Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Tawaran Menggiurkan


__ADS_3

Panggilan suara adzan aku gunakan sebaik-baiknya untuk bergegas sholat melepaskan diri dari jebakan kehidupan di pelacuran terselubungnya Kakak.


Saat aku sedang sholat, jiwaku merasa nyaman dan terbebas dari kungkungan para perempuan yang menjual murah harga dirinya demi mendapat uang yang banyak.


Biasanya, bila selesai sholat wajib, aku tambah dengan sholat sunnah. Ditambah dengan wiridan, waktu sholatku bisa sampai sekitar 1 jam-an.


Suara Kakak terdengar memanggilku, tanda ada customer datang yang harus aku layani. Tapi aku tak menggubrisnya. Aku tetap melanjutkan wiridanku.


***********************


Sekitar 7-harian, awal kerja di Panti Pijatnya Kakak merupakan hari-hari tersulit bagiku. Bahkan sampai 2 mingguan, aku masih sangat sulit beradaptasi. Ada saja komplain dari customer ke Kakak kalau pijatanku masih kurang berasa. Untuk itu aku terus belajar memijit yang benar. .


Selama dua mingguan itu pula, tak terhitung pelecehan seksual yang aku terima dari customer. Mulai dari sebatas verbal sampai fisik, mulai dari yang halus sampai kasar.


Kata-kata pelecehan yang sering aku terima dari mulut mereka, yaitu, mengumpat aku sebagai perempuan munafik, aku perempuan sok suci dan sebagainya.


Selain itu, kasus lainnya yang sering aku alami adalah costumer marah-marah dan tak mau membayar sewa kamar. Sering kali, setelah dipijit ia masih minta di layani plus-plus, mulai dengan cara bujuk rayu sampai dengan cara cara kasar.


Terkadang mereka semakin penasaran dengan penolakanku memberi pelayanan plus-plus. Lalu menawarkan iming iming uang yang jumlahnya sangat besar untuk ukuranku.


Mengenang itu semua, andai darah ini bisa keluar dari mataku, mungkin aku sudah nangis darah..


Sakit sekali rasanya hatiku sebagai seorang wanita yang hanya ingin terus mempertahankan prinsip hidup di Panti Pijat Plus itu.


Satu sisi aku butuh uang untuk kebutuhan hidupku dan anakku, tetapi sisi lainnya aku teramat lemah mencari rezeki halal di Panti Pijat Plus Plusnya Kakak.


Ya Allah, sampai kapan aku bisa bertahan di Panti Pijat Plus-Plus ini?


***************************************.


Selama aku melewati hari-hari sulit itu, Kakak pemilik Panti Pijat banyak membantuku hingga aku bisa melewatinya. Entah apa motifnya, kenapa ia lebih mengistemewakan aku dan tak pernah memarahiku. Di belakang hari, baru aku mengetahui jawabannya.


.


Beban berat yang aku hadapi tidak hanya datang dari para customer brengsek itu, tetapi juga dari rekan-rekan kerja di Panti Pijat itu.


Mereka sangat iri dengan perlakukan istimewanya Kakak kepadaku. Padahal aku tak pernah memintanya diistemewakan.


Contohnya, jika peraturan jam pulang kerja untuk yang lain harus tepat waktu, tetapi untuk aku tidak. Aku dibolehkan kapan saja pulang asal dengan alasan untuk keperluan putriku. Begitupun dengan jam masuk karyawan. Khusus untuk aku, jam masuk tepat waktu itu tak berlaku.


Selain itu, banyak rekan rekan kerjaku cemburu sosial kepadaku. Kakak dianggapnya tidak adil. Giliran ada tamu yang baik hati dan berkantong tebal, seringkali aku yang dipanggil untuk melayaninya. Padahal sebelum kedatanganku di sana, tamu tamu tersebut adalah langganan mereka.


Kecemburuan mereka memang wajar. Terbukti tamu tamu pilihan kakak itu perilakunya sangat baik dan tak segan memberiku uang lebih walau tanpa embel-embel pelayanan plus-plus.


Suatu ketika…..

__ADS_1


“Nanda, Dek Nanda!” Suara panggilan Kakak membuyarkan lamunanku. Aku bergegas menuju ke ruangan Kakak.


“Kok lama baget kalau sholat. Tuh, udah ditunggu-tunggu dari tadi sama si Bapak yang baik, itu.”


“Bapak yang mana, Kak?”


“Itu loh, yang pertama kali kamu kerja di sini, dan kamu lari ketakutan. Terus kamu dikasih uang 400 ribu, itu.”


Mendengar Kakak bilang begitu, aku senyum-senyum. “Dimana dia sekarang, Kak?”


“Sudah nunggu di kamar orangnya.”


“Aku kesana dulu, Kak.”


“Ya, iyalah, cepetan sana!”


Akupun bergegas menuju ke kamar pijatku.


“Selamat malam, Bapak. Ada yang bisa saya bantu?”


“Tidak ada. Saya hanya ingin tahu kabarmu saja. Apa anakmu di rumah baik-baik saja?”


“Maaf pak, anak saya kondisi kesehatannya masih baik. Dan terima kasih bapak sudah memberinya uang.”


Aku agak bingung dengan arah obrolan Bapak dengan perawakan tinggi besar itu.


“Jangan khawatir pak, saya tak akan lari dan nangis lagi, bila memijit bapak sekarang,” ajakku supaya Bapak itu tidak melebar pada urusan rumah tanggaku.


