
Rupanya Kakak itu terharu mendengar,alasanku. "Iya, khusus kamu boleh pakai Jilbab."
"Terima kasih, Kak!"
"Udah jangan nangis lagi. Tadi kan Nanda sudah diajari cara mijit. Sekarang kamu siap siap untuk kerja seperti lainnya. seragamnya sudah ada di Kamarmu."
"Malam ini, Kak?"
"Iya, katanya kamu butuh uang untuk beli susu anakmu? Cepat sana, bersiap-siap!"
*********************
Kakak benar, aku sangat butuh uang untuk biaya hidup putriku. Maka aku tak boleh menangis lagi. Aku harus jadi perempuan tegar dan perkasa.
Sekitar jam 7-an, aku mulai bersiap diri dengan seragam dan jilbab yang tak sama dengan karyawan lainnya. Kakak yang duduk di sampingku terus mementorku bagaimana cara menyapa customer dengan ramah dan sopan.
Terlihat sebuah mobil sedan hitam memasuki pelataran Panti Pijat Kakak. Kakak menyuruhku bersiap diri ke ruangan tunggu karyawan. Di balik dinding triplek itu, suara Kakak terdengar lamat lamat: " Baik-baik ya, mas. Soalnya dia anak baru."
Mendengarnya, jantung ku berdetak hebat. Kakiku gemetaran.
Nama “Nanda” di sebut oleh Kakak pemilik Panti Pijat untuk bersiap melayani customer yang baru datang.
Terasa berat sekali kakiku melangkah ke kamar pijat itu untuk melayaninya.
Terdengar suara Kakak lantang berkata, " Nanda...gak perlu sampai dua kali, ya?"
"Iya, Kak!"
__ADS_1
Saat memasuki kamar pijat, segala surat surat pendek aku baca dalam hati dengan kecepatan tinggi. Mulai Al-fatihah, AL-ikhlas, dan Al-kafirun
Didalam kamar yang sempit dengan cahaya remangnya, aku mencoba tenang menyapa customer itu.
"Selamat malam pak! Ada yang bisa saya bantu!"
Cuma sapaan begitu yang bisa aku ingat, sedangkan sekian anjuran lainnya dari si kakak, aku tak bisa mengingatnya lagi.
"Ya, selamat malam juga. Kita santai saja, ya? Saya cuma ambil 2 jam saja, kok!" Ujar lelaki besar tinggi itu dengan senyum nakalnya. .
Aku sangat kaget mendengarnya.
Haahh... Dua Jam?
Aku harus memijat bapak yang besar tinggi itu selama 2 Jam?
Aku ngerokin punggung suamiku saja, rasanya sudah pegel banget.
Semoga aku kuat saja.
Setelah selesai dia berbasa basi kepadaku. Sepertinya ia mulai tak sabar untuk dipijiti tubuhnya.
Dan....
Aku sangat terkejut dengan apa yang dilakukannya.
Ia buka baju, buka celana dan buka semuanya.
__ADS_1
Dalam hitungan detik, secepat kilat aku berlari menuju ruang kerja Kakak sambil menangis.
"Ada apa Nanda? Kenapa? Apa Bapak itu tak sopan?"
Aku menangis di depan Kakak meminta perlindungannya.
"Customernya telanjang, Kak! Aku takut. Mungkin, aku tak cocok kerja di sini, Kakak!"
Aku berharap Kakak tidak menyalahkanku, karena aku tak mau melayaninya. Sebab aku begitu takut melihat bapak itu telanjang.
Mendengar alasanku berlari dan menangis meninggalkan customer pertamaku, reaksinya di luar dugaanku ...
"Ha ..ha ..ha ..."
Kakak malah menertawaiku terpingkal-pingkal.
Mengetahui Kakak menertawaiku, para karyawan dan si Kasir serentak ikut tertawa.
"Kenapa kakak malah tertawa?" tanyaku tak paham makna tertawanya.
"Gak papa ... Gak papa!" timpal Kakak sembari mengusap-ngusap pundakku.
Sejurus kemudian, Kakak membawaku ke kamar pijat tadi menemui si bapak yang telah ku tinggalkan begitu saja tanpa pakaian.
Di kamar itu kami ngobrol bertiga.
Kakak meminta maaf kepada bapak itu, dan menjelaskan panjang lebar kronologinya tentang siapa aku sehingga terjadi peristiwa menggelikan tadi.
__ADS_1
"Jadi sekali lagi, saya atas nama manajemen mohon maaf sebesar-besarnya. Silahkan, bapak pilih karyawan lainnya untuk dilayani." jelas Kakak lalu melangkah keluar kamar.
Aneh. Kulihat bapak itu tersenyum-senyum melihatku.