Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Pov Mas Bram


__ADS_3

Setelah aku mengantar Raisa ke rumahny Mama, aku langsung kembali ke rumah kontrakan di Tanggerang.


Di Kamar, kurebahkan tubuh melepaskan penat badan dan pikiran. Masih terngiang sosok Raisa yang kini telah bertemu suaminya tadi.


Ah, Raisa ... Raisa ... untunglah waktu itu ia lekas meneleponku, dan untungnya pula aku sedang ada di Jakarta. Jadi tanpa membutuhkan waktu lama, aku bisa menjemputnya.


Waktu di perjalanan ke Alun-Alun Bogor, aku tak punya niat sedikitpun menggunakan kesempatan dalam kesempitan kepadanya. Walaupun ia sudah menyatakan ingin jadi isteriku, dan pastinya ia sangat mau bila diajak tidur bersamaku di hotel itu.


Tetapi ... janganlah! Cinta tulusku tak bisa ditukar dengan kenikmatan sesaat.


Kalau cuma butuh meniduri perempuan cantik, aku bisa mendapatkannya kapan saja. Aku sudah benar-benar akung dan tak tega melihat penderitaannya. Sehingga tak ada sedikitpun niat hatiku mengotorinya. Lagian aku sudah terikat perjanjian moral dengan suaminya.


Oh ya, namaku Bram Syahputra, di panggil Mas Bram oleh Raisa. Rumah asalku kota Surabaya. Kini statusku sebagai duda, setelah bercerai dengan seorang isteri yang masih aku cintai di Banyuwangi. Ia menggugat cerai, lantaran aku memiliki hutang banyak pada saudaranya. Katanya ia tak kuat menahan rasa malu pada keluarga besarnya.


“Kita sebaiknya bercerai saja, Mas!” kata Mamanya anak-anakku waktu itu.


“Kenapa solusinya harus bercerai, Ma? Beri kesempatan aku memperbaiki diri. Ingat, kita sudah punya anak tiga, soal hutang aku kuat bayar, tunggulah usaha aku bangkit lagi.” Kataku memohon kepadanya agar tidak bercerai.  Tetapi, egonya dia tinggi, akhirnya kami pun bercerai.


Sampai saat ini aku sangat trauma dengan perceraian dalam sebuah rumah tangga. Mungkin bagi pasangan yang belum memiliki anak, tidak akan terlalu berat bercerai, tetapi jika sudah memilikinya seperti aku, perceraian merupakan langkah berat yang dijalani dalam hidup ini.


Aku akui terlalu gegabah berani berhutang untuk sebuah usaha yang spekulatif. Tetapi, yang aku sesalkan, ia lebih mementingkan martabat keluarga besarnya daripada keutuhan  keluarga kecil kami. Dan keputusannya bercerai lebih bersifat emosional daripada rasional. Tentu saja akibat perceraian itu yang menjadi korbannya adalah anak-anak kami.


Ah ... sudahlah. Dia mungkin bukan jodohnya aku. Terpenting aku masih bertanggung-jawab atas tanggungan hutang pada saudaranya, dan setiap bulan aku masih memberi nafkah kepada anak-anaknya.


Sebenarnya sejak bercerai, aku memutuskan untuk tidak akan menikah lagi. Aku hanya kasihan melihat anak-anak kelak harus memanggil Mama kepada perempuan lain yang bukan ibu kandungnya. Biarlah aku hidup sendirian sampai tua. Karena, capek sekali rasanya membangun rumah tangga; sekuat tenaga mencocokkan dua jiwa yang berbeda, menyatukan pikiran dan keinginan yang berbeda, eh, tiba-tiba harus bercerai jua.

__ADS_1


Namun, setelah aku bertemu dengan Raisa, keinginan membangun mahligai rumah tangga itu tumbuh. Entah kenapa, wajah Raisa mirip dengan mantan isteri aku tatkala ia seumuran dengan Raisa. Tidak hanya wajahnya, tetapi sholatnya juga sama-sama rajinnya.


Harus aku akui, cinta pada mantan isteri itu belumlah pudar. Tetapi tatkala melihat  sosok Raisa di Panti Pijat-nya Mbak Irene itu, gairah cinta dalam diri aku bersemi kembali.


