Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Pov Mas Bram (2)


__ADS_3

Suatu ketika Raisa mengabariku bahwa suaminya kembali pulang ke kontrakannya. Ia memintaku agar tidak menghubunginya dulu. Katanya pula dia sedang libur kerja selama semingguan.


Demi kebaikannya, aku pun tak berani menghubunginya.


Sehari, dua hari aku masih kuat menahan rindu ini, walau cemburu selalu membuncah di rongga dada. Apalagi bila malam tiba, sungguh aku selalu gelisah tak bisa tidur. Bayangan Raisa sedang digumuli suaminya selalu menjadi hantu malamku.


Ah, akhirnya aku mencuri-curi hubungan melalui Chatting dengannya. Aku ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja di sana.


Beberapa hari kemudian, aku mendapat telepon dari seorang laki-laki yang mengaku dirinya sebagai suaminya Raisa.


"Hallo .. apa benar ini nomernya Pak Bram?" kata seorang laki-laki di ujung telepon.


"Iya, benar. Ini siapa!" sapaku menjawab dari suara yang tak pernah kukenal tersebut.


"Aku suaminya Raisa!" bentaknya.


Deg!


Aku sontak kaget mendengarnya  mengaku sebagai suaminya Raisa. Darimama ia tahu nomor HP-aku?


"Bapak jangan goda-goda isteriku lagi! Raisa itu masih isteri aku yang syah." ucapnya dengan suara lantang.


"Katanya Raisa, dia tak punya suami … karena sudah 10 bulan di tinggalkan pergi?" sahutku coba menenangkan.


"Itu bukan urusan bapak. Raisa itu urusannya aku. Saya masih suaminya!  Awas kalau bapak tetap goda-goda dia lagi!" ancamnya sambil menutup teleponnya.


Aku merasa tidak bersalah dalam hal ini. Tidak merasa sebagai selingkuhannya Raisa. Secara agama pun, hubungan Raisa dan suaminya sudah kategori talak.


Dan sebagai lelaki, aku tak ingin dikatakan lelaki pengecut. "Begini saja, dimana aku bisa menemui anda. Mari kita selesaikan masalah ini." Kataku melalui pesan SMS yang kukirim ke nomer HP-nya.


Tak berapa lama, ia pun membalas SMS-ku. “Di tanggerang.” balasnya singkat.


Aku sangat perlu menyelesaikannya segera dengan suaminya Raisa. Aku khawatir kalau tidak lekas diselesaikan, takut terjadi apa-apa dengan Raisa.


Oleh karena itu. aku pun bertemu suaminya Raisa di sebuah rumah makan di Tanggerang.


"Secara hukum agama, anda sudah bukan suaminya Raisa." ujarku mengawali perbincangan kami.


"Tetapi secara negara? Aku belum bercerai dengannya!" jawabnya tak mau kalah.


"Tapi Raisa sudah tidak mau kembali dengan anda...Itu masalahnya. Apa anda akan memaksanya supaya mau?" kataku merasa menang darinya.


Ia menunduk. Sepertinya ia sadar, bahwa Raisa sudah tak bisa menerimanya lagi.


Lama kami sama-sama terdiam. Rasa kasihan padanya tiba-tiba menjalar perasaanku.


“Aku bertemu Raisa di PP tempatnya kerja. Aku pikir dia tak bersuami. Kalau punya suami tak mungkin dia kerja di sana."

__ADS_1


Aku lihat suami Raisa masih terdiam. Sepertinya ia sedang menyesali diri. “Aku masih suaminya, Pak!” desisnya.


"Lalu kenapa anda ingin kembali padanya, toh, dia sudah tercebur di panti pijat yang melayani plus-plus?"


"Karena ... aku masih menyayangi dia … pak Bram!"


Batinku bergumam, Ah … bukan kamu saja yang menyayangi Raisa, aku pun teramat sangat!


"Lalu apa yang akan anda lakukan jika Raisa tetap tidak mau sama anda." tanyaku mengorek hatinya.


Dia terdiam......menunduk, sejenak menghela nafas dan melengahkan kepala. Kemudian ia bercerita ihwal pertengkarannya dengan Raisa sampai ia meninggalkannya.


Ah … seklias apa yang di ceritakannya mirip sekali dengan yang aku alami  ketika bertengkar dengan mantan isteri aku. Pelan-pelan perasaan aku pun seketika berubah empati  pada suaminya Raisa.


"Intinya bukan aku tak mau pulang. Tetapi aku tak berani sebelum bisa melunasi uangnya." pungkasnya.


"Sekarang  apa anda masih mencintainya?"


"Sangat ...Pak ... !"  Bulir matanya terjatuh. Kepalanya menunduk sesal.


Suami Raisa benar-benar berharap aku menjauhi Raisa dan menolongnya membukakan pintu hatinya Raisa.


Ah, aku jadi tak tega kepadanya. Aku jadi merasa bersalah bila merebut Raisa dari tangannya.


