan apa yang terjadi saat ini.
"Maafkan aku, harusnya aku tidak bersikap egois dengan melakukan semua itu. Aku menyesal, Zeva. Aku sangat menyesal."
Begitulah sifat manusia. Mereka diberi otak untuk berpikir dahulu sebelum melakukan sesuatu, tetapi akhirnya otak itu kalah dengan ego yang membuat semuanya hancur dan berakhir dengan penyesalan.
"Tuan, Dokter sudah datang." Haris dan seorang Dokter masuk ke dalam kamar Arion membuat laki-laki itu membuka kedua matanya.
"Ada apa, Tuan? Kenapa Anda bisa sampai sakit seperti ini?" Seorang laki-laki paruh baya bernama Abi duduk di kursi yang ada di samping ranjang itu, dia adalah Dokter pribadi keluarga Lavaro.
"Aku masih manusia, Paman. Jika robot pasti tidak akan sakit."
Laki-laki paruh baya itu terkekeh geli. "Ya ya ya, saya baru sadar kalau Anda ini adalah seorang manusia."
Arion menatap dengan sebal, tetapi dia tetap diam dan enggan untuk membalas ucapan laki-laki paruh baya itu yang tidak ada habisnya.
Abi lalu memeriksa kondisi seluruh tubuh Arion, dia juga mengambil sampel dari darah laki-laki itu agar bisa diperiksa lebih lanjut.
"Anda terlalu banyak minum alkohol, Tuan. Apa Anda tidak sadar kalau kondisi kesehatan Anda saat ini cukup mengkhawatirkan?"
"Selain infeksi lambung, ada satu hal yang selalu saya ingatkan, yaitu tentang minuman beralkohol. Saya sudah katakan sebelumnya, bahwa sel-sel baik dalam tubuh Anda langsung menyerang organ vital saat terkena alkohol. Itulah kelainan yang bisa merenggut nyawa Anda suatu saat nanti,"
"Apa?"
Semua orang terlonjak kaget saat mendengar teriakan seseorang, sontak mereka langsung melihat ke arah pintu di mana mama Audy dan papa Ben sedang berdiri di sana.
"Tuan, Nyonya." Haris langsung memundurkam tubuhnya, begitu juga dengan Dokter Abi yang beranjak bangun dari duduknya.
"Sayang!" Mama Audy langsung menghampiri Arion dan duduk di samping sang putra. "Apa yang terjadi, kenapa kau sampai seperti ini?" Dia merasa sangat sedih melihat kondisi sang putra seperti itu.
"Aku tidak apa-apa, Ma,"
"Oke, kau tunggu sebentar. Biar mama buatkan makanan yang sangat enak untukmu." Mama Audy beranjak bangun dan keluar dari kamat itu.
"Oh ya, di mana Zeva? Apa dia sedang pergi?" Mama Audy berhenti di depan pintu lalu kembali menoleh ke belakang.
"Ya, istriku sedang pergi,"
"Baiklah. Nanti kalau sudah kembali suruh ke dapur ya." Dia lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk ke dapur.
Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter Abi memberikan resep obat dan vitamin yang harus diminum. Dia lalu pamit untuk kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
"Saya permisi untuk menebus obat dulu, Tuan." Haris keluar dari kamar setelah mendapat anggukan dari mereka.
Kini tinggallah Arion dan Papa Ben di dalam ruangan itu. Untuk sesaat suasana menjadi hening, baik papa Ben dan Arion seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Ada masalah apa sampai-sampai kau ingin membunuh dirimu sendiri, Arion?" Akhirnya papa Ben angkat suara, padahal sejak tadi dia sedang menunggu agar putranya itu yang lebih dulu mengatakan padanya.
Arion menghela napas berat, dia lalu melihat sang papa dengan tajam karena ingin mengatakam sesuatu. "Istriku pergi." Itulah yang ingin dia ucapkan pada sang papa.
"Memangnya dia tidak akan kembali lagi?"
