Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Bab 2: Ketika Suamiku Tak Tanggung Jawab


__ADS_3

Waktu itu, aku memiliki dua ATM. Saldo di ATM ku yang satunya sudah nol rupiah. Sedang di ATM khusus untuk usahaku sudah terkuras 30 juta-an untuk biaya pengobatan putriku dari sakit gejala radang otak.


Oleh karenanya, aku harus mulai dari awal lagi menyisihkan uang belanja untuk masa depan keluarga kami.


Sementara itu ancaman sewa memperpanjang kontrak rumah sudah didepan mata. Kami perlu uang 9 jutaan. Walau masih kurang 6 bulan lagi, tetapi, sebagai isteri aku harus memikirkannya jauh jauh hari.


Selain dari penghasilan suami, aku punya usaha kecil-kecilan dengan berjualan barang barang kreditan. Usai kena musibah anak sakit gejala radang otak, omsetku menurun drastis dan bahkan hampir kolaps.


Praktis, gantungan biaya hidup kami satu satunya adalah dari pengahasilan suami yang bekerja pada kakak Iparnya.


Suatu ketika suamiku pulang dari tempat kerjanya ke rumah kontrakan dengan wajah gelisah. "Aku berhenti kerja, Bu!"


Mendengar ucapan suamiku itu, sontak emosiku membuncah dan ingin berteriak seketika, tetapi aku sekuat hati menahannya. "Sabar, sabar, beri kesempatan suamimu membela diri," bisik hatiku.


"Kenapa bapak memutuskan berhenti kerja? Kan, sudah lumayan kerja bapak ikut kakak Ipar? Sudah dijadikan pengawas tukang dan bayarannya sangat lumayan, " tanyaku dengan penuh kesabaran, sebab, siapa tahu suamiku di posisi yang benar.


"Aku tersinggung dengan ucapannya, kakak, Bu!"


Hah..!


Hanya persoalan tersinggung suamiku memutuskan berhenti kerja?


Berarti ia lebih mementingkan ego pribadinya daripada tanggung jawabnya menafkahi anak isteri.


"Terus bapak mau kerja dimana? Nyari kerja itu sulit, Pak?" Tanyaku lantang. Akhirnya, derai air mataku tak sanggup lagi aku tahan.


Mendengar suaraku meninggi, suamiku hanya terdiam tak berani menjawabnya.


***************************


Sejak suami menjadi pengangguran, perangaiku berubah menjadi isteri cerewet. Hal ini disebabkan aku tak tahan melihat kesehariannya yang santai santai saja. Sepertinya ia tak terbebani sebagai kepala keluarga yang harus punya tanggung jawab.


Aku harus menjadi ceriwet kepadanya, sebab, aku merupakan pertahanan terakhir bagi kehidupan putriku.


Aku suruh dia minta maaf kepada kakak Iparnya, supaya ia bisa kerja kembali disana, tetapi ia tak mau. Suamiku gengsinya tinggi. Ia tak ingin terlihat kesusahan di depan mata keluarganya.


"Gimana sich, Pak. Kok bapak tenang tenang saja. Kok, gak mikirin anak istri! Kalau begini terus, kita bisa mati kelaparan, Pak!"


Sudah berulang kali, omongan seperti itu aku sasarkan kepada suamiku, supaya ada greget keluar rumah mencari pekerjaan. Kalau sudah keluar omonganku yang menekan dia, barulah ia keluar rumah untuk cari kerja. Tetapi, pulang pulangnya selalu membawa tangan kosong.


Melihat kelakuan suamiku seperti itu, sulit sekali rasanya tidak menjadi isteri cerewet baginya.

__ADS_1


Belum lagi memikirkan perlakuan mertuaku yang masih memandangku sebelah mata. Padahal, aku sudah sedemikian mengabdi kepada suamiku dan mertuaku, tetapi, masih saja aku ini dikatakan isteri yang boros. Pasalnya, aku suka pamer barang barang baru di facebook.


Padahal yang aku pamerkan itu barang daganganku yang aku posting supaya ada yang tertarik.


**************************


Suatu ketika suamiku pulang membawa kabar gembira. " Saya ada proyek dengan temanku, Bu!. Proyeknya seperti yang dilakukan kakak Ipar, itu loh!"


"Alhamdulillah!"


Mendengar suamiku mendapat pekerjaan aku gembira riang. Aku peluk suamiku dengan pelukan terhangat yang aku miliki.


"Tetapi, Bu!" Ia menyela kegembiraanku dengan tatapan sedihnya.


"Tetapi apa, Pak?"


"Untuk melaksanakan proyek itu butuh modal awal 25 juta an. Buat beli bahan dan alatnya. Cuma nanti kalau selesai pengerjaannya, hasilnya bisa 3 kali lipat, Bu!"


