
Jantung Zeva berdebar kencang saat mendengar ucapan Arion, sementara laki-laki itu semakin menatapnya dengan tajam seolah-olah bertanya apakah yang akan dia pilih di antara ucapan Arion tadi.
"Aku, aku-"
"Tidurlah, ini sudah malam." Ternyata Arion memilih untuk tidur sambil memeluk Zeva dengan erat. Lagi pula hubungan mereka tidak akan berjalan baik, jadi tidak perlu sampai terlalu jauh.
Zeva tersenyum dengan apa yang Arion lakukan, dia senang karena laki-laki itu tidak memaksanya untuk melakukan sesuatu yang belum siap untuk dia lakukan.
*
*
*
Keesokan harinya, Zeva bangun dengan tubuh yang sangat segar. Dia melirik ke arah Arion yang masih terlelap, wajah laki-laki itu tampak berkilau karena terkena sinar matahari.
"Selamat pagi, suamiku."
Cup.
Satu kecupan berhasil mendarat di kening Arion membuat laki-laki itu menggeliatkan tubuhnya, sementara Zeva sudah beranjak turun dari ranjang dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Wajah Zeva bersemu merah dengan apa yang baru saja dia lakukan, dan ternyata rasanya benar-benar membuat bahagia.
Tidak mau terlalu larut dalam kebahagiaan, dia bergegas untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dia segera membangunkan Arion yang ternyata masih juga tidur.
"Arion, bangun. Ini sudah siang." Zeva menggoyang-goyangkan tubuh Arion membuat laki-laki itu mengerjapkan kedua matanya.
"Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur.
"Sudah jam 7, hari ini kan ada rapat bulanan. Jadi kau harus segera bangun agat tidak terlambat."
Arion menganggukkan kepalanya, dia kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Zeva membuka lemari untuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh Arion. Dia lalu meletakkan pakaian itu ke atas ranjang, dan berlalu keluar untuk menyiapkan sarapan.
Arion yang baru saja keluar dari kamar mandi terpaku di depan pintu saat melihat pakaiannya sudah siap sedia. Tanpa sadar senyum tipis muncul dibibirnya dengan apa yang Zeva lakukan.
Setelah semuanya siap, mereka segera berangkat ke kantor. Semua orang langsung menyapa mereka begitu melihatnya, dan Zeva membalas semua sapaan itu dengan penuh semangat.
"Selamat pagi, Haris," sapanya saat baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi, Nona, Tuan."
Arion hanya menganggukkan kepalanya saja dan masuk ke dalam ruangan, tetapi sebelum itu dia berbalik dan melihat ke arah Zeva.
"Zeva, aku ingin kopi,"
__ADS_1
"Apa, kopi?"
Arion menganggukkan kepalanya membuat Zeva langsung membuatkan apa yang dia inginkan.
"Sepertinya dia sedang sangat bahagia, Tuan," ucap Haris tiba-tiba.
"Ya, sepertinya dia sangat bahagia." Arion tersenyum tipis lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Sepertinya bukan hanya dia saja yang bahagia, Tuan." Haris terus melihat ke arah ruangan Arion sampai mendengar derap langkah mendekat.
Zeva segera memberikan kopi itu pada Arion, setelahnya dia kembali mulai mengerjakan semua pekerjaan yang sudah menumpuk hari ini.
***
Tanpa terasa saat ini sudah waktunya untuk istirahat. Zeva merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, setelah itu dia masuk ke dalam ruangan Arion.
"Arion, ayo kita makan!"
Arion yang sedang fokus pada laptop langsung mendongakkan kepalanya. "Baiklah, tunggu sebentar ya." Dia langsung menutup pekerjaannya dan beranjak pergi bersama dengan Zeva.
"Apa yang ingin kau makan hari ini?" tanya Arion saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Em ... sebenarnya makan di sini juga udah enak sekali loh," ucap Zeva. Mereka tidak perlu repot-repot untuk keluar mencari makanan karena di perusahaan sendiri sudah tersedia.
