Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Ketika Bayiku Sakit Radang Otak


__ADS_3

Sebelum jilbabku terjerat di Panti Pijat


Plus-Plus itu, jilbabku ini merupakan simbol kebanggaanku di rumah sebagai


isteri yang setia. Perempuan dan isteri manapun tentunya tak menginginkan


mengalami nasib tragis seperti yang aku alami ini.


Bila boleh memilih, maka aku akan memilih menjadi


isteri yang salihah dan memiliki seorang suami yang sholeh pula. Memiliki


ekonomi keluarga yang cukupn dan memilik anak yang sehat dan lucu.


Oh, ya ...Perkenalkan nama lengkapku Raisa


Ramadhani, dipanggil Raisa saja. Aku terlahir dan dibesarkan di Bandung.


Perlu diketahui, bahwa cerita Ini adalah kisah


nyataku yang ditulis oleh author yang bernama Saiful Rahman. Melalu aplikasi


Messenger, WA dan Via telepon, maka tersusunlah ceritaku ini sehingga bisa


dibaca oleh reader semua.


Sebelumnya, aku sangat memohon kepada author ini


untuk menuliskannya, dan berharap kerelawanannnya, supaya beban penyesalan


hidupku atas masa lalu itu menjadi lebih ringan.


Semoga dengan dituliskannya kisahku ini, aku


sangat berharap mendapatkan pencerahan dan hikmah atas kisahku ini.


Huff ... Sebelum aku memulainya, rasanya sangat


sesak sekali dada ini, bila mengingat masa kelamku itu.


Awalnya aku menikah dengan kekasih pilihanku. Aku


dan dia memutuskan menikah setelah berpacaran mulai masa SMA dan kami sudah


benar-benar saling mencintai. Ya aku dan dia bertekad untuk membangun mahligai


rumah tangga.


Walaupun pihak keluarga kekasihku itu tak


merestui rencana pernikahan kami. Alasannya, ia akan dicalonkan dengan


perempuan lain pilihan ibunya.


Ketidak setujuannya diketahui oleh keluargaku.


Akhirnya keluargaku merasa harga dirinya di sepelekan. Harga diri keluarga kami


merasa terinjak oleh keluarga calon suamiku. Sehingga keluargaku Ikut ikutan


tak menyetujui rencana pernikahan kami.


Jadi antara keluargaku dengan keluarga calon


suamiku sama-sama menolak keras rencana pernikahan itu.


Namun aku dan calon suamiku bersikeras


menentangnya. Jika tak di setujui, calon suamiku akan menikah sendiri tanpa


restu ibunya.


Alhamdulillah... Walau mendapat penentangan keras


dari keluargaku dan dari calon suamiku, berkat perjuangan gigih kami, akhirnya


kami bisa melangsungkan pernikahan dengan restu kedua orang tua kami.


Karenanya, saat mengawali hidup rumah tangga


dengan suamiku, kami memilih hidup mandiri dengan ngontrak rumah di kota yang


agak jauh dari kota asal kami. Suamiku tidak ingin tinggal di rumah orang


tuaku, sebaliknya aku juga tidak mau tinggal di rumah orang tua suamiku.


Prinsipnya apa pun yg terjadi, kami tidak akan


merepokan orang tua kami masing masing, mengingat awal pernikahan kami yang tak

__ADS_1


direstuinya.


Sejak sebelum menikah suamiku terbiasa ikut kerja


pada Kakak Iparnya. Karenanya, saat menikahpun suamiku tetap bekerja pada kakak


Ipar nya, sedang aku memiliki usaha kecil kecilan untuk menambah penghasilan


suami.


Walau aku dan suamiku memutuskan berumah tangga


mandiri, tetapi aku telah diberi bekal oleh orang tuaku, sehingga aku memiliki


uang simpanan sendiri di buku tabungan. Sementara sisia penghasilan suamiku aku


sisihkan sendiri di buku tabungan lainnya.


Singkat cerita ...


Setelah 2 tahun kami mengarungi rumah tangga, aku


melahirkan seorang bayi perempuan. Walau awalnya kami inginnya bayi laki-laki,


tetapi ini pun anugerah dari Tuhan yang harus patut di syukuri kehadirannya.


Aku dan suamiku sangat bahagia karenanya. Sebuah


kebahagian yang sempurna.


Rupanya kebahagiaan ini tak berlangsung lama.


Dimulai dari sini lah, kesabaran hidupku sebagai perempuan di uji.


Tiba-tiba ...


Anak bayiku terlihat kejang-kejang. Anehnya ia


tidak menangis sama sekali.


Melihat itu, aku pun menjadi panik!


