
Dalam hitungan detik, secepat kilat aku berlari menuju ruang kerja Kakak sambil menangis.
"Ada apa Nanda? Kenapa? Apa Bapak itu tak sopan?"
Aku menangis di depan Kakak meminta perlindungannya.
"Customernya telanjang, Kak! Aku takut. Mungkin, aku tak cocok kerja di sini, Kakak!"
Aku berharap Kakak tidak menyalahkanku, karena aku tak mau melayaninya. Sebab aku begitu takut melihat bapak itu telanjang.
Mendengar alasanku berlari dan menangis meninggalkan customer pertamaku, reaksinya di luar dugaanku ...
"Ha ..ha ..ha ..."
Kakak malah menertawaiku terpingkal-pingkal.
Mengetahui Kakak menertawaiku, para karyawan dan si Kasir serentak ikut tertawa.
"Kenapa kakak malah tertawa?" tanyaku tak paham makna tertawanya.
"Gak papa ... Gak papa!" timpal Kakak sembari mengusap-ngusap pundakku.
Sejurus kemudian, Kakak membawaku ke kamar pijat tadi menemui si bapak yang telah ku tinggalkan begitu saja tanpa pakaian.
Di kamar itu kami ngobrol bertiga.
Kakak meminta maaf kepada bapak itu, dan menjelaskan panjang lebar kronologinya tentang siapa aku sehingga terjadi peristiwa menggelikan tadi.
"Jadi sekali lagi, saya atas nama manajemen mohon maaf sebesar-besarnya. Silahkan, bapak pilih karyawan lainnya untuk dilayani." jelas Kakak lalu melangkah keluar kamar.
Aneh. Kulihat bapak itu tersenyum-senyum melihatku.
Sementara Kakak berada di luar, aku dan si Bapak itu masih berada didalam kamar
"Saya minta maaf, Pak! Saya masih karyawan ba-baru dan bo-bodoh," ucapku dengan gugup.
"Oh, tidak apa-apa. Saya memakluminya. Saya ganti yang lainnya saja. Ini untukmu!" Bapak itu mungkin merasa iba kepadaku dan menyodorkan 4 lembar uang seratus ribuan.
__ADS_1
Aku menggeleng kepala dan tak mau menerimanya.
"Jangan takut. Ambil saja uang ini. Saya tak ada maksud lain. Ambil buat kebutuhan anakmu!" Tegas bapak itu sambil memaksakan tanganku menerimanya.
Namun ... terbesit wajah anakku yang butuh susu dan obat mahal, tanpa pikir panjang aku menerima uang sebesar 400 ribu itu.
Sebelum jam kerja habis, aku hanya duduk-duduk bersama Kakak dan si Bapak tadi. Aku merasa sebagai karyawan baru yang di istemewakan Kakak. Sementara karyawan lainnya terlihat sibuk menyambut tamu tamu yang datang.
Kini aku memiliki uang ditangan sebesar 400 ribu. Kepingin aku cepat-cepat pulang menemui putriku yang aku titipkan ke Mama.
Rasanya bahagia sekali memegang uang ini, bagaikan sedang mendapat uang puluhan jutan
Hem..ternyata, masih ada laki-laki yang mulia hatinya seperti bapak itu. Uang sebesar 400 ribu pemberiannya sangat berharga bagi aku dan putriku.
Di akhir obrolan kami bertiga, ia pun masih meminta maaf kepadaku. "Dik Nanda sekali lagi saya minta maaf atas kejadian tadi" kata bapak itu.
Entahlah, untuk apa ia minta maaf padaku.
Saat aku hendak pulan, Kakak pemilik panti pijat semakin gencar membujukku agar besok aku kembali bekerja lagi.
" Dik Nanda! Besok kembali kerja lagi, kan?" Tanya Kakak.
"Iya, Kak!"
"Mulai besok, Dik Nanda dalam melayani customer harus bersikap ramah dan tenang." katanya menambahkan.
Aku menganggukkan kepala. "Iya, Kak."
" Semua pelanggan yang di pijit pasti telanjang. Kamu jangan lari lagi bila melihat mereka telanjang. Tapi hadapi dengan tenang. Berikan kain penutup. Lalu kamu pijit pelanggan itu. Bila kamu belum sanggup pijit plusnya, ya gak papa pakai pijat biasa. Tunggu kamu sampai sanggup saja." celoteh Kakak mewanti-wanti.
