
"Dik , Dik Raisa bangun!"
' ... "
Rupanya sepanjang perjalanan aku tertidur nyenyak sekali.
Mobil Mas Bram sudah menepi di pinggiran jalan depan rumah Mama.
"Bangun, Dik Raisa," ujar Mas Bram menggoyang-goyang bahuku.
" ... Iya, Mas," balasku. Mataku masih terasa berat dibuka.
"Itu Syafira, Dik. Tuh...! Lihat suamimu lagi bercanda sama dia!" ujar Mas Bram menunjuk ke arah mereka.
Putriku Syafira sedang bermanja-manja dengan suamiku. Mereka tertawa cekikan. Rasa haru sekaligus pilu aku melihat pemandangan itu.
Ya, Allah!
Hampir saja aku merenggut kebahagiaan putriku dengan ayah kandungnya demi menuruti egoku.
Tidakkah selama ini telah banyak aku korbankan demi keselamatan dan kebahagiaan putriku, supaya putriku tersemyum setiap harinya.
Hari ini putriku tersenyum bahagia dengan ayahnya, mengapa aku tak mensyukurinya?
"Dik Raisa. Kok malah melamun. Ayo turun!"
"Ada suamiku. Mas. Bagaimana dengan Mas, Bram? Apa gak sebaiknya langsung pulang saja?"
Aku berharap Mas Bram lekas berlalu pulang, karena aku takut suamiku cemburu, lalu kalap memukuli Mas Bram.
"Sudah tenang saja. Gak akan terjadi apa-apa. Sekalian ada yang akan aku omongkan ke suamimu."
Berjalan beriringan, aku dan Mas Bram memasuki halaman rumah Mama.
Suamiku terkejut melihat kedatangan kami, seketika suamiku terdiam dan tak bercanda lagi dengan putriku. Ia menundukkan kepalanya dengan rasa entah.
Lelaki mana yang takkan cemburu, melihat isterinya keluar rumah, lalu datang-datangnya dengan lelaki lain.
Suamiku hanya diam terpaku. Lalu putriku menjadi terdiam karenamya.
Aku menjadi gak tega banget melihat suamiku terdiam begitu. Apalagi putriku ikut-ikutan terdiam.
"Assalamualaikum...!" Sapa Mas Bram memecah kekakuan sikap suamiku.
"Waalaikum salam..." sahut Mama dengan suara lantang menyambut kedatangan kami.
Suamiku masih diam terpaku, hanya tatap matanya tak berkedip memandangku.
Entah, aku tak tahu. Itu tatapan rindu, mengiba atau marah karena cemburu.
"Aduh Mama ini, bikin aku was-was saja. Ada apa sih, Ma? Aku pikir Syafira kejang lagi!" kataku pada Mama.
__ADS_1
"Bukan Syafira, tapi, tuh suamimu yang nyariin kamu terus. Semalaman bingung kayak setrikaan. Rasain dah sekarang. 10 bulanan kemana saja?" jawab Mama sambil melirik ke arah suamiku. Mama memang keki berat sama suamiku dan ia menganggapku seperti anaknya sendiri.
Suamiku menanggapinya hanya dengan senyum tersipu.
Tak tega juga aku melihatnya.
"Hei Akbar, kamu sekarang suka nyariin Raisa, kenapa?" tanya Mama tanpa tedeng aling-aling lagi. Ceriwisnya mulai naik ke level esmosi.
"Ya hawatir saja. Takut ada apa-apa sama Ibunya Syafira." balas suamiku kalem dengan mimik polosnya.
"Terus dulu-dulunya kok gak khawatir?" tanya Mama balik.
" ... "
Suamiku terdiam, lalu menyerahkan Syafira kepadaku.
Membaca situasi tak menyenangkan, Mas Bram hanya memandangku. Pandangannya sungguh mengaduk-aduk perasaanku padanya.
"Mama, saya pamit pulang dulu, ya?" ujar Mas Bram ke Mama.
"Loh, Mas Bram kok keburu. Masuk dulu, aku buatkan teh."
"Gak usah, Ma. Saya masih ada urusan lainnya. Terima kasih. Oh, ya Dik Akbar. Jaga isterimu, ya. Jangan sampai terjebak di panti pijat itu lagi." pesan Mas Bram kepada suamiku.
Terbuat dariapakah hatinya Mas Bram ini. Begitu mulia banget hatinya.
"Iya. Mas. Mohon maaf selama ini saya telah salah paham. Dan akan selalu saya ingat nasehat Mas Bram." tanggap suamiku.
Aneh juga. Tangagapan suamiku nadanya bersahabat. Tak ada nada cemburu sedikitpun pada Mas Bram.
