
Raphaella sedang berada di kamarnya melihat ke arah topeng kerangka rusanya, kelihatanya dia gugup walau wajahnya tertutup oleh hoodie hitam, lalu suara ketukan pintu terdengar dari pintu kamarnya.
"nyonya Raphaella mohon bersiap untuk ritual"
"baik aku sudah siap"
Raphaella memasang kembali topengnya dan berjalan ke arah pintu, di luar terdapat 3 sosok serba putih wajah mereka di tutupi kain putih pula mereka memiliki aksesoris tanduk emas, jubah putih mereka sangat panjang mereka menyentuh lantai, masih masing dari mereka memegang lilin dengan kristal ungu sebagai aksesorisnya.
Mereka tidak mengatakan apa apa, Raphaella tahu apa yang harus di lakukan dan kenapa mereka tidak boleh bicara secara langsung.
Raphaella mulai memimpin berjalan di tengah ketiga sosok putih itu mengikutinya dari belakang menuju ruang tamu, suara bisikan bisa terdengar dari mukut setiap sosok putih itu, bisikan mereka tidak dapat di pahami namun itulah mantra yang harus mereka ucapkan.
mereka berjalan menuju sebuah ruangan besar, di tengah terdapat sebuah meja dengan banyak tanah dan kerikil di atasnya, ayah Raphaella menggunakan sebuah topeng emas dengan 4 tanduk, dan topi panjang dengan api yang membara di atasnya.
Banyak orang juga di sekitar ruangan, mereka menggunakan topeng yang beragam banyak dari mereka yang menggunakan helm drngan aksesoris sayap di kanan kirinya.
Mereka semua melihat ke arah Raphaella, kemudian Raphaella mulai mengabil langkah ke meja di tengah ruangam yang lain mulai mengambil langkah juga gerakan mereka begitu terorganisir walau tanpa adanya suara alunan, hanya suara gemericik api dari topi panjang ayahnya Raphaella.
Ketika mereka sampai di tengah tengah ruangan semua orang mengitari meja itu, seketika lampu ruangan itu mati, Raphaella memunculkan sebuah pedang dari udara tipis dan menaruhnya di atas meja yang kemudian itu melayang sebelum berubah menjadi abu panas yang mematik api di atas meja, puncak ritual pun di mulai.
Semua orang meyebutkan mantra mereka mengucapkanya sambil berbisik bisik mantra itu adalah Throdogoth l' mgepogor ehye, dan itu di ucap berkali kali.
api di atas meja semakin membesar yang kemudian berubah menjadi energi yang melayang di atas mereka, semua orang pun langsung menunjuk ke arah Raphaella, di mana semua energi murni itu masuk ke tubuh Raphaella, tubuh Raphaella terasa begitu panas namun ia menahan semua itu sampai semua energi itu masuk sepenuhnya ke dalam tubuhnya, proses ini memakan waktu 5 menit.
karena jumlah energi mentah dan murni yang masuk ke tubuhnya secara cepat dan spontan tubuh Raphaella mulai terkena dampaknya, ia mulai meneteskan darah dari mata, hidung, mulut, dan telinganya napasnya juga menjadi begitu berat.
Jubah hitamnya sekarang memiliki bekas darah yang keluar dari tubuhnya, dan ketika semua energi itu masuk Raphaella mulai bernapas dengan tenang, sekarang semua orang menunggu Raphaella untuk melakukan sesuatu, yang tentu Raphaella tahu apa yang mereka tunggu mereka menunggu Iridum yang ia akan panggil.
Ia pun mulai mengangkat kedua tanganya seakan memegang sebuah pedang di udara seketika sebuah pedang muncul dari udara tipis, pedang itu panjang dan terlihst elegan, itu mengeluarkan cahanya yang terang menerangi seluruh ruangan, cahaya itu membutakan namun semua orang di ruangan tidak berpaling untuk sementara dan satu persatu dari mereka mulai berpaling.
Cahaya itu makin terang dan rasa hangat dapat di rasakan dari cahaya itu, sebuah gelembung barrier cahanya mulai terbentuk di sekitar tubuh Raphaella.
Slsekarang nyari semua orang telah memalingkan wajah mereka dari cahaya namun ayahnya Raphaella masih melihat langsung ke arah cahanya, api di atas topi panjangnya itu mulai redup, hingga akhirnya mati, ketika api itu padam ia baru berpaling.
Para sosol berpakaian putih mulai mengitari Raphaella dan membuka kan topeng dam jubah nya sambil Raphaella yang memegang oedang itu di atas kepalanya, yang kemudian sosok sosok putih itu memakaikan jubah baru, jubah itu hitam namun terdapat aura kegelapan yang sulit di jelaskan, yang kemudian sebuah mendali yang berbentuk mata di pasangkan oleh sosok putih yang lain, dan sosok putih terakhir memasangkan topeng kerangka rusa yang baru, namun kali ini, tanduknya lebih tinggi dan memiliki cabang yang lebih banyak pula, bagain kerangka memiliki ornamen ornamen emas, yang kemudian di pasangkan dari belakang ke depan wajah Raphaella.
cahaya dari pedang itu menjadi sangat terang dan sangat hangat orang orang di ruangan mulai berpaling darinya dan keluar ruangan, ruangan pun menjadi kosong hanya Raphaella yang berada di ruangan itu, beberapa saat kemudian ia memasukan pedang nya ke dalam saku pedany yang telah ia siapkan, ruangan menjadi gelap dan Raphaella berjalan di dalam kegelapan menuju pintu keluar.
ia menuju kamarnya, dan ketika kamar di tutup, ia menggending pedangnya dan memeluknya sebelum menaruhnya di sebuah altar yang membuatnya melayang walau dengan sarung yang menutupi cahaya dari pedang itu masih bisa menembus sarung pedangnya, sehingga Raphaella berpikir ia harus membuat sarung pedang yang lebih tebal lagi.
