
Di keheningan malam itu aku merenungi semua yang menimpaku selama ini.
Bila aku pulang ke rumah orang-tuaku maka persoalan pelik yang dihadapiku malah semakin rumit. Pastilah orang tuaku menganjurkan aku bercerai saja.
Sementara aku juga tak ingin terlihat dikampung halamanku sebagai perempuan yang gagal berrumah tangga.
"Mama...Mama!"
Putriku terbangun memanggilku sambil menangis. Ditengah malam, putriku selalu terbangun minta minum susu.
"Cup, cup, cup! Iya, nak. Ini Mama datang, nak!" ujarku sambil menyodorkan minum susu kepadanya.
"Sudah mimiknya, nak?" Aku berbaring di sisinya, sambil aku peluk sampai ia tertidur kembali.
Aku pandangi wajahnya putriku. Ia mirip ayahnya. Sontak pikiranku berkecamuk, antara marah, kecewa dan rindu kepada suamiku.
Cerai?
Ah ... Bercerai bukanlah pilihan terbaik bagiku. Bagaimana pun ia adalah suamiku dan ayahnya putriku. Dan kasus pertengkaran yang lalu itu bukanlah karena penghianatan cintanya.
Suamiku itu sebenarnya lelaki penyayang dan sabar. Tetapi memang, ia bukanlah lelaki pejuang yang tangguh. Ia hanya mudah melarikan diri dari masalah. Sering lari dari tanggung jawabnya.
Benar kata orang, masa berumah tangga tak seindah masa berpacaran.
Ah ... bila mengingat masa kami berpacaran, aku tak pernah membayangkan ketika berumah tangga akan se-tragis ini.
Tak hanya beratnya di tinggal suami, tetapi menghadapi cibiran tetangga tak kalah beratnya, saat ekonomiku terpuruk.
Tak terhitung bisik-bisik tetangga yang ditembakkan kepadaku, karena kini aku terjatuh menjadi tukang cuci gosok.
Bahkan, ada seorang tetangga yang terang-terangan mengorek langsung kepadaku, kenapa aku mau menjadi tukang cuci gosok.
"Mbak.., kok mau sih mbaknya kerja cuci gosok? Padahal suami mbak lagi mengerjakan proyek di luar kota? Pastinya kan gajinya besar!" tanya dia kepo.
Ditanya begitu aku menjadi mati kutu dan hanya bisa menahan malu. Sebab sebelumnya, saat mereka bertanya keberadaan suamiku, selalu aku bilang ia sedang mengerjakan proyek di luar kota.
Lama lama aku terbiasa menghadapi cibiran tetangga. Aku memang harus berbesar hati atas kenyataan pahit yang menimpa hidupku ini.
__ADS_1
Aku harus fokus dan fokus, bagaimana cara mengelola uang yang tinggal secuil ini untuk kebutuhan makan dan beli susu putriku. Terutama untuk berobat jalannya yang terbilang bukan obat murahan. Biaya therapy dan lain lain.
Dua minggu sekali cekup. Sebulan sekali obat seharga 600 ribu wajib aku beli. Ada pula biaya buat therapy sebulan sekali. Setiap tiga atau empat bulan sekali anakku harus chek up ke rumah sakit.
Memikirkan itu semua, kepalaku rasanya mau pecah!
Andaikan aku tak ingat Tuhan, tak ingat orang tua, tak ingat putriku satu satunya ini, entahlah, apa yang akan terjadi padaku.
Apalagi, pas anakku kena demam. Badannya seketika dingin sekali, penuh keringat dan kondisinya lunglai. Aku hanya bisa memeluk erat tubuhnya dengan rasa cemas, takut, sedih dan akhirnya hanya bisa menangis kencang.
Aku tak punya uang sama sekali ...
Rupanya tangisanku yang keras, mengundang para tetangga iba, lalu menolong putriku membawanya ke klinik terdekat.
Kejadian demi kejadian yang memilukanku ini, terkadang memunculkan perasaan menyerah untuk pulang ke orang tuaku.
Terkadang pula memunculkan keinginan menelpon suamiku, dan berkata, "Tolonglah isterimu dan putrimu ini, pak!"
Saat aku berada di klinik itu ...