"Terus darimana modal awal proyeknya itu, Pak?"


"Pinjami pakai uang di tabungan Ibu dulu!"


Setlah dikurangi biaya sakit gejala radang otak putriku, nominalnya tabungan itu menjadi jauh berkurang. Apabila, keinginan suamiku untuk pinjam modal 25 juta aku turuti, maka aku sedang bertaruh. Jika ternyata meleset, maka aku dan putriku akan semakin terpuruk.


"Baiklah, Pak!"


Aku putuskan memberi modal awal 25 juta ke suamiku walau hati ini sangat ragu kepadanya. Siapa tahu ia sukses dengan proyeknya.


Setalah semingguan, ia minta lagi uang 10 juta dengan alasan untuk bayar sewa tempat usahanya. Aku luluskan permintaannya, sebab, alasannya masuk akal. Walau aku tahu, bila dikurangi 10 juta lagi, maka, sisanya uang tabunganku tinggal 2 jutaan.


Ditengah jalan saat mengambil uang di Bank, aku menjadi harap harap cemas sekali. Hatiku berdoa, semoga usaha proyeknya suamiku sukses. Bila gagal, maka habislah aku dan putriku.


Sesampainya di rumah kuberikan uang 10 juta itu ke suamiku.


...................


Tak sampai satu bulan, suamiku mau pinjam uang lagi untuk membayar anak buahnya.


'Usaha proyeknya merugi, Bu! Termyata teman yang ngajak kerja sama itu, penipu! Semua hasil garapan alumunium tak dibayar. Kini orangnya menghilang entah kemana." Ucapnya berharap pertolonganku.


Aku tercekat mendengarnya. Aku hanya bisa mematung dengan mata melotot. Emosiku benar benar sudah sampai di ubun-ubun. Tanganku gemetaran mengepal.

__ADS_1


'Kalau ongkos anak buahku gak aku bayarkan, gimana nasibku, bu? Aku bisa dilaporkan ke kantor Polisi!" Ujar suamiku menghiba. Dipikirnya aku masih punya uang di tabungan puluhan juta.


Menghadapi kenyataan hangusnya uangku 35 juta yang dipakai modal usahanya, aku panik. Mulutku tak bisa cerewet lagi. Aku hanya bisa menangis keras.


Sejurus kemudian aku masuk kamar untuk mengambil buku tabungan.


"Lihat ini isi tabungannya, tinggal berapa? Lihat!" Buku tabungan itu aku lempar tepat ke mukanya.


" Kita belum bayar kontrakan. Anak kamu kalau kambuh kejangnya, dapat dsri mana lagi biayanya? Uang tabungan itu tinggal 2 juta saja, pak!" Teriakkku dengan derai air mata.


" Makan apa nanti anak kita, pak? Tinggal dimana nanti kita, kalau sudah habis kontrakannya?" Seruku dengan suara tangis pilu.


Suamiku hanya terdiam. Aku tak mampu berkata kata lagi kepadanya. Amarahku tak bisa terbendung lagi. Beberapa perabotan rumah, aku bantingi.


"Apes bener aku jadi isteri kamu, Pak!" jeritku kepadanya.


Entah apa yang terlintas di pikirannya, suamiku bergegas naik sepeda motor dan pergi entah kemana.


"Astagfirullah!" Aku reflek menyebut nama Tuhan ketika aku melihat putri ku menangis keras di kamar.


Aku peluk putriku dengan kesedihan yang mendalam.


*****************************


Sejak pertengkaran keras itu, suamiku tak pernah datang ke kontrakan kami.


Dua minggu aku tunggu kedatangannya, namun tak datang jua. Aku lihat komentar di status facebokknya, ternyata ia pulang ke rumah orang tuanya.


Mungkin orang tuanya senang, melihat suamiku tanpa aku lagi. Aku tutup akun facebookku, aku blok nomer HPnya. Aku menutup akses komunikasi dengannya.


Sampai dua bulanan, ia tak kunjung datang ke rumah kontrakanku.


Sementara uang dua jutaan di tabunganku sudah terkuras habis untuk biaya hidupku dan biaya beli obat untuk putriku.


Setiap harinya, biaya hidupku dan putriku aku ambikan dari cicilan barang kreditanku. Untuk bertahan hidup aku jadi tukang cuci gosok pakaiannya tetangga.


Ya, Allah!


Sudah habis uang tabungan masa depan anakku, suamiku yang tak tanggung jawab itu pun pergi meninggalkanku dan putriku.


Aku benar benar putus asa. Aku berada di titik nadir kehidupan. Aku sangat kalut, bingung, antara pulang kerumah orang tuaku atau tetap bertahan di tanah rantau bersama putriku? Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2