Awalnya aku hanya penasaran kepadanya. Kok bisa ada perempuan muda cantik masih pakai Jilbab di tempat maksiat seperti itu. Dan aku bertambah heran, kok dia masih rajin sholat. Setelah aku  berbincang dengan pemilik Panti Pijat, Mbak Irene, barulah aku tahu banyak tentang siapa si Raisa yang memakai nama samaran Nanda itu.


“Yang cewek lugu itu masih ada, Mbak?” tanya aku ke Mbak Irene waktu itu.


“Oh si Nanda? Iya ada, Mas Bram. Tapi anaknya masih sholat di kamarnya. Mau pijat sama dia lagi, Mas? Gak kapok?”


“Nggak Mbak. aku penasaran sama dia, Mbak. Itu punya suami atau sudah Janda?”


“Banyak customer yang penasaran sama dia, Mas. Kalau katanya si Diah, ia di tinggal pergi begitu saja sama suaminya yang tak tanggung jawab ... Kasihan juga dianya Mas.”


“Nanda ...! Cepetan sholatnya, ini ada customer yang nyari? Nandanya kalau sholat, mesti lama. Yang sabar ya, nunggu dia!”


Awalnya dia aku pancing dengan memberikannya uang 400 ribu, tetapi dia tak tertarik agar aku datang lagi kepadanya. Dia memang berbeda dengan perempuan lainnya yang mengukur aku hanya dari materi saja.


Akibatnya aku sering merindu kepadanya. Minimal setiap minggu sekali, bila aku tak sibuk bekerja, pasti kusempatkan menemuinya di tempat PP-nya Mbak Irine itu.


Aku pikir dia jenis perempuan yang mudah aku dapatkan. Ternyata tidak semudah itu, Ferguso!


Sebagai orang  Surabaya, gaya bicaraku blak-blakan. Aku mengutarakan niat hati ini tanpa malu-malu lagi kepadanya.


Aku menawarkan kepadanya supaya ia berhenti kerja di PP itu, akan kukonntrakkan rumah yang bagus, serta setiap bulannya kutanggung biaya hidupnya.

__ADS_1


Namun rupanya dia salah paham, dan sangat tersinggung. Padahal aku hanya khawatir perempuan secantik dia bila terlalu lama di situ bisa terjerumus seperti yang lain.


Aku  terlalu naif menilainya sebagai perempuan yang takkan berdaya melawan arus plus-plus di Panti Pijat itu, namun, setelah aku selidiki, ternyata ia perempuan tangguh yang tak mau tunduk pada keinginan pelanggan yang meminta pelayanan plus-plus darinya.


Setiap kali aku bertatap muka  dengannya, hati ini selalu bergemuruh. Ingin lekas memboyongnya ke Surabaya dan menikahinya.


Aku terus mencoba mengakrabkan diri, walau tak berdaya membujuk agar menerima cintaku.


Aku tak tega melihat perjuangannya  yang berat ditanggung seorang diri. Karena itu, aku coba meringankannya dengan mentransfer uang ke rekeningnya setiap bulan.


Tak banyak  sih, nominalnya, sebab ia memang tak minta banyak.  Tetapi hal itu aku maksudkan supaya ia semakin kuat melawan tamu-tamu yang meminta pijat plus-plus.


Bagiku, sebatas melihat ia  tersenyum, tertawa dan bisa bercanda ria, aku sudah bahagia dan sudah cukup mengobati rindu berat ini.


Saat bertemu dengannya, selalu aku selipkan kata-kata, "aku benar-benar akung sama adik!."


Setiap kali meninggalkannya, aku selalu berkata, "Dek Nanda. Pikirkan niat tulusku demi masa depan kamu dan anakmu."


Ah ... kukira dia namanya Nanda, ternyata nama Nanda pemberian dari Kakak pemiliki Panti Pijat itu, nama aslinya adalah Raisa.


Aku sangat berharap Raisa mau menjadi isteriku. Bahkan aku sudah memberitahukan Ibuku yang di Surabaya, bahwa, sebentar lagi ia akan punya menantu lagi.


“Aku mungkin akan menikah lagi dengan perempuan bernama Raisa dari Bandung, Buk. Do'akan, ya?” kataku mengabarkan Ibu melalui HP.


“ Iya ... iya ... Ibu do’akan semoga lekas mendapat jodoh lagi kamu, Nak. Semoga Raisa bisa menjadi isteri salihah mu.” sahut ibuku sangat berharap.

__ADS_1


__ADS_2