Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Doaku di Tempat Terlarang (2)


__ADS_3

Di Panti Pijat kemarin aku merasa masih dilindungi dan disayangi Tuhanku. Keinginan untuk tetap berjilbab telah di setujui Kakak. Aku juga diberi rezeki uang sebesar 550 ribu. Dan si Kakak tak mengharuskan aku melakukan pijit plus-plus. Semua itu kalau bukan pertolongan Tuhan, pastilah aku perempuan yang lemah ini  takkan mampu melewatinya.


Tuhanku pastilah maha tahu apa yang terbaik bagiku. Aku yakin Ia takkan membiarkan hidupku ini selalu diliputi penderitaan terus menerus.


Aku tak boleh putus asa. Aku harus mensyukuri apa yang sudah ku miliki. Aku sudah punya seorang  putri dan masih punya kedua orang tua yang masih hidup.


Aku tak boleh menyerah dengan kerasnya kehidupan ini. Aku tak boleh lemah dan kalah oleh situasi apapun di Panti Pijit Kakak.


Andaipun nanti aku kalah, aku akan pulang ke rumah orang tuaku. Untuk saat ini, pulang tanpa bersama suamiku hanya akan menjadi beban hidup mereka. Dan ujung-ujungnya ke perceraian.


Pernikahan dengan suamiku berdasarkan cinta. Aku tak boleh sepihak memutuskannya. Walau sudah 2 bulan setengah ia tak kembali, tapi biarlah aku akan menunggunya, sampai ia sendiri yang bilang, "Bu kita bercera saja!!"


Ya, hari ini aku putuskan akan kembali bekerja ke Panti Pijat Kakak bukan sebagai Nanda, tapi sebagai sosok Raisa yang memiliki prinsip hidup dan keimanan yang kuat.


 


 


******************


Jam di HP sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Mungkin aku akan terlambat masuk kerja. Biarlah.


Setelah beres-beres rumah dan menyiapkan semua keperluan putriku, waktuku lebih banyak aku gunakan untuk putriku. Kadung keasikan ngemong, sanpai aku lupa waktu. Dengan tergesa-gesa aku segera bergegas ke rumah Mama untuk menitipkan putriku.


"Kemarin, si Syafira gak rewel ya, Ma?" Tanyaku ke Mama sambil menyodorkan putriku ke pangkuan Mama.


"Dia ini mah, anak pintar, Raisa! Sepertinya dia ngerti kok, kalau kamu lagi cari uang."


"Terima kasih, ya Mamaku, yang sudah mengasuh Syafira dengan baik. Aku masih belum bisa balas kebaikan Mama sekarang."


"Heh, kamu ngomong apaan, sih. Syafira ini sudah aku anggap seperti cucuku sendiri."


"Iya, Ma. Mama jangan lupa petunjuk -petunjuk untuk syafira, ya Ma! Atau bila ada apa-apa Mama segera telepon aku aaja. Nanti aku langsung darang, Ma."


"Suamimu sebenarnya pergi kemana sih, Raisa?"

__ADS_1


"Nanti ya, Ma, ceritanya panjang sekali. Sekarang aku berangkat dulu, ya."


 


 


------------*****-------------


Menuju ke tempat kerja Panti Pijatnya Kakak membutuhkan waktu 15 menit-an. Aku harus berganti ojek dua kali untuk mengelabui tukang ojek yang pertama, sebab ia masih tetanggaku.


Turun dari motor ojek, aku melangkah setenang mungkin. Dengan sikap optimis, kedatanganku ketempat panti pijat kali ini sudah berbeda dari kemarin. Lafal, "  Laa ilaa ha illa anta inni kuntum minaddholimin".aku wiridkan terus menerus dalam hati. Entah sudah berapa ratus kali aku membacanya.


Sesampai di pintu Panti Pijat, Kakak menyambutku bagai menyambut artis datang. Ia begitu haru dan  bangga karena aku kembali kerja kepadanya.


"Hey, adikku Nanda, datang, lagi! Gitu dong, itu baru anak buah Kakak paling cantik! Kakak udah khawatir, nih, Dek Nanda gak kembali. Eh, ternyata!" Ucap Kakak sambil memelukku.