Sebagai seorang ibu yang melahirkannya dengan


mempertaruhkan nyawa, maka, melihat anak bayiku dalam kondisi demikian, rasanya


aku seperti menjadi orang gila saja.


Tanpa berfikir panjang, aku dan suamiku


selekasnya membawa anak bayiku itu ke rumah sakit.


Setelah diperiksa oleh Dokter, ternyata anak bayi


perempuanku yang masih berusia 5 bulan itu terdeteksi mengalami gejala radang


otak.


Ya, Allah ...!


Aku sangat shock dibuatnya, mendengar kata dokter


bahwa bayiku terkena gejala radang otak, aku benar-benar sangat takut akan


keselamatan hidupnya.


Apalagi ... saat melihat bayiku menangis karena


disuntik, sebagai ibunya, aku pun ikut menangis karenanya.


Ya, Allah selamatkanlah bayi perempuanku ini ...!


Mulai dari awal pemeriksaan medis, sampai selama


14 hari bayiku dirawat dirumah sakit, akhirnya bayi perempuanku dinyatakan oleh


dokter telah hilang kesadaranya. Sehingga, bayiku diharuskan minum melalui


hidungnya.


Ibu mana yang tega melihat kondisi anak bayinya


seperti itu. Aku yang menyaksikan dan membayangkan rasa sakitnya,membuat hatiku


seperti teriris sembilu, sangat perih sekali rasanya.


Entah seperti apa dirasakan suamiku, apakah ia


sama denganku? Entahlah.

__ADS_1


Aku sebagai ibu yang melihat kondisi bayiku ini


menyebabkan pikiran tidak waras! Boleh jadi waktu itu aku hampir menjadi gila


beneran.


Sampai ... aku tak sadar, ternyata, aku sedang


berjalan ditengah jalan raya di depan rumah sakit tanpa alas kaki.


Untunglah, bapak Tukang Parkir Rumah Sakit itu


menolongku. Secepat kilat ia menyeretku lalu menuntunku ke pinggir jalan.


Tak hanya pikiranku yang menjadi tak waras,


tetapi rasa ketakutanku yang begitu tinggi bayiku tak terselamatkan, membuatku


pingsan sampai 2 kali di depan loket pengambilan obat.


Waktu itu untuk biaya pengobatan dan perawatan


tidak masalah bagi kami, sebab, kami masih memiliki uang tabungan yang sangat


cukup.


Aku tak peduli. Berapapun biaya penyembuhannya,


asalkan bayi perempuanku ini terselamatkanakan aku bayar!


Alahamdulillah ...!


Masa-masa kritisnya bayiku telah terlewati.


Katanya dokter, bayiku telah terselamatkan.


Katanya lagi, untunglah ia tidak terlambat ditangani. Sebab, aku sangat cepat


membawanya ke rumah sakit.


Akhirnya kami diijinkan membawa bayiku pulang ke


rumah kontrakan, sambil berobat jalan.


Ah, aku mulai lega karenanya ...


Kondisi kesehatan bayiku mulai membaik, tetapi,


pada bulan Oktober, ia aku bawa masuk ke Rumah Sakit kembali untuk kedua


kalinya. Sebab dengan tiba-tiba kejangnya kambuh lagi.


Belajar pada pengalaman lalu, baru 1 kali kejang,


maka secepatnya aku langsung membawa bayiku ke rumah sakit


Namun, keadaannya tidak separah yang pertama.


Lalu ia hanya mendapatkan perawatan ringan. Dan aku dianjurkan 1 Minggu sekali


membawa bayiku kontrol ke rumah sakit


Jadi, setiap minggu aku membawanya chekc-up ke


rumah sakit selama tiga bulan.


Setelah itu tiap sebulan sekali, bayiku


diwajibkan mengkomsumsi obat selama 1 tahun lamanya.


Dalam 1 tahun itu pula bayiku tidak boleh telat


mengkonsumsi obat dari dokter. Kalau sampai telat, maka aku harus memberinya


dosis dari awal lagi. Bila itu tak dlaksanakan sesuai dengan petunjuk dokter,


maka penyakit putriku tidak bisa sembuh total.


Menjaga supaya ia tidak kambuh kejangnya, bayiku


tidak boleh capek berlebihan, sedih atau pun senang berlebihan, jangan terlalu


kena panas atau pun dingin. Kondisi fisik dan psikisnya harus dijaga supaya


dalam keadaan stabil.


Setelah melewati 1 tahun lebih, akhirnya ia


sembuh total dari gejala radang otak. Uang di tabunganku pun ludes karenanya.

__ADS_1


Ditambah dengan suami yang menjadi pengangguran, maka lengkaplah


penderitaanku ini.


__ADS_2