
Lana terdiam di bawah Kungkungan tubuh Zack yang kekar. ia tidak bisa dan tidak berani melawan Zack. apa lagi saat ini mood pria itu sedang tidak bagus.
Zack menyibak dress yang Lana kenakan. ia sendiri dengan tidak sabar membuka kemeja hitam yang sejak tadi sudah tidak di kancingkan.
"Kau tahu hari ini aku kesal sekali sayang!". gumam Zack di dekat telinga Lana.
"Lihat aku Lana!" Zack mulai kehabisan kesabaran karena sejak tadi Lana memalingkan wajahnya tidak mau memandang Zack.
Perlahan Lana memandang wajah Zack meski ia ketakutan dan bibirnya sedikit bergetar.
"Hmm bibir mu bergetar, kau ketakutan atau tidak sabar untuk..." Zack tidak melanjutkan ucapannya. ia menarik dagu Lana dengan kasar dan ******* bibir Lana dengan liar.
"Hmmm! ..." Lana memukul dada Zack mencoba mendorongnya menjauh. tapi percuma ia tidak bisa melakukannya.
Lana hanya pasrah ketika Zack menciumi lehernya dan mulai menguasai anggota tubuh Lana yang lain.
***
Di VC hospital
Siang itu dokter Bella di kejutkan dengan kegaduhan seseorang yang membawa pasien kritis ke rumah sakit.
__ADS_1
Dokter Bella segera berlari untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. betapa terkejutnya saat ia melihat Marco tiba di rumah sakit sembari menggendong seorang wanita.
Perawat membantu membaringkan wanita itu di ranjang.
"Tolong dia, aku mohon!" kata Marco panik. Bella mengamati reaksi Marco atas wanita sekarat itu. hatinya pilu dan sakit entah kenapa ia merasa cemburu. Bella tahu pasti perempuan itu adalah istri Marco.
"Dokter tolong..." Marco menghentikan ucapannya begitu ia menyadari ada Bella di dekatnya. lidahnya kelu, di satu sisi ia cemas pada istrinya dan disisi lain Marco peduli pada Bella.
Bella hanya terdiam memandang Marco dengan ribuan pertanyaan dan makian. ia cemburu melihat Marco begitu cemas dan peduli pada istrinya.
"Bella...." Marco mencoba menenangkan Bella yang terlihat kecewa sembari berjalan pergi.
Marco mengikuti langkah perawat itu menuju ruang pemeriksaan. didalam sana dokter sedang menangani Rea.
Sementara Bella kembali ke ruang kerjanya, ia tidak bisa menahan air matanya. Bella mulai menundukkan wajahnya di atas meja kerjanya. ia terisak untuk beberapa saat. hatinya sakit ternyata ia menyimpan rasa untuk Marco meski selama ini Bella tidak mempedulikannya.
"Brengsek! lalu apa arti bunga, coklat dan perhiasan dan hadiah yang sering dia kirimkan padaku?!" teriak Bella sembari tangannya terkepal memukul meja.
Bella menangis, ia tidak bisa menahan amarah dan rasa cemburunya. ia tidak berhenti mengomel dan memakai Marco dengan wajah yang masih tertelungkup di atas meja kerjanya.
"Aku benci padamu Marco!!"
__ADS_1
"Aku akan ...akan menghabisi mu dasar jahat!!"
Bella melampiaskan kekesalannya, setelah merasa tenang ia membuka matanya dan menengadah.
Jantungnya hampir lepas karena mendapati seseorang berada di hadapannya tersenyum geli padanya.
"Dokter Erthan?! sejak kapan kau disini?!" Bella merapikan rambutnya dan menghapus air matanya.
Kenapa dia ada disini?! apa dia melihatku menangis tadi?!
"Tenanglah aku baru saja masuk ke ruang kerjamu aku kira tadi kau tertidur di atas meja kerjamu" jawab Erthan sembari menahan tawa.
"Benarkah?" Bella terlihat sedikit lega setidaknya Erthan tidak mendengarkan omelan dan makiannya pada Marco.
"Emmm tidak juga, aku dengar kau marah-marah tadi" Erthan tertawa sembari merogoh saku celananya. ia mengeluarkan selembar saputangan bersih berwarna putih.
Bella terlihat salah tingkah dan tidak berani memandang Erthan.
"Ini hapus air mata dan maskara mu yang luntur itu!"
Bella semakin panik, pasti sekarang wajahnya sudah mirip badut. ia meraih saputangan yang di berikan oleh Erthan lalu berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
__ADS_1