Mendengar perkataanku, si Bapak itu hanya senyum-senyum.


“Saya kesini bukan untuk di pijat. Saya tadi sudah panjang lebar ngobrol dengan majikanmu. Saya sudah tahu semua permasalahan yang kamu hadapi. Kalau kamu berkenan, saya akan membantunya.”


“Saya tak paham dengan maksud perkataan Bapak.”


“Begini, kalau kamu mau berhenti kerja di sini, akan saya bantu. Kalau kamu percaya, saya akan carikan kamu rumah kontrakan yang bagus. Dan hidupmu berserta anakmu akan saya tanggung setiap bulannya. Bila kamu ingin buka usaha, akan saya beri modal. Saya hanya kasihan kepadamu. Menurut saya, wanita sepertimu tak layak kerja di sini.”


Aku sontak kaget mendengarnya. Ia tanpa tedeng aling-aling mengutarakan niatnya. Sebagai perempuan yang sering di posisikan kaum lemah, terus terang aku tersinggung.


Ya, aku agak tersinggung. Aku menilai ia lelaki yang tak bisa menghargai perjuangan perempuan yang sedang mencari nafkah untuk putrinya. Ia tak lebih baik dari suamiku yang tak punya tanggung jawab.


Mengingat kebaikannya selama ini, aku tak berani berkata tedeng aling-aling sepertinya.


Pikirku, mungkin aku akan dijadikan wanita simpanan oleh Bapak ini.


 

__ADS_1


 


Bagiku, lelaki semuanya sama. Seringkali ada udang di balik batunya. Apalagi para lelaki yang datang ke tempat seperti ini.


"Sebelumnya saya minta maaf, ya Pak! Sampai saat ini status saya masih isterinya orang. Saya memang butuh bekerja seperti di Pabrik, tetapi tidak untuk dijadikan perempuan simpanan Bapak."


"Oh..bukan begitu maksud saya. Dek Nanda jangan salah paham. Saya ini sudah lama bercerai. Sudah 3 tahunan. Nanti saya tunjukkan surat cerainya" timpal Bapak itu terlihat tak nyaman dengan jawabanku.


"Terus maksudnya Bapak apa?Mengkontrakkan rumah dan memberi nafkah setiap bulan kepada saya?"


"Saya hanya tak ingin Dek Nanda terjebak di sini terlalu lama. Suatu saat Dek Nanda akan terjerumus seperti yang lain. Saya khawatir saja."


"Terima kasih atas perhatiannya Bapak dan kebaikannya Bapak selama ini. Sampai saat ini, alhamdulillah rezeki yang saya dapat masih dari cara halal, Pak!"


"Saya kagum dengan keteguhan Dek Nanda. Kalau Dek Nanda mengijinkan, saya ingin kenal lebih dekat lagi."


Matanya Bapak itu tak berkedip menatapku. Keningnya mengkerut. Sepertinya, ia heran dengan jawabanku. Mungkin, terselip rasa kecewa di dalamnya.


"Saya banyak dapat tekanan dari teman dan tamu selama bekerja di sini. Mohon bapak jangan ikut-ikutan menekan saya."


"Em, begini maksud saya...."


Selekasnya aku potong perkataannya.  "Tolong Bapak memahami posisi saya. Bagaimanapun saya masih menunggu suamiku datang untuk kejelasan hubungan pernikahan kami. Kalau sekedar Bapak ingin dekat dengan saya, tak masalah, selama itu tak menimbulkan fitnah pada saya."


Lama Bapak itu terdiam dengan kepala tertunduk, sepertinya, sudah tak ada yang perlu dijelaskan lagi kepadaku.


Sejurus kemudian, ia mendongakkan wajahnya sambil tersenyum. "Boleh saya minta nomer Hapenya Dek Nanda?"


Sejenak aku terdiam, lalu kepalaku mengangguk, "boleh."


Sejak saat itu, si Bapak setiap minggu sekali datang menemuiku di Panti Pijat Kakak.


Kami semakin akrab. Dia sering menelepon dan mentransfer uang ke rekeningku. Walau nominalnya tak banyak, sudah berkali-kali aku menolaknya, namun ia tetap mengirimkannya.


Di dalam kamar, aku dan si Bapak itu sebatas mengobrol ngalor ngidul, tidak lebih dari itu. Sesekali ia minta di pijatkan badannya yang sedang capek sepulang dari luar kota.


Sumpah demi Allah, aku membatasi diri selama dekat dengannya. Bila ia coba menyentuh tanganku, aku akan sangat  marah dan ia pun takkan berani lagi.


Bagi dia, aku adalah perempuan yang pandai bercanda. Setiap ngobrol dengaku, ia kerap tertawa lepas. Hal itu yang membuatnya selalu merasa nyaman denganku.


Biasanya, usai ngobrol aku sungkem tangannya, ia balas dengan mengecup keningku dan disertai dengan ucapan, "aku benar-benar sayang deh sama Dek Nanda."


Namun. begitu ada gelagat dia hendak mengecup bibirku, aku mendorongnya sampai ia tersungkur ke belakang


Namun ia tak marah dengan sikapku itu. Ia malah semakin yakin kepadaku.

__ADS_1


Setiap kali hendak pamit pulang, ia selalu berkata, "Dek Nanda. Pikirkan niat tulusku demi masa depan kamu dan anakmu."


__ADS_2