
"Soal boleh tidaknya pakai jilbab di Panti Pinjat, nanti kita tanyakan bareng pada kakak, ya?." Jawabnya terlihat ragu permintaanku pakai jilbab akan diloloskan sama kakaknya.
Sebutan Kakak yang dimaksud adalah si pemilik Panti Pijat itu.
"Kalau gak dibolehkan pakai Jilbab, aku gak mau!." Ucapku berharap si Diah bisa meyakinkan si Kakaknya.
"Iya, iya, nanti kita tanyakan bareng-bareng, ya? Terpenting Raisa berangkat dulu kesana. Biar hidupmu tak lagi tragis seperti ini" Timpalnya meyakinkanku.
Waktu itu aku ini orangnya kuper banget, mungkin karena aku introvert. Sehingga, soal apa dan bagaimana dunia panti pijat saja aku tak mengetahuinya.
Sebenarnya banyak pertanyaan bergelayut untuk aku tanyakan pada Diah, tetapi aku tak enak hati, takut ia tersinggung, dan takut peluang kerja di depan mataku ini menjadi hilang.
Jadi, aku tak bertanya lagi berapa ongkos buatku sekali memijat, orang laki-laki yang dipijit masih pakai baju atau tidak, waktu dipijat diruang tertutup atau terbuka, waktu kerja aku nginap di sana atau pulang pergi, dan seterusnya.
Sementara si Diah sudah tertidur di samping putriku, sampai larut malam mataku ini masih sulit terpejam. Perasaanku menerawang jauh ke tempat Panti Pijat yang sangat asing itu. Pikaranku berputar-putar bercampur aduk dengan rasa takut, ragu, rasa khawatir tak bisa memijat dan gimana rasa maluku nanti tatkala memijit laki laki yang bukan suamiku.
Teringat pula pesannya Diah agar aku merahasiakan ke siapapun, termasuk ke tetangga tentang kerjaku di Panti Pijat nanti. Entahlah apa alasannya, pikiranku sudah buntu untuk memikirkan pesan tersebut.
Di sisi lainnya, suara hatiku yang terdalam sangat berat meninggalkan putriku yang masih berumur 3 tahunan yang akan aku titipkan pada seorang Ibu Tua, “Mama”, walaupun aku tahu betul Mama sangat menyayangi putriku.
Biasanya setiap detik aku bisa memberi perhatianku kepada putriku, tetapi nanti takkan bisa lagi. Rasa was-wasku muncul bila sewaktu-waktu putriku mengalami kondisi tubuh yang tak stabil atau tiba-tiba kejangnya kambuh lagi. Apakah Mama akan mampu mengatasinya jika hal itu terjadi?
Pagi-pagi sebelum aku berangkat bersama Diah ke tempat Panti Pijat, aku titipkan putriku ke Mama dengan segala kebutuhannya. Berbagai macam pesan tutorial aku omongkan pada mama agar tidak terjadi apa apa pada putriku.
Betapa berat aku meninggalkannya. Aku peluk berkali-kali putriku, aku ciumi ia dengan derai air mataku.
Aku berdo`a semoga putriku akan baik-baik saja saat aku tinggalkan bekerja.
Setelah semuanya sudah aku anggap ready, aku dan Diah berangkat menuju TKP. Aku mengucap kata, “bismillah”.
Perasaan gugup menyertaiku sepanjang perjalanan. Berulang kali Diah mengingatkanku untuk bersikap rileks. “Santai saja, ah! Gak perlu gerogi begitu. Kakak itu orangnya baik dan telaten pada anak buahnya!” Omongannya Diah ini tetap saja tak menguarangi rasa gugupku.
Kurang lebih 15 menitan, sampailah kami di tempat Panti Pijat yang dituju. Kami disambut oleh seorang perempuan berumur 37 tahunan. Ia dipanggilnya Kakak oleh Diah. Sangat ramah dan familiar sekali orangnya.
“Selamat datang Raisa. Semoga kamu betah kerja di sini, ya!"
"Hemm, benar katanya Diah, kamu memang cantik orangnya!”
Dia menyambutku di depan pintu dengan sikap yang super ramah. Kakak itu tahu namaku mungkin dari Diah melalui telepon. Mungkin pula Diah sudah banyak cerita tentangku.
__ADS_1
Aku menyalaminya dengan mulut terkunci. Sangat kaku sekali sikapku padanya. Perasaan minder bekerja di tempat tersebut menguasaiku diriku.
Selanjutnya, aku diperkenalkan kepada semua karyawannya. Waktu itu ada 6 orang, termasuk dengan Diah. Ada yang ramah menyambutku, ada juga yang tatapanya sinis melihatku mulai ujung kepala sampai ujung kaki.
Aku hanya melongo saat melihat mereka berseragam dengan atasan u can see dan rok mini, sedang aku masih memakai Jilbab.
Oleh Kakak itu, aku diperkenalkan bernama “Nanda”, bukan bernama Raisa. Aku manut saja padanya, tak paham alasannya memberi nama samaran tersebut.