"Husst. Jangan bilang gitu, Kak! Gak enak di dengar teman-teman yang lain." Ucapku pelan.


"Biarin saja. Emang Dek Nanda di sini yang paling cantik, kok! Pasti tambah rame nih, PP nya Kakak. Ayo Dek Nanda makan dulu!"


"Gak papa gak papa, kakak ngerti keadaanmu di rumah. Kalau kamu sudah ganti baju langsung duduk di nomer urut 5, ya?"


"Okey Kakak." Aku berlalu darinya menuju kamar untuk berganti baju seragam.


Selesai ganti baju seragam, aku melangkah ke ruang tunggu tamu untuk berbaur dengan 4 karyawan lainnya.


Sebelum berada di dekat mereka, terdengar suara terang dari salah satu karyawan, berkata pada teman lainnya, "Woy, perawannya udah datang!"


Aku terus melangkah mendekati mereka dengan sikap tenang. Dengan tersenyum aku salami mereka satu persatu. "Maaf ya, Mbak. Aku telat sedikit. Soalnya dirumah masih urus anak."


Ucapanku tak di respon sama sekali. Aku langsung duduk di sebelah mereka. Nafas ku tarik dalam-dalam, lafadz, Laa ilaa ha illa anta inni kuntum minaddholimin, aku baca kembali berulang kali dalam hati. Supaya aku bisa bersikap tenang,  dan terkendali menghadap bulian mereka.


Benar dugaanku, mereka tak  berhenti di situ membuliku.


"Nin, Nina! Nanti malam di PP ini ada pengajian, loh!" Ucap Nensi membuka obrolan buliannya.

__ADS_1


"Oh ya! Asik dong kita-kita dapat siraman rohani habis wik wik, nih! Terus siapa Ustadnya yang mau ngisi ceramah?" Timpal Nina.


"Bukan Ustad, Nin! Ustad kan cowok." Sanggah Nensi.


"Loh siapa, dong?" Tanya Nina sambil melirik ka arahku.


"Ada dech!" Jawab Nensi cekikikan.


Mereka berempat pun cekikikan bersama.


Sabar, sabar!


Aku tak merespon bulian mereka. Aku tetap mengasikkan diri dengan bacaan mantraku di dalam hati agar aku tetap tenang dan tak ribut dengan mereka.


Selain itu, selama menunggu customer datang, aku harus tetap dalam konstrasi penuh, tetap tenang, tetap ramah dan sopan. Sebab customer yang aku hadapi nanti 99 persen bertelanjang tanpa baju. Dan umumnya minta di layani pijit plus plus.


*************************


Sistem kerja di sana, semua karyawan dikenakan rolling atau sistem urut nomor sesuai dengan jumlah karyawan yang masuk kerja.


Bila seorang customer tidak berkenan pada sosok karyawan sesuai dengan nomor urut tersebut, maka, si customer bisa pilih karyawan lainnya. Kakak akan menyodorkan foto foto profil karyawan lainnya untuk di pilih.


Atau, terkadang para karyawan disitu sudah mempunyai langganan tanpa mlihat foto-fotonya dulu. Tinggal menyebut nama saja. Mungkin sebelumnya mereka sudah membuat janji via telepon.


***********************


Kini tibalah giliranku melayani customer berikutnya. Hatiku masih berkecamuk. Terjadi pertarungan hebat antara tetap bersikap tenang dengan kemungkinan diluar dugaanku sewaktu didalam kamar pijat.


Tiba suara lantang Kakak menyebut nama samaranku, "Nanda!"


Aku menghampiri meja Kakak. Terlihat seorang customer yang masih muda dan lumayan ganteng menungguku.


"Mas ini, kamu beri pelayanan terbaikmu, ya? Satu jam ya Dek Nanda!"


"Iya, Kak. Mari Mas, ikuti saya ke kamar pijatnya."

__ADS_1


Customer yang masih seumuran dengan aku itu pun berjalan mengikuti dari arah belakang menuju kamar pijat.


__ADS_2