Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Bab 19. Pov Mas Bram


__ADS_3


Setelah mengantar Raisa ke rumahny Mama, saya langsung kembali ke rumah kontrakan di Tanggerang. Di Kamar, saya merebahkan tubuh melepaskan penat badan dan pikiran. Masih terngiang sosok Raisa yang kini telah bertemu suaminya tadi. 


Ah, Raisa ... Raisa ... untunglah waktu itu ia lekas menelepon, dan untungnya pula saya sedang ada di Jakarta. Jadi tanpa membutuhkan waktu lama, saya bisa menjemputnya.  


Waktu di perjalanan ke Alun-Alun Bogor, saya tak punya niat sedikitpun menggunakan kesempatan dalam kesempitan kepadanya. Walaupun ia sudah menyatakan ingin jadi isteri saya, dan pastinya ia sangat mau bila diajak tidur bersama di hotel itu.


Tetapi ... janganlah! Kalau cuma butuh meniduri perempuan cantik, saya bisa mendapatkannya kapan saja. Saya benar-benar sayang dan tak tega kepadanya, sehingga tak ada sedikitpun niat hati mengotorinya. Lagian saya sudah terikat perjanjian moral dengan suaminya.


Oh ya, nama saya Bram Syahputra, di panggil Mas Bram oleh Raisa. Rumah asalku kota Surabaya. Kini statusku sebagai duda, setelah bercerai dengan seorang isteri yang masih saya cintai di Banyuwangi. Ia menggugat cerai, lantaran saya memiliki hutang banyak pada saudaranya. Katanya ia tak kuat menahan rasa malu pada keluarga besarnya.


“Kita sebaiknya bercerai saja, Mas!” kata Mamanya anak-anak waktu itu.


“Kenapa solusinya harus bercerai, Ma? Beri kesempatan saya memperbaiki diri. Ingat, kita sudah punya anak tiga, soal hutang saya kuat bayar, tunggulah usaha saya bangkit lagi.” Kata saya memohon kepadanya agar tidak bercerai. Tetapi, egonya dia tinggi, akhirnya kami pun bercerai.


Sampai saat ini saya sangat trauma dengan perceraian dalam sebuah rumah tangga. Mungkin bagi pasangan yang belum memiliki anak, tidak akan terlalu berat bercerai, tetapi jika sudah memilikinya seperti saya, perceraian merupakan langkah berat yang dijalani dalam hidup ini.


Saya akui terlalu gegabah berani berhutang untuk sebuah usaha yang spekulatif. Tetapi, yang saya sesalkan, ia lebih mementingkan martabat keluarga besarnya daripada keutuhan  keluarga kecil kami. Dan keputusannya bercerai lebih bersifat emosional daripada rasional. Tentu saja akibat perceraian itu yang menjadi korbannya adalah anak-anak kami.


Ah ... sudahlah. Dia mungkin bukan jodohnya saya. Terpenting saya masih bertanggung-jawab atas tanggungan hutang pada saudaranya, dan setiap bulan saya masih memberi nafkah kepada anak-anaknya.


Sebenarnya sejak bercerai, saya memutuskan untuk tidak akan menikah lagi. Saya hanya kasihan melihat anak-anak kelak harus memanggil Mama kepada perempuan lain yang bukan ibu kandungnya. Biarlah saya hidup sendirian sampai tua. Karena, capek sekali rasanya membangun rumah tangga; sekuat tenaga mencocokkan dua jiwa yang berbeda, menyatukan pikiran dan keinginan yang berbeda, eh, tiba-tiba harus bercerai jua. 


Namun, setelah saya bertemu dengan Raisa, keinginan membangun mahligai rumah tangga itu tumbuh. Entah kenapa, wajah Raisa mirip dengan mantan isteri saya tatkala ia seumuran dengan Raisa. Tidak hanya wajahnya, tetapi sholatnya juga sama-sama rajinnya.


Harus saya akui, cinta pada mantan isteri itu belumlah pudar. Tetapi tatkala melihat  sosok Raisa di Panti Pijat-nya Mbak Irene itu, gairah cinta dalam diri saya bersemi kembali.


Awalnya saya hanya penasaran kepadanya. Kok bisa ada perempuan muda cantik masih pakai Jilbab di tempat maksiat seperti itu. Dan saya bertambah heran, kok dia masih rajin sholat. Setelah saya  berbincang dengan pemilik Panti Pijat, Mbak Irene, barulah saya tahu banyak tentang siapa si Raisa yang memakai nama samaran Nanda itu.