"Tidak apa-apa, lagi pula suasananya bosan kalau di sana terus."
Zeva menganggukkan kepalanya, kemudian mereka memilih untuk makan di restoran seafood yang berada tidak jauh dari perusahaan.
"Arion!"
Arion dan Zeva langsung memalingkan wajah ke arah samping, dan tampaklah Siva sedang berjalan ke arah mereka.
Grep.
Mata Zeva membulat sempurna saat melihat apa yang wanita itu lakukan, pasalnya saat ini Siva sedang memeluk tubuh Arion.
"Apa yang kau lakukan?" Arion mendorong tubuh Siva membuat wanita itu hampir terhuyung ke belakang,
Zeva yang tadinya ingin mengeluarkan suaranya kini menatap Arion dengan puas, ternyata laki-laki itu langsung mendorong serangga yang main nempel saja di tubuh Arion.
"Arion, ini aku. Siva," ucap Siva.
"Iya aku tau, tapi enggak usah pake meluk segala," ketus Arion membuat senyum Zeva kian lebar.
"Iya iya. Tapi, bagaimana kabarmu? Apa aku boleh gabung bersama kalian?"
Arion langaung melirik ke arah Zeva seolah-olah sedang meminta pendapat tentang wanita itu.
__ADS_1
"Boleh saja, silahkan." Ternyata Zeva memperbolehkan Siva untuk bergabung dengan mereka.
"Wah ternyata sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu?"
Arion menganggukkan kepalanya. "Benar, dan kau masih saja sama."
Wanita bernama Siva itu tergelak. "Tentu saja. Aku masih sama, dan perasaanku padamu juga seperti itu."
Deg. Zeva sejak tadi diam langsung menatap Arion dengan tajam, dia merasa kaget dengan apa yang wanita itu ucapkan.
"Sudahlah, kau berisik sekali." Arion memilih untuk tidak menanggapi apa yang wanita itu katakan, tentu sikapnya itu membuat hati Zeva menjadi tenang.
Mereka lalu menikmati makanan itu dengan diam, sesekali Siva akan curi-curi pandang dengan Arion dan semua itu dilihat oleh Zeva.
"Tolong jaga pandangan Anda, Nona Siva," ucap Zeva dengan penuh penekanan membuat Arion langsung melihat ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Arion.
"Iya, memangnya ada apa? Apa aku melihat sesuatu yang salah?" tanya Siva dengan tidak mengerti.
"Benar, kau memang tidak salah. Tapi kau terus melihat ke arah seseorang yang sudah menjadi milik orang lain."
"Hahaha, istrimu ini sangat pintar. Aku memang sengaja terus melihat ke arah Arion karena merasa rindu dengan keadaan di kampus dulu. Kau tenang saja, aku tidak akan merebut dia darimu," ucap Siva dengan senyum lebar, tetapi ucapannya itu semakin membuat api yang ada dalam diri Zeva mulai bergejolak.
Setelah selesai makan, mereka kembali lagi ke kantor sementara Siva memaksa untuk ikut dengan mereka.
"Kita kan sudah lama tidak bertemu, Arion. Jadi aku ingin melihatmu bekerja,"
"Apa-apaan itu? Memangnya suamiku tidak punya pekerjaan lain, selain menuruti keinginanmu yang tidak masuk akal itu," ucap Zeva dengan kesal. Dia lalu menarik tangan Arion dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Ayo, kita pergi!"
Arion menganggukkan kepalanya lalu melajukan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu. Dia melirik ke arah Zeva yang sepertinya sedang benar-benar kesal, lalu senyum tipis tercetak dibibirnya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ada apa? Kenapa kau cemberut terus?" tanya Arion.
"Arion, aku merasa cemas melihat temanmu itu."
Arion mengernyitkan keningnya. "Siva maksudmu?"
"Iya benar, aku yakin kalau dia sedang merencanakan niat jahat untuk kita."
Arion langsung tertawa saat mendengar apa yang Zeva katakan. "Em ... kalau gitu kita harus berhati-hati dengannya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.