
Berjalan di depan mata karyawan lainnya dengan diikuti seorang customer muda yang ganteng membuat tatapan mata mereka tak senang kepadaku. Apalagi mengingat perlakuan Kakak yang lebih mengistemewakanku, jelas keberadaanku dianggap sebagai ancamannya. Namun, aku tetap tersenyum membalasnya.
Aku dan Customer muda itu mulai memasuki kamar pijat Di dalam kamar, sesuai prosedur pelayanan yang diajari Kakak, pertama kalinya aku menawarkan minuman apa yang hendak dipesan customer.
“Minum apa, Mas? Kopi hitam, kopi susu, teh hangat, atau minuman lainnya?” tanyaku dengan sopan.
"Aku minumnya kopi hitam saja, mbak!" Pintanya padaku.
"Baik Mas, saya ambilkan dulu. Tunggu sebentar, ya!" Jawabku dengan gestur tubuh yang sudah tenang dan sopan.
Aku berlalu ke dapur untuk memintakan kopi hitam pesanannya. Bibi yang bekerja di bagian konsumsi dengan sigap membuatkannya.
Usai di buatkan, aku membawakan nampan dengan secangkir kopi menuju kamar pijat itu. Hatiku terus berkomat-kamit, "la ilaa ha illa anta subhanaka inni kuntu minaddzolimin".
Menuju kamar pijat itu, pikiranku sudah bisa menebak kalau customer yang menungguku sudah tak berbaju. Karena itu aku menyiapkan mental dan mengingat kuat pesan-pesannya dari Kakak.
Sesampai di dalam kamar, dugaanku benar. Ternyata, Lelaki muda itu hanya memakai celana dalam saja.
Melihatnya telanjang, aku lekas berpaling muka darinya. Namun, tetap saja tanganku menjadi gemetaran memegang nampan yang memuat gelas kopi-nya. Aku masih tetap gugup dan sangat khawatir gelas kopinya ini akan terjatuh ke lantai.
Menghadapi situasi menyeramkan ini, aku tetap berusaha tenang dan fokus supaya tak panik lagi seperti kemarin.
Setelah prosedur pertama kulaksanakan, selanjutnya, aku harus menjalankan prosedur kedua dalam melayani customer, yaitu memberinya selimut kain untuk menutup barang sensitif dia.
"Pakai selimut ini dulu, ya, mas!" kataku dengan berupaya tetap tenang dan tidak panik.
Walaupun sebenarnya, rasa jijik saat melihatnya telanjang membuat emosiku mulai meletup. Namun, kesadaranku harus bisa meredam emosi agar aku untuk terus bersikap tenang.
Batinku bergumam, anggap saja laki-laki yang sedang telanjang ini sebagai anak yang masih balita.
"Mbaknya kok masih pakai Jilbab? Apa juga tetap melayani plus plus, kan?" tanya dia dengan rasa heran melihatku masih memakai jilbab.
Mungkin pertama kalinya bagi dia, melihat ada seorang perempuan di Panti Pijat Plus Plus masih berjilbab.
"Saya hanya melayani pijat biasa, mas!" Jawabku sopan dengan sikap berwibawa agar lelaki itu tidak meminta pelayanan plus plus-nya.
"Baiklah, kalau begitu." Ucapnya setuju tidak di layani plus-plus.
Ia pun berbaring di ranjang itu dengan kain penutup setengah badan yang aku berikan tadi.
Aha ...! Ujian pertama kali kumembujuk customer agar mau dipijit biasa telah berjalan sukses.
Setelah itu, aku memulai persiapan memijitnya dengan bahan yang sudah tersedia di meja.
Saat kedua telapakku mulai menyentuh kulit punggungnya yang lebih bersih dari kulit suamiku, pikiranku menjadi ... kacau!
__ADS_1
Aku menjadi kehilangan fokus!
Sehingga, pijitanku menjadi tak beraturan dan tak sesuai lagi dengan teknik memijat yang benar. Namun demikian, aku paksakan terus memijitnya. Entah enak atau nggak pijitanku ... pokoknya aku asal memijitnya.
Alhasil ...
Tanpa kuduga, Ia melonjak dari ranjang dan melemparkan selimut kain itu ke tubuhku.
Melihatnya ia marah, tubuhku gemetaran. Jantungku berdedegup kencang.
“Anj**, lu!” ia mengeluarkan kata umpatan kepadaku dengan suara yang keras. Rupanya Ia begitu kecewa, sudah tidak dilayani plus-plus, ternyata cara memijat biasaku tidak terasa enak di badannya.
Kata-kata kasarnya di ulang-ulang dengan kerasnya, sehingga semua karyawan panti pijat mendengarnya.
Tak terhitung berapa kali sumpah serapahnya di arahkan kepadaku.
Rupanya lelaki muda itu orangnya temperamental, perasaanku sangat khawatir apabila orang yang ada dihadapanku ini seorang psikopat yang sadis.