“Yang cewek lugu itu masih ada, Mbak?” tanya saya ke Mbak Irene waktu itu.


“Oh si Nanda? Iya ada, Mas Bram. Tapi anaknya masih sholat di kamarnya. Mau pijat sama dia lagi, Mas? Gak kapok?”


“Nggak Mbak. aku penasaran sama dia, Mbak. Itu punya suami atau sudah Janda?”


“Banyak customer yang penasaran sama dia, Mas. Kalau katanya si Diah, ia di tinggal pergi begitu saja sama suaminya yang tak tanggung jawab ... Kasihan juga dianya Mas.”


“Oh begitu ... ”


“Nanda ...! Cepetan sholatnya, ini ada customer yang nyari? Nandanya kalau sholat, mesti lama. Yang sabar ya, nunggu dia!”


Awalnya dia saya pancing dengan memberikannya uang 400 ribu, tetapi dia tak tertarik agar saya datang lagi kepadanya. Dia memang berbeda dengan perempuan lainnya yang mengukur saya hanya dari materi saja. 


Akibatnya saya sering merindu kepadanya. Minimal setiap minggu sekali, bila saya tak sibuk bekerja, pasti saya sempatkan menemuinya di tempat PP-nya Mbak Irine itu.


Saya pikir dia jenis perempuan yang mudah saya dapatkan. Ternyata tidak semudah itu, Ferguso!


Sebagai orang Surabaya, gaya bicara saya blak-blakan. Saya mengutarakan niat hati ini tanpa malu-malu lagi kepadanya.


Saya menawarkan kepadanya supaya ia berhenti kerja di PP itu, akan saya konntrakkan rumah yang bagus, serta setiap bulannya saya tanggung biaya hidupnya.

__ADS_1


Namun rupanya dia salah paham, dan sangat tersinggung. Padahal saya hanya khawatir perempuan secantik dia bila terlalu lama di situ bisa terjerumus seperti yang lain.


Saya  terlalu naif menilainya sebagai perempuan yang takkan berdaya melawan arus plus-plus di Panti Pijat itu, namun, setelah saya selidiki, ternyata ia perempuan tangguh yang tak mau tunduk pada keinginan pelanggan yang meminta pelayanan plus-plus darinya.


Ahirnya saya semakin menjadi jatuh cinta dan sayang kepadanya. 


Setiap kali saya bertatap muka  dengannya, hati ini selalu bergemuruh. Ingin lekas memboyongnya ke Surabaya dan menikahinya.


Saya terus mencoba mengakrabkan diri, walau tak berdaya membujuk agar menerima cintanya saya.


Setiap hari saya menghubunginya melalui via telepon maupun bertemu langsung di Panti Pijat tempatnya kerja.


Saya tak tega melihat perjuangannya  yang berat ditanggung seorang diri. Karena itu, saya coba meringankannya dengan mentransfer uang ke rekeningnya setiap bulan.


Tak banyak sih, nominalnya, sebab ia memang tak minta banyak.  Tetapi hal itu saya maksudkan supaya ia semakin kuat melawan tamu-tamu yang meminta pijat plus-plus.


Bagi saya, sebatas melihat ia  tersenyum, tertawa dan bisa bercanda ria, saya sudah bahagia dan sudah cukup mengobati rindu berat ini. Sembari bersabar menunggu hatinya terbuka untuk saya.


Saat bertemu dengannya, selalu saya selipkan kata-kata, "aku benar-benar sayang sama adik!."


Setiap kali meninggalkannya, saya selalu berkata, "Dek Nanda. Pikirkan niat tulusku demi masa depan kamu dan anakmu."


Ah ... aku kira dia namanya Nanda, ternyata nama Nanda pemberian dari Kakak pemiliki Panti Pijat itu. Nama aslinya adalah Raisa.


Saya sangat berharap Raisa mau menjadi isteriku. Bahkan saya sudah memberitahukan Ibuku yang di Surabaya, bahwa, sebentar lagi ia akan punya menantu lagi.


“Saya mungkin akan menikah lagi dengan perempuan dari Bandung, Buk. Do'akan, ya?” kata saya mengabarkan Ibu melalui HP.


“ Ya ... ya ... Ibu do’akan semoga lekas mendapat jodoh lagi kamu, Nak. Semoga dia bisa menjadi isteri salihah.” Jawabnya sangat berharap saya mendapatkan isteri lagi.


