
Orang bijak berkata, cinta tumbuh bukan karena menemukan pasangannya yang sempurna, melainkan kemampuan menerima kelemahan-kelemahan pasangannya itu secara sempurna
Mestinya isteriku itu sadar, sebagai suaminya aku takkan pernah sempurna. Suami manapun memang takkan ada yang sempurna.
Bila ingin meraih kesempurnaan pasangannya …; tuntunlah, bukan tuntutlah! Jika dituntun ia akan menjadi tuntunan, namun bila dituntut ia hanya akan menjadi tuntutan.
Ketidakbahagiaan terjadi karena jiwa selalu menuntut, bukan bersyukur, bukan? Semua kejadian yang membuat kita tidak bahagia karena tuntutan jiwa kita tidak terpenuhi!
Aku kira semua suami yang ada di bumi ini keinginannya sama, yakni, bertanggung-jawab pada isteri dan anak-anaknya. Begitu pula dengan aku sebagai suaminya Raisa.
Selama aku terusir dari rumah kontrakan kami di Depok, aku langsung pulang ke rumah orang tuaku di Tanggerang.
Sebenarnya aku hanya ingin pulang sebentar saja, sekedar mencari pinjaman uang untuk membayarkan upah anak buahku yang belum terbayar. Sebab ini wajib aku bayar, bila tidak ancamannya dipenjara.
“Tidak seperti biasanya kamu menginap, semalaman di sini. Apa kamu bertengkar sama Raisa?” Sapa Ibuku sembari menyuguhkan kopi panas di meja ruang tamu.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala yang masih terasa kaku karena beban hidupku yang menumpuk.
“Makanya, jadi anak muda itu jangan sok-sokan, atuh!. Masa habis menikah langsung sok memisahkah dari orang tuanya? Makanya … kalau jadi anaknya Ibu itu harus nurut! Tuh, contoh kakak-kakakmu!”
“Aduh Ibu, tolonglah saya jangan diribetkan oleh omelannya Ibu. Saya ini lagi banyak masalah, Bu …!”
“Alah, memang kamu anaknya ibu yang gak bisa dibanggakan, kok! Coba kamu dulu nurut dijodohin sama Sofia, pasti sudah enak hidupmu, sekarang!”
“Saya butuh solusi, bu! Saya lagi banyak hutang. Sekarang sedang di kejar-kejar anak buahku.”
“Loh, memangnya kamu kenapa kok dikejar-kejar?”
“Upah kerja mereka belum aku bayar …”
Seketika wajah ibuku terperangah. Lalu Ia merapatkan duduknya kesampingku. Sebagai seorang Ibu yang selalu menganggapku sebagai anak kecilnya, tentu ia tak ingin terjadi apa apa denganku.
Aku kira Ibu manapun sering menganggap, bahwa anak lelakinya sedewasa apapun, tetaplah si bocah kecilnya yang tak pernah beranjak dewasa. Begitulah perlakuan Ibuku selama ini padaku.
“Nah … Iya, kan. Akhirnya Ibumu ini yang ikut susah. Coba kamu dulu nurut sama, Ibu!” ujar Ibu sembari memegang lenganku.
Entah sampai kapan Ibuku selalu memperlakukan bagai anak kecil? menepis tangan ibuku dengan pelan.
Tak lama kemudian, Kakakku muncul dari ruang tengah. “Sudahlah Bu …! Ibu jangan ungkit masalah itu terus. Akbar ini butuh solusi.” Ujar Kakakku sembari duduk di dekat Ibuku.
“Sana ke-dapur … kamu makan dulu! Setelah perutmu terisi baru kita bicarakan solusinya.” seru Kakak Tiyas menyuruhku sarapan pagi. Ia adalah kakak perempuanku yang nomer empat.
Aku berusaha tersenyum mengangguk kepala kepadanya, lalu beranjak dari tempat dudukku menuju ruang makan. DI depan meja makan, ternyata aku tak bernafsu menyantap makanan yang terhidang. Aku hanya makan sedikit saja, kemudian bergegas kembali berjalan ke ruang tamu.
Aku sangat berharap, Kakak Tiyas itu lekas memberikan solusinya.
“Memangnya kamu mengalami masalah berat apa sih, Akbar?” tanya dia setelah aku duduk kembali di samping Ibuku.
