Doctor Van Camont

Doctor Van Camont
Part 35 Teman Lama Bella


__ADS_3

Dokter Bella berjalan menuju toilet di sela jam istirahat nya. masih ada satu pasien lagi yang harus ia tangani. Bella membasuh wajahnya perlahan lalu mengeringkan dengan tissue ia merapikan rambut panjangnya lalu berjalan kembali ke ruang prakteknya.


Dokter Bella membuka handel pintu, ia disambut senyum manis seorang pria tampan yang duduk sembari melepas kemeja putihnya. Pria itu mengerlingkan sebelah matanya pada Bella.


"Kau hanya terluka di lenganmu tidak perlu membuka semua kemeja mu, itu berlebihan!" kata Bella tanpa memandang tubuh pria itu.


"Kau sama sekali tidak berubah nona Van Camont, kau tetap cantik dan menggemaskan seperti dulu" balas si pria jahil.


"Diam!" Bella memeriksa luka goresan yang sebenarnya hanya sepele saja di lengan pasiennya.


"Kau sendiri seorang dokter untuk apa luka begini saja repot periksa kemari?" Sindir Bella.


Pria yang tidak merasa tersindir itu adalah Erthan Hasenbosch. Teman kuliah Bella hanya saja Erthan sekarang sudah menjadi spesialis forensik.


Bella tahu betul reputasi Erthan sebagai playboy kelas kakap di kampus. Ia sering bergonta ganti pacar dan memamerkan kekayaan orang tuanya. hanya satu yang Bella tidak menyangka jika Erthan berhasil menjadi dokter forensik yang terkenal. ia bahkan bekerja di institusi kepolisian pusat.


"Hei Bella aku yakin pasti sampai sekarang kau masih jomblo?! Bagaimana ada lelaki yang mendekatimu kalau kau masih saja galak!" celetuk Erthan membuyarkan ingatan Bella tentang dirinya.

__ADS_1


Erthan menahan tawanya begitu Bella melirik tajam ke arah nya.


"Sudah selesai jadi sekarang cepat pakai bajumu lalu pergi dari sini!".


"Ah aku tidak mau, aku masih betah disini!"


"Yasudah kau disini saja biar aku yang pergi" Bella hampir melangkah pergi tapi Erthan mencekal lengannya.


"Mau makan siang dengan ku?"


***


Lana sudah selesai mandi dan berganti piama ia duduk di bibir ranjang memandang ke arah sofa besar di kamar itu.


Sepertinya sofa itu tidak lagi berguna disana karena Zack sudah menguasai ranjang. ia tidak akan lagi tidur di sofa itu seperti dulu. batin Lana.


"Apa yang kau pikirkan?" Zack muncul dari kamar mandi sembari meraih kaos polos berwarna putih lalu berjalan merebahkan dirinya di ranjang.

__ADS_1


Lana melirik Zack lalu melirik sofa yang tengah kosong. Zack mengerti arti lirikan Lana, ia hanya tertawa sembari memeluk sebuah guling.


"Aku tidak mau lagi tidur disana Lana badanku sakit semua, sekarang suka atau tidak kau tidur bersama.ku satu ranjang!" kata Zack sembari tersenyum nakal.


Lana merasakan pipinya merona karena malu mengingat kejadian yang ia alami bersama Zack di ranjang itu.


"Kemarilah, kau bisa tidur di pelukan ku. kau pasti ingin sekali merebahkan dirimu di dada bidang milikku bukan?"


Lana langsung melemparkan bantal ke arah Zack ia merebahkan diri memunggungi pria itu. jantung Lana terasa berdebar ketika tangan kekar Zack menyusup di balik selimut memeluk pinggang nya.


Sementara Lana dan Zack bermesraan, sang asisten yaitu Gio sedang dalam masalah. ia di keroyok penagih hutang yang membawa senjata tajam.


"Aku sudah terlalu baik dengan memberimu waktu untuk melunasi hutang mu Gio! jadi jangan menguras kesabaran ku lagi!" begitu kata pimpinan dari gerombolan yang mengepung Gio.


"Aku minta sedikit waktu lagi" kata Gio memelas.


Tapi nampaknya tidak ada lagi belas kasihan untuk Gio, ia di hajar dan di pukuli hingga babak belur. perutnya terkena sabetan senjata tajam hingga terluka meski luka itu tidak parah. Gio tertatih berjalan menuju rumah usang milik kakeknya.

__ADS_1


Di depan pintu rumah sang kakek Gio ambruk tidak sadarkan diri.


__ADS_2