Demi kebaikannya saya pun tak berani menghubunginya.


Sehari, dua hari saya masih kuat menahan rindu kepadanya, walau cemburu ini selalu membuncah di rongga dada. Apalagi bila malam tiba, sungguh saya selalu gelisah tak bisa tidur membayangkan Raisa sedang digumuli suaminya yang sudah kembali padanya.


Beberapa hari kemudian, saya mendapat telepon dari seorang laki-laki yang mengaku dirinya sebagai suaminya Raisa.


"Hallo .. apa benar ini nomernya Pak Bram?"


"Iya, benar. Ini siapa!"


"Suaminya Raisa!"


Deg!


Saya sontak kaget mendengar ia  mengaku sebagai suaminya Raisa. Darimama ia tahu nomor HP-saya.


"Bapak jangan goda-goda isteri saya lagi. Raisa itu masih isteri saya yang syah."


"Bukankah anda sudah 10 bulan meninggalkan Raisa?"


"Itu bukan urusan bapak. Raisa itu urusannya saya  Awas kalau bapak tetap goda-goda dia lagi;"

__ADS_1


"Begini saja, dimana saya bertemu anda. Mari kita selesaikan masalah ini."


Saya sangat perlu menyelesaikannya segera dengan suaminya Raisa. Saya khawatir kalau tidak lekas diselesaika, saya takut terjadi apa-apa dengan Raisa.


Akhirnya saya bertemu dengan suaminya Raisa di sebuah rumah makan di Tanggerang.


"Secara hukum agama, anda sudah bukan suaminya Raisa."


"Tetapi secara negara? Saya belum bercerai dengannya!" jawabnya dengan mata mendelik.


"Tapi Raisa sudah tidak mau kembali dengan anda...Itu masalahnya. apa anda akan memaksanya supaya mau?"


Ia menunduk. Kalimat saya tersebut seperti petir yang menyambarnya hatinya.


"Saya bertemu Raisa di PP tempatnya kerja. Saya pikir dia tak bersuami. Kalau punya suami tak mungkin dia kerja di sana."


Saya lihat suami Raisa masih terdiam. Sepertinya ia sedang menyesali diri.


"Lalu kenapa anda ingin kembali padanya, toh, dia sudah tercebur di panti pijat yang melayani plus-plus?"


"Karena ... saya masih mencintainya pak Bram!"


"Lalu apa yang akan anda lakukan jika Raisa tetap tidak mau sama sekali sama anda."


Dia terdiam......menunduk, sejenak menghela nafas dan melengahkan kepala. Kemudia ia bercerita ihwal pertengkarannya dengan Raisa sampai ia meninggalkannya.


Seklias apa yang di ceritakannya mirip sekali dengan yang saya alami  ketika bertengkar dengan mantan isteri saya. Pelan-pelan perasaan saya pun seketika berubah empati  pada suaminya Raisa.


"Intinya bukan saya tak mau pulang. Tetapi saya tak berani sebelum bisa melunasi uangnya."


"Sekarang  apa anda masih mencintainya?"


"Sangat ...Pak ... !"  Bulir air matanya tetjatuh.


Ah, saya jadi tak tega kepadanya. Saya jadi merasa bersalah bila merebut Raisa dari tangannya.


"Apa jaminanmu bila Raisa mau nenerimamu kembali?"


"Saya aku tanggung jawab, Pak"


"Kalau ternyata anda lari lagi dari tanggung jawab itu?"


"Tidak akan. Pak!"


"Mau tanda tangan di atas materai?"


"Mau pak."


"Konsekwensinya bila anda tak tanggung jawab lagi, Raisa saya bawa ke Surabaya.!"


"Iya pak, siap, Pak!"

__ADS_1


Demikian lah cerita pertemuanku dengan suaminya Raisa yang bernama Rahman Akbar itu. Saya tak tega melihatnya. Ia harus diberi kesempatan sekali.lagi. Dan Raisa harus menerima suaminya kembali. Sebab tak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan dia, dengan kita semua.


Sebulan setelah Raisa dan suaminya kembali pulang ke kampung halamannya, saya sering berkunjung ke rumahnya Mama sebagai obat rinduku pada Raisa. Terkadang 2 sekali, tetkadang sebulan sekali. Namun saya mewanti Mama agar tidak memberitahukan Raisa bila saya sering datang ke rumahnya.


__ADS_2