Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
12. Suamiku Bongkar Rahasia HP-Ku


__ADS_3

Saat itu suamiku berada di kontrakanku selama 10 harian. Selama itu pula perang terbuka dengannya tak dapat aku hindarkan. Kemarahanku yang sudah menggunung tak bisa lagi aku tahan untuk tidak meledak.


"Kenapa kamu baru datang, Pak?* tanyaku dengan nada marah tertahan.


Lantaran putriku masih di gendongan suamiku. Aku ambil alih ia, lalu aku serahkan putriku ke Mama.


"Ma, tolong Syafira diamankan di rumah Mama dulu, ya." pintaku pada Mama. Tanpa berkata sepatahpun Mama menggendong Syafira ke rumahnya.


" Kenapa bapak baru datang, hah?" tanyaku dengan suara bergetar.


Aku beranjak dari kursi lalu berdiri tepat di hadapannya.


"Aku kerja i-ikut ..." Jawab suamiku terbata.


Tak sampai ia meneruskan alasannya. Kemarahanku yang sudah aku pendam selama 10 bulan itu tak bisa berkompromi lagi dengan telinganku untuk mendengarnya.


"Kembalikan uangku, Pak!" Teriakku melengking dengan energi kemarahan maha dahsyat.


"Aku selama ini, kan, gak bisa hubungi kamu, Bu! Aku pikir ..."


Aku tak mau tahu apapun alasannya.  Bagiku, ia begitu tega selama 10 bulan meninggalkanku dan putriku tanpa kabar.


"Kemana saja selama 10 bulan kamu, Pak..." tanya bertubi.


Tiba tiba, tangan kananku yang sudah teraliri energi kemarahan dahsyat sedari tadi, mendadak refleks.


"Plaak!"


Tamparan tangan kananku begitu keras mendarat di pipi kiri suamiku. Sampai Ia terhuyung ke kanan.


Sepertinya ia tak menyangka tiba-tiba aku menamparnya. Ia tak mengira aku seberani itu menjatuhkan marwahnya sebagai suamiku.


Ia mengaduh sembari mengusap-usap daun telinga kirinya yang begitu terasa sakit, seperti ada bunyi sirine di dalamnya.


Aku tak peduli lagi dengan rasa sakitnya. Apalah arti sakitnya, jika dibanding rasa sakitku ditinggalkannya sampai aku terjebak di Panti Pijat itu.


Kelebat bayangan suamiku yang tanpa beban meninggalkanku usai tabunganku terkuras habis, sementara putriku masih menderita gejala radang otak, membuatku semakin gelap mata.


"Sudah, Bu, Sudah! Aku minta maaf. Mohon ampun, Bu!" Ucapnya memelas sembari hendak memegang lengan kananku.


Aku tepis tangannya. Lahar amarahku sudah tak bisa dibendung dengan permohonan maafnya.


Seperti orang kerasukan, aku sudah tak bisa mengendalikan diriku lagi.


Semakin suamiku mendekap kedua kakiku sembari mohon ampunan, semakin kedua tanganku menghujami kepalanya berkali-kali.


Dan sampailah tubuhku terasa begitu lelah, ingatanku pun lamat lamat menghilang, lalu aku tersungkur pingsan.


*****************


Aku terbaring di kamar kontrakanku. Aku mulai siuman setelah 2 jam-an tak sadarkan diri. Terlihat putriku yang sedang digendong Mama tertawa padaku. Aku beranjak untuk memeluknya.

__ADS_1


"Sini, nak. Mama pingin peluk Syafira."


Mama pun segera menyodorkan putriku. Aku meraihnya dan peluk erat dia lalu air mataku tumpah lagi


.


"Lihat, Pak, anakmu ini! Kenapa kamu telantarkan kami, Pak!" Teriakku melengking dengan tangis.


Putriku ketakutan mendengar teriakanku yang melengking. Ia pun menangis histeris.


"Sudah, sudah, Raisa. Kasihan anakmu. Jangan bertengkar di hadapannya. Sabar, sabar, ya Raisa!" Bujuk Mama meredakan emosiku. Lalu Mama memungut putriku untuk mendiamkan.


Sementara suamiku hanya tertunduk diam.


Sebenarnya aku tak tega memperlakukannya begitu. apalagi sampai menamparnya. Apapun ia adalah cintaku dan ayahnya putriku. Perasaan takut bercerai darinya masih sangat kuat dalam jiwaku.


*******************************


Selama 10 hari itu pula tugasku melayaninya sebagai isteri tak dapat aku jalankan. Kekecawaan hatiku begitu kuat menjalari seluruh sarafku. Jiwa ini sudah benar-benar hambar kepadanya.


"Bu, boleh aku memberi penjelasan?" Kata suamiku merajut.


Aku acuh saja, tak tertarik sedikitpun untuk mendengarkan penjelasannya.


"Bukannya Ibu sendiri yang tak mau aku hubungi. Nomor kontakku, kan, di blokir sama Ibu. Terus Ibu ganti nomer baru ..."