Tiba tiba terdengar bunyi HPku dari dalam tas.
Aku telpon balik ke nomer tak ku kenal itu.
Terdengar suara diseberang yang sudah sangat akrab bagi telingaku.
Dan.....
Suara tangisku pun tumpah seketika. Aku sudah tak peduli lagi walau aku sedang ada di Klinik.
Dia sahabat lamaku. Nama panggilannya, Diah. Teman akrabku waktu kami sama-sama kerja di Pabrik.
Aku curahkan semua yang aku alami kepadanya.
Atas tangisanku melalui HP, dia merasa cemas dengan keadaanku dan putriku Ia berjanji selekasnya menjemputku di Klinik.
Ia berkali kali mencoba menenangkanku agar tak panik.
__ADS_1
Diah, sahabat lamaku dalam suka duka.
Keesokan paginya ia benar-benar datang menjemputku. Ia bayar semua biaya perawatan putriku selama di Klinik. Kami pun pulang bersama-sama.
Alhamdulillah, sahabat lama itu datang sebagai dewi penolongku.
Lantaran ia seorang janda. Jadi ia menginap di kontrakanku selama seminggu.
Tak berselang lama, pemilik rumah kontrakanku menengok putriku, lalu berujar bahwa kontrakanku tinggal 2 bulan lagi. Kata-katanya terdengar jelas ke telinga Diah.
"Miris sekali hidupmu, Raisa!" Ucap Diah sambil menepuk-nepuk bahuku.
"Kamu tak bisa begini terus. Kamu ikut denganku saja, kerja di Panti Pijat," ucapnya sambil menatap tajam mataku agar aku setuju dengan ajakannya.
Diah meyakinkanku dengan berbagai cerita kesuksesannya dan temannya yang kerja di Panti Pijat.
Ia begitu pandai bercerita. Sehingga tanpa sadar aku terinspirasi mengikuti jejaknya. Apalagi ekonomiku dalam keadaan sekarat.
Menurut Diah, hasil kerjanya di sana, bisa dibuat kirim uang rutin untuk anaknya sampai jutaan rupiah. Aku lihat penampilannya sekarang berbeda dengan waktu dulu bekerja di pabrik. Rambutnya lurus halus, bola matanya tak pernah lepas dari lensa kontak.
Rasa senangku bertambah ketika dia sering pergi setelah terima telepon, entah siang atau malam, beberapa jam kemudian pulangnya selalu membawa banyak oleh oleh seperti susu, mamiri, dan baju untuk putriku.
Diah yang dulu adalah sahabat yang baik, sampai kini pun ia masih baik banget.
Mengingat aku sangat membutuhkan uang untuk perpanjang uang kontrakan, kebutuhan hidup putriku, biaya berobat anakku, maka tanpa pikir panjang aku tertarik bekerja di Panti Pijat.
Tanpa perlu di bujuk lagi, tanpa perlu aku meminta penjelasan lebih detail pekerjaannya, aku menyanggupi diri untuk bekerja di sana.
"Apa aku bisa mijit orang? Ngerik suamiku saja aku gak bisa, apalagi suruh mijit orang lain." tanyaku pada Diah yang tak yakin dengan kemampuanku memijit orang.
"Nanti disana sudah ada yang ngajarin. Kamu gak usah khawatir. Gampang banget, kok!" jawabnya meyakinkanku.
-"Diah, kalau aku mau kerja disana, kapan aku memulainya?" Aku mulai tak sabar ingin selekasnya kerja.
"Besok langsung kerja, juga bisa. Lebih cepat lebih baik. Tapi ... kamu cari dulu orang bisa ngasuh anakmu." pesan Diah mengingatkanku supaya aku cari pengasuh putriku.
"Biasanya kalau aku keluar kerja nyuci gosok, aku titipkan anakku ke "Mama" tetangga sebelah. Dia sudah aku anggap orang tuaku sendiri. Pastinya dia sangat senang mengasuh anakku."
__ADS_1
"Okey. Kalau begitu, besok siang kita sudah siap berangkat kesana. Oh, ya. Bila ada tetanggamu tanya, kamu kerja dimana, bilang saja kamu kerja di Toko"
"Tapi aku kerja disana masih boleh pakai jilbab, kan?"