
Dokter Erthan berada di ruang investigasi bersama beberapa timnya dan pihak kepolisian. malam sudah larut tapi semua masih di sibukan dengan penemuan jasad pria di halaman rumah dokter Erthan.
"Aku rasa pelakunya sudah gila! Berani sekali dia meneror dokter forensik milik kepolisisan pusat!" kata seorang polisi.
Erthan terdiam menerka kira-kira siapa yang sedang mengerjai dirinya. Selama ini Erthan tidak merasa memiliki musuh kecuali para wanita yang dulu menjadi korban sifat playboynya.
"Pisau ini jelas bertuliskan nama seseorang, dokter apa kau mengenal pemilik benda itu?" tanya polisis pada dokter Erthan.
"Tidak, aku tidak kenal dengan orang bernama Benedict sesuai yang terukir di pisau itu"
Sebaliknya aku rasa ini ada hubungannya dengan dokter spesialis bedah Zack Van Camont!
Malam itu Erthan berada di tempat kerjanya sampai pagi. Ia sempat tertidur selama dua jam dan itu sudah lumayan baginya untuk mengusir lelah dan memulihkan kembali staminanya.
__ADS_1
Erthan terbangun lalu membersihkan dirinya, ia berniat mencari sarapan di restauran cepat saji. Menganalisa maya*t juga bisa membuat dirinya kelaparan.
"Aku mau sandwich daging dan dua burger lengkap pakai kentang" kata Erthan. ia melirik jam tangannya dan tersenyum.
"Mungkin Bella sudah berangkat ke VC hospital, baiklah aku akan membawakannya sarapan"
Sementara di VC hospital pagi itu dokter Zack dan dokter Bella berangkat bersama. Mereka berpisah di lantai enam karena dokter Zack bertugas di lantai dua belas. Ia masih di skors oleh dokter Eric masalah rumor Zack dan para pasien mafianya.
Saat melewati kamar pasien di lantai enam dokter Bella berhenti. Ia memandang ke dalam ruangan melalui dinding kaca transparan. Disana ia melihat Marco sedang menyuapi istrinya. Keduanya saling memandang terlihat begitu mencintai. Bella tersenyum getir sekali lagi ia patah hati dan cemburu. Bella menepi di ruang tunggu yang masih terlihat lengang. Ia duduk di sana lalu menangis.
"Kau?! Kenapa bisa disini?!" Erthan sudah teelanjur melihat air mata Bella. Bella tidak bisa lagi mengelak dari pria itu.
Erthan meraih kepala Bella dan menyandarkan di bahunya yang bidang.
__ADS_1
"Aku akan pinjamkan bahuku, banyak wanita di luar sana yang bermimpi menangis di bahu ku"
Bella mendengus, ia tidak perduli dengan ucapan Erthan. Tidak ada salahnya kali ini ia bersandar di bahu geratisan itu. patah hati rasanya sungguh menyakitkan bagi Bella. Setelah ini Marco mungkin tidak akan lagi mengganggu dirinya, tidak menelpon, tidak memberi buket bunga, coklat dan hadiah lainnya yang sebenarnya tidak Bella harapkan tapi Bella senang dengan perhatian yang Marco berikan.
"Hmmm dokter kau sedang patah hati rupanya" gumam Erthan sembari merengkuh bahu Bella.
"Diam kau! Orang seperti mu tidak akan tahu rasanya patah hati bukan?!"
Aku tahu Bella rasanya patah hati seperti apa, sekarang aku juga mengalaminya.....
Dikejauhan Zack berdiri memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Ia mengamati Bella dan Erthan dengan ekspresi ingin menelan kedua orang itu bulat-bulat.
"Apa ini? Kau bilang tidak mengenal dekat pria ini?!" Zack sudah berdiri di dekat Bella dan Erthan tanpan disadari oleh kedua orang itu.
__ADS_1
Bella terkejut dan langsung menarik kepalanya yang bersandar di bahu Erthan. Bella berdiri dari duduknya dengan gugup sementara Ertan ikut berdiri memandang Zack.
Kini kedua pria itu saling berhadapan.