Doctor Van Camont

Doctor Van Camont
Part 28 Sekilas


__ADS_3

Zack bertemu dengan Marco siang itu. Marco sudah mendapatkan informasi siapa yang ingin menjebak Zack dengan paket org*n manusia itu.


"Siapa orangnya?" Tanya Zack santai sembari mengepulkan asap rokok.


"Benedict Dupont" jawab Marco.


"Siapa dia? Apa masih klan Dupont?" Zack mematikan rokoknya dan memandang Marco dengan serius.


"Benar dia adalah bungsu dari keluarga Dupont dan tidak lain ia adalah paman dari istrimu"


Sial! Sepertinya Benedict orang yang cerdas di bandingkan paman dan bibi Lana yang satunya.


"Berhati-hatilah sepertinya ia berbahaya untuk mu" kata Marco sembari berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Zack yang masih duduk berpikir.


Bisa jadi Benedict akan mencari tahu bagaimana kakaknya terbunuh, aku harus bertemu dengannya dan memastikan seperti apa dia agar aku bisa menyiapkan manuver untuk menghadapinya.


Zack mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Lana nampak sedang berkebun di halaman depan. Gadis itu menanam beberapa jenis bunga untuk mempercantik halaman depan.


Zack mengamati Lana dari kejauhan istrinya itu nampak cantik dengan style berkebun nya. Sesekali Lana menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya yang tertutup sarung tangan.


Zack tidak bisa membayangkan jika Lana tahu kalau Zack lah penyebab ayahnya tiada.


Sudah pasti Lana akan marah besar dan meninggalkan pernikahannya dengan Zack. seharusnya Zack tidak khawatir dengan hal itu tapi ia nampak cemas, mungkin karena kehadiran Lana membuat hidupnya berubah akhir-akhir ini. Zack mulai terbiasa dengan Lana. saat bangun tidur, selesai mandi lalu sarapan gadis itu selalu bisa ia lihat. jika Lana pergi sudah pasti hidup Zack kembali seperti semula. berkutat dengan profesinya di rumah sakit dan di luar rumah sakit menjadi dokter bayaran.


Lana menyadari kedatangan Zack, ia bergegas bangkit dari duduknya dan meletakkan bibit bunga yang sedang ia pegang menggunakan sarung tangan berkebunnya.


"Kak ..." Lana berjalan menghampiri Zack dengan wajah sumringah. ada sedikit keringat di dahi Lana yang tertutup topi bulat.


Zack tersenyum miring ia menggerakkan tangannya lalu dengan jemarinya menyapu bintik keringat di kening istrinya.


"Oh cuaca memang panas sekali" kata Lana salah tingkah menerima perlakuan Zack.


"Mungkin dua gelas es coklat bisa membuat cuaca sedikit terasa dingin?" kata Zack memberi kode pada Lana.

__ADS_1


Lana tertawa ia berjalan mengiringi Zack masuk ke dalam rumah.


"Kenapa kau selalu berjalan di belakang ku? kau bukan Gio jadi berjalanlah di sampingku"


Lana mengangguk salah tingkah. ia merasa ada yang berbeda dari Zack.


"Buatkan dua gelas es coklat" kata Zack pada pelayan di rumahnya.


"Baik tuan"


Zack menarik dan mendekatkan kursi kosong di sampingnya. ia meminta Lana untuk duduk di dekatnya.


"Aku mau bicara" kata Zack dengan mimik wajah serius.


Lana menjadi gugup, ia tidak bisa menebak jalan pikiran Zack. terkadang bersikap ketus, terkadang baik dan penyayang, terkadang jutek dan galak sekali tapi terkadang lembut.


Apa dia akan membahas perceraian? apa dia akan menceraikan aku karena reputasi ku di perusahaan ayah kurang baik?! bagaimana ini?


"Apa yang kau pikirkan? kenapa terlihat gugup?" tanya Zack.


Lana hanya menggeleng ia mendengarkan apa yang akan Zack bicarakan padanya.


"Bagaimana perkembangan mu di perusahaan ayahmu?"


Deggh!


Benar dugaan Lana jika Zack pasti bertanya hal itu.


Apa dia mendapat laporan dari Gio soal kinerjaku yang amburadul di perusahaan ayah?!


"Aku rasa kurang begitu baik" jawab Lana pasrah.


"Apa kendalamu? apa orang-orang lama di perusahaan ayahmu kurang bersahabat dengan kehadiran mu?"

__ADS_1


"Bagaimana kakak tahu hal itu?!" Lana membelalak semangat secara tiba-tiba seolah ia lega Zack tahu permasalahan yang ia hadapi di perusahaan.


Zack tersenyum sembari meraih gelas es coklatnya. ia menyesapnya hingga tinggal setengah isinya.


"Itu persoalan klise Lana, kau harus belajar menemukan cara menaklukan mereka!"


Lana mengangguk sedikit lega karena Zack tidak memarahinya.


"Oh ya aku ingin bertanya padamu"


"Bertanya soal apa kak?" Lana kembali gugup.


"Apa kau memiliki seorang anggota keluarga lagi yang aku belum ketahui?" tanya Zack.


Lana terdiam mencoba mencerna kenapa tiba-tiba pertanyaan Zack mengarah ke sana.


"Anggota keluarga? yah aku memang memilik seorang kerabat yang tinggal di luar negeri ia adik bungsu ayah"


"Siapa nama nya?"


"Aku memanggilnya paman Ben, namanya Benedict Dupont"


"Apa pekerjaan paman Ben?" tanya Zack penuh selidik, ia harus mendapat informasi dari Lana soal Benedict.


"Entahlah, tapi aku pernah dengar katanya paman Ben memiliki usaha dalam bidang ekspor dan impor"


"Apa kau tahu barang apa yang ia perdagangkan itu?"


"Aku tidak tahu kak...."


"Hmm baiklah cukup, kau habiskan minuman mu lalu beristirahatlah aku harus pergi"


Zack bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi , Lana yang belum puas memandangi wajah tampan Zack terlihat kecewa dan hanya bisa menatap mobil Zack yang melaju meninggalkan halaman rumah.

__ADS_1


__ADS_2