Doaku Dari Tempat Terlarang

Doaku Dari Tempat Terlarang
Aku Mau Jadi Isterinya Mas Bram


__ADS_3

"Kamu di diskotik mana sekarang, Dik? Aku jemput sekarang," tanya Mas Bram gundah.


Aku sebut nama diskotiknya, tak lama kemudian Mas Bram datang menjemputku dengan mobilnya.


Aku pamit dulu pada Diah, lalu kami meluncur melewati malam tanpa arah tujuan yang jelas.


"Kok bisa sih Dik Raisa sampai kesini.  Di ajak siapa ke sini? Emang. Dek Raisa sudah biasa bmain ke diskotik?"


Aku tak bisa menjawab pertanyaan Mas Bram.


Hatiku teramat sibuk menata pecahan rasa. Aku  tak bisa berkata apa-apa pada Mas Bram.


Aku bingung mengawali kata dari mana.


Tiba-tiba Mas Bram menepikan mobilnya tak.jauh dari hotel itu.


Aku masih terdiam tak berkata apapun padanya.


Aku masih terhanyut oleh rasa kesepian hidupku selama ini.


Mas Bram juga demikian. Ia hanya terdiam memandangku.


"Mas Bram ... Aku mau ngomong."


"Ya, Dek Raisa ngomong saja. Kan, dari tadi aku tanya-tanya supaya Dik Raisa ngomong."


Lama aku masih terdiam. Aku masih mengumpulkan keberanianku untuk mengatakannya pada Mas Bram.


"... Aku mau jadi isterinya Mas Bram!"


Kalimat yang terunggah itu sejujurnya keluar dari ruang hatiku yang sudah letih dan putus asa.


Dengan kalimat itu, aku pikir respon Mas Bram akan langsung memelukku. Justru ia menjadi  tertawa terpingkal-pingkal."Ha ha ha ... !"


Lama ia tertawa sendiri. Entah apa yang lucu dari perkataanku.


Melihat dia hanya tertawa-tawa, perasaanku jadi bercampur aduk antara malu dan keki.


Tak biasanya Mas Bram bersikap begitu. Biasanya Mas Bram bertutur dengan lembut dan bersikap romantis kepadaku.


Aneh sekali dia. Aku dibuatnya menjadi keki.  "Kenapa Mas Bram malah tertawa? Apa aku tak pantas jadi isteti Mas Bram?" tanyaku dengan perasaan keki.


Melihatku keki, tertawanya malah menjadi.


"ha ha ha ..."

__ADS_1


“Ih... Mas Bram benar-benar nyebelin. Cukup, cukup, Mas! Tidak lucu, tauk! Tertawanya Mas Bram melecehkanku!" seruku padanya dengan suara lantang. Emosiku membuncah.


Melihatku marah, seketika itu Mas Bram menghentikan tawanya.


Mas Bram mulai terdiam. Aku juga terdiam dengan perasaan yang masih mendongkol. Malu rasanya mengungkapkan rasa, lalu hanya dijadikan candaannya.


Tiba-tiba ...Mas Bram mendekatkan bibirnya ke telingaku. Aku tak mengelaknya sedikitpun.Kemudian ia berbisik kepadaku, “aku ini impoten, Dik!"


Mendengar kata impotennya, reflek aku mengucapkan istigfar dengan lantang, "Astagfirullah!" Aku benar-benar terkejut atas pengakuannya tersebut.


Melihat aku terkejut ... Mas Bram  kembali tertawa terbahak-bahak, “hahaha ...”


Aku di buatnya keki habis. Bergegas aku keluar dari mobilnya dan menjauh darinya, kemudian aku duduk sendirian di trotoar terdekat.


Lalu Mas Bram menghampiriku. Ia kemudian duduk di sebelahku.


*Apa Dik Raisa masih mau menjadi isteriku, jika aku impoten?" tanya Mas Bram dengan nada pelan.


Aku kebingungan tak mampu menjawabnya.Takutnya ia hanya mengerjaiku.


Aku tak yakin dengan pengakuan impotennya Mas Bram.Jika ia serius impoten, entahlah, mungkin aku tak mau jadi isterinya.


Namun apapun jawabanku. Iya mau atau tidak mau, pastilah membuat Mas Bram tetawa ngakak lagi.


Sukurlah, rupanya Mas Bram tak mendesakku untuk menjawabnya, mungkin ia tak menganggap hal itu serius. Ia mengalihkan dengan obrolan lainnya.


Tawarannya membuat hatiku berdebar-debar. Ingin sekali aku menjawabnya, "iya ngantuk, Mas!" Namun aku takut Mas Bram menertawainya lagi.


Aku dibuat bingung kuadrat untuk menjawabnya,, iya ngantuk atau tidak ngantuk. Keraguraguanku ini sangat tampak dalam gesturku, sehingga sangat terlihat di mata Mas Bram.


