Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Tolonglah Aku Mas Bram


__ADS_3

Pada suatu hari musibah yang tak kalah hebat menerpaku. Ketika itu Panti Pijatnya Kakak dibuat geger dengan berita hilangnya uangnya Diah sebesar 1 juta. Semua sibuk mencari keberadaan uang tersebut.


Ya Allah aku gak ngerti, kenapa tiba-tiba uang 1 jutanya Diah ada di dalam tasku yang aku simpan di dalam loker. Herannya lagi, si Kakak sendiri yang menemukan setelah semua tas yang ada di loker di geledahnya.


"Gak mungkin Nanda yang ngambil, Kak. dari tadi dia ngobrol sama aku. Kok." Ujar Diah membelaku. Diah juga mengancam Kakak, kalau Kakak tetap menuduhku yang mengambil uangnya.


" Aku gak nyangka. Kamu kok bisa begini Dek Nanda! Kurang baik apa aku sama kamu Dik. Kalau kamu bener-bener butuh uang, kenapa gak cerita sama Kakak?" keukeuh Kakak menuduhku sebagai pencurinya.


Hanya si Diah yang mati-matian membelaku. “Aku akan  berhenti kerja kalau Kakak masih menuduh Nanda yang mengambilnya!” ancam Diah dengan sengit.


"Lah, terus ini bukti gimana? Ini Nyata-nyata uangmu ada di tas-nya Nanda, Kalo Nanda gak mau di tuduh, ya cari tau .. siapa orang yang masukin uang ini ke dalam tasnya!" seru Kakak tak mau kalah dengan Diah.


Kalimat Kakak itu terlontar halus, tapi rasanya seperti ngiris-ngiris hatiku. Apalagi teman-temanku ngoceh gak karuan ketika mereka tahu uang itu ada di dalan tasku.


“Pasti ada yang sirik sama Nanda.”tegas Diah dengan tatapan mata menyelidik ke arah teman-teman yang bergerombol di ruang tunggu tamu..


"Kakak harusnya mikir. Kalau memang  Si Nanda pencurinya mana mungkin uangku di taruh di tasnya dan tergelatak begitu saja."


“Ini pasti di antara teman-teman ada persekongkolan jahat, supaya Kakak membenci Nanda.”


“Oh, kamu nuduh kita-kita?” seru salah satu di antara mereka.


“Gak Nuduh. Cuma gak masuk akal, kalau Nanda yang mencurinya. Asal kalian tahu dari tadi Nanda itu selalu bersama aku!”


“Sudah … sudah … gak perlu bertengkar kalian!” ucap Kakak memisah perseteruan yang semakin memanas.


Aku yang merasa tersudut, selekasnya bergegas pulang. "Aku pamit pulang, Kak!" kataku pada Kakak tanpa menoleh kepadanya.


"Ya udah, kamu istirahat dulu ya, Dik Nanda! Nanti kamu boleh kerja lagi kalau aku panggil yaa, Dik!"  Kalimat Kakak ini terdengar semakin menyelekit di hati.


 


 


***************************


Sampai di rumah tubuhku nyaris tanpa tenaga, semangat hidupku benar-benar lumpuh.


Aku ingin menangis tapi air mata sudah habis terkuras. Ingin menjemput anakku di rumah Mama, rasanya sudah tak punya  tenaga lagi untuk berjalan ke sana.


Sampai aku terlelap di kursi panjang, baru terbangun saat kumandang suara adzan magrib. Mau berdiri niat mengambil wudhu,  namun rasanya percuma saja aku sholat.

__ADS_1


Ah..kenpa semakin aku rajin sholat masalahku semakin berat. Doa-doaku selama ini sepertinya sudah  tak di dengarkan Tuhan lagi.


Aku paksakan berdiri mengingat putriku belum aku jemput di rumahnya Mama. Dengan langkah kaki gontai aku pergi ke rumah untuk menjemput putriku.


Saat ini aku benar-benar lelah lahir batin. Mungkin lebih mendekati pada keputus-asaan yang akut.


 


 


*************


Esok paginya malas sekali melakukan aktifitas pagi di rumah kontrakanku. Namun aku sadar, bagaimanapun beratnya beban batinku, aku harus tetap bersemangat melayani kebutuhan putriku. Maka, pagi itu sepertinya biasanya kusiapkan semua kebutuhan putriku sebelum kutitipkan ke Mama.


