
Beberapa hari kemudian aku dan putriku pulang ke kampung halaman di Bandung. Suamiku akan menyusul setelah menyelesaikan proyek Kakak Iparnya di Jakarta.
"Bu, setelah dari Jakarta aku nyusul Ibu, ya?" sapa suamiku melalui hand phone.
"Terserah, kamu lah Pak!" jawabku tak bersemangat mendengar permintaannya.
Entah suamiku kembali kepada kami atau tidak, aku tak terlalu berharap.
"Nanti aku kembalikan uangnya Ibu, tetapi separuh dulu, ya!"
" Iya … " jawabku datar. Dalam hatiku melonjak senang mendengarnya. Lumayanlah, buat nambah-nambah usahaku di rumah orang tuaku, nanti.
"Tapi, kalau aku ikut tinggal disana, nanti aku kerja apa Bu?"
"Nantinya, bapak kerjanya tidur-tiduraan saja!"
"Hehe...jangan marah gitu donk, Bu!"
Akhirnya aku kembali ke rumah orang tuaku. Upaya hidup mandiri berumah tangga dengan suamiku selama 4 tahun di Depok, kandas!
Dan sekarang aku, putriku dan suamiku telah berkumpul kembali dengan keluar besarku di sebuah desa yang padat penduduknya.
Memang, kepulanganku ke kampung halamanku ini tiidak membawa status janda, tetapi, jiwaku telah dibuat menjanda oleh Mas Bram, lantaran kemuliaan hatinya.
Aku telah menerima suamiku kembali sebagai suamiku, namun butuh proses menerimanya seperti dulu kala.
Pesan dari Mas Bram akan selalu ku ingat:
" ... Pesanku pada Dik Raisa, berilah suamimu kesempatan memperbaiki ketidaksempurnaannya. Jangan menuntut kesempurnaan seorang suami, tapi temani ia berproses menjadi suami yang baik."
Aku memang berniat melupakan Mas Bram, walau rindu ini padanya tak pernah bisa aku lenyapkan.
Kata Mas Bram, " ...Sebesar apa rasa sayangku pada Dik Raisa, itu sudah tak penting. ... Jangan hiraukan perasaanmu padaku. Lama-lama itu akan hilang dengan sendirinya."
Katanya lagi:
" ... Ingatlah, salah satu dasar alasanmu menikah dengan suamimu adalah saling mencintai. Pertahankan itu sampai ajal memisahkan kalian!"
__ADS_1
Hidup bersama suamiku di Bandung, aku memulainya dari awal lagi. Aku mulai dengan membuka usaha warung kecil-kecilan.
"Terus aku usaha apa, Bu?" tanya suamiku yang sudah sebulan nganggur hidup bersamaku.
" Aduh bapak ini, tetap saja gak bisa tanggu jawab sendiri nyari kerjaan."
"Kan Ibu sudah tahu, bisanya aku cuma kerja ke Kakak ipar?"
"Iya, iya ... Nanti aku carikan kerjaan!"
Selanjutnya ...
Aku juga yang pontang panting nyarikan kerjaannya suamiku.
Akhirnya … aku pun menemukan kerjaan untuknya. Alhamdulillah, walau gajinya tak seberapa, tapi ia dengan sungguh-sungguh melakukannya.
Siklus kehidupan rumah tanggaku pun seperti biasanya, yakni, aku kembali menjadi isteri yang cerewet, dan suamiku pun tetap tak bisa diandalkannya.
Bulan demi bulan telah aku lewati bersama suamiku, tapi, jangan bilang aku sudah melupakan bagaimana suamiku selama 10 bulanan telah tega meninggalkan kami.
Biasanya, kecerewetanku menjadi kumat, bila ada cekcok ekonomi keluarga dengannya. Pastilah ungakapan marahku ini akan keluar, "dasar laki laki gak tanggung jawab ... !"
Bukannya aku bangga dengan kelebihanku sebagai isterinya, tetapi faktanya, setiap ada malasah ekonomi rumah tanggaku ataupun usaha keluarga, selalu saja aku yang mencarikan jalan keluarnya. Sementara, posisi suamiku selalu menjadi asistenku.
Tapi … mau bagaimana lagi. Kenyataan rumah tanggaku harus selalu aku syukuri. Masih banyak rumah tangga lainnya yang tak seberuntung aku, mudah terjungkal terjang ombak kehidupan.
Oleh karenanya, apapun permasalahan rumah tangganya, kecuali penghianatan, keutuhan rumah tangga haruslah jadi pilihan utamanya.
Bagiku, terpenting keluarga kami tetap utuh.
