Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Pertemuan Terakhir (1)


__ADS_3

Aku tersentak kaget mendengar Mas Bram menyebut telah bertemu suamiku. "Kapan itu, Mas?"


"Beberapa hari yang lalu."


Hatiku menjadi was-was membayang peristiwa pertemuan tersebut. Aku khawatir telah terjadi apa-apa dengan Mas Bram. "Terus apa yang terjadi, Mas?"


"Sabar dulu, ya Dik! Baiklah, sebelum aku bercerita,  bagaimana peristiwanya? Aku ingin bercerita dulu tentang pikiran dan perasaanku pada Dik Raisa." Jawab  Mas Bram dengan tersenyum.


Ah, kata kata Ma Bram ini membuat perasaanku terbang melayang. Aku menjadi seperti bidadari Dewi Nawang Wulan, lalu tak bisa terbang lagi karena selendang saktinya di ambil Mas Bram.


"Setelah Sekian bulan aku akrab dengan Dik Raisa, aku benar benar ingin menjadi suaminya Dik  Raisa. ..."


"Sama, Mas.  Sekarang pun aku sangat mau jadi isteri Mas Bram!" Aku menyela perkataannya, sebab hatiku melonjak kegirangan mendengar keterusterangan Mas Bram.


Namun Mas Bram membalas dengan senyuman sembari mengusap kepalaku.


Kemudian Mas Bram melanjutkan ceritanya.


"Sewaktu kita jalan-jalan di Mall, aku tak berani menyentuh bahkan menatap lama-lama anakmu. Apalagi aku menggendongnya."


"Kenapa Mas Bram?"


"Perasaanku seperti teriris-iris."


"Kenapa Mas?" Tanyaku lagi penasaran.


"Aku merasa menjadi seorang ayah penghianat bagi ke tiga putriku di Banyuwangi."


"Bukankah Mas Bram sudah resmi bercerai?"


"Iya benar. Tapi aku tahu perasaan anak-anakku. Aku hanya  dibolehkan menjadi ayahnya mereka.. Aku tak boleh menjadi ayahnya anak orang lain. Mungkin pula mereka takkan rela punya ibu selain ibu kandungnya."


Suara Mas Bram mulai terbata-bata dan bola matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian Mas Bram mengusapnya dengan sapu tangan yang aku sodorkan padanya.


"Sorry, aku orangnya suka melow bila teringat dengan ketiga putriku itu."


Aku jadi gak enak banget merasakan betapa besarnya kasih sayang Mas Bram pada putri-putrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku ya Mas Bram?" kataku lirih dengan air mataku yang sudah meleleh duluan.


"Minta maaf kenapa, Dik? Udah Dik Raisa jangan nangis disini, malu di lihat orang, tuh!"


"Biarin ...!'


" Nih sapu tanganmu"


"Selama ini aku salah menilai Mas Bram, aku pikir Mas Bram orang tak mau menyayangi putriku!" ucapku sambil mengusap air mataku dengan sapu tangan.


"Gak apa-apa. Dik Raisa gak perlu merasa bersalah. Di lanjut lagi nggak ceritanya?"


"He eh,"


"Sampai kemudian aku tersadar, bahwa perasaan cintaku pada Dik Raisa itu pernah aku alami pada mantan isteriku sebelum kami menikah. Sebelum aku dan dia hidup berumah tangga sampai memiliki 3 anak."


Hem, kali ini  aku tak paham dengan arah cerita Mas Bram.


"Maksudnya,  perasaan jatuh cintaku pada Dik Raisa sama persis rasanya dengan saat aku jatuh cinta pada kekasih yang kemudian jadi isteriku.  Namun ketika biduk rumah tangga kami jalani, dia sering menuntut kesempurnaanku. Begitu juga sebaliknya aku padanya."


Penjelasan Mss Bram tersebut mulai membuat aku, ngeh. "Kesempurnaan seperti apa yang di tuntut sama mantan isteri Mas Bram?"


Aku tetap khidmat mendengarkannya.


"Setahun aku coba memperbaiki kesalahan-kesalahanku tersebut. Tapi rupanya  isteriku tak mau melihatku berproses memperbaiki diri. Ia terlanjur memvonisku tak akan berubah. Lalu ia memilihi jalan bercerai, mungkin, karena ia anaknya orang kaya."


"Kaitannya cerita Mas Bram dengan masalah rumah tanggaku, apa ya?"