"Iya, Kak!"
"Dek Nanda mau pulang sekarang?" tanya Kakak denga mimik wajah ramah.
"Iya, Kak. Anakku sudah nungguin di rumah."
Aku memang benar-benar khawatir dengan putriku di asuh Mama. Takut ada apa apa dengan dia.
__ADS_1
"Ini ongkosmu pijat tadi, 50 ribu. Ini yang 100 ribu dari Kakak. Jangan lupa, pulangnya naik ojek 2 kali supaya tak jadi omongan tetanggamu."
"Tetima kasih, kak. Aku pamit pulang dulu"
Sekitar jam 10-an malam, aku lekas berlalu nenuju ojek pangkalan. Pikiran dan batinku sudah teramat lelah. Rinduku semakin rindang untuk memeluk putriku. Duh, semoga keadaannya baik- baik saja.
Sesuai petunjuk kakak tadi aku harus berganti ojek dua kali.jadi siapapun tak ada yang tahu bahwasannya aku kerja di panti pijat.
Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan pesan Kakak tadi. Jika aku belum sanggup melayani pijat plus, aku kerja pakai pijat biiasa saja.
Kata pijat plus, membuat pikiranku merangkai informasi tentang pijit plus atau pijit semuanya dari karyawan disana yang bernama Nina.
Menurut Nina, umumnya tamu yang datang kesana bukan murni ingin di pijit tetapi ingin mendapatkan pelayanan plus plusnya. Praktek pijat biasa hanya kedok. Bagi karyawan panti pijat bila hanya mengandalkan pijat murni sulit ia akan mengumpulkan uang banyak dalam waktu dekat. Bukan rahasia lagi, semua masyarakat umum sudah tahu bahwa panti pijatnya Kakak itu tempat pelacuran terselubung.
" Ini pak ongkos ngojeknya!" Selembar uang lima ribuan kuberikan pada bapak ojek itu. Aku sudah sampai di pinggiran jalan rumah kontrakanku. Sebelum menuju ke rumah Mama untuk mengambil putriku, aku mampir ke mini market dulu untuk beli barang kebutuhan putriku.
Aku merasa gembira karena sebentar lagi bisa memeluk putriku erat-erat. Dan uang di tanganku kini ada 540 ribu, setelah di potong ongkos ojek 10 Ribu.
Otakku sudah buntu tak bisa diajak lagi memikirkan, apakah aku akan kembali atau tidak ke tempat pelacuran terselubung itu. Sedangkan batinku sudah terasa sangat lelah sekali. Entahlah, semuanya akan aku pikirkan besok saja.
Yang aku inginkan sekarang adalah segera memeluk putriku dan segera tidur di sampingnya.
*******************
Kumandang suara adzan subuh membuat mataku terbangun. Namun sekujur tubuhku masih terasa kaku. Ku lirik putriku masih tertidur pulas. Sukurlah selama aku tinggal seharian kondisinya baik-baik saja bersama Mama.
Udara pagi terasa dingin menusuk, tetapi aku paksa bergegas bangun memasak air hangat untuk melemaskan otot-otot yang terasa kaku, sekaligus untuk mandinya putriku nanti.
Selesai mandi air hangat aku sholat subuh. Dalam sholat subuhku, tak henti-hentinya aku meminta petunjuk KepadaNya.
Peristiwa miris yang aku alami di Panti Pijat kemarin menyadarkanku, bahwa, realitas kehidupan di luar teramat keras bagi perempuan lemah sepertiku.
Tapi...sekeras apapun itu, aku masih punya Tuhan yang akan selalu melindungiku. Aku yakin Tuhan yang selalu bersemayam dalam hatiku ini akan selalu membimbingku di jalan yang benar.
Entahlah, di setiap sunyiku seperti ini aku merasa bisa berdialog dengan Tuhanku.
Di Panti Pijat kemarin aku merasa masih dilindungi dan disayangi Tuhanku. Keinginan untuk tetap berjilbab telah di setujui Kakak. Aku juga diberi rezeki uang sebesar 550 ribu. Dan si Kakak tak mengharuskan aku melakukan pijit plus-plus. Semua itu kalau bukan pertolongan Tuhan, pastilah aku perempuan yang lemah ini takkan mampu melewatinya.
__ADS_1