Setelah itu aku di panggil ke kamarnya Kakak untuk diberi pengarahan. Kakak itu memberi penjelasan tata cara memijat dan aturan kerjanya. Termasuk bagaimana cara menyambut dan melayani customer seramah, sebaik dan sesopan mungkin
Pikiranku masih nge-hang, tak mampu lagi mencerna pengarahannya. Aku hanya angguk angguk kepala, pura-pura paham.
“Gimana Dik Nanda, udah ngerti? Ada yang mau kamu tanyakan?”
“Tapi…aku gak bisa mijit, Kak!”
“Oalah..nanti itu ada yang ngajari. Kamu santai saja, gak usah terlalu mikirin itu. Kamu boleh mulai kerja kalau sudah siap" “
"Bagaimana dengan baju seragam ku, Kak?”
“Untuk seragam mu nanti dikasih.”
“Soal itu nanti aku buatkan tersendiri. Cuma aku minta ke kamu lepas jilbab selama jam kerja. Bisa kan?”
Aku pasrah mengangguk, namun hatiku memberontak untuk tidak memakai jilbab. Sebab berjilbab merupakan tradisiku sejak SMA, walaupun aku pakai bila sedang keluar rumah saja.
Setelah selesai interview nya dengan Kakak, aku langsung di ajari teknik dasar memijat tradisional. Sambil ngoceh sana sini, si karyawan yang mengajariku itu meyakinkan aku agar mau kerja di situ.
****************************************
Panti pijat yang akan menjadi tempat kerja ku itu tergolong kelas panti pijat sederhana. Bukan sebuah panti pijat yang menyediakan fasilitas mewah seperti, mandi uap, mandi air panas dingin, bar, dan fasilitas mewah lainnya. Di Panti Pijat yang memanfaatkan Ruko berlantai 2 itu, setiap ruangan kantor hanya di sekat dengan dinding triplek.
Lantai bawah ada 5 kamar pijat berisi ranjang kayu untuk ukuran 1 orang. Setiap kamar pijat hanya ditutupi dengan tirai. Dua ruangan lain untuk penerimaan tamu dan ruang tunggu yang berisi 1 set kursi dan meja. Dan ada 2 kamar mandi.
Lantai atas digunakan untuk ruang para tamu dan kamar tinggal para karyawan yang rumahnya sangat jauh.
Setiap jam kerja, masing-masing karyawan memakai seragam 1 kali sehari, macam macam warnanya ada putih, hitam dan merah.
Setiap karyawan dikasih seragam sebanyak 6 set; 2 set warna hitam, 2 set warna merah dan 2 set warna putih.
__ADS_1
Ukuran seragamnya sangat ketat dari bahan kaos, sedangkan ukuran roknya, aku lihat mereka berlomba untuk membuat roknya semini mungkin.
Waktu itu, tarif pijitnya para tamu per- jam Rp.150 ribu yang langsung di bayar ke kasir. 50 ribu untuk ongkos mijit, dan yang 100 ribu untuk Kakak pemilik Panti Pijat.
Kata karyawan yang mengajariku tadi, di situ ada dua macam jenis pijat. Pijat biasa dan pijat plus.
*********************************************************
Setengah harian berada disana, aku seperti berada di ruang yang gelap. Semua yang aku lihat dan aku rasakan membuat jiwaku terasing dan gundah gulana.
Ah, suamiku! Andai engkau memiliki tanggung jawab kepada kami, mungkin aku takkan sampai berada di tempat seperti ini!
Yaa AlLah, tolonglah aku di tempat ini.
Tepat ada panggilan adzan magrib, aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Aku lihat di Panti Pijat tak ada alat sholat, sebab para karyawannya tak ada yang sholat.
Aku minta ijin ke Kakak untuk sholat di Masjid. Sepertinya, ia memahami apa yang aku rasakan. Ia mengijinkannya. Dan memberitahuku arah arah masjid yang terdekat.
Sholat berjamaah Di Masjid aku menemukan ketentraman batin. Jiwaku terasa tak terasing lagi.
Entah kenapa pula, sesampai di Panti Pijat yang aku inginkan hanya ingin sholat dan sholat. Aku selalu merindu kehadirannya Tuhan. Padahal ketika dirumah, sholatku masih bolong bolong.
Dalam sujudku aku memohon kepada Tuhan, agar hati Kakak di gerakkan untuk mengijinkan aku memakai jilbab waktu jam kerja.
Usai sholat aku kembali ke Panti Pijat. Banyak jamaah yang bersamaku terheran heran melihatku memasuki tempat panti pijatnya Kakak.
"Nanda! kesini" Panggil Kakak kepadaku dengan mimik yang bersahabat.
"Iya, kak!"
"Kakak tadi lupa kalau di kamar Kakak ada sajadah dan mukena. Soalnya jarang Kakak pakai, jadi kelupaan. Nanda kalau mau sholat di kamar Kakak saja, ya?"
Mendengar ia jarang sholat mataku menitiskan air mata.
Aku meneguhkan diri akan selalu sholat. Dan waktu kerja aku harus tetap memakai Jilbab. Sebab simbol jilbab ini pertahanan terakhirku untuk selalu dekat dengan Tuhan.
"Loh kenapa Nanda Menangis?"
"Aku boleh pakai Jilbab ya, kak? Aku takut dosa kak! Aku pulang saja, kak, jika tak boleh" Rengekku di pangkuannya sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1