
Zack menuruni anak tangga menuju ruang tengah ia kembali menemui paman Ben yang terdengar masih berbincang dengan Lana.
"Hai Dokter Zack mari kita mengobrol dengan santai" kata paman Ben begitu melihat Zack kembali ke ruang tengah.
"Silahkan paman Ben" Zack duduk di samping Lana.
"Aku senang melihat Lana bahagia seperti sekarang dan itu berkat dirimu" kata paman Ben.
Zack melirik Lana lalu meraih cangkir teh yang masih penuh di atas meja. ia menyesap teh di cangkirnya dengan perasaan campur aduk. baru kali ini teh buatan Lana terasa tidak nikmat di lidahnya.
"Lana paman prihatin atas kematian ayahmu"
"Uhuk!!" Zack tersedak tehnya. Lana buru-buru mengambilkan selembar tissue untuk Zack.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Lana cemas.
"Hmm tidak aku baik-baik saja" Zack meletakkan cangkirnya di atas meja. sementara paman Ben yang melihat Zack ia tersenyum.
"Aku dengar kau yang sudah membantu Lana ku untuk sembuh dari depresinya" tanya paman Ben.
"Bukan aku tapi dokter yang menanganinya"
"Oh ya dokter Zack jika aku boleh tahu kau adalah dokter spesialis bedah?"
__ADS_1
"Benar"
"Selain di rumah sakit milik keluargamu dimana lagi kau bertugas?"
"Tidak ada, ku hanya praktek di VC hospital"
"Benarkah? tapi....aku memiliki seorang kawan yang mengenal dirimu dengan baik"
Zack mencoba tetap santai dengan semua Intimidasi yang di lakukan paman Ben.
"Banyak orang yang mengenal diriku" kata Zack percaya diri.
"Hmm kau benar, kau adalah orang hebat seperti ayah mu"
"Tentu saja siapa yang tidak mengenal Lizard Van Camont? dia pria hebat aku banyak belajar darinya"
Paman Ben melirik jam tangannya dan ia berniat pamit pulang. Zack merasa sedikit lega akhirnya pria tua itu pergi dari rumahnya.
Sepulang paman Ben dari rumah Zack, di kamar lantai dua terjadi sedikit adu argumen antara Zack dengan Lana.
Zack keberatan Lana menerima tamu tanpa meminta izin lebih dulu padanya.
"Paman Ben keluargaku kak, dia bukan orang lain"
__ADS_1
"Aku tidak peduli karena ini rumah ku jadi kau ikuti peraturan ku!" bentak Zack. ia sangat kesal pada Lana.
"Kenapa kakak membentak ku?" air mata Lana mulai menggenang di pelupuk matanya. kemarahan Zack sangat berlebihan bagi Lana. hanya karena ia menerima tamu yang tidak lain adalah keluarganya sendiri Zack terlihat sangat marah.
"Baiklah sudah cukup! Jika kau tidak senang dengan ku atau keluargaku kenapa kau menolong ku?!"
"Lana..." Zack menurunkan nadanya mencoba lembut pada Lana meski sekarang pikirannya sedang kacau.
"Kalau begitu biarkan aku pergi, kau sudah banyak membantuku aku berhutang Budi padamu dokter Zack" Lana beranjak meraih koper besar di dalam ruang penyimpanan barang. ia meraih baju dan beberapa barang miliknya di kamar itu dan memasukan kedalam koper.
Entah kenapa ia begitu sensitif dengan sikap Zack kali ini. reaksi Zack menerima keluarga Lana sungguh tidak masuk akal. padahal Lana senang sekali bisa bertemu dengan pamannya yang telah lama tidak ia jumpai.
"Lana baiklah, aku minta maaf" kata Zack mencengkram tangan Lana.
"Bisakah kau jangan begini padaku?" air mata Lana menetes.
"Apa maksud mu?" Zack tidak mengerti.
"Bisakah kau jangan bersikap aneh padaku?! sebenar baik, lembut dan membuatku salah paham. lalu kau kembali ketus dan marah padaku membuatku bingung?!" kata Lana melampiaskan kekesalannya pada Zack.
Zack menghela napasnya, seulas senyum nampak di bibirnya. ia menyadari perlakuannya pada Lana selama ini.
"Ayolah Lana tetaplah tinggal" Zack meraih tangan Lana dengan lembut. ia menuntun Lana ke ranjangnya.
__ADS_1
Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk memanfaatkan suntikan penunda kehamilan yang ku berikan pada Lana. aku akan membuatmu tidak bisa jauh dari ku Lana....