
Arion terpaku menatap wanita yang saat ini ada di hadapannya membuat semua orang melihatnya dengan bingung, terutama Haris.
"Ada apa, Tuan?" tanya Haris yang saat ini berada di samping Arion.
Arion langsung mengucek kedua matanya untuk memastikan apakah yang dia lihat itu nyata atau tidak membuat Haris semakin dilanda kebingungan.
Haris lalu melihat ke arah yang saat ini sedang di lihat oleh Arion, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Zeva ada di tempat ini. "No-Nona?"
Arion yang mendengar suara Haris langsung melihat ke arah laki-laki itu. "Kau, kau melihatnya?"
Haris ikut mengucek kedua matanya untuk memastikan apakah itu benar-benar Zeva atau tidak. "Be-benar, Tuan. Itu adalah Nona, itu Nona Zeva."
Semua orang yang melihat Arion dan Haris semakin dilanda kebingungan, mereka heran kenapa Arion tiba-tiba diam dan tidak melanjutkan apa yang laki-laki itu katakan.
Zeva sendiri menatap Arion dengan mata berkaca-kaca, tetapi dia juga merasa lucu sekali melihat tingkah suaminya dan juga Haris. "Apa mereka pikir aku ini tidak nyata?" Dia merasa lucu sekaligus sedih.
"Zeva!" Tiba-tiba saja Arion memanggil nama sang istri membuat semua orang bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan, sementara Zeva sendiri menutup mulutnya dengan air mata yang sudah tumpah.
"Zeva kau, kau benar-benar-" Arion langsung meninggalkan tempat itu dan berjalan ke arah Zeva membuat semua orang terlonjak kaget.
Zeva yang melihat kedatangan Arion langsung merentangkan kedua tangannya membuat laki-laki itu berlari agar lebih cepat menghampirinya.
"Minggir!" teriak Arion pada orang-orang yang menghalangi jalannya membuat orang-orang berdesakan untuk memberi jalan.
Grep.
Arion dan Zeva langsung saling memeluk saat sudah dekat. "Zeva, ini, ini benar-benar kau?"
Zeva langsung menganggukkan kepalanya. "Maaf, maafkan aku, Arion."
__ADS_1
Tangisan haru tidak bisa lagi Arion tahan saat sudah bertemu dan memeluk tubuh sang istri. Dia benar-benar merasa sangat bahagia dengan apa yang terjadi saat ini, hingga tidak bisa lagi untuk mengeluarkan kata-katanya.
Haris yang melihat semua itu juga ikut senang, dia tidak menyangka kalau Zeva berada di tempat ini dan sepertinya memang sengaja menunjukkan diri di hadapan Arion.
Orang-orang yang ada di tempat itu membulatkan mata mereka saat melihat Arion sedang berpelukan dengan seorang wanita, terutama para karyawan laki-laki itu yang tidak mau kehilangan momen bersejarah ini.
Haris yang menyadari semua orang memperhatikan Arion langsung mengambil alih perhatian mereka, dia segera meresmikan acara hari ini untuk menggantikan Arion.
"Arion, aku, aku-" Zeva tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Arion menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam hotel.
Pak Toha dan Buk Leni melihat Zeva dengan senyum bahagia, mereka ikut senang karena wanita itu sudah bertemu dengan suaminya.
"Apa kita pulang saja, Buk?" tanya Pak Toha.
"Nanti kalau Zeva mencari kita bagaimana, Pak?"
Betul juga apa yang dikatakan oleh sang istri, dia lalu memutuskan untuk meminta tolong pada penjual makanan yang ada di tempat itu untuk mengatakan kalau mereka sudah pulang jika ada yang bertanya.
"Arion, aku-"
"Maafkan aku, maafkan aku, Zeva," ucap Arion dengan suara parau membuat Zeva langsung diam.
"Maafkan aku atas semua yang sudah aku lakukan. Aku benar-benar suami yang sangat jahat, aku benar-benar sudah melakukan kesalahan besar padamu, Zeva."
Zeva benar-benar tidak menyangka kalau Arion akan meminta maaf seperti itu, padahal dialah yang telah pergi dan meninggalkan laki-laki itu. Bahkan selama ini, dia jugalah yang telah menyakiti hati Arion.
"Tidak, jangan minta maaf, Arion. Bukan kau yang salah, tapi aku. Aku yang selama ini-".
"Tidak, Zeva. Akulah yang telah menyakiti hatimu dengan kelakuan bej*atku itu, aku benar-benar menyesal, Zeva. Aku mohon maafkan aku, maafkan aku."
__ADS_1
Zeva semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar isak tangis Arion. Sungguh dia tidak pernah menduga kalau laki-laki itu akan mengatakan hal seperti ini.
Begitu pintu lift terbuka, Arion langsung membawa Zeva ke dalam salah satu kamar VIP yang sedang dia tempati saat ini.
Dia mendudukkan tubuh Zeva di atas ranjang tanpa sadar kalau saat ini ada yang berubah dalam diri istrinya itu.
Zeva merasa sangat canggung dan malu saat ini, pasalnya Arion terus memandangi wajahnya membuat dia gugup dan salah tingkah.
"A-Arion, aku-"
"Ssst. Jangan bicara dulu, Zeva. Aku ingin memandangi wajahmu yang sudah lama tidak aku lihat. Aku merasa semua ini tidak nyata, Zeva. Aku merasa tidak nyata."
Zeva langsung menggenggam kedua tangan Arion membuat laki-laki itu menatapnya dengan sendu. "Maafkan aku karna sudah meninggalkanmu, Arion. Maafkan aku karna sudah membuatmu susah, aku, aku-"
Cup.
Arion mendaratkan kecupan singkat di bibir Zeva membuat wanita itu tersentak kaget. "Kau tidak membuat kesalahan apapun, Zeva. Aku memang pantas mendapatkan semua ini, aku pantas dihukum."
Zeva menggelengkan kepalanya. "Kau pantas untuk dicintai, Arion. Kau pantas untuk mendapatkan kebahagiaan. Aku mencintai, aku sangat mencintaimu."
Sungguh tidak ada kebahagiaan lain yang lebih besar dari apa yang sedang dia rasakan saat ini, hingga membuat jantungnya berdegup dengan kencang. "Aku juga mencintaimu, Zeva. Aku sangat mencintaimu."
Zeva tercengang saat mendengar ucapan Arion, untuk pertama kalinya laki-laki itu mengatakan cinta padanya. "Ka-kau, kau mencintaiku?"
Arion langsung menganggukkan kepalanya. "Aku jatuh cinta sejak pertama kali bertemu denganmu, Zeva. Aku sudah mencintaimu sejak dulu, sekarang dan sampai selamanya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.