Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Nama Panggilannya Mas Bram


__ADS_3

Selama aku libur dari PP-nya Kakak, Si Bapak itu tiap hari menghubungiku melalui HP. Pagi, siang dan malam ia kerap meneleponku berjam-jam.


Usianya bapak itu terpaut 10 tahun dariku. Ia berasal dari Jember-Jawa Timur. Sekarang tinggalnya di Jakarta. Aku terbiasa akrab dengannya,  membuatku tak canggung memanggilnya Mas Bram, bukan si Bapak lagi. Ia pun juga tahu, kalau nama asliku adalah Raisa, bukan Nanda nama samaranku di PP itu.


Begitulah ... aku memanggilnya, Mas Bram dan ia pun memanggilku Dik Raisa.


Pada saat hari minggu, mas Bram bersikeras untuk datang ke kontrakanku. Alasannya, ia ingin mengajak aku dan putriku jalan-jalan bersama ke Mall. Aku pikir, tak ada salahnya memberinya kesempatan untuk dekat dengan putriku.


Setelah aku diskusikan dengan Mama, disepakatilah tempat pertemuannya di rumah Mama saja. Karena, kalau di kontrakanku tak enak dengan pandangan tetangga. Bagaimanapun aku masih ada ikatan pernikahan dengan suamiku.Hari itu kami pun bertemu di rumahnya Mama yang tak terlalu jauh dari kontrakanku.


Lalu aku, putriku,beserta Mas Bram jalan-jalan di Mall kota Depok.Mulai dari rumah Mama sampai jalan-jalan di Mall, aku diam-diam memperhatikan Mas Bram. Ternyata, tak ada sedikitpun dia memberi perhatiannya pada putriku. Perhatiannya hanya dicurahkan kepadaku.


Walaupun aku dibelikan banyak barang belanjaan, sampai mobilnya Mas Bram menjadi penuh,  tapi tak ada satu kalimatpun ia membicarakan tentang putriku. Jangankan bicara, menyentuh saja tidak.


Contohnya di Mall tadi, saat melihat aku kepayahan karena  menggendong putriku, ia diam tak respek mencoba membantuku.


Putriku cukup atraktif anaknya dengan lari ke sana ke mari, tetapi, sama sekali mas Bram tak mencoba menuntunnya.


 


 


Entah karena putriku bukan anaknya sendiri, tetapi, kurangnya perhatian mas Bram pada putriku membuat aku masih ragu dengan ketulusannya.


********************


Tepatnya di hari ke 10 selama aku libur kerja, Kakak pemilik Panti Pijat menelponku, dan memintaku supaya masuk kerja lagi.


Semangat untuk bekerja demi mencari nafkah dan biaya pengobatan putriku sudah tak seperti dulu lagi. Sebab suamiku yang aku tunggu-tunggu tak kunjung ada kabar.


Mungkin ia memang bukan jodohku.  Walaupun pernikahan kami sudah  berdasarkan saling mencintai sekalipun, bila tak berjodoh mau bagaimana lagi.


Biarlah, aku tak perlu meratapi tragisnya kehidupan pada rumah tanggaku. Sudah Resiko pernikahanku yang  ternyata tak cukup hanya bermodal saling mencintai.


Apalagi awalnya  pernikahan kami yang tak di restui oleh orang tua kami masing-masing, tentunya, kegagalan rumah tanggaku nanti  akan semakin berat kutanggung.


Jadi, andai aku sekarang menyerah saja dan segera pulang ke rumah orang tuaku di Bandung, selayaknya ini harus aku terima sebagai kenyataan hidupku. Aku harus berani menghadapinya.

__ADS_1


Tanpa restu orang tuaku, akhirnya lelaki yang aku pilih menjadi suamiku tak bertanggung jawab.


Biarlah, tatap mata tetanggaku nanti men-cap aku sebagai  perempuan gagal dengan status janda beranak satu.


Namun ...


Aku berfikir, jika pulang saat ini ke rumah orang tuaku tanpa membawa modal uang untuk buka usaha kecil-kecilan di sana, Itu sama saja aku memberi beban berat hidup orang tuaku.


Sudah berumah tangga gagal, sudah mencoreng nama keluarga, dan aku masih mau membebani hudup orang tuaku lagi?


Oh ... jangan sampai itu terjadi!


