
Aku berlalu dari hadapannya menuju ke kamar pijat tadi, dan menunggu oknum polisi itu masuk ke kamarku lagi.
Huufft ...
Menunggu oknum polisi itu di kamar, seolah aku berada di ruang kamar yang berhantu. Suasana sunyi ruangan membuatku begitu tegang. Lafadz, la ilaa ha illa anta subhanaka inni kuntu minaddzolimin, auto aku ucapkan berkali-kali.
Tidak seperti biasanya, ruang tunggu teman-temanku yang biasanya ramai dengan candaan, mendadak hening. Mereka berkumpul dengan Kakak, berharap cemas menantikan apa yang akan terjadi padaku.
Duh, putriku, akankah ibumu hari ini di gauli oleh laki-laki selain bapakmu?
Ya Allah, mohon ampuni segala dosa-dosaku!
Tolonglah hambamu, ya Allah.
Oknum polisi itu memasuki kamar. Ia langsung duduk di ranjang pijat.
"Duduk sini, kamu!" Ucapnya memerintah.
Jantungku berdetak kencang. Aku menghampirinya dengan kuasaku yang lumpuh. Kakiku berjalan dengan gemetaran.
Aku berdiri dihadapannya dengan kepala tertunduk.
"Duduk, sini!"
__ADS_1
Akupun duduk di sampingnya.
"Kamu kok tegang banget, sih. Ayo, rileks!."
"..iyaa, Mas!" Jawabku terbata. Aku teramat pasrah, otakku sudah tak berfikir, hanya bacaan istigfar semakin kencang melaju dalam hati.
" Untuk yang tadi. Saya minta maaf, ya?"
Aku hanya bisa mengangguk kepala. Dan air mataku pun tumpah.
"Saya tadi lupa tak memberimu Tips . Ini ambil!"
Ia memberi selembar uang seratus ribu ke tanganku. Aku masih sangat takut mengambilnya. Ia memaksakan jemariku menermanya.
Aku hanya angguk-angguk kepala, rasa takutku belum menghilang.
"Perempuan baik-baik sepertimu tak boleh ada di sini. Awas! Kalau saya ke sini lagi, ternyata masih ada kamu, saya masukkan kamu ke panti sosial!"
Mendengar ancamannya, aku hanya menunduk tertegun. Seketika, ia tanpa basa basi berlalu begitu saja meninggalkanku.
Mengetahui ia telah pergi meninggalkan Panti Pijat, si Kakak beserta teman-temanku, berlarian menghampiriku.
Aku menangis di pelukan Kakak. Teman-temanku mengelus-elus punggungku.
__ADS_1
"Kami minta maaf, ya Nanda." Ucap Bella lirih.
"Aku juga, Nand" timpal Rere.
"Makanya, kalian tuh sama Nanda jangan sirik banget. Sama-sama cari rezeki di sini itu yang akur!" Nasehat Kakak pada mereka. Si Bella dan Rere pun mengangguk malu.
"Tadi Dek Nanda diapain sama si Mas itu, kok, sebentar sekali?" Tanya Kakak.
Aku pun bercerita pada Kakak dan teman-temanku, tentang apa saja yang dikatakannya, dan apa yang akan dilakukannya jika aku masih di Panti Pijatnya Kakak.
"Dia memintaku berhenti kerja, Kak! Kalau aku tetap disini, maka aku akan dimasukkan ke panti sosial,...Kak!" kataku dengan hati pilu pada Kakak.
Usai aku bercerita, selekasnya teman-temanku dan Kakak saling merangkul aku.
"Duh, Dek Nanda! Kamu benar-benar mengingatkan masa-masa sulit yang di alami Kakak. Yang sabar, ya, Dek!"
Teman-temanku terdiam. Sepertinya ada rasa penyesalan di hatinya karena terlalu sering membuliku.
"Iya ... sabar ya, Nand!" kata Rere.
"Dek Nanda tenangkan diri dulu di rumah. Gak apa-apa libur semingguan dulu. Soal ancaman si Mas tadi, biar suamiku yang urus ke dia." ujar Kakak.
Kakak pemilik Panti Pijat memintaku berlibur dan menenangkan pikiran selama seminggu. Mendengarnya aku pun terharu dan aku lihat temanku satu persatu.
__ADS_1
"Terima kasih ya, teman-temanku semua. Sudah peduli sama aku. dan sudah support aku." kataku pada mereka.