"Ha ha ha ..." Melihatku ragu, akhirnya tertawa ngakaknya Mas Bram pecah juga.


Huuh..!


Malam ini aku benar-benar dijadikan perempuan terbodoh oleh Mas Bram.


" ... Aduh wajahmu kok terlihat kusut gitu, Dik Raisa. Ayuk jalan-jalan lagi!"


Aku mengangguk dan kami pun kembali masuk ke dalam mobilnya Mas Bram.


Di perjalanan aku banyak memikirkan sikapnya Mas Bram. Ia beda banget dengan yang aku ketahui selama ini.


Selama ini, aku mengenalnya sebatas ia yang sering menolongku karena menyukaiku. Namun malam ini ia menunjukkan diri sebagai lelaki berlevel dewa.


Jujur aku merasa minder duduk di sebelahnya. Namun di sisi ruang  rasa lainnya, rasa suka itu mulai bersemi kepadanya.

__ADS_1


Selama meghabiskan malam di perjalanan, Mas Bram banyak memancingku umtuk bercerita. Selama aku bercerita panjang lebar, ia pun sering tertawa. Mirip seorang ayah yang sedang ngemong  anaknya


Ah, ia memang bukan jenis lelaki umumnya. Andaikan ia mau meniduriku, mungkin harga diriku yang aku pertahankan mati-matian  di Panti pijat itu pasti sudah jebol. Tetapi, ya itulah, dia memamg lelaki level dewa.


Sampai pagi hari tanpa terasa kami sudah ada di Bogor. Di depan kontor Pemda, Mas Bram memarkir mobilnya untuk menikmati suasana di sana.


"Dik Raisa.  kita nongkrong di sini ya! Sebentar lagi banyak pedagang makanan mangkal di sini," ujar Mas Bram dengan nada lembut.


Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.


Aku sangat menikmati setiap gerak geriknya. Sorot mataku seolah tak ingin terlepas dari sosoknya.


"Coba Dik Raisa ceritakan kembali, kenapa tadi malam  bisa ada di diskotik itu?"


" Aku malas membahasnya, Mas!" Jawabku dengan nada lirih dengan tatapan mataku yang sendu.


"Terus, ada apa Dik Raisa tiba-tiba bilang  mau jadi istriku?"


"Entahlah ..." jawabku sembari mengelengkan kepala dengan perlahan.


Mas Bram bukan lelaki yang mudah dibutakan oleh pernyataanku, walau ia begitu  menyukaiku. Terlalu mudah baginya untuk mengetahui isi  hatiku yang sebenarnya.


"Kok jawabannya cuma entah, Dik!"


"Aku Lelah, Mas! Batinku sudah gak sanggup lagi."  Jawabku sembari menguatkan perasaan supaya mataku tak menangis.


Rasanya pingin banget menyandarkan kepalaku di bahu Mas Bram agar lelah batinku merehat sejenak, namun aku malu, karena situasi disana sudah ramai dengan orang yang lalu lalang.


"Bila si Kakak manggil kamu kerja lagi?"


Aku menjawabnya dengan gelengan kepala. "" Aku sudah mau pulang ke Bandung, Mas. Aku mau buka usaha kecil-kecilan di sana. Mungkin dalam waktu dekat ini."


Tiba-tiba jemari tangan Mas Bram meremas jemariku. Dan akupun membiarkannya.


Tak seperti dulu lagi, kali ini aku sudah tak merasa risih digenggamnya.  Aku merasakan kenyamanan dan merasakan telah  memiliki pelindung baru.


Kenamgan di depan Pemda Bogor itu terlalu indah di lupakan sampai sekarang  Kami Duduk selonjoran di pinggir Tukang Bubur, pindah ke Tukang makanan lain, lalu pindah lagi duduk di bawah pohon rindang, kemudian kembali ke mobil muter-muter sebentar, lalu balik lagi ke tempat semula.


Mungkin penilaian orang yang melihat, aku ini perempuan peliharaannya om-om senang yang  bergandengan tangan kesana- kemari.


Waktu itu, aku seperti seorang gadis yang sedang di mabuk asmara. Sejenak aku benar-benar di buat lupa  bila aku telah memiliki putri yang sedang menungguku.  Apalagi,  merasa statusku masih isteri orang.


"Dik Raisa. kalau pulang ke Bandung, bagaimana dengan suamimu?" Tanya Mas Bram sembari melepaskan genggamanku.


Seketika aku terdiam dan tertunduk mencoba mencari jawabannya.. Pertanyaan Mas Bram telah  menerabas ke dasar masalah pelik kehiduoan rumah tanggaku.

__ADS_1


Ingin aku katakan bercerai saja  dengan suamiku, namun, Mas Bram bukan sosok ayah yang cocok buat putriku  Sementara saat ini, hatiku telah banar-benar terjatuh pada Mas Bram.


"Oh, ya Dik Raisa. Aku telah bertemu dengan suamimu."


__ADS_2