Doctor Van Camont

Doctor Van Camont
Part 44 Rasa Yang Tersembunyi


__ADS_3

Malam itu Bella berbicara dengan Zack di ruang tengah. Tidak sengaja Bella dan Zack berpapasan saat mengambil minuman.


"Aku ingin bicara Bella!" kata Zack


"Ada apa? soal pertengkaran mu dengan Lana aku tidak ikut campur! kalian bereskan sendiri masalah kalian berdua"


Zack mengerutkan keningnya darimana Bella tahu jika ia dan Lana sedang bertengkar.


"Zack jangan terlalu keras padanya, kau bisa membuatnya kembali depresi! gadis itu telah kehilangan ayahnya di tambah kekasihnya. kau memberinya harapan baru jadi jangan hancurkan itu"


Zack terdiam merenung, yang di katakan Bella ada benarnya. mungkin ia terlalu memaksa pada Lana. sebenarnya tujuan Zack baik ia ingin membantu gadis itu mendapatkan haknya yaitu perusahaan ayahnya.


"Baiklah terimakasih atas saranmu dokter Belloss...! sekarang katakan tentang siapa dokter forensik itu!"


"Aku tidak tahu tentang dia!"


"Kau bohong Bella aku melihat mu bicara dengan dia dan kalian terlihat dekat!"


"Kami pernah satu kelas kedokteran umum" jawab Bella.


"Oh jadi kalian teman satu kelas? kenapa dia berani macam-macam padaku?!"


"Mana aku tahu Zack!"

__ADS_1


"Kau suka padanya?!" tatapan Zack tajam ke mata Bella mencoba mencari rasa tersembunyi di mata kembarannya itu. Bella atau Zack bisa membohongi Daddy atau mommy sekalipun. tapi sebagai orang yang terlahir kembar keduanya tidak bisa saling menipu.


"Kau gila?!" Bella kesal pada Zack yang tidak memahami situasi. saat ini ia bahkan sedang patah hati dengan Marco.


"Kenapa kau terlihat sedih? ada apa?" Zack baru menyadari jika sejak sore tadi Bella tidak banyak bicara seperti biasanya. wajah cantiknya juga terlihat murung.


"Tidak ada! sekarang aku ingin tidur jadi jangan ganggu aku dengan pertanyaan mu tentang dokter forensik itu!"


Bella beranjak pergi ke kamarnya. sementara Zack masih menghabiskan minumnya sembari menyulut sebatang rokok.


Mommy sudah tertidur jadi Zack aman merokok di rumah itu. kalau tidak ia akan kena marah. Mommy Lily tidak suka Zack merokok.


Zack mendengar langkah kaki yang berjalan perlahan. ia tersenyum kecil sembari mengepulkan asap rokoknya. Zack memutar duduknya dan tepat menghadap Lana yang baru saja akan menuju dapur untuk membuat minuman.


"Aku minta maaf Lana aku sudah terlalu keras padamu. jadi maafkan aku...hmm" Kata Zack tulus. Lana mulai terisak sedih mengingat perlakuan Zack tadi.


"Ssstt jangan menangis sayang, aku sudah minta maaf bukan?" Zack meraih Lana ke dalam pelukannya.


Dalam hati Zack menghitung waktu singkat untuk ia bersama dengan Lana.


Aku bisa saja bertahan dengan Lana asalkan aku melenyapkan Benedict!


***

__ADS_1


Erthan sedang berada di kamarnya, ia memandangi layar laptop yang ada di hadapannya. Erthan tersenyum memandang foto seorang gadis Yanga nampak di layar laptopnya.


Sebenarnya sudah sejak lama Erthan tertarik dengan gadis itu. tapi sepertinya gadis itu selalu kaku dan tidak mempedulikannya bahkan sampai sekarang.


"Bella Van Camont..." gumam Erthan menyebut nama gadis yang fotonya sedang ia pandangi itu.


Tuk tuk...


Pintu kamar Erthan di ketuk dari luar membuyarkan lamunan indahnya tentang Bella.


"Ada apa?"


"Tuan di luar ada...mayat!" kata seorang pelayan dengan wajah ketakutan.


"Apa?!" Erthan bergegas melangkah ke luar rumah. ia mendapati seorang pria terbujur di halaman rumahnya. Erthan memeriksa nadi pria itu.


Apa ini?! ada yang ingin mengerjai ku!


Erthan menghubungi kantor polisi pusat untuk mengurus penemuannya barusan. ia bergegas mengganti bajunya dan berangkat ke tempat kerjanya.


flash back


Gio menggendong seorang pria yang sudah kaku. ia meletakkannya di halaman sebuah rumah mewah yang minim penjagaan. tidak lupa ia mengenakan sarung tangan dan sebuah pisau kecil ia tancapkan di dada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2