
Zeva segera pergi untuk bertemu dengan Gavin, dia harus memberikan penegasan pada laki-laki itu agar tidak lagi menganggunya atau pun Arion. Dia tidak mau terjadi kesalah pahaman dalam rumah tangganya, dan menyebabkan keributan yang tidak berarti sama sekali.
Arion yang saat itu baru selesai membersihkan diri langsung keluar dari kamar mandi, tetapi dia tidak melihat keberadaan sang istri di dalam kamar itu. "Ke mana dia?" Dia segera bergegas memakai pakaiannya dan langsung mencari keberadaan Zeva.
Dia mencari ke semua sudut apartemen, tetapi tetap tidak menemukan wanita itu. Dia lalu sadar kalau Zeva pasti sedang pergi ke suatu tempat, dan tempat itu pastilah rumah Gavin.
"Lihat, kau langsung berlari menemui laki-laki itu padahal aku masih berada di tempat ini." Arion merasa benar-benar menjadi laki-laki yang paling bod*oh di dunia ini, bisa-bisanya dia terus mencintai wanita yang sama sekali tidak mencintainya.
Tidak mau menunggu apapun lagi, dia langsung saja menelepon Haris untuk segera menyuruh seseorang untuk menguti Zeva ke apartemen laki-laki itu.
"Memangnya ada apa, Tuan?" tanya Haris saat mendapat perintah dari Arion.
"Memangnya apa lagi, Haris. Pastikan kalau orang suruhanmu itu mengambil banyak foto mereka, dan pesankan beberapa wanita untuk menemaniku malam ini."
Haris yang ada disebrang telepon sangat terkejut saat mendengar perintah kedua Arion. "Tuan, apa Anda tidak salah?"
"Tentu saja tidak. Pesankan 5 wanita untukku, aku ingin berpesta malam ini."
Tut. Dia langsung mematikan panggilannya saat sudah memberi semua perintah pada Haris, setelah itu dia berjalan ke arah gudang yang ada di dapur untuk mengeluarkan semua minuman beralkohol yang dia punya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Zeva sudah sampai di kawasan apartemen Gavin. Dia segera turun dari taksi dan berlari masuk ke apartemen itu.
Setelah sampai di depan unit apartemen Gavin, Zeva langsung saja menekan password nya dan masuk ke dalam tempat itu.
Deg.
Jantung Zeva berdeta dengan sangat cepat saat menyaksikan apa yang sedang terjadi di dalam apartemen tersebut. Di mana Gavin sedang menikmati tubuh seorang wanita di atas sofa.
Zeva segera membalikkan tubuhnya karena tidak mau melihat pemandangan itu. Bukannya dia merasa marah, hanya saja dia tidak menyangka kalau Gavin akan melakukan hal seperti itu.
"Gavin!"
Gavin yang saat itu sedang asyik menggenjot tubuh seorang wanita terlonjak kaget saat mendengar suara panggilan seseorang, sontak dia langsung melepaskan kegiatan panas itu saat melihat Zeva ada di belakangnya.
"Ze-Zeva?" Dengan cepat Gavin menyambar pakaiannya yang sudah berserakan di atas lantai, begitu juga dengan wanita yang baru saja dia nikmati. Wanita itu berdecak kesal karena momen sakralnya diganggu oleh wanita lain.
"Ze-Zeva, kau di sini?" Gavin beranjak mendekati wanita itu, dia memegang lengan Zeva tetapi tangannya langsung di tepis dengan kuat.
"Jangan menyentuhku, Gavin!" ucap Zeva dengan penuh penekanan, dia tidak mau disentuh oleh laki-laki yang sudah berhubungan dengan wanita lain.
__ADS_1
Gavin terdiam melihat raut menjijikkan yang tampak diwajah wanita itu saat ini, dia lalu beralih ke arah seorang wanita yang masih ada di tempat itu. "Pergilah, aku akan mentransfer uangnya nanti." Dia mengusir wanita itu melalui ekor matanya membuat wanita itu langsung pergi dengan kesal.
"Aku tidak menyangka kalau kau seperti ini, Gavin," ucap Zeva dengan tidak percaya.
"Aku yakin kau datang ke sini bukan hanya untuk mengatakan hal seperti itu, Zeva. Jadi langsung saja, apa yang kau inginkan sehingga datang menemui laki-laki yang sudah kau buang layaknya sampah."
Ucapan Gavin benar-benar berhasil menampar hati Zeva, tetapi dia berusaha untuk tidak menanggapi semua itu. "Aku ingin mengatakan padamu untuk tidak lagi menggangguku dan juga Arion, Gavin. Sudah saatnya kau menerima semua ini, dan carilah kebahagiaanmu bersama dengan wanita lain."
Gavin tertawa saat mendengar ucapan Zeva. Sungguh mudah sekali wanita itu mengatakan semuanya, karena Zeva tidak merasakan apa yang saat ini sedang dia rasakan.
"Sekali lagi aku tegaskan padamu, Gavin. Jangan mengangguku, karna aku tidak mau terjadi kesalah pahaman dengan Arion,"
"Hah, kau benar-benar, Zeva. Bagaimana mungkin kau terus saja menghancurkan perasaanku seperti ini?" bentak Gavin, padahal selama ini dia sudah menahan diri untuk tidak menemui wanita itu dan hanya memperhatikan dari kejauhan saja.
"Aku minta maaf untuk semua itu, Gavin. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya saja mengganggu Arion," ucap Zeva dengan sangat tajam.
