Doctor Van Camont

Doctor Van Camont
Part 41 Permainan


__ADS_3

Lana membuka matanya merasakan sekujur tubuhnya kelu dan sakit. ia perlahan menyingkirkan tubuh Zack yang masih menindihnya.


Lana menyibak selimut lalu turun dari ranjang. ia meraih piama di atas meja dekat ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi.


Ponsel Zack yang berada di atas meja berbunyi, ada panggilan telepon dari Gio.


Zack masih tertidur jadi tidak menghiraukan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Lana yang sudah selesai dari kamar mandi memberanikan diri meraih ponsel Zack lalu membaca pesan singkat yang di kirim oleh Gio.


[Saya sudah temukan biang keladinya tuan, orang itu ada di markas kita. dia anak buah Benedict!]


Lana menutup mulutnya dan tidak sengaja menjatuhkan ponsel Zack ke lantai. Zack menggeliat dari balik selimut untuk beberapa detik Lana mematung dengan jantung berdebar takut Zack terbangun.


"Berani sekali kau membaca isi pesan masuk di ponsel ku Lana...." gumam Zack masih posisi tertidur dan matanya juga terpejam.


Lana menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Zack ia ingin memastikan Zack benar sudah bangun dari tidurnya atau hanya mengigau saja.


Hening, Zack hanya terdiam dengan mata terpejam. Lana menghela napas lega. tapi kelegaannya itu hanya sesaat. Zack meraih tangan Lana sembari tersenyum miring menatap Lana.


"Kak aku..." kata Lana gugup.


"Jama berapa ini?" gumam Zack.


"Sekarang sudah jam sembilan malam" kata Lana mencoba tenang agar tidak memancing amarah Zack.

__ADS_1


Zack menyibak selimut dan bergegas menuju kamar mandi. Lana meraih koper yang ada di ruang penyimpanan. ia membuka lemari dan meraih bajunya dengan cepat memasukkannya ke dalam koper.


Aku harus pergi dari sini, dia menakutkan sekali aku tidak mau dia sampai menyakiti diriku!...


Dengan panik Lana menutup koper dan menariknya mendekat ke arah pintu kamar..


"Mau kemana nona Lana Dupont?!" Zack keluar dari kamar mandi, dengan santai ia mengeringkan rambutnya sembari tersenyum pada Lana.


Zack melirik koper yang di bawa oleh Lana. ia berjalan menghampiri istrinya itu.


"Mau kemana sayang?! kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?!" Zack meraih rambut Lana dan menariknya.


"Jangan berani-berani pergi dariku Lana. kau tidak tahu bahaya apa yang akan kau temui di luar sana!".


"Ssttt ..jangan takut Lana aku bukan orang jahat, aku menyayangimu kau harus tetap tinggal di rumah ini agar aku bisa menjagamu dengan baik"


Lana menggelengkan kepalanya,


"Baiklah, jangan membuat kesabaran ku habis Lana..."


Lana yang ketakutan melepaskan tangannya dari ujung koper yang ia pegang.


"Gadis pintar, hanya aku yang akan membantu mu untuk mendapatkan perusahaan ayah mu Lana. jadi jangan macam-macam padaku!"

__ADS_1


"Tapi paman Ben, kau akan menyakitinya bukan?!"


"Paman Ben? tentu saja tidak sayang, ia paman mu" kata Zack tersenyum.


"Jika kau menyakiti paman Ben aku akan melaporkan mu pada polisi" kata Lana menahan rasa takutnya.


"Baiklah aku takut berurusan dengan polisi jadi aku memohon padamu jangan melaporkanku aku takut sekali"


Zack menahan tawanya yang hampir menyembur melihat perangai Lana yang polos.


"Sekarang siapkan baju untukku karena aku mau pergi"


Lana meraih sebuah kemeja berwarna biru dan celana jins hitam dari dalam lemari besar. Zack mengenakan pakaiannya tanpa rasa malu di depan Lana, gadis itu memalingkan wajahnya karena malu melihat tingkah Zack.


"Kenapa sayang? kau mau lagi?" Zack tersenyum jahil sembari mencolek lengan Lana.


Lana bergegas keluar kamar, ia memikirkan cara bagaiman ia menghubungi paman Ben jika Zack bisa saja menyakiti dirinya.


Zack berjalan menuruni anak tangga, Gio sudah terlihat menunggu nya di lantai utama.


"Tuan..." sapa Gio.


"Gio siapkan anak buah mu untuk berjaga di rumah ini, jangan sampai Lana kabur. satu lagi matikan semua sambungan telepon di rumah ini" kata Zack seraya menggenggam ponsel milik Lana yang ia sita.

__ADS_1


__ADS_2