Saat aku hendak menjawabnya, Ibuku menyelanya. “Usaha proyeknya si Akbar ini gagal, Tiyas! Ditipu temannya. Semua hasil garapan alumuniumnya tak dibayar. Terus temannya itu menghilang!”celoteh Ibuku seolah telah mewakili perasaanku.
“Benar begitu, Bar?” tanya Kak Tiyas kepadaku.
“Akbar bilangnya tadi ke Ibu, begitu kok!” Timpa Ibuku tak memberi kesempatan kepadaku menjawab pertanyaan Kak Tiyas.
Melihat Ibuku selalu menyela pembicaraan, mulutku auto malas berkata-kata.
__ADS_1
“Ibu … Biar Akbar yang menceritakannya sendiri bu! Jangan biasakan Ibu menganggap Akbar anak kecilnya Ibu yang harus selalu dibela …! Dia sudah punya isteri dan anak, loh, Bu!”
“Memang sikapnya Akbar masih kayak anak kecil, kok! Buktinya tanpa pengawasanku, temannya saja berani menipunya.” Sahut ibuku tak mau disalahkan Kakakku.
“Isterinya memang tak pernah perhatian sama usahanya Akbar, sih. Lagian Akbar … kenapa dulu dia dapatnya isteri yang tidak aku restui …!” oceh Ibuku sembari memasang wajah masamnya.
“Yaelah …. Ibu! itu gak ada hubungannya sama masalahku sekarang, Ibu!” ucapku meluruskan pembicaraan Ibuku yang sudah melenceng kemana-mana.
“Ya … sangat berhubungan, lah!” balas Ibuku tak mau kalah.
“Aduh … gimana sih, bu ...! Pikiranku malah kacau kalau ngomong sama Ibu!” sergahku dengan suara meninggi.
“Sudah … sudah … Gini saja.” sela Kakak Tiyas meluruskan kembali arah obrolan kami.
“ Ongkos anak buahmu yang belum terbayar itu berapa, Bar …?”
“Sekitar 5 jutaan, Kak! Tapi modalku yang pinjam dari tabungannya Raisa, sudah aku habiskan. Dan sekarang si Raisa marah marah besar …” ucapku lirih.
“Berapa yang kamu habiskan?” tanya Kakakku.
“Ya, hampir 50 jutaan.”
Mendengar angka itu, Kakakku melongo kaget. Sedangkan Ibuku terlihat menunduk lemas, mungkin ia tak pernah menyangkanya.
“Ini juga gara-gara Ibu sih … selalu memanjakan Akbar sejak kecil. Jadinya, menyelesaikan masalah rumah tangganya saja harus lari ke Ibu lagi.” tegur Mbak Tiyas pada Ibuku. Ibuku hanya terdiam tak bisa mengelaknya.
“Gina saja, ya Akbar. Nanti kalau suamiku sudah pulang aku bicarakan dengan Dia. Masalahmu ini juga kita musyawarahkan dengan saudara-saudara yang lainnya, biar masalahmu bisa di selesaikan bersama.”
Keesokan harinya, keluarga kami berkumpul. Mereka bersidang tentang permasalahanku. Ditengah mereka aku hanyalah menjadi si Bungsu yang sedang jadi pesakitan.
Tiba-tiba Kakak Iparku yang pernah jadi majikanku tertawa lebar. “Huahaha…”
Melihat Kakak Iparku tertawa, Kakak-Kakak perempuanku melongo tak mengertinya.
“Akbar … Akbar … makanya kamu itu jangan sok tersinggungan. Sedikit-sedikit tersinggung! Buka usaha sendiri, gak ngasih tahu sama aku.” Omel Kakak Iparku. “Aku bicara begitu itu …, supaya kamu pandai dan bisa usaha sendiri seperti aku ini. Jadinya, tidak gampang di tipu orang lain!”
Ada rasa sesal menjalar di hatiku. Kenapa waktu itu aku harus berhenti kerja dari tempat usahanya Kakak Iparku. Coba aku terus kerja di sana, mungkin uangnya Raisa tak sampai aku habiskan.
“Iya Kak, Maaf … aku menyesal …”
Walau Kakak Iparku wataknya keras, tetapi dia orangnya pemaaf, dan rasa pedulinya tinggi. “Ya udah kalau gitu… untuk urusan upah anak buahmu….suruh datang saja ke tempat usahaku. Biar aku yang mengatasinya …”
Senang sekali aku mendengarnya. Untunglah aku masih punya saudara yang kepeduliannya tinggi seperti mereka.