"Kau kira dengan minta maaf rasa sakit hatiku ini akan hilang, Zeva. Tidak, sampai kapan pun itu tidak akan pernah hilang." Gavin menatap dengan tajam seolah-olah menegaskan kalau sampai kapan pun dia akan tetap mengganggu mereka.
"Lalu aku harus bagaimana lagi, Gavin? Aku sudah minta maaf padamu, jadi sebaiknya kau tidak muncul lagi dalam hidupku atau pun rumah tanggaku." Zeva berbalik dan beranjak pergi dari sana, dia harus segera pulang sebelum Arion mencari keberadaannya.
Namun, saat akan mencapai pintu. Tangannya dicekal oleh Gavin membuat langkah Zeva terpaksa berhenti.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu, Zeva. Kau adalah milikku, dan aku tidak akan membiarkanmu bersama dengan laki-laki lain." Gavin menari tubuh Zeva membuat wanita itu langsung memberontak.
"Tidak. Lepaskan aku, Gavin. Lepaskan aku!" Zeva terus berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Gavin, tetapi tenaga laki-laki itu benar-benar sangat kuat.
"Seharusnya sejak dulu aku tidak menahan diri, Zeva. Seharusnya aku sudah menjadikanmu milikku, sehingga tidak ada lagi laki-laki lain yang mau menerimamu."
Deg.
Tubuh Zeva langsung bergetar saat mendengar ucapan Gavin, dia mengerti ke mana arah pembicaraan laki-laki itu saat ini. "Tidak, Gavin. Aku mohon lepaskan aku, lepaskan aku!"
Gavin menyeringai dan semakin menarik paksa tubuh Zeva, bahkan kini mereka sudah naik ke lantai 2. "Kau sendiri yang datang ke tempat ini, jadi jangan salahkan aku jika memaksamu untuk melayaniku."
"Apa? Tidak, lepaskan aku, Gavin. Lepaskan aku!" Zeva semakin memberontak dan menggigit tangan Gavin dengan kuat membuat cengkraman itu terlepas, dengan cepat dia berlari untuk menuruni anak tangga tetapi lagi-lagi tangan laki-laki itu mencekal tangannya.
Gavin langsung mengangkat tubuh Zeva dan membawanya masuk ke dalam kamar membuat wanita itu berteriak ketakutan, tetapi dia tidak peduli dengan semua itu.
"Lepaskan aku, Gavin. Aku mohon jangan lakukan itu, jangan mendekatiku!" Zeva yang sudah terhempas ke atas ranjang langsung memundurkan tubuhnya ke sudut, jangan sampai laki-laki itu menangkapnya atau akan terjadi sesuatu yang membuat rumah tangganya hancur.
__ADS_1
"Kau tidak bisa lagi lari ke manapun, Zeva. Malam ini kau adalah milikku." Gavin segera menangkap kaki Zeva dan menariknya dengan kuat membuat wanita itu telentang di atas ranjang, dengan cepat dia naik ke atas tubuh Zeva dan mengungkungnya.
"Aku mohon lepaskan aku, Gavin! Jangan lakukan semua ini." Zeva menangis dan terus memohin untuk dilepaskan, tangannya memukul-mukul dengan brutal membuat laki-laki itu langsung mengikatnya dengan tali pinggang.
"Kau benar-benar brengs*ek, Gavin!" teriak Zeva sambil berusaha untuk melepaskan ikatan yang ada di tangannya. Kakinya juga tidak mau diam dan terus menendang ke segala arah.
Gavij yang sudah tidak bisa mengendalikan diri langsung saja membuka paksa kemeja yang sedang dipakai oleh Zeva membuat kancingnya langsung putus berserakan.
Zeva semakin meraung-raung dengan apa yang Gavin lakukan, dia bahkan sampai memanggil Arion agar datang menyelamatkannya.
"Jangan menyebut laki-laki lain saat sedang bersamaku, Zeva. Atau aku tidak akan mengampunimu,"
"Aku mohon lepaskan aku, Gavin. Aku mohon," pinta Zeva dengan menghiba, tetapi laki-laki itu malah tersenyum miring sambil menatap ke arah tubuhnya yang saat ini sudah terbuka.
Gavin lalu beranjak turun dari ranjang untuk mengambil gunting, dia harus membuka seluruh pakaian wanita itu tanpa terkecuali.
Zeva yang melihat ada kesempatan langsung menggoyang-goyangkan tangannya dengan kuat, agar tali yang mengikatnya terlepas.
Gavin lalu berbalik dengan membawa gunting di tangannya membuat Zeva kian ketakutan, wanita itu lalu menggerakkan kedua kakinya dengan brutal membuat dia kewalahan.
"Diam atau aku akan bertindak kasar, Zeva,"
"Tidak, aku mohon jangan lakukan semua ini, Gavin. Aku mohon!" Zeva menggeleng-gelengkan kepalanya saat Gavin mulai menggunting bagian tengtop dan juga bh nya.
Mata Gavin membulat sempurna saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya, dengan cepat dia meremmas kedua gundukan sintal Zeva membuat wanita itu memekik kesakitan.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Gavin. Aargh!"
Gavin langsung saja melummat dan menghisap puncak gundukan sintal itu dengan rakus, dia tidak peduli dengan apa yang wanita itu katakan.
"Aah, kau benar-benar nikmat, Sayang. Kau- eeemmp." Gavin benar-benar menikmati tubuh Zeva yang sudah lama dia idam-idamkan, sampai tida sadar kalau saat ini ada dua orang lelaki yang sudah masuk ke dalam apartemennya dan bersiap untuk mendobrak pintu kamar itu.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1