Dosa-dosa hidupku sejak mulai kecil sampai dibesarkannya sudah teramat banyak.Aku tak ingin lagi memberikan beban berat kegagalan rumah tanggaku kepada mereka lagi.


Yah, terpaksa aku harus kembali lagi bekerja di Panti Pijat-nya Kakak untuk beberapa bulan saja.Sampai akhirnya aku memiliki modal untuk buka usaha dan untuk biaya mengurus perceraianku.


***************


Selama aku kembali kerja di Panti Pijat Kakak, teman-temanku sudah tak membuliku lagi. Dan mereka sudah mulai mengerti dengan prinsip.hidupku.


Bila ada tamu yang marah-marah karena minta pelayanan plus-plus, teman-temanku akan segera masuk ke kamar membelaku dengan memberi pengertian pada customer.


Si Mas Bram, juga masih setiap minggu sekali menemuiku. Kadang aku masih sangsi kalau ia tidak beristeri, tetapi, surat cerai itu segera ditunjukkan padaku.


Walau dia sangat baik, bahkan terlalu baik bagiku. tetapi, aku masih ragu kepadanya. Tak mudah bagiku untuk lekas percaya pada Mas Bram. Apalagi ia tak memiliki perhatian lebih kepada putriku.


Butuh waktu aku menerimanya. Jangan sampai aku gagal berumah tangga untuk ke dua kalinya.


Aku tak bisa segera memberikan hati kepadanya. Ada banyak faktor yang menjadi pertimbanganku. Ada faktor restu orang tua, faktor putriku yang butuh kasih sayang sosok ayah dan faktor statusku yang masih isterinya orang.


Alhamdulillah.....


Selama 4 bulanan aku krmbali kerja, ditambah sebelumnya 6 bulanan di Panti Pijak Kakak, aku sudah mulai memiliki uang tabungan yang bisa aku.gunakan untuk usaha di rumah ortuku.


Suatu ketika HPku berbunyi.


Aku lihat nada panggilan dari Mama yang biasa mengasuh putriku. Aku mulai was-was. Aku takut penyakit  putriku kambuh lagi

__ADS_1


"Iya, Mama! Kenapa dengan Syafira, Ma?"


"Bukan Syafira. Dia baik-baik saja sama bapaknya, tuh!


" Bapak siapa, Ma?"


"Bapak siapa lagi? Eh, Raisa, suamimu pulang mencarimu tuh. Cepet kamu pulang dulu. Entar si Syafira di bawa kabur, nanti."


Selekasnya aku menemui Kakak untuk ijin pulang. Kukatakan padanya bahwa suamiku pulang. Selama itu aku minta cuti kerja  pada Kakak. Ia pun mengijinkan.


Aku bergegas pulang, takut putriku di bawa kabur bapaknya.


Sesampai di rumah ku lihat putriku masih ada di gendongan bapaknya.


Alhamdulillah, ternyata putriku masih ada. Sementara suamiku yang tak punya tanggung jawab itu akhirnya nongol juga di depanku.


Aku lihat air matanya suamiku meleleh. Dan aku tak tahu arti tangisannya bila dibandingkan dengan penderitaanku selama 10 bulan ditinggalkannya.


Selama suamiku berada bersama kami, aku tidak bekerja lagi di Panti Pijat itu.


Pernah ia bertanya, selama di tinggalkannya aku bekerja dimana. Aku jawab, kerja di rumah makan. Lantaran aku sakit, maka aku libur.


Bila aku tidak beralibi demikian,  maka suamiku akan menjadi tukang amtar jemputku bekerja. Dan akan ketahuan nanti kerjaku dimana.


Sementara Mas Bram masih sering  menghubungiku.


"Syukurlah kalau suami dek Raisa sudah kembali, tapi kalau dek Raisa butuh apa-apa, jangan sungkan hububungi aku, ya? Aku siap bantu," ucapnya via HP.


"Sudah, mas Bram. Hentikan kebaikannya mas Bram. Gak usah isi-isi lagi rekeningnya adek, ya?." Pintaku memohon pada mas Bram.


Apa yang aku pinta tak pernah digubrisnya. Mas Bram masih rajin mengisi  rekeningku  tiap minggu,


Setiap kali aku dihubungi mas Bram,  suamiku tak mengetahuinya.


Dan.....


Sepandai-pandainya aku menyembunyikan hubungan dekatku dengan mas Bram, akhirnya, suamiku mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2