Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Ditodong Pistol Oknum Polisi


__ADS_3

Selama berbulan-bulan aku bekerja di Panti Pijat Kakak, tak terasa aku sudah mulau pandai beradaptasi dan sekaligus bersiasat.


Untuk mengelabui teman-temanku, setiap kali aku mau sholat, aku pura-pura mandi besar. Rambutku selalu aku keramasi. Seolah-olah aku orangnya sudah mau menerima tamu dengan pelayanan plus-plus.


Tentu saja, si Mbak Nina yang paling senang melihatku demikian. Doktrinnya kepadaku beberapa waktu lalu dianggapnya manjur dan telah aku jalankan dengan benar.


Tetapi, rajin sholat dan berpura-pura melayani pijit plus-plus tak membuat nyinyiran teman-temanku terhenti, malah semakin menjadi.


"Coba kamu pikirkan lagi, Nand. Apa sholatmu bisa syah? Kamar yang kamu gunakan di buat maksiat. Kadang kami masuk ke dalam dengan kaki kotor. Terus kamu gunakan sholat? Sholat itu harus dalam keadaan suci, Nand! Di tempat suci, Nand! Bukan di tempat esek-esek seperti ini." Ujar Bella namun aku tak menggubrisnya.


Rasanya sia-sia saja aku melakukan siasat dengan berpura-pura mandi besar di setiap sholatku. Toh, mereka tetap tak mempercayainya.


"Ini Nand, aku punya makanan. Kalau kamu mau, ayo kita maem bareng!" ujar Bella membuka percakapan nyinyir di sela waktu rehatnya karyawan.


"Bel, Bella! Si Nanda mana mau dengan makanan yang kita beli! Uang yang kita pakai, kan, dari hasil lendir. Haloom...haloom!" Celetuk Rere.


"Duh wanginya bila duduk di dekat  Neng ustadah Nanda!" ujar Bella yang sudah berada di sampingku.


Semua kenyinyirannya aku tanggapi dengan hati dingin. Sebab, aku selalu diingatkan oleh kalimat yang pernah aku baca, "sekalipun kamu sedang terdampar di tempat sampah. Kamu jangan ikut menjadi sampah."


************************


Walau sudah pandai beradaptasi dan bersiasat, hari-hari yang aku jalani tak memberiku kenyamanan dan ketenangan hidup.


Seringkali kelebat bayangan suamiku hadir di ruang kekecewaan hati. Sudah 6 bulanan ia tak kunjung mengunjungi kami.


Bila mengingat kekecewaanku padanya, terkadang air mataku menetes di punggung customerku saat  aku pijit. Jika itu terjadi, aku di komplainnya agar keringatku tak netes ke tubuhnya.


Bekerja di tempat Panti Pijat Plus-plus itu, membuat aku banyak mengenal karakter laki-laki. Setiap hari lelaki datang silih berganti. Dari yg bersendal jepit sampai yang masih memakai dasi.  Dari yang barbau wangi sampai yang berbau tengik.


Dalam keadaan sedih pun, aku diwajibkan menyapa mereka dengan santun dan ramah.


Dari awal kali sampai kini, aku tetap teguh tak memberikan pelayanan plus-plus kepada mereka.


Ada yang memaklumi, ada yang simpatik. banyak yang penasaran, tetapi banyak pula yang marah-marah kepadaku.


Suatu ketika seorang laki-laki yang penampilannya mirip seorang polisi datang ke tempat pijat Kakak. Ia begitu gagah dan ganteng.


Prosedur pelayanan yang aku berikan padanya sama dengan yang lain.


Di saat aku sedang memijitnya, ia bertanya kepadaku, " Kalau plus-plus di sini berapa bayarnya?"


" Maaf Mas, saya kurang paham kalau masalah itu," jawabku dengan hati-hati.


" Lah,  kamu biasanya di bayar berapa?"


"Saya hanya khusus mijit, Mas!"


" Alah munafik, kamu! Ayo tinggal sebutin, berapa? Takut banget, gak aku bayar, ya?"


Sepertinya, oknum polisi itu emosinya mulai membumbung. Untuk meredamnya aku memberi penjelasan panjang lebar bahwa aku memang tak pernah melayani plus-plus.


"Begini saja ya, Mas. Saya panggilkan temanku, untuk gantikan saya."

__ADS_1


Dia gak mau. Penjelasanku tidak ia terima. Oknum polisi itu tetap ngotot minta pelayanan plus-plus dariku.


Kemarahannya semakin membumbung tinggi.. Reaksi  marahnya sulit aku tebak. Sebab ia tak bernada marah dengan suara yang lantang.


Tiba-tiba.....


Dia mengeluarkan pistol di balik bantal. Lalu Ia todongkan ke arahku.


Mataku terbelalak. Jantung seperti sedang terlepas. Sekujur tubuhku gemetaran.


Di sudut kamar aku tersandar lunglai. Kakiku berpijak gontai.


Aku menangis ketakutan.


Dalam hitungan detik aku akan tertembak.


Aku benar-benar pasrah, dan berharap belas kasihan dari oknum polisi itu..


Bagaimana dengan anakku nantinya bila aku mati?