Walaupun suara suamiku begitu jelas, tetapi telingaku tak mendengarkannya. Aku menyibukkan diri chat dengan Kakak via BBM.


"Jadi, aku kesulitan menghubungimu, Bu," Ujar suamiku sembari bergeser duduk ke sampingku.


Melihatnya demikian, aku menjadi muak. Segera ku beranjak pergi meninggalkannya ke rumah Mama menyusul putriku yang sebelumnya  ku titipkan disana.


********************


Bila siang hari aku selalu berada di rumah Mama bersama putriku. Aku tinggalkan suamiku seorang diri di kontrakan. Aku memang sengaja tak memasakkannya, mencuci pakainnya, ataupun memperlakukan layaknya sebagai suamiku.


Terkadang ia pergi pamit kepadaku ke tempat kerja Kakaknya. Katanya selama ini ia kerja ikut Kakak iparnya lagi. Namun aku sudah tak mempedulikannya lagi.


Tepat di hari yang ke-10 terjadi pertengkaran hebat antara aku dengannya.


HPku yang biasanya aku bawa ke rumah Mama, kelupaan di kontrakan tanpa terkunci tombolnya dan tergeletak di meja ruang tamu. Suamiku mengotak atik semua isi di dalamnya.


Rupanya suamiku membaca semua isi chatku dengan Kakak. Dan yang paling membuatnya marah, ketika ia baca semua isi chatku dengan mas Bram.


"Oh jadi, selama ini, kamu kerja di Panti Pijat begituan, ya?"


Bagai di sambar petir, sungguh aku sangat tersentak kaget mendengarnya. Namun aku berupaya setenang mungkin dan menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Aku tak menyangka, ternyata isteriku seorang pelacur, perempuan najis, kamu!" Teriaknya dengan suara nyaring.


Lantaran ia mengetahui semua yang aku rahasiakan, keadaan menjadi terbalik 180 derajat. Sekarang aku seperti tersesat di lorong gelap. Aku tak bisa lagi membungkam hinaannya.

__ADS_1


Aku begitu kaget melihat kemarahan suamiku. Ia tak pernah semarah dengan hinaan dan cacian seperti itu..


"Siapa ini si Mas Bram? Selingkuhanmu, kah?"


Aku tetap terdiam namun tetap menatapnya dengan tajam.


"Tega banget kamu berhianat. Apa salah besarku hingga kamu berselingkuh? Aku menghianati cintamu, kah?" Ucap suamiku dengan suara tergetar.


Ku lihat ada gelagat suamiku hendak mengayunkan telapak tangannya ke arahku. Secepat kilat aku beranjak dari kursi.


"Kalau iya, kamu mau apa? Ayo kalau mau pukul aku, ayo pukul, Pak!" Tantangku tanpa rasa takut sedikit pun.


Suamiku terlihat tak tega memukulku, walaupun ia begitu marah kepadaku. 


Lalu ia mencari pelampiasan kemarahannya dengan membanting HP miliknya sendiri.


"Prak ..."


Bunyi HP yang dibanting suamiku berserakan di lantai.


Akhirnya ...


Kemarahannya yang tak bisa terlampiaskan kepadaku membuat air matanya mengalir ke pipinya.


"Andaikan kamu tahu, Bu. Aku kerja keras ikut Kakak ipar, demi ngumpulkan uang tabungan yang telah aku pinjam itu." Ratap suamiku sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Aku tak menyangka ternyata kamu seorang pelacur dan tukang selingkuh."


Walau aku jijik mendengarnya, tapi perkataannya membuatku tersudut di ruang gelap dan pengap.


"Aku akan melaporkan kelakuanmu ke bapak ibumu di Bandung. Pokoknya mereka harus tahu dengan kelakuanmu ini. Biar tidak aku saja yang di salahkan jika nanti kita bercerai," ancam suamiku sembari pergi meninggalkanku.


***************


Selepas suamiku pergi, aku selekasnya masuk kamar dan menumpahkan semua tangisku di pembaringan.


Terngiang-ngiang dengan suara hinaan suamiku. Rasanya ingin segera pulang ke Bandung mengurus perceraianku dengannya.


Tetapi ancaman suamiku melaporkan ke orang tuaku, membuatku tak berdaya. Aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi bila sampai orang tuaku tahu semuanya. Betapa kecewa dan terlukanya hati mereka.


Sungguh aku menyesal, kenapa aku sampai kelupaan membawa HPku, sehingga suamiku menjadi tahu segalanya.


Ya Allah, kenapa cobaan hidup yang aku alami datang bertubu-tubi?


*****************


Di ruang ingatanku yang lain, si Kakak pemilik Panti Pijat memintaku segera masuk kerja. Katanya banyak customer mencariku. Sulit rasanya menolak permintaan Kakak. Sebab ia telah banyak berjasa kepadaku.


Entah bagaimana kabarnya Mas Bram sekarang. Sudah semingguan ia tak pernah menghubungiku lagi Via HP.. Mungkinkah ia sudah tak mau menghubungi aku lagi, setelah tahu suamiku kembali kepadaku.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2