
"Aku gak bermaksud apa-apa, Nanda. Kebetulan Masnya ingin tahu keadaanmu, ya, udah aku ajak sekalian ke sini."
"Tapi aku sudah berencana pulang ke Bandung, Kak."
"Aduh, Nanda jangan pulang dulu donk. Bantu usaha Kakak, ya? Nanti kalau PPnya rame lagi, gak papa kamu pulang." Ucap Kakak dengan mimik mengiba.
Kata Kakak, entah kenapa PPnya jadi sepi semenjak aku tak ada di sana. Walaupun si Diah sudah mulai masuk kerja di sana, tapi Panti Pijatnya tetap sepi.
Aku tak enak hati menolak permintaan Kakak. Selain mentalku sudah down, kehadiran oknum polisi yang permah menodongkan pistolnya itu akan menjadi pelindung keamananku bila aku kembali bekerja di sana
Setelah aku tiitipkan putriku ke rumah Mama, kami pun berangkat menuju Panti Pijatnya Kakak.
*********************
Selama aku kerja kembali di PPnya Kakak, aku tak serajin dulu. Sholatku sudah mulai bolong-bolong. Kadang sholat, kadang tidak.
Jujur saja aku kecewa kepada Tuhan. Semakin aku rajin sholat, semakin aku rajin mendekat kepadaNya, cobaan hidupku semakin berat dan datang bertubi-tubi.
Aku juga kadang 3 hari masuk kerja, 4 hari libur. Namun, Kakak tak pernah mempermasalahknnya.
__ADS_1
Saat aku libur, katanya si Diah sahabat lamaku, ada seorang lelaki yang mencariku. Laki-laki itu seumuran denganku. Sontak semua karyawan tak ada yang tahu nama Raisa yang dicarinya, kecuali si Diah.
"Siapa laki-laki itu, Raisa?" Tanya Diah.
"Laki-laki yang tahu nama asliku disini itu, cuma 2 orang. Mas Bram dan suamiku. Tapi kalau Mas Bram semua karyawan sudah tahu ke dia."
"Loh, kok bisa suamimu tahu kamu kerja di sini?"
"Dia membaca semua isi chatku dengan Kakak sewaktu dia balik ke rumah kontrakan kemarin."
"Ooo ... Tapi suamimu sempat masuk kamar, loh. Dia di layani sama si Bella."
Aku dan Diah pun bergegas menemui Bella di ruang tunggu tamu.
"Dia nanya kalau perempuan berjilbab yang kerja di sini namanya, siapa. Aku jawab namanya, Nanda." Jelas si Bella.
"Terus dia nanya apa lagi, Mbak Bella?"
"Dia nanya apalagi. ya. Oh, ya. Dia nanya apa si Nanda itu juga melayani plus-plus."
__ADS_1
****************
Aku pasrah saja, andaikan sewaktu aku melayani customer, tiba-tiba suamiku datang melabrakku. Yang terjadi biarlah terjadi. Aku terima saja semuanya.
Kini, aku sudah tak banyak berharap suamiku kembali kepadaku dan tetap mempertahankannya menjadi ayah putriku.
Selama aku masuk kerja, waktu senggangku banyak ku habiskan ngobrol ngalor ngidul bersama Diah. Aku merasa hanya Diah lah yang mengerti gundah-gulananya perasaanku.
*******************
Suatu ketika Panti Pijatnya Kakak dibuat geger dengan berita hilangnya uang Diah sebesar 1 juta. Semua sibuk mencari keberadaan uang tersebut.
Ya Allah aku gak ngerti, kenapa tiba-tiba uang 1 jutanya Diah ada di dalam tasku yang aku simpan di dalam loker. Herannya lagi, si Kakak sendiri yang menemukan setelah semua tas yang ada di loker di geledahnya.
"Gak mungkin Nanda yang ngambil, Kak. dari tadi dia ngobrol sama aku. Kok." Ujar Diah membelaku. Diah juga mengancam Kakak, kalau Kakak tetap menuduhku yang mengambil uangnya.
" Aku gak nyangka. Kamu kok bisa begini Dek, kurang baik apa aku sama kamu Dik. Kalau kamu bener-bener butuh uang, kenapa gak cerita sama Kakak?"
Kalimat Kakak itu terlontar halus, tapi rasanya seperti ngiris-ngiris hatiku. Apalagi teman-temanku ngoceh gak karuan ketika mereka tahu uang itu ada di dalan tasku.
__ADS_1
Hanya si Diah yang mati-matian membelaku.
Bersambung ...