"Aku tidak tau."
Papa Ben duduk di depan Arion yang saat ini sedang bersandar di sandaran ranjang, terlihat jelas kalau saat ini putranya itu sedang dalam mode frustasi.
"Dengar, Arion. Selama papa membina rumah tangga bersama dengan mamamu, papa tidak bernah melakukan sesuatu hal yang romantis. Papa juga tidak pernah memberikan hadiah yang benar-benar dia sukai, tidak hanya itu. Papa bahkan tidak pernah berkata kalau papa sangat mencintainya." Papa Ben tersenyum dengan apa yang dia katakan.
"Tapi, apa kau tau kenapa papa tidak pernah melakukan semua itu?"
Arion menggelengkan kepalanya. Saat masih kecil, dia sering menghabiskan waktu bersama dengan papanya. Baik di rumah maupun di perusahaan, tetapi setelah dewasa. Dia sudah jarang sekali berbincang dengan sang papa, apalagi dengan segudang pekerjaan yang tidak ada habisnya.
"Papa memegang satu prinsip mengenai percintaan, Arion. Tapi yah, tidak tau apakah itu benar atau tidak."
Arion terkekeh mendengar ucapan papanya. "Apa papa berniat untuk mengajarkan cinta yang salah padaku?"
"Tentu saja, yang salah itu akan jauh lebih nikmat rasanyanya." Papa Ben mengedipkan sebelah matanya. "Jika kau tidak bisa memberikan kebahagiaan, setidaknya jangan sakiti dia."
Deg.
Arion terdiam saat mendengar ucapan papa nya, dia tau kalau saat ini sang papa sedang ingin membahas masalah yang sangat serius.
"Sepasang kekasih atau pun suamu istri, hanya terfokus bagaimana caranya membuat pasangan mereka bahagia. Mereka terus memberikan seisi dunia ini agar pasangan itu sangat bahagia, bahkan mereka akan terus melakukannya,"
"Tapi yang sesungguhnya dalam suatu ikatan adalah rasa sakit. Gara-gara nila setitik, maka rusak susu sebelanga. Kau pernah mendengar ungkapan itu bukan?"
Arion menganggukkan kepalanya membuat papa Ben tersenyum lebar. "Itu ungkapan yang sangat dalam maknanya. Di mana gara-gara satu kesalahan saja, maka semua kebaikan yang sudah dilakukan akan hilang seketika. Semua hadiah akan langsung sirna saat kita menorehkan luka pada mereka. Papa harap kau memahami apa yang papa katakan." Papa Ben menepuk bahu Arion.
"Fokuslah pada apa saja yang bisa menyakiti istrimu, dan cobalah untuk membuang rasa sakit itu dengan sejauh-jauhnya. Karena jika kau melakukan itu, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya."
Arion benar-benar merasa tertampar dengan apa yang papanya katakan, karena semua ucapan papa Ben itu sama dengan apa yang dia lakukan saat ini.
"Kau sudah dewasa, Arion. Tapi papa yakin kalau kau belum bisa memahami bagaimana sebenarnya dirimu ini. Jadi, sebelum kau mencoba untuk memahami orang lain, maka lakukan itu dulu dirimu sendiri. Dan jika kau merasa bersalah, maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah meminta maaf pada dirimu sendiri."
Tanpa sadar, air mata Arion terus keluar dari kedua matanya. Setiap kata yang papa Ben ucapkan benar-benar menampar hatinya. Bagaimana dia memberikan segala kebahagiaan pada Zeva, lalu seketika menghancurkan hidup wanita itu sampai tidak bersisa.
Mama Audy yang sejak tadi berdiri di depan pintu meneteskan air matanya, dia benar-benar terharu dengan apa yang suaminya ucapkan pada putra mereka.
"Aku tidak pernah menuntut apapun darimu, Sayang. Karena semua yang ada padamu, itu sudah lebih dari apa yang aku inginkan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.