Selama hidup aku tak pernah mengalami rasa takut yang teramat sangat seperti ini.


Ya Allah..tolonglah hambamu ini.


Sejurus kemudian, aku lihat, ia memakai bajunya, dan bergegas keluar pergi meninggalkan Panti Pijat Kakak.


Aku pikir masalah yang aku hadapi sudah selesai. Dan aku telah lolos dari ancaman maut oknum polisi itu.


Beberapa jam kemudian dia datang lagi ke Panti Pijat Kakak.


Untuk kali ini, sepertinya, Kakak tak bisa lagi membelaku.


"Nanda, kesini!" Panggil Kakak.


Panggilan Kakak kali ini sangat menakutkanku untuk menghampirinya.


Dengan langkah kaki gontai, aku memenuhi panggilan Kakak.


Oknum polisi itu tepat berada di depan Kakak. Dengan pandangan dinginnya ia menatap sekujur tubuhku yang sedang ketakutan.


"Nanda, kamu layani Mas ini dengan baik, ya?'Sekarang kamu masuk lagi, tunggu Mas ini di dalam."


Aku sudah tak punya keberanian lagi menolak perintah Kakak.


Oknum polisi itu akan masuk ke kamarku lagi. Aku hanya bisa pasrah apapun yang akan di lakukan oknum polisi itu, asalkan nyawaku bisa terselamatkan.


Aku berlalu dari hadapannya menuju ke kamar pijat tadi, dan menunggu oknum polisi itu masuk ke kamarku lagi.


Menunggu oknum polisi itu di kamar, seolah aku berada di ruang kamar yang berhantu. Suasana sunyi ruangan membuatku begitu tegang.  Lafadz, la ilaa ha illa anta subhanaka inni kuntu minaddzolimin, auto aku ucapkan berkali-kali.


Tidak seperti biasanya, ruang tunggu teman-temanku yang biasanya ramai dengan candaan, mendadak hening. Mereka berkumpul dengan Kakak, berharap cemas menantikan apa yang akan terjadi padaku.


Duh, putriku, akankah ibumu hari ini di gauli oleh laki-laki selain bapakmu?

__ADS_1


Ya Allah, mohon ampuni segala dosa-dosaku! Tolonglah hambamu, ya Allah.


Oknum polisi itu memasuki kamar. Ia langsung duduk di ranjang pijat.


"Duduk sini, kamu!" Ucapnya memerintah aku.


Jantungku berdetak kencang. Aku menghampirinya dengan kuasaku yang lumpuh. Kakiku berjalan dengan gemetaran.


Aku berdiri dihadapannya dengan kepala tertunduk.


"Duduk, sini!"


Akupun duduk di sampingnya.


"Kamu kok tegang banget, sih. Ayo, rileks!."


"..iyaa, Mas!" Jawabku terbata. Aku teramat pasrah, otakku sudah tak berfikir, hanya bacaan istigfar semakin kencang melaju dalam hati.


" Untuk yang tadi. Saya minta maaf, ya?"


Aku hanya bisa mengangguk kepala. Dan air mataku pun tumpah.


"Saya tadi lupa tak memberimu Tips . Ini ambil!"


Ia memberi selembar uang seratus ribu ke tanganku. Aku masih sangat takut mengambilnya. Ia memaksakan jemariku menermanya.


"Tapi ingat. Setelah ini, kamu tak boleh kerja di sini lagi. Ingat, itu!"


Aku hanya angguk-angguk kepala, rasa takutku belum menghilang.


"Perempuan baik-baik sepertimu tak boleh ada di sini. Awas! Kalau saya ke sini lagi, ternyata masih ada kamu, saya masukkan kamu ke panti sosial!"


Mendengar ancamannya, aku hanya menunduk tertegun. Seketika, ia tanpa basa basi berlalu begitu saja meninggalkanku.


Mengetahui ia telah pergi meninggalkan Panti Pijat, si Kakak beserta teman-temanku, berlarian menghampiriku.


Aku menangis di pelukan Kakak. Teman-temanku mengelus-elus punggungku.


"Kami minta maaf, ya Nanda." Ucap Bella lirih.


"Aku juga, Nand" timpal Rere.


"Makanya, kalian tuh sama Nanda jangan sirik banget. Sama-sama cari rezeki di sini itu yang akur!" Nasehat Kakak pada mereka. Si Bella dan Rere pun mengangguk malu.


"Tadi Dek Nanda diapain sama si Mas itu, kok, sebentar sekali?" Tanya Kakak.


Aku pun bercerita pada Kakak dan teman-temanku, tentang apa saja yang dikatakannya, dan apa yang akan dilakukannya jika aku masih di Panti Pijatnya Kakak.


Usai aku bercerita, selekasnya Kakak memelukku lagi.


"Duh, Dek Nanda! Kamu benar-benar mengingatkan masa-masa sulit yang di alami Kakak. Yang sabar, ya, Dek!"


Teman-temanku terdiam. Sepertinya ada rasa penyesalan di hatinya karena terlalu sering membuliku.

__ADS_1


"Dek Nanda tenangkan diri dulu di rumah. Gak apa-apa libur semingguan dulu. Soal ancaman si Mas tadi, biar suamiku yang urus ke dia."


__ADS_2