"Oke, siap, Mas Bram"
Hem, sejak kapan suamiku memanggil kekasihku itu dengan panggilan Mas Bram. Aku curiga dengan isi kesepakatannya mereka.
"Dik Raisa, aku pamit dulu, ya! Jaga dirimu dan ingatlah dengan semua pesanku tadi." kata mas Bram dengan tatap mata yang membuat hatiku tersuruk.
"Iya, Mas Bram. Aku antarkan ke mobilnya, ya?" balasku. Aku mulai tak peduli suamiku akan cemburu atau tidak bila aku jalan di sampingnya.
"Oh, gak usah ,Dik. Biar aku sendiri saja. Oke, semuanya, saya mohon pamit dulu, Assalamualaikum!" pamit Mas Bram, lalu segera membalik badan dan ia berlalu menuju mobilnya. Cara berjalannya sungguh berwibawa. Bagai panglima perang, ia telah membawa kemenangan besar dariku.
"Waalaikum salam.." jawab kami serentak.
**********
Pada malam hari, saat putriku sudah tertidur, aku dan suamiku duduk-duduk di ruang tamu kontrakan. Aku tidur-tiduran di kursi panjang, sedang suamiku duduk di depanku.
"Gimana.Ibu jadi pulang ke Bandung?" Tanya suamiku.
" ... ."
Walau aku sudah bertemu suamiku, tetapi hatiku belum bisa bertemu.
__ADS_1
Perasaanku belum bisa menerima dia sebagai suamiku.
Ada rasa enggan menjawab pertanyaan suamiku. Jiwaku masih melayanglayang mencumbui bayangnya Mas Bram.
"Nanti aku nyusul ke Bandung, Bu. Kalau besok aku masih ada proyeknya Kakak Ipar di Jakarta." kata suamiku.
Kata-kata suamiku tak mengusik rasaku pada Mas Bram. Ia seperti ada di sampingku yang sedang tidur-tiduran di pangkuanku.
Sementara suamiku ingin aku memperhatikan perkataannya. "Oh ya, bu. Aku sudah pernah ke Panti pijatnya Ibu, itu. Dan aku sudah tanya-tanya. Ternyata Ibu hanya melayani pijit biasa."
Tetapi ... aku tidak terusik, aku masih asik mencumbu bayang Mas Bram.
Hanya sehari kenangan indahku bersama Mas Bram. Hanya sehari pula aku telah ditinggalkannya. Tetapi, seperti puluhan tahun kini aku telah hidup bersamanya.
Ah, Mas Bram kenapa kau kembalikan aku pada suamiku. Tidakkah kau culik saja aku, bagai si Shinta di culik Rahwana?
Berat sekali, Mas, menerima kembali suamiku. Jika setiap sudut hatiku dipenuhi rasa rindu pada Mas Bram.
Ah, Mas Bram ...
Aku tak bisa lagi mencintai suamiku. Jangan lagi Mas Bram bilang, "cintailah suamimu dengan segala kekurangannya."
Kesini ajari aku, Mas! Bagaimana cara mencintai suamiku, bila hatiku sudah penuh diliputi cinta pada Mas Bram?
Ah ....
Betapa indahnya, saat kita di depan Pemda Bogor itu. Saat Mas Bram mengatakan mengagumiku dan ingin sekali menjadi suami aku.
Adakah lelaki sepertimu yang tergopoh-gopoh menyusulku di diskotik itu, tapi kamu tak berniat sedikitpun menikmati tubuhku ke hotel itu.
Terngiang aku pada Mas Bram yang selalu bergandengan tangan kesana-kemari menikmati minggu pagi disana.
Lembut sekali cara bertuturmu padaku, Mas!
Takkan hilang dari ingatanku, saat Mas Bram menggodaku: "Aku impoten, Dik Raisa!" Lalu kamu tertawa dengan tawa khasnya Mas Bram.
"Kita ke hotel itu, Yuk!" Godamu lagi padaku. Kenapa waktu itu aku gak diseret saja sih, Mas! Aku pasti sangat senang mengikutimu.
Jika ingat kejadian lucu-lucu itu, lalu kamu tertawa-tawa, ingin sekali saat ini aku tertawa bersamamu.
Ya. aku ingin tertawa biar sedihku ini sirna, Mas! Kalau Mas Bram bisa, tertawa ngakak, aku juga bisa loh, Mas!
"Ibu kok sekarang gak sholat sama sekali?" tanya suamiku menyela.
Huuh, pertanyaan itu mengganggu kemesraanku bersama Mas Bram.
"Bu ... " sela dia lagi.
__ADS_1
" ... "
"Ayo ...Bu, mumpung anak kita sudah tertidur. Sudah 11 bulanan, loh Bu!" Ajak suamiku merajut.