Pagi ini aku tak ada rencana berangkat kerja ke PPnya Kakak. Selain takut ketemu suamiku, tuduhannya Kakak kemarin membuat aku enggan bertemu dengannya.


Hatiku sedang dilanda kekosongan makna dan kehampaan hidup.


Entah tiba-tiba, aku ingin pergi sejauhnya tanpa diketahui siapapun.


Pergi ke suatu tempat antah berantah tanpa ada  penderitaan yang menyertai hidupku lagi.


Sekelebat kemudian, pikiranku teringat pada sosok Diah yang kemarin membelaku mati-matian di hadapan Kakak.


Aku pernah lihat dia masuk kamar  bersama tamu sampai 15 kali. Ada yang cuma 10 menit. Ada yang 1 jam, ada pula sampai 3 jam dengan seorang tamu.


Menjelang Magrib aku menelepon Diah.


"Hallo ... Eh, Diah, bisa gak kamu kesini sekarang. Aku gak masuk kerja, nih." kataku melalui HP.


Entah tiba-tiba aku butuh hiburan dan kesenangan hidup yang selama ini tak pernah aku jamah.


Sebelum Diah datang. aku pergi ke rumah Mama menitipkan putriku untuk beberapa hari. Tak lupa aku beri Mama uang untuk biaya putriku selama dengan dia.


"Ada apa Raisa, kamu panggil aku ke sini?" tanya Diah.


"Suntuk banget aku. Please, ajak aku jalan-jalan dong.!"


"Jalan-jalan kemana, Sa?"


"Biasanya kamu kemana, aku ngikut saja."

__ADS_1


"Beneran kamu mau ikut aku?"


"Iya."


"Aku mau ke jakarta, pulangnya pagi lho"


"Biarin lah, pokonya aku ikut."


Singkat cerita dari Depok, kami jalan-jalan di Jakarta. Sesampai di Jakarta, rupanya si Diah sudah ada janji sama seseorang.  Lelaki itu menjemput Diah di tengah perjalanan.


Di dalam mobil aku gak ikutan ngobro, apa Lagi tanya-tanya mereka mau kemana. Aku percaya saja pada Diah. Gak munkin dia ninggalin aku atau berbuat jahat kepadaku.


Sampailah kami di suatu tempat.


"Raisa, tempat ini namanya diskotik.  Kamu tenang aja, kamu aman, kita happy-happy dulu, ya! Cuma kamu jangan jauh-jauh dari aku." Kata Diah mengingatkanku


Masuk ke dalam ruangan diskotik, aku selaksa orang hutan yang baru masuk kota. Selama hidup aku tak pernah masuk ke diskotik. Ini pengalaman pertamaku.


Walapun tangannya Diah membimbingku, tapi kepalaku terasa pusing oleh kelap kelipnya lampu di ruangan gelap. Apalagi suara dentuman keras musiknya membuat jantungku terasa mau jebol.


Suasana di dalamnya terlihat kacau. Kepalaku sering celingukan mencari posisinya Diah. Sebentar dia datang, sebentar kemudian dia menghilang. Walau dia berulang kali bilang, jangan takut, tapi tetap saja aku merasa  ketakutan.


"Kalau ada yang ngasih minum, kamu jangan mau!" teriak Diah dengan mulut yang berbau alkohol.


"Iya!" aku menganggukkan kepala.


"Kalau ada yang gasih apa-apa ke kamu jangan mau"


"Iya ..."


"Kalau mau ke toilet harus sama aku, jangan sendirian!"


Lalu Diah ngeloyor lagi. Ia benar-benar menikmati dunia malamnya.


Duduk termangu sendirian di dalam diskotik itu membuat aku tidak betah berlama-lama. Apalagi ada beberapa orang suka  duduk di dekatku dengan tatapan mata aneh sambil  nyengir-nyengir  gak karuan.


Iseng aku buka HP, lalu aku miss call nomor kontaknya Mas Bram.


Eh, ternyata dia langsung telepon balik. Sontak aku angkat panggilannya


"Dek Raisa dimana? Itu suara musik kenceng banget.  Kamu di diskotik, ya?" Tanya Mas Bram dengan nada tinggi.

__ADS_1


Secepat kilat aku keluar ruangan. Di halaman parkir itu, aku menangis dengan kencang. "Tolong aku Mas Bram!"


__ADS_2