Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Bab 20. Keputusanku


__ADS_3

Beberapa hari kemudian aku dan putriku pulang ke kampung halaman di Bandung. Suamiku akan menyusul setelah menyelesaikan proyek Kakak Iparnya di Jakarta.


"Bu, setelah dari Jakarta aku nyusul Ibu, ya?" kata suamiku melalui hand phone.


"Terserah, kamu lah Pak!" jawabku tak bersemangat. Entah suamiku kembali kepada kami atau tidak, aku tak terlalu berharap.


"Nanti aku kembalikan uangnya Ibu, tetapi separuh dulu, ya!"


" Iya. " jawabku datar, walau dalam hatiku senang mendengarnya. Lumayanlah, buat nambah usahaku  di rumah orang tuaku.


"Tapi, kalau aku ikut tinggal disana, nanti aku kerja apa Bu?"


"Nantinya, bapak kerjanya tiduran saja!"


"Hehe...jangan marah donk, Bu!"


*********************


Akhirnya aku kembali ke rumah orang tuaku. Upaya hidup mandiri berumah tangga dengan suamiku selama 4 tahun di Depok, kandas! Dan sekarang aku, putriku dan suamiku berkumpul kembali dengan keluar besarku di sebuah desa yang padat penduduknya.


Memang, kepulanganku ke kampung halamanku tiidak membawa status janda, tetapi, jiwaku telah dibuat menjanda oleh Mas Bram, lantaran  kemuliaan hatinya.


Aku telah menerima suamiku kembali sebagai suamiku, namun butuh proses menerimanya seperti dulu kala.


Pesan dari Mas Bram akan selalu ku ingat:


"  ... Pesanku pada Dik Raisa, berilah suamimu kesempatan memperbaiki ketidaksempurnaannya. Jangan menuntut kesempurnaan seorang suami, tapi temani ia berproses menjadi suami yang baik."


Aku memang berniat melupakan Mas Bram, walau rindu ini padanya tak pernah bisa aku lenyapkan.


Kata Mas Bram, " ...Sebesar apa rasa sayangku pada Dik Raisa, itu sudah tak penting. ...  Jangan hiraukan perasaanmu padaku. Lama-lama itu akan hilang dengan sendirinya."


Katanya lagi:


" ...  Ingatlah, salah satu dasar alasanmu menikah dengan suamimu adalah saling mencintai. Pertahankan itu sampai ajal memisahkan kalian!"

__ADS_1


****************


Hidup bersama suamiku di Bandung, aku memulainya dari awal lagi. Aku mulai dengan membuka usaha warung kecil-kecilan.


"Terus aku usaha apa, Bu?" tanya suamiku yang sudah sebulan nganggur hidup bersamaku.


" Aduh bapak ini, tetap saja gak bisa tanggu jawab sendiri nyari kerjaan."


"Kan Ibu sudah tahu, bisanya aku cuma kerja ke Kakak ipar?"


"Iya, iya ... Nanti aku carikan kerjaan!"


Selanjutnya ...


Aku juga yang pontang panting nyarikan kerjaannya suamiku.


Akhirnya aku nemu juga kerjaan untuknya. Alhamdulillah, walau gajinya tak seberapa, tapi ia dengan sungguh-sungguh melaksanakannya.


Siklus kehidupan rumah tanggaku pun seperti biasanya, aku kembali menjadi isteri yang ceriwis, suamiku pun tetap tak bisa diandalkan.


Bulan demi bulan telah aku lewati bersama suamiku, tapi, jangan bilang aku sudah melupakan bagaimana suamiku selama 10 bulanan telah tega meninggalkan kami.


Suamiku itu memang cenderung tak punya tanggung jawab, jika menghadapi masalah keuangan ataupun kerjaannya. Dia akan selalu  bilang, " bingung aku, bu! Mumet, aku!"


Bukannya aku bangga dengan kelebihanku sebagai isterinya, tetapi faktanya, setiap ada malasah ekonomi rumah tangga ataupun usaha keluarga, selalu aku yang mencarikan jalan keluarnya. Sementara, posisi suamiku selalu menjadi asistenku.


Beda dengan dulu, sekarang aku dan suamiku mulai belajar hidup berumah tangga Aku terus memupuk kesabaranku atas kelemahannya, suamiku juga belajar tak lari dari tanggung jawabnya.


Bagiku, terpenting keluarga kami tetap utuh.


Kekurangan suamiku akan aku terima. Karena bagaimanapun ia telah banyak pengorbanan padaku.


Suamiku selalu sabar mengahadapiku. Ia selalu menahan diri agar tidak terlibat keributan denganku.


Dia tetap menjaga kehormatanku sebagai isterinya di mata kleuarganya dengan menunjukan,  bahwa ia tak  salah memilih isteri aku.

__ADS_1


Walau sering aku ungkit kata-kata  " coba kalau dulu aku ninggalin, kamu! Gak mungkin hidupku begini!"


Tapi, suamiku tetap bertahan tidak ikut marah dan meninggalkanku lagi. Padahal aku tau banget, itu pasti sangat mnyakitkan hatinya.


Itulah kelebihan suamiku. Kesabarannya di atas rata-rata laki laki lainnya.


Mau cari kemana lagi, laki laki yang sabarnya seperri dia?


*****************


Tanpa terasa telah satu tahun aku dan suamiku tinggal di Bandung. Terkadang, aku rindu pada Mas Bram. Namun kerinduan-kerinduan itu cukup aku catat di buku harianku. Kadang aku unggah ke facebook dalam bentuk puisi.


Suatu ketika saat aku, putriku dan suamiku jalan-jalan di Tanggerang, saat di Mall, suamiku melihat Mas Bram.


"Bu, itu kan Mas Bram!" seru suamiku menunjuk ke arah sosok Mas Bram yang sedang menggandeng mesra seorang perumpuan muda cantik.


Perempuan itu jauh lebih cantik dari aku. Ia tak berjilbab. Dari penampilannya, terlihat ia perempuan terdidik.


Sontak aku terkejut melihat kemesraan mereka. Jujur, rasa kangen dan cemburu itu membuncah jadi satu.


Suamiku melirikku sambil mengajakku menyusul Mas Bram.


"Gimana, kita ke sana, Bu." tanya suamiku dengan tersemyum.


"Gak usah, gak usah, Pak! Ayo kita lekas keluar dari Mall ini!" jawabku sembari menarik tangan suamiku bergegas keluar dari Mall itu.


Aku menghindari Mas Bram, bukan karena aku cemburu atau tak rindu padanya. Namun aku tak mau terjebak lagi ke dalam masalah pelik masa lalu ke dalam rumah tanggaku


Cukuplah sosok Mas Bram bagian dari masa laluku yang tak perlu di hadirkan ke dalam kehidupan masa kiniku.


Masa kiniku cukup bersama suamiku dan putriku yang sekarang sudah berumur 11 tahun. Bersama suamiku, aku ingin membangun masa depan keluarga yang lebih baik, yang lebih bermanfaat untuk manusia lainnya.


Dan sekarang, setelah semua badai rumah tanggaku berlalu, kini aku sudah cukup bahagia dengan suamiku, walau secara ekonomi kami masih pas-pasan.


Sebagaimana aku yang masih banyak kekurangan, aku akan mendampingi suamiku yang tak sempurna itu selamanya, sampai hidup kekal di akhirat nanti.

__ADS_1


Tamat


*******************


__ADS_2