"Gak becus mijit…!.tapi berlagak sok alim, kamu!" bentak dia dengan mata melotot.
Sambil ngomel tidak karuan, lalu ia ngeloyor pergi ke ruangannya Kakak.
Ia meminta kepada Kakak agar uangnya di kembalikan semua. Tetapi, Kakak hanya mengembalikan separuh, yakni 50 ribu saja.
Lelaki muda itu tetap memaksa uangnya dikembalikan semua. Lalu Kakak mengancamnya akan memanggil suaminya yang berpangkat perwira, bila ia memaksa. Akhirnya ia pun pergi begitu saja.
Selepas customer itu pergi, aku tersungkur lunglai di lantai kamar. Tatapan mataku putus asa, air mataku pun berderai tanpa terasa.
Sementara itu di ruang tunggu para karyawan, telingaku mendengar mereka sedang tertawa terbahak-bahak. Mereka sepertinya merasa terhibur dengan kesialan yang menimpaku barusan. Sepertinya, kesalahanku dalam memijit seorang customer tadi, telah menjadi pesta perayaan kesenangannya.
Pikiranku kalut. Aku sangat khawatir bila si Kakak akan datang memarahiku. Dan kemudian ia memecatku.
“Tak, tuk, tak, tuk ...” Suara langkah kakinya Kakak terdengar sudah sangat dekat. Aku pasrah saja jika memecatku.
Di luar dugaan, Ternyata Kakak dengan sabar memapahku duduk ke kursi itu. Lalu ia memberiku segelas air putih.
"Udah ... Nanda gak usah pikirin laki-laki norak tadi. Memang Laki-laki yang kantongnya cekak, bawaannya suka begitu," ujar Kakak menenangkanku.
Segelas air yang diberikan Kakak, aku minum. Aku terterdiam tanpa ekspresi, mentalku benar-benar down.
Tiba-tiba Kakak berteriak kencang.
"Ninaaa!" panggil Kakak dengan teriakan yang terdengan keseluruh ruangan.
Secepat kilat si Nina yang dipanggilnya pun datang.
"A-a-ada apa, Kak?” tanya Nina terbata.
__ADS_1
"Sekarang kamu ajarin Nanda lagi. Awas ... kalau dia gak bisa mijit, berarti kamu yang gak becus mengajari!" ancam Kakak pada Nina. Terlihat wajah Nina pun menjadi pucat.
Baru tahu aku, ternyata Kakak yang berperangai lembut itu bisa sangat galak ke anak buahnya.
"Iya ..., iya, Kak." Jawab Nina ketakutan.
"Ajari dia sampai benar benar mahir!"
"Iya, Kak! Ayo Nand, aku ajari lagi." Ajak Nina kepadaku dengan wajah kesalnya.
***********************
Sekitar satu jam-an si Nina mengajariku. Kali ini dia sangat serius mengajariku memijit. Ia benar-benar takut dengan ancamannya Kakak.
"Kalau kamu masih belum paham, kamu tanyakan saja, Nand. Nanti aku lagi yang disalahkan Kakak." ucapnya memelas.
"Sekarang aku sudah paham mbak Nina. Insyaallah sudah lebih baik lagi mijitnya."
" Gini loh, Nand. Kalau boleh jujur, rata-rata karyawan di sini tuh gak mahir-mahir banget mijitnya."
"Oh kok gitu, Mbak?"
"Semahir-mahirnya mijit, akan kalah dengan penghasilan melayani plus-plus."
"Kok Mbak Nina pintar mijit, sih?"
"Iya tapi gak penting itu buat nyari uang banyak. Kamu mau gak nurut ke aku? Tapi jangan bilang Kakak, ya?"
"Apa, Mbak?"
"Kamu tuh jadi orang jangan tanggung, Nanda! Kalau kamu sudah nyebur, berenang sekalian di sini. Toh, kamu bukan perawan lagi. Jika ada tamu tajir melintir, udah kasih plus-plus aja.Biar kamu dapat nabung sebanyak-banyaknya. Kalau tabunganmu sudah banyak, cepat kamu cabut dari sini."
"Iya Mbak, nasehat Mbak Nina akan saya turuti"
"Katanya Diah, uangmu yang dihabiskan suamimu hampir 50 jutaan? Terus kalau kamu cuma mijit dapat 50 ribu sampai 100 ribu sehari, kapan bisa balik uangmu itu?"
"Oh, ya. Si Diah itu kemana, kok, gak pernah kelihatan kerja di sini, Mbak?"
"Dia kan memang gak kerja di sini!"
"Oh ya, sudah adzan dhuhur,Mbak, aku mau sholat dulu, ya?"
"Iya silahkan. Awas ingat ingat Nand, omonganku! Ini juga demi kebaikanmu,loh!"
"Siap, pesan Mbak Nina akan selalu ku ingat."
Bersambung ...
__ADS_1