“Sebaiknya, Akbar ikut kerja sama Kakak Ipar saja.” usul Kak TIyas.
“Iya, Kak …”
“Untuk sementara kamu tinggal di sini saja sama Ibu.” Pinta Ibuku. “Gak usah balik ke- Raisa. Si Sofia mungkin masih mau kok jadi isterinya Akbar ..”
“Iiibuuu …” seru Kak Tiyas. “Berdosa atuh, memisahkan hubungan Akbar sama Raisa!”
**********************
Sebenarnya aku sangat ingin berterus terang sama Kakak Iparku, tapi aku malu mengutarakannya.
__ADS_1
Aku ingin pinjam uang 50 jutaan untuk mengembalikan hutangku pada Raisa. Tapi … gak mungkin lah dia memberinya pinjaman sebesar itu.
Biarlah sekarang jaku kerja ikut Kakak Iparku saja, sambil lalu mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sampai uangnya isteriku aku lunasi.
Sekitar 2-mingguan aku tak berani menemui isteriku di rumah kontrakan.
Sungguh hatiku sangat merindu sekali ingin bertemu putriku. Semoga sakitnya tidak kambuh lagi. Bila itu terjadi, pasti isteriku sangat kerepotan tanpa ada aku di sampingnya.
Aku sangat menyesal dan sangat rindu berat sama isteriku. Tapi …pasti dia akan marah besar, jika aku datang tak membawa uangnya. Aku tak tega melihatnya begitu marah seperti waktu lalu.
Jadi … aku putuskan untuk memantaunya dari jauh saja, sampai aku punya uang kembali untuk melunasi hutangku padanya.
Suatu ketika …
“Mas Yono … Mas Yono … gak ngelihat isteriku, ya Mas?” Sapaku pada seorang lelaki umur 40-an yang selama ini sudah akrab denganku.
Aku sengaja berhenti di sebuah warung kopi yang tak jauh dari rumah kontrakanku, ketika melihat Mas Yono sedang nongkrong di warung kopi tersebut.
Orang yang kusapa hanya melongo melihatku kebingungan mencari isteriku. “Apa isteriku pulang ke Bandung ya, Mas?” tanyaku lagi.
“Loh, gimana kamu ini Akbar! Bukannya situ suaminya? Kok malah tanya ke-aku!” sahut Mas Akbar.
“Iya sih, Mas! Tapi … aku sudah 2 mingguan minggat. Kami habis bertengkar hebat, Mas!”
“Oalah…Gitu, toh!” ujar Mas Yono yang asalnya dari Jawa itu.
“Ayo, ngopi dulu Akbar. Biar plong pikiranmu!” ajaknya. “Tambah kopi satu lagi, Pak …!” pesannya pada penjual kopi itu.
Aku pun duduk di hadapannya. “Masalah rumah tangga yang aku hadapi ini berat Mas!”
“Sabar … semua orang yang berumah tangga pasti pernah mengalami seperti rumah tanggamu. Kita harus menghadapinya dengan sabar. Memangnya ada masalah apa dengan rumah tanggamu.”
“Panjang ceritanya, Mas!”
“Minum … minum … dulu kopinya, biar galaumu hilang.”
“Iya, Mas.” Jawabku dengan lirih. Usai menyeruput kopi yang kutuang di lepek, aku pun bercerita mulai dari awal usaha proyek aluminum sampai terjadi pertengkaran hebat dengan isteriku.
“Jadi … aku minta tolong sama Mas Yono kalau tidak keberatan.”
“Minta tolong apa?”
“Tolong cari tahu tentang isteriku, apa sudah pulang ke Bandung, atau sedang kerja di mana, gitu Mas?”
“Oh, begitu?”
“Iya, Mas. Biar saya merasa tenang. Aku benar-benar minta tolong, ya, sama Mas Yono!”
“Kenapa tidak kamu tunggui saja rumahnya, sampai dia ada? Siapa tahu dia belum pulang ke Bandung?”
“Gak berani, aku bertemu dia Mas! Aku mau cari uang dulu, Mas. Sebelum aku punya uang banyak, aku tak berani menemuinya.”
******************
Bila para pembaca sangat tertarik dan penasaran dengan cerita kelanjutannya, jangan lupa beri tanda bintangnya. Apresiasimu sangat berguna membakar semangat author untuk terus berkarya. Terima kasih.
__ADS_1