
Gavin tertawa sinis saat mendengar ucapan Zeva. "Aku tau benar bagaimana liciknya laki-laki ini, Zeva. Jadi aku sedang tidak salah paham."
Zeva menghela napas frustasi saat mendengar ucapan Gavin. Entah dengan cara apalagi dia menjelaskan tentang keadaan ini, supaya laki-laki itu mengerti dan tidak marah lagi.
"Baiklah. Sekarang terserah padamu saja, Gavin. Terserah kau mau berpikir apa, yang jelas Arion bukan laki-laki licik seperti yang kau katakan."
Arion yang mendengar ucapan Zeva tentu saja merasa senang, dia melirik ke arah Gavin yang menatapnya dengan wajah memerah. "Cih, baru segini saja kau sudah emosi tingkat dewa. Lalu, bagaimana jadinya jika nanti aku mengembalikan semua yang kau lakukan padaku?" Dia tersenyum sinis.
"Ikut aku!" Gavin langsung menarik tangan Zeva membuat wanita itu memekik kesakitan, sontak Arion menahan tangan wanita itu membuat tubuh Zeva berada di antara mereka.
"Lepaskan tangan kekasihku!" ucap Gavin dengan penuh penekanan.
"Aku akan melepaskannya jika kau tidak memaksa, kakinya sedang sakit."
Zeva menatap Arion dengan sendu, sungguh laki-laki itu sangat perhatian sekali padanya.
Gavin berdecak kesal lalu melihat ke arah Zeva. "Kenapa kakimu bisa sampai seperti ini, Sayang?" dia menjongkokkan tubuhnya tepat di depan kaki Zeva.
"Sudah tidak apa-apa kok," ucap Zeva, entah kenapa saat ini dia malas sekali bicara dengan Gavin.
"Syukurlah, aku sangat khawatir sekali. Kalau gitu ayo, kita duduk di sana!"
"Tunggu, Gavin!"
Gavin yang akan berjalan ke sofa menghentikan langkahnya, dia lalu berbalik dan melihat Zeva dengan bingung.
"Gavin, ini ruangan Arion. Tidak sepantasnya kita-" Zeva melirik ke arah Arion yang sedang duduk di atas kursi kebesarannya. Biar bagaimana pun dia tetap harus menghargai laki-laki itu sebagai suaminya, dan tidak pantas bersama dengan Gavin di depan Arion.
"Lihat, lagi-lagi kau lebih memikirkan dia dari pada aku!" ucap Gavin dengan kesal, dia memalingkan wajahnya ke arah samping dan enggan untuk melihat Zeva.
"Tidak, Gavin. Bukan seperti itu,"
"Sudahlah, aku tau kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi,"
__ADS_1
"Gavin, tunggu!"
Gavin beranjak pergi dari tempat itu tanpa menghiraukan panggilan Zeva, dia terus melangkahkan kakinya untuk keluar dari perusahaan itu dengan penuh kesal.
"Hah." Zeva kembali menghembuskan napasnya dengan kasar. Terserahlah laki-laki itu mau marah atau bagaimana, yang jelas saat ini dia harus bersama dengan Arion.
Arion sendiri tersenyum senang dengan apa yang terjadi. Malam ini misinya berjalan dengan sangat sukses, hingga dia bisa menepuk 2 nyamuk secara bersamaan.
"A-Arion, aku, aku, ingin-"
"Duduklah, kakimu akan semakin bengkak kalau berdiri terus." Arion beranjak dari duduknya lalu membawa Zeva ke sofa.
Zeva menundukkan kepalanya karena tiba-tiba rasa sesak menjalar di dadanya, dia berusaha keras untuk menahan air mata yang rasanya ingin menetes keluar.
"Ada apa? Apa kakimu semakin sakit?"
Zeva menggelengkan kepalanya. "Tidak. Cuma, cuma sakit sedikit saja."
"Baiklah. Kalau gitu kau istirahat saja." Arion langsung mengangkat tubuh Zeva membuat wanita itu tersentak kaget.
"Tenanglah." Arion membawa wanita itu ke suatu ruangan yang ada di ruang kerjanya, dan meletakkan tubuh Zeva di atas ranjang yang biasa dia gunakan untuk istirahat jika tubuhnya sangat lelah.
"Ra-ranjang? Tunggu, sejak kapan ada ranjang di tempat ini?" Zeva menatap dengan bingung. Dia sudah sering berkeliaran di ruangan ini, tetapi tidak tahu jika ada ruangan yang menyimpan ranjang seperti ini.
"Ini ruang istirahatku. Tempatnya memang tersembunyi, jadi kau tidak mengetahuinya,"
Zeva hanya bisa ber-oh ria saja untuk menanggapi ucapan Arion. Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu, rasa lelah yang dia rasakan seketika menguap begitu saja.
Arion juga membaringkan tubuhnya di samping Zeva. Dia mengusap keringat yang ada dikening wanita itu, padahal ruangan ini ber-ac.
Tidak butuh waktu lama untuk Zeva terlelap. Selain rasa sakit dikakinya, tubuhnya juga sangat lelah hingga mudah saja dia masuk ke alam mimpi.
Arion beranjak turun dari ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Zeva, tidak lupa kecupan singkat dia labuhkan ke kening wanita itu.
__ADS_1
"Selamat malam." Dia mengusap kepala Zeva dengan sayang, tetapi tiba-tiba tangannya berhenti dan dia langsung berbalik pergi dari ruangan itu.
"Si*al! Bisa-bisanya aku terlena. Tidak, ini tidak benar. Aku tidak boleh jatuh ke dalam lubang yang aku siapkan sendiri." Arion mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali duduk di atas sofa.
Tidak berselang lama masuklah Haris ke dalam ruangan itu dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat. "Ini identitas lengkap tentang dia, Tuan." Dia memberikan amplop itu ke tangan Arion.
Arion segera membuka dan mengambil beberapa kertas yang ada di dalam amplop tersebut. Dia membaca dengan khusyuk, hingga senyum lebar terbit dibibirnya.
"Bagus, bagus sekali. Aku tidak menyangka kalau Gavin itu hanya seorang anak haram." Arion takjub dengan identitas dari kekasih istrinya itu.
"Benar, Tuan. Keluarganya sangat berantakan, jika Anda ingin menghancurkannya. Maka mudah saja untuk melakukan semua itu."
Arion menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Haris. Tapi sejak dulu aku paling tidak suka jika mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, jadi aku hanya akan menghancurkan hubugannya dengan Zeva saja." Sejak dulu dia memang tidak pernah menggabungkan antara hal pribadi dengan pekerjaan.
"Saya mengerti, Tuan. Tapi jika dia mulai berambisi untuk menjatuhkan Anda, maka saya tidak akan tinggal diam."
Arion kembali mengangguk. "Ya, kalau itu aku juga pasti akan langsung memijaknya."
Haris tersenyum lebar dengan apa yang Arion katakan, dia senang jika Tuannya mau membalas apa yang telah mereka lakukan.
"Baiklah. Ini sudah larut, lebih baik kau istirahat sekarang." Arion menepuk bahu Haris lalu beranjak bangun dari sofa.
"Baik, Tuan. Selamat malam, selamat istirahat."
Arion mengangguk, dia lalu berjalan masuk ke dalam ruangan di mana Zeva berada dan kembali merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.
"Kisah kita baru dimulai, Zeva. Aku harap kau tidak akan terkejut."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.