Ujian hidupku terjebak di Panti Pijat plus-plus itu telah memberiku banyak pelajaran berarti, terutama tentang tiadanya kesempurnaan dalam pasangan rumah tangga.
Karena itu … rumah tangga yang kami jalani saat ini sudah berbeda dengan yang dahulu. Sekarang aku dan suamiku mulai belajar hidup berumah tangga dari awal lagi.
Aku terus memupuk kesabaranku atas kelemahannya, suamiku pun mulai belajar tak mudah lari dari tanggung jawabnya.
Kekurangan suamiku akan aku terima. Karena bagaimanapun ia telah banyak pengorbanan padaku.
Suamiku selalu sabar mengahadapiku. Ia selalu menahan diri agar tidak terlibat keributan denganku.
__ADS_1
Dia tetap menjaga kehormatanku sebagai isterinya di mata kleuarganya dengan menunjukan, bahwa ia tak salah memilih isteri aku.
Walau sering aku ungkit kata-kata " coba kalau dulu aku ninggalin, kamu! Gak mungkin hidupku begini!"
Tapi, suamiku tetap bertahan tidak ikut marah dan meninggalkanku lagi. Padahal aku tau banget, itu pasti sangat mnyakitkan hatinya.
Itulah kelebihan suamiku. Kesabarannya di atas rata-rata laki laki lainnya.
Mau cari kemana lagi, laki laki yang sabarnya seperri dia?
Tanpa terasa telah satu tahun aku dan suamiku tinggal di Bandung. Terkadang, aku rindu pada Mas Bram. Namun kerinduan-kerinduan itu cukup aku catat di buku harianku. Kadang aku unggah ke facebook dalam bentuk puisi.
Suatu ketika saat aku, putriku dan suamiku jalan-jalan di Tanggerang, saat kami berada di Mall, suamiku melihat Mas Bram.
"Bu, itu kan Mas Bram!" seru suamiku menunjuk ke arah sosok Mas Bram yang sedang menggandeng mesra seorang perumpuan muda cantik.
Sontak mataku pun terbelalak melihat sosok laki laki yang teramat aku rindukan itu. Perempuan yang sedang digandengnya jauh lebih cantik dariku. Ia tak berjilbab. Dari penampilannya, terlihat ia perempuan dari kalangan terdidik.
Ada desir kecemburuanku menjalar melihat kemesraan mereka. Jujur, rasa kangen dan cemburu itu membuncah jadi satu.
Suamiku melirikku sambil mengajakku menyusul ke arah Mas Bram.
"Gimana, kita ke sana, Bu." tanya suamiku dengan tersemyum. Mungkin suamiku tersenyum karena melihat Mas Bram telah bergandengan dengan perempuan cantik.
Aku melirik putriku yang di gendong suamiku. Tiba-tiba kesadaranku menyeruak untuk menolak ajakan suamiku menghampiri Mas Bram.
"Gak usah, gak usah, Pak! Ayo kita lekas keluar dari Mall ini!" jawabku sembari menarik tangan suamiku bergegas keluar dari Mall itu.
Aku menghindari Mas Bram, bukan karena aku cemburu atau tak rindu padanya. Namun aku tak mau terjebak lagi ke dalam masalah pelik masa laluku dan menyeretnya ke dalam rumah tanggaku
Cukuplah sosok Mas Bram bagian dari masa laluku yang tak perlu di hadirkan ke dalam kehidupan masa kiniku. Masa kiniku cukuplah bersama suamiku dan putriku.
Bersama suamiku aku ingin membangun masa depan keluarga yang lebih baik, dan menjadi busur panah masa depan bagi putriku agar bermanfaat orang tua, masyarakat, bangsa dan agama.
Saat kisah ini selesai ditulis, setelah semua badai rumah tanggaku berlalu, kini aku sudah cukup bahagia dengan suamiku, walau secara ekonomi kami masih pas-pasan.
Sebagaimana aku yang masih banyak kekurangan, aku akan mendampingi suamiku yang tak sempurna itu selamanya, sampai hidup kekal di akhirat nanti.
Terima kasih buat penulis kisahku ini, yang sudah berkenan menuliskannya berhari-hari. Harus kuakui, penulis kisahku ini begitu pandai menyusun kalimat, sehingga aku sebagai pelaku kisahnya sering dibikin nangis sendiri setiap membaca bab demi bab-nya. Seakan-akan aku datang kembali ke masa lalu yang kelam itu.
Dapatkan Novelnya versi Cetak di https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MTI1NTI=
__ADS_1
Tamat