"Dik Raisa kembalilah hidup rukun dengan suamimu. Cintailah suamimu dengan segala kekurangannya. Cukup aku saja yang mengalami getirnya  perceraian ini. Jangan tukar kebahagiaan putrimu dengan ayah kandungnya hanya dengan uang 35 jutamu"


Mendengar sarannya, aku tercenung. Sarannya Mas Bram berat banget aku terima. Itu mudah dikatakan Mas Bram. tapi sulit bagiku menerima kenyataan aku harus kehilangan Mas Bram yang kini sangat aku cintai.


Mas Bram sepertinya tak mau tahu dengan perihnya jatuh hati yang aku rasakan saat ini.


"Oh ya, Dik Raisa. Hampir lupa aku menceritakan peristiwa pertemuanku dengan suamimu."ucap Mas Bram memecah perasaan kecewaku.


Aku tak terlalu tertarik lagi Mas Bram akan bercerita tentang suamiku. Yang ada dalam hatiku hanya takut  kehilangan Mas Bram.

__ADS_1


" Waktu itu tiba-tiba ada orang yang mengaku sebagai suamimu. Lalu ia  menelponku. Dengan nada marah marah ia mengancamku. Terus aku minta dia ketemuan darat saja."


"Terus apa yang terjadi, Mas?" tanyaku mulai tertarik dengan perkataannya.


"Setelah ku beri pengertian dia mau menemuiku di sebuah rumah makan. Ia menunjukkan semua isi chatku dengan Dik Raisa. Aku akui semuanya. Lalu, aku jelaskan padanya, bahwa, aku memberimu uang tiap bulan buat pengobatan putrinya sendiri. Sementara ia tak memberi nafkah berbulan-bulan kepadamu."


"Terus apa katanya, Mas?"


"Intinya dia mau mengakui kesalahannya padamu. Dia ingin memperperbaikinya. Dan aku nilai dia masih sangat mencintai Dik Raisa. Singkat kata, kemudian aku dan dia membuat kesepakatan bersama."


"Kesepakatan, apa Mas?"


"Sudah Dik Raisa gak perlu tahu. Itu urusannya orang laki laki. Pesanku pada Dik Raisa, berilah suamimu kesempatan memperbaiki ketidaksempurnaannya. Jangan menuntut kesempurnaan seorang suami, tapi temani ia berproses menjadi suami yang baik."


Hatiku seperti enggan menerima pesan moralnya Mas Bram tersebut. Bagiku perkataannya hanya sebagai tanda ia takkan pernah menemuiku lagi.


"Sebesar apa rasa sayangku pada Dik Raisa, itu sudah tak penting. Terpenting, terimalah dia sebagai suamimu kembali. Juga , jangan hiraukan perasaanmu padaku. Lama-lama itu akan hilang dengan sendirinya."


Perkataannya membuat perasaanku makin teriris. Air mataku sudah tak bisa aku bendung. Secepat kilat aku memeluk Mas Bram dengan begitu erat.


Aku benar-benar takut kehilangan dia.


"Nanti kalau suamimu sudah kembali padamu, lalu melakukan kesalahan serupa, hubungi aku. Ini kamu catat nomor HP permanenku."


Pelukanku pada Mas Bram kulepaskan, kemudian aku  mengeluarkan HP dari dalam tas untuk mencatat nomer HPnya. Ternyata HPku sudah sangat low bad. Aku lihat ada panggilan puluhan kali dari Mama dan dari nomor tak di kenal.


Ketika aku menelpon balik Mama, HPku mati. Kuhidupkan kembali sudah tak bisa lagi.


"Panggilan berkali kali dari Mama,  Mas! Ayo segera kita pulang, Mas!"


"Apa Dik Raisa tak bilang kalau akan menginap ditempatmya Diah?"


"Sudah pamit aku ke Mama, Mas. Aku takut kejangnya Syafira kambuh lagi. Ayo pulang Mas!"


"Iya ayo."


Segera kami beranjak menuju mobilnya Mas Bram. Kemudian kami.pun berangkat dari depan Pemda Bogor menuju Depok untuk ke rumah Mama.

__ADS_1


Di perjalanan aku sangat khawatir dengan keadaan putriku. Aku takut. bila Syafira kejang, Mama tak bisa mengatasinya. Tapi aku juga was-was Mas Bram dalan mengedarai mobilnya teramat kencang.


"Pelan-pelan saja, mas Bram. Jangan terlalu ngebut, Mas!" seruku  pada Mas Bram.


__ADS_2