Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Bab 13. Merenungkan Suamiku


__ADS_3

Agar tak berdampak pada psikologinya, maka putriku aku titipkan ke Mama, sedangkan aku mengurung diri kamar.


Cobaan hidupku yang bertubi-tubi ini memaksaku merenungkan semuanya. Aku merenung sedalam-dalamnya ... kenapa?


Adakah yang salah dengan diriku selama ini kepadanya?


Kenapa dalam pertengkaran kami kemarin terjadi perubahan karakter yang mendasar. Aku telah berani menampar suamiku, dan sebaliknya suamiku menjadi tega mengucapkan kata kasar ‘pelacur’ dan tukang selingkuh kepadaku.


Sebagai isterinya, mungkin aku telah keliru dalam menilai dan memperlakukan suamiku selama ini.


Mungkin aku keliru menilainya ...Suamiku menikah denganku walaupun kedua orang tuanya menentang rencananya. Sebab ia sudah dicalonkan dengan seorang wanita pilihan ibunya.


Ia terlalu mencintaiku, sehingga restu seorang Ibu yang telah melahirkan dan menyusuinya pun ia abaikan demi menikah dengan pilihan hatinya.


Lalu kami menikah dan memiliki anak perempuan yang di vonis mengalami gejala radang otak.


Sejak kecil ia terbiasa dimanja sama orang tuanya, sebab ia anak bungsu dari 5 saudara perempuan semua.


Semua keinginannya yang di pinta harus di turuti. Kalau tak di turuti biasanya ia minggat ke rumah neneknya.


Sehingga sampai dewasa ia tidak biasa hidup mandiri. Apalagi disuruh menyelesaikan persoalan, maka, ia lebih banyak melarikan diri daripada bertahan menyelesaikannya.


Dan sampailah ia menikah denganku.


Kebiasaan hidupnya tidak mandiri, gampang tersinggung, dan mudah melarikan diri dari persoalan berat menjadi terbawa dalam rumah tangga.


Mungkin ia masih belajar dan berjuang supaya kebiasaan buruknya bisa diubah.


Mungkin ia yakin dengan rasa sayang dan cintanya yang teramat besar kepadaku, ia akan mampu mengubahnya.


Mungkin pula, sewaktu ia memutuskan berhenti kerja pada kakak Iparnya, ia sudah sekuat hati untuk tidak tersinggung. Namun kata-kata kasar kakak iparmya lama-lama membuat pertahanannya jebol juga.


Lalu ia berhenti kerja darinya dan ingin membuktikan kalau ia bisa seperti kakak Iparnya.


Sesampai di rumah kontrakan, mestinya aku menguatkan harga dirinya yang habis di hina-hina kakak Iparnya. Bukan justru marah marah kepadanya.


Tetapi, mungkin ia terlalu menyayangiku dan selalu ingin membahagiakanku. Sehingga setiap kecerewetanku ia sikapi dengan kesabaran tingkat dewa.

__ADS_1


Bukannya ia senang menjadi pengangguran. tetapi ia memang tak biasa kerja kasar. Bisanya hanya  kerja seperti usaha proyek konstruksi aluminiumnya Kakak Ipar.


Jadi, kalau aku desak-desak terus untuk cari kerja, justru membuatnya semakin panik.


Teringat omelanku padanya 12 bulan lalu, "gimana sich, Pak. Kok bapak tenang tenang saja. Kok, gak mikirin anak istri! Kalau begini terus, kita bisa mati kelaparan, Pak!"


Ah, betapa egoisnya aku kepadanya. Aku hanya memandang dari sisi tanggung jawabnya sebagai suami, tetapi aku tak memandang dari sisi prosesnya menjadi suami bertanggung jawab.


Ah ... betapa aku hanya menghakiminya sepihak saja. Tak mau lagi mendengarkannya sewaktu kemarin ia kembali ke rumah kami.


Sekarang, aku sangat teringat dengan omongannya yang tak aku hiraukan itu ... "Aku bingung! Kamu gak mau aku hubungi sama sekali. Aku jadi takut. Entar aku datang, kamu marah-marah lagi."


" Aku takut, bila aku datang, terus kamu usir  aku. Karena aku belum bisa kembalikan uang tabunganmu, " katanya waktu itu.


