Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Cerita Suamiku Datang Ke Panti Pijat Plus Plus


__ADS_3

"Aku gak bermaksud apa-apa, Dik Nanda. Kebetulan Mas-nya ini ingin tahu keadaanmu.  Ya, sudah aku ajak sekalian ke sini." ujar kakak membujukku.


Tampak oknum Polisi yang pernah menodongkan pistolnya padaku itu mengangguk dengan tersenyum ramah.


"Tapi aku sudah berencana pulang ke Bandung, Kak." kilahku padanya.


"Aduh, Nanda jangan pulang dulu donk. Bantu usaha Kakak, ya? Nanti kalau PPnya rame lagi, gak papa kamu pulang," ucap Kakak dengan mimik menghiba.


Katanya Kakak, entah kenapa PPnya jadi sepi semenjak aku tak ada di sana. Walaupun si Diah sudah mulai masuk kerja di sana, tapi Panti Pijatnya tetap sepi. “Beneran sepi loh, PP-ku kalau gak ada Dik Nanda!”


Aku tak enak hati menolak permintaannya Kakak.


Selain tak enak hati, mentalku sudah down melihat kehadiran oknum polisi yang pernah menodongkan pistolnya itu.


“Saya minta maaf sama Dik Nanda, ya? Dik Nanda gak usah khawatir jika ada pelanggan yang berani mengganggunya. Saya akan melindungi keamananmu.” kata oknum polisi itu.


“Baiklah …. Aku mau bersiap diri dulu, Kak. Aku mau menitipkan putriku dulu di rumahnya Mama.”


Setelah aku tiitipkan putriku ke rumah Mama, kami pun berangkat bersama menuju Panti Pijatnya Kakak.


 


 


*********************


Selama aku kerja kembali di PPnya Kakak, aku tak serajin dulu. Sholatku sudah mulai bolong-bolong. Kadang sholat, kadang tidak.


Jujur saja aku kecewa kepada Tuhan. Semakin aku rajin sholat, semakin aku rajin mendekat kepadaNya, cobaan hidupku semakin berat dan datang bertubi-tubi.


Aku juga kadang 3 hari masuk kerja, 4 hari libur. Namun, Kakak tak pernah mempermasalahknnya.


“Gak papa kalau Dik Nanda masih kurang semangat bekerja. Yang penting tetap kerja walau tak rajin masuk. Soalnya Nanda ini pembawa hokinya Kakak.”


Pasti si Kakak akan datang menjemput ke rumahku bila aku tak masuk sampai 3 hari.


Kadang dia menelepon atau melalui chatting jika tak kuangkat teleponnya.  "Dik Nanda please … masuk dulu Dik! Kasian banyak tamu datang nanyain kamu, Kalau kamu gak ada, tamunya gak balik lagi …”


Begitulah dia selalu membujuk rayu, agar aku tetap bertahan di sana. “Kalau kamu mau bener-bener berhenti, tunggulah minimal ada lagi orang yang gantiin kamu …"


Omongan Kakak melalui chattingnya itu membuatku terheran dari para tamu yang mencariku di panti pijatnya Kakak itu. Apa yang di harapkannya dariku? Aku mijit gak mahir-mahir banget. Tidak juga melayani pijit plus-plus.

__ADS_1


Entahlah … mungkin mereka hanya penasaran saja kepadaku?


Terkadang si Kakak juga pernah menanyakan tentang kebutuhan biologisku. Sepertinya Kakak juga penasaran, aku yang sudah 10 bulanan tak pernah diberi nafkah batin oleh suamiku, namun kumampu bertahan tidak melayani plus-plus.


“Dik Nanda, kok kuat sih gak berhubungan intim?”


“Ya dikuat-kuatin, Kak”


“Kalau gak kuat, mau dikasihkan ke-siapa, Dik?” canda Kakak.


“Kukasihkan kucing saja, Kak!” jawabku sekenanya. Kakak pun tertawa dibuatnya.


***********************


Saat aku libur kerja, katanya si Diah sahabat lamaku, ada seorang lelaki yang mencariku. Laki-laki itu seumuran denganku. Sontak semua karyawan tak ada yang tahu nama Raisa yang dicarinya, kecuali si Diah.


"Siapa laki-laki itu, Raisa?" Tanya Diah.


"Laki-laki yang tahu nama asliku disini itu, cuma 2 orang. Mas Bram dan suamiku. Tapi kalau Mas Bram semua karyawan sudah tahu ke dia." jawabku dengan pikiran menyelidik.


"Loh, kok bisa suamimu tahu kamu kerja di sini?" tanya Diah lagi.


"Dia membaca semua isi chatku dengan Kakak sewaktu dia balik ke rumah kontrakan kemarin." jelasku pada Diah.


Mendapat informasi itu, aku bergegas mengajak Diah pergi menemui Bella di ruang tunggu tamu.


Si Bella pun bercerita kalau lelaki kapan hari yang dipijitnya tidak sampai dilayani plus-plus.


“Waktu dia masuk kamar aku tanyakan, mau langsung pijat plus atau gimana mas?” cerita Bella.


“Terus dia mau pijit plus Bel?” tanya Diah.


Aku hanya diam tidak coba mengorek sendiri keterangannya Bella. Kupasrahkan pada Diah untuk bertanya banyak tentang kedatangan suamiku di tempat itu.


“Kayaknya dia baru masuk ke tempat ginian. Dia malah nanya pijit plus, itu apa?” ujar Bella dengan gaya bersemangatnya.


Mendengar keluguan suamiku, aku dan Diah cekikan bersama mendengar cerita Bella tersebut. “Bella gak nanya, namanya dia siapa?” tanya Diah.


Si Bella menjawab dengan gelengan kepalanya. “Orangnya gak banyak omong, sih. Dan kayaknya dia termasuk orang gak berduit …jadinya aku malas memberi perhatian lebih padanya”


“Terus dia kamu pijit?” tanya Diah memastikan.

__ADS_1


“Iya aku pijit.  Tapi sebelumnya aku jelaskan sama dia. Kalau pijit plus itu di layani begituan.”


“Terus apa kata dia?”


“Dia bilang pijat biasa saja, gak usah pakai pijit plus, katanya!”


Aku dan Bella saling pandang lalu tertawa kecil bersama.


“Saat aku pijit, dia banyak nanya ini nanya itu.” Desis bella.


“Nanya apa dia?” cerca Diah.


"Dia nanya kalau perempuan berjilbab yang kerja di sini namanya, siapa. Aku jawab namanya, Nanda." terang Bella.


"Terus dia nanya apa lagi, Mbak Bella?" tanyaku menyela.


"Dia nanya apalagi. ya. Oh, ya. Dia nanya apa si Nanda itu juga melayani plus-plus."


Aku pasrah saja, andaikan sewaktu aku melayani customer, tiba-tiba suamiku datang melabrakku. Yang terjadi biarlah terjadi. Aku terima saja semuanya.


Kini, aku sudah tak banyak berharap suamiku kembali kepadaku dan  tetap mempertahankannya menjadi ayah putriku.


Selama aku masuk kerja, waktu senggangku banyak kuhabiskan ngobrol ngalor ngidul bersama Diah. Aku merasa hanya Diah lah yang mengerti gundah-gulananya perasaanku.


“Di panti Pijat ini hanya kamu loh, yang murni memijit!” kata Diah membuka obrolan denganku di waktu senggang.


“Yah, aku sukuri saja sih. Yang penting halal. Soalnya aku takut terjadi apa-apa pada putriku. Bila putriku memakan rejeki dari uang tidak halalku”


“ Tapi herannya, kamu selalu menjadi andalannya teman-teman PP ini buat dipinjam uangnya, loh?”


“Kok bisa ya mereka suka pinjam uang ke-aku? Walau jumlahnya sih gak banyak! Tapi pendapatan mereka kan berjuta-juta?.”


“Mungkin itu yang dinamakan rejeki barokah, Sa!” kilah Diah menyimpulkan. “Apa rejeki yang gak barokah itu, rejeki yang gampang dimakan Jin, ya, Raisa? .”


“Mana kutahu?” jawabku dengan mengidikkan bahu.


“Aku itu loh, paling kuat sehari bisa mijit 5 orang. Itu sudah kekuatanku paling maksimal. Jadi pendapatanku tertinggi hanya 250 ribu-an. Coba teman-teman, termasuk kamu sih, sehari bisa di atas satu jutaan, bahkan lebih.”


“Iya juga, ya. Kenapa teman-teman yang penghasilannya sampai jutaan sehari, bisa pinjam uang ke kamu ya, Raisa?”


“Ya karena teman-teman, termasuk kamu, borosnya minta ampun.”

__ADS_1


“Tapi aku kan gak pernah pinjam sama kamu, Sa!” sela Diah menyentil cepat omonganku.


Mungkin sudah pembawaanku sejak lama. Aku itu orangnya sangat perhitungan kalau masalah keuangan. Sebab, aku sudah di ajarkan sejak kecil oleh Ibuku untuk rajin menabung.


__ADS_2