Ia kemudian duduk di meja di hadapanya terdapat sebuah cermin dengan senyuman lebar di wajahnya ia melepas topeng kerangka rusanya dan mulai membersihkan darah dari wajah dan telinganya.
Ia membuka handphone nya dan membuka foto Ezra, walau menggunakan topenf Ezra hanya bisa ber imajinasi seperti apa wajah Ezra itu, ia telah membangun kepercayaan diri berbicara denganya lewat pesan dan telepon, namun bicara secara langsung ?, itu akan jadi tantangan.
Suara ketukan terdengar dari pintu dan sebuah surat menyelip lewat bawah pintu, Raphaella kemudian membuka surat itu... Itu adalah surat dari Mater Regnum.
__ADS_1
...****************...
Sasha yang melihat Mel sedang duduk di sebuah meja membaca sebuah buku, tentu sebagai teman ia akan mendatanginya.
"hey Mel"
"oh Sasha hey.... Bagaimana dengan latihan mu ?"
"oh semua berjalan dengan baik"
"sukurlah"
"hey apa kamu mendapat surat dari-"
"sssttttt, penggilan dari pemimpin sebuah negeri itu rahasia tutup mulut mu"
"oh iya maap hehehe...., buku apa yang kamu baca ?"
"oh ini.... namanya arts of war... Jujur saja buku ini sangat bagus walau sulit di pahami"
"isinya tentang apa ?"
"isinya tentang teori, polapikir dan strategi terbaik dalam berbagai keadaan"
"oh wow.... Dari mana kamu mendapat kan buku itu ?, apa buku itu ada lagi di perpustakaan ?"
"pinjaman ?"
"iya dia meminjamkan aku buku ini,.... Aku pikir ini adalah relic"
"relic ?, lalu mengapa ia meminjamkan nya kepada mu ?"
"aku tidak tahu aku pikir dia terlalu baik"
"atau dia tahu kamu pemimpin dari the order of holy flame"
"..."
Setelah memikirkan itu Mel berspekulasi bahwa Marie tahu identitasnya dari buku buku yang ia baca, di tambah lagi pengumuman global bahwa the order of holy flame memiliki pemimpin muda yang baru.
"ASTAGA !!"
"yaampun kamu baru sadar"
"la-lalu aku harus ba-bagaimana ?, Vivien akan sangat marah padaku"
"hey tenang saja aku yakin si Marie ini akan tutup mulut lagi pula dia tidak akan mendapat keuntungan apapun.... Kan ?"
__ADS_1
"iya sih... Huuuh..... Aku tidak percaya aku nyaris mengacaukan sesuatu"
"tenanglah.... Jadi ada rencana untuk.... Kamu tahukan ?"
"tentu, ayo mendekat"
"baiklah"
Mel pun berbisik.
"nanti bawa armor mu ke tempat latihan, kita ketemu di sana oke, ingat jangan ketahuan siapapun"
"oke"
sore itupun mereka bertemu di ruang latihan dengan full armor mereka, Sasha memggunakan armor ayahnya sudah dapat melayang di udara, Mel menggunakan sebuah armor spesial, armor itu mirip dengan armor order of the holy flame yang lain namun armor itu memiliki sebuah sayap, ia menggunakan armor dari unung ke ujung.
"baiklah kita di sini... Apa yang akan kita lakukan ?"
"mendekatlah"
Sasha mendekat dan Mel pun merangkul Sasha dan mengangkat handphonenya, merekapun melakukan selfie, Sasha jelas kaget dan bingung apa yang Mel lakukan.
"apa yang kamu lakukan ?!!"
"tenanglah... Ini bagian dari rencana, ketika kita akan melakukan penyerangan aku akan mengupload ini ke internet di akun official the order of holy flame, mengatakan bahwa kita akan melakukan serangan besar di Mater Regnum lusa, padalah kita melakukan penyerangan itu sesaat aku mengupload foto ini, dengan begitu musuh akan berpikir kita masih lah jauh dan akan menurunkan penjagaan mereka"
"apa kamu yakin ini akan bekerja ?"
"tentu mereka akan meremehlan aku karena kita karena kita tidak memiliki pengalamanan seperti pendahulu kita, makanya aku yakin ini akan belerja"
"baiklah.... Setidaknya minta izin kepada Vivien untuk rencana ini"
"tidak perlu"
"apa maksud mu tidak perlu ?"
"aku adalah oemimpin the order of holy flame dan Vivien hanya bertugas untuk mengajari aku dasar kepemimpinan,namun semua rencana tetaplah di tangan ku"
"aku menjadi tidak yakin"
"oh ayolah kita akan berhasil percaya padaku, aku mendapat ilmu ini dari relic yang di berikan kepadaku minggu lalu"
"memang bagian mananya ?"
"...Semua peperangan didasarkan pada penipuan... Yah yang itu"
"baiklah yang itu terdengar masuk akal"
__ADS_1