"Bila anda tak tanggung jawab lagi, aku membawanya ke Surabaya.”


"Kalau ternyata anda lari lagi dari tanggung jawab itu …?"


"Tidak akan. Pak!"


"Konsekwensinya bila anda tak tanggung jawab lagi, Raisa aku bawa ke Surabaya.!"


Demikian lah cerita pertemuanku dengan suaminya Raisa yang bernama Rahman Akbar itu.


Aku tak tega melihatnya. Ia harus diberi kesempatan sekali.lagi. Dan Raisa harus menerima suaminya kembali. Sebab tak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan dia, dengan kita semua.


Sebulan setelah Raisa dan suaminya kembali pulang ke kampung halamannya, aku sering berkunjung ke rumahnya Mama sebagai obat rinduku pada Raisa. Terkadang 2 sekali, terkadang sebulan sekali. Namun aku mewanti Mama agar tidak memberitahukan Raisa bila aku sering datang ke rumahnya.


“Assalamualaikum Mama …” sapa salamku di depan pintu rumahnya.


“Waalaikum salam, Pak Bram! Ayo masuk, pak!”


“Maaf Ma, bila kedatangan saya mengganggu!”


“Oh nggak apa-apa, Pak Bram. Saya senang kok, Pak Bram mau datang! Sebentar saya buatkan minuman dulu, ya?” ujar Mama sembari masuk ke ruangan belakang.


Rumah Mama ini menjadi saksi bisu keragu-raguan Raisa padaku dalam kesungguhanku mencintainya. Sebab waktu itu, menurutnya, aku tak punya perhatian sama sekali pada putrinya sewaktu jalan-jalan di Mall.

__ADS_1


Ah bodohnya aku … kenapa waktu itu aku terlalu menuruti kata hatiku, sehingga kutaksanggup menjadi penghianat bagi putri-putriku di Banyuwangi?


Andaikan waktu itu, aku pura-pura saja perhatian, dan menganggap putrinya Raisa adalah putriku juga, mungkin Raisa takkan ragu-ragu lagi menjadi isteriku.


Mungkin Ibuku yang di Surabaya akan terkabul do`anya punya menantu Raisa.


Tapi memanglah … jalan takdir hidup ini siapapun tiada yang tahu. Bila Raisa tidak ragu-ragu begitu, mungkin si Akbar tidak akan bisa bertemu Raisa lagi. Bahkan… Akbar tidak akan bisa rujuk kembali dengan Raisa.


Dan … jalan keraguan Raisa itulah yang membentangkan jalanku untuk menjadi lelaki paling bijaksana bagi Raisa. Itu sudah cukup berarti bagiku. Walaupun pohon kebijaksanaanku ini menopang lebatnya daun rindu rindang.


Ataukah … jangan-jangan, ini semua adalah jalan takdirku untuk kembali ke pelukan anak-anakku di Banyuwangi nanti?


“Mari Pak Bram, tehnya dimunum dulu!” sela Mama menyadarkan lamunanku.


“Iya, Ma … terima kasih. Maaf, sudah merepotkan Mama.” Kataku sembari mencicipi teh manisnya.


“Maaf, kalau boleh tahu apa Bram tidak pernah menghubungi Raisa di Bandung?”


“Gak pernah Ma!”


“Maksud saya, menghubungi lewat HP, gitu!”


“Nomer HP Raisa yang biasa saya hubungi, sudah tidak aktif, Ma.”


“Masak sih. Coba aku hubungi, ya?”


Seketika Mama memencet tombol HP-nya, lalu kemudian coba menghubungi nomer HP-nya Raisa.  “Iya … ya. Sudah tidak aktif lagi nomernya Raisa!”


“Gak apa-apa, Ma. Saya cuma mau titip pesan buat Raisa.”


“Pesan apa, Pak Bram?”


“Waktu di Alun-alun bogor, Raisa tak sempat mencatat nomer HP-ku. Tolong kalau dia datang tidak bersama suaminya. Berikan nomer HP ini.” Pesanku pada Mama sembari memberi kartu namaku pada Mama.


“Kenapa Pak Bram melepaskan Raisa begitu saja. Padahal Raisa sudah sayang banget sama Pak Bram. Sebelum berangkat ke Bandung dia menangisi Pak Bram, loh!”


“Mungkin bukan jodohnya, Ma!”


“ Aku itu lebih setuju Raisa menikah dengan Pak Bram, daripada dia kembali lagi pada suaminya!”


“Saya sudah mau pulang ke Surabaya, Ma.”


“Loh kenapa Pak Bram. Apa proyeknya yang di Jakarta sudah selesai?”


“Iya. Sudah selesai, Ma.” Jawabku pendek.


“Saya berharap suaminya bisa membahagiakan Raisa. Jika suaminya tidak bertanggung jawab lagi ... Suruh Raisa menelepon saya, Ma!”

__ADS_1


__ADS_2