
di base Serpent's mereka telah menyiapkan banyak hal, seperti barikade, sebuah bunker sementara dan lain lain banyak orang dari organisasi itu adalah penjahan tingkat tinggi, mereka menggunakan jubah hitam dengan bagian dada berwarda abu abu, di bagian lengan baju mereka terdapat jahitan ular dari bagain bahu, semakin panjang jahitan ular itu semakin tinggi pangkat pemilik jubah itu.
Mereka telah siap dengan crossbow, pedang. Dan perisai, para penyihir berada di bagian paling belakang sebagai pertahanan terakhir, base mereka menempel dengan dinding hive city, mereka begitu menyatu sampai sampai bisa di menipu mata karena base mereka terlihat seperti bagian pendukung hive city padahal itu adalah bangunan rahasia yang begitu dalam bahkan mereka memiliki akses ke under city.
Mereka yang bukan seorang petarung melakukan banyak perhitungan barang, barang yang mereka jual adalah narkotik yang sering di temui di sisi gelap middle city, jumlah nya sangatlah banyak mungkin itu bisa mencapai 800 liter cairan penghancur tubuh itu di toples berukuran 0,5 mil.
Berseta suntikan suntikan segar, mereka menjual ini ke dalam dan hive city lainya, gerakan mereka begitu misterius karena mereka selalu tidak terdeteksi, atau mungkin mereka mendapat bantuan dari dalam...
ada 3 petinggi di bangunan itu, dan mereka sedang melakukan rapat.
"apa kalian yakin mereka akan menyerang ?"
"tentu pergerakan mereka mulai... Memudar"
"... Aku paham... jangan khawatir aku akan memimpin pasukan dari garis depan !"
"hmm..... Yah yah kami akan serahkan itu pada mu..."
"hei Phantom kamu tau apa tugas mu kan ?"
"haaah..... Tentu menyerang musuh dari belakang aku tahu itu"
"bagus... Dan aku akan melakukan sihir pemanggilan untuk mendukung pasukan di depan bagai mana menurutmu Bardrey ?"
"terdengar seperti rencana yang bagus.... Dengan bantuan makluk panggilan mu garis depan tidak akan tertembus"
"hey !, jangan panggil mereka 'makluk'... Mereka anak anak ku"
"ah.... Yah maksud ku anak anak mu... Priya"
"terimakasih~, oh ! Aku sangat suka ketika mereka mandi dengan darah dari musuh musuh kita"
Priya melihat ke arah Phantom yang sedang memainkan handphone nya.
"hey Phantom kita sudah membicarakan ini tidak ada handphone di ruang meeting kecuali itu penting"
"kamu bukan ibuku"
"tck...."
"...! Kalian... Kalian harus lihat ini"
"...? Apa ?"
Phantom menunjukan sebuah foto selfie Mel dengan Sasha yang menyatakan mereka akan pergi ke Mater regnum, dan malahan foto shelfie itu meledak di internet, foto asli shelfie itu telah di hapus tapi fotonya telah menyebar ke seluruh internet.
"foto originalnya telah di hapus yang artinya mereka menyadari kesalahan ini... Ada kemungkinan penyerangan ini akan di undