
Selama berbulan-bulan aku bekerja di Panti Pijat Kakak, tak terasa aku sudah mulau pandai beradaptasi dan sekaligus bersiasat.
Untuk mengelabui teman-temanku, setiap kali aku mau sholat, aku pura-pura mandi besar. Rambutku selalu aku keramasi. Seolah-olah aku orangnya sudah mau menerima tamu dengan pelayanan plus-plus.
Tentu saja, si Mbak Nina yang paling senang melihatku demikian. Doktrinnya kepadaku beberapa waktu lalu dianggapnya manjur dan telah aku jalankan dengan benar.
Tetapi, rajin sholat dan berpura-pura melayani pijit plus-plus tak membuat nyinyiran teman-temanku terhenti, malah semakin menjadi.
"Coba kamu pikirkan lagi, Nand. Apa sholatmu bisa syah? Kamar yang kamu gunakan di buat maksiat. Kadang kami masuk ke dalam dengan kaki kotor. Terus kamu gunakan sholat? Sholat itu harus dalam keadaan suci, Nand! Di tempat suci, Nand! Bukan di tempat esek-esek seperti ini." Ujar Bella namun aku tak menggubrisnya.
Rasanya sia-sia saja aku melakukan siasat dengan berpura-pura mandi besar di setiap sholatku. Toh, mereka tetap tak mempercayainya.
"Ini Nand, aku punya makanan. Kalau kamu mau, ayo kita maem bareng!" ujar Bella membuka percakapan nyinyir di sela waktu rehatnya karyawan.
"Bel, Bella! Si Nanda mana mau dengan makanan yang kita beli! Uang yang kita pakai, kan, dari hasil lendir. Haloom...haloom!" Celetuk Rere.
"Duh wanginya bila duduk di dekat Neng ustadah Nanda!" ujar Bella yang sudah berada di sampingku.
Semua kenyinyirannya aku tanggapi dengan hati dingin. Sebab, aku selalu diingatkan oleh kalimat yang pernah aku baca, "sekalipun kamu sedang terdampar di tempat sampah. Kamu jangan ikut menjadi sampah."
************************
Walau sudah pandai beradaptasi dan bersiasat, hari-hari yang aku jalani tak memberiku kenyamanan dan ketenangan hidup.
Seringkali kelebat bayangan suamiku hadir di ruang kekecewaan hati. Sudah 6 bulanan ia tak kunjung mengunjungi kami.
Bila mengingat kekecewaanku padanya, terkadang air mataku menetes di punggung customerku saat aku pijit. Jika itu terjadi, aku di komplainnya agar keringatku tak netes ke tubuhnya.
Bekerja di tempat Panti Pijat Plus-plus itu, membuat aku banyak mengenal karakter laki-laki. Setiap hari lelaki datang silih berganti. Dari yg bersendal jepit sampai yang masih memakai dasi. Dari yang barbau wangi sampai yang berbau tengik.
Dalam keadaan sedih pun, aku diwajibkan menyapa mereka dengan santun dan ramah.
Dari awal kali sampai kini, aku tetap teguh tak memberikan pelayanan plus-plus kepada mereka.
__ADS_1
Ada yang memaklumi, ada yang simpatik. banyak yang penasaran, tetapi banyak pula yang marah-marah kepadaku.
Suatu ketika seorang laki-laki yang penampilannya mirip seorang polisi datang ke tempat pijat Kakak. Ia begitu gagah dan ganteng.
Prosedur pelayanan yang aku berikan padanya sama dengan yang lain.
Di saat aku sedang memijitnya, ia bertanya kepadaku, " Kalau plus-plus di sini berapa bayarnya?"
" Maaf Mas, saya kurang paham kalau masalah itu," jawabku dengan hati-hati.
" Lah, kamu biasanya di bayar berapa?"
"Saya hanya khusus mijit, Mas!"
" Alah munafik, kamu! Ayo tinggal sebutin, berapa? Takut banget, gak aku bayar, ya?"
Sepertinya, oknum polisi itu emosinya mulai membumbung. Untuk meredamnya aku memberi penjelasan panjang lebar bahwa aku memang tak pernah melayani plus-plus.
Dia gak mau. Penjelasanku tidak ia terima. Oknum polisi itu tetap ngotot minta pelayanan plus-plus dariku.
Kemarahannya semakin membumbung tinggi.. Reaksi marahnya sulit aku tebak. Sebab ia tak bernada marah dengan suara yang lantang.
Tiba-tiba.....
Dia mengeluarkan pistol di balik bantal. Lalu Ia todongkan ke arahku.
Mataku terbelalak. Jantung seperti sedang terlepas. Sekujur tubuhku gemetaran.
Di sudut kamar aku tersandar lunglai. Kakiku berpijak gontai.
Aku menangis ketakutan.
Dalam hitungan detik aku akan tertembak.
__ADS_1
Aku benar-benar pasrah, dan berharap belas kasihan dari oknum polisi itu..
Bagaimana dengan anakku nantinya bila aku mati?
Selama hidup aku tak pernah mengalami rasa takut yang teramat sangat seperti ini.
Ya Allah..tolonglah hambamu ini.
Sejurus kemudian, aku lihat, ia memakai bajunya, dan bergegas keluar pergi meninggalkan Panti Pijat Kakak.
Aku pikir masalah yang aku hadapi sudah selesai. Dan aku telah lolos dari ancaman maut oknum polisi itu.
Beberapa jam kemudian dia datang lagi ke Panti Pijat Kakak.
Ku lihat ia sedang ngobrol dengan Kakak. Ku dengar ia menanyakan tarif perjamnya pada Kakak.
Untuk kali ini, sepertinya, Kakak tak bisa lagi membelaku.
"Nanda, kesini!" Panggil Kakak.
Panggilan Kakak kali ini sangat menakutkanku untuk menghampirinya.
Dengan langkah kaki gontai, aku memenuhi panggilan Kakak.
Oknum polisi itu tepat berada di depan Kakak. Dengan pandangan dinginnya ia menatap sekujur tubuhku yang sedang ketakutan.
"Nanda, kamu layani Mas ini dengan baik, ya?'Sekarang kamu masuk lagi, tunggu Mas ini di dalam."
Aku sudah tak punya keberanian lagi menolak perintah Kakak.
Oknum polisi itu akan masuk ke kamarku lagi. Aku hanya bisa pasrah apapun yang akan di lakukan oknum polisi itu, asalkan nyawaku bisa terselamatkan.
Bersambung ...
__ADS_1