Ia takut datang padaku karena tak punya uang. Katanya, "jadi aku nunggu, sampai aku punya uang dengan kerja lagi ikut Kakak Iparku"


Ah, andaikan aku mau mendengarkan penjelasannya, tidak membutakan mata hati karena kehilangan uang tabunganku, tentu masalah rumah tanggaku tak semakin hancur.


Kini suamiku sudah menganggap aku sebagai pelacur di panti pijat plus-plus. Penjelasan apapun dariku takkan membuatnya percaya. Sebab, 99 persen perempuan yang bekerja di panti pijat plus plus memanglah pelacur terselubung.


Ah, apalagi sampai suamiku memberitahukan ke orang tuaku, maka aku bisa menjadi sampah kehidupan sesungguhnya.


***************


Seorang tetangga dekat yang biasanya akrab dengan suamiku memberitahukan banyak informasi kepadaku.


“Ada apa kemarin kok rame sama suamimu?” tanya Mas Yono membuka percakapan denganku. “Yang sabar, Raisa ...” katanya coba menasehatiku.


“Isteri mana yang gak marah habis, Mas! 10 bulan loh, gak tanggung jawab, dia! Gak ngasih nafkah, gak ada kabarnya. Coba kalau Mas Yono jadi aku, gimana perasaannya.” Kataku membela agar Mas Yono paham kondisiku.


"Loh, masa dia gak ketemu Raisa sama sekali? Suamimu itu sering ketemu aku, kok. Tapi memang biasanya cuma nanya-nanya tentang keadaanmu dan anakmu saja."


"Loh, apa iya, Mas?”


“Iya!” katanya menegaskan.


“Suamiku nanya apa saja mas tentang aku?"

__ADS_1


"Awal kali dia nanya kamu kerja dimana. Aku jawab kamu kerja di rumah makan."


"Terus dia nanya apalagi, terus dia kenapa gak mau datang, Mas Yono?"


"Dia kadang curhat ke-aku ... Katanya dia takut di usir kamu kalau datang tidak bawa uang. Dia masih kerja ngumpulin duit buat bayar hutang ke kamu. Bahkan aku sering di suruh nyari tahu nomor hapemu yang baru."


**********


Informasi dari tetanggaku itu, membuatku tersadar, bahwa pengelabuanku bekeja di rumah makan ke para tetangga, membuat suamiku merasa tenang. Andaikan aku bilang bekerja di panti pijat, mungkin suamiku akan selekasnya datang menolongku di Panti Pijatnya Kakak.


Ah, sudahlah gak perlu disesali. Semuanya telah terjadi di luar kuasaku.


Dari informasi Mas Yono pula aku menjadi memaklumi alasan suamiku tak kembali ke rumah kontrakan.kami. ia sangat takut di usir bila ia datang.


Baginya kekecewaanku padanya disebabkan faktor uang, untuk mengobati itu maka ia akan mengembalikan uang 35 juta yang telah di pinjamnya


Dan sebelum ia bisa melunasinya, ia menjadi teramat penakut, dan menjadi kerdil hatinya menemuiku.


Bukankah suamiku memanglah anak bungsu dan laki-laki satu-satunya di keluarganya? Mestinya aku memakluminya, kenapa ia mudah lari dari tanggung jawabnya.


Ah, sekali lagi sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Suamiku sudah menganggapku sebagai.pelacur dan penghianat cinta sucinya. Aku tinggal menghitung hari saja orang tuaku akan tahu segalanya tentangku dan setelah suamiku akan menceraikanku.


***************


"tok ... Tok ...Tok"


Suara pintu rumah kontrakanku diketuk tamu. Spontan lamunanku tentang suamiku menjadi terhenti.


Kudengar suara Kakak pemilik panti pijat memanggil-manggil nama samaranku, "Nanda! Nandaaa!"


Selekasnya aku beranjak keluar kamar sambil menggendong putriku membukakan pintu untuknya.


"Kriek ..." pintu rumah kontrakan aku buka.


Setelah pintu terbuka, aku sangat kaget melihat Kakak datang dengan di dampingi dua orang laki-laki. Keduanya sangat aku kenal.


Lelaki yang satu, onknum perwira polisi dan satunya lagi oknum polisi yang pernah menodongkan pistol kepadaku.

__ADS_1


"Mari masuk, Kak,"  sembari tanganku menyalami ketiga tamu tersebut, aku mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.


Aku tak tahu maksudnya Kakak mengajakku kerja kembali dengan membawa ke dua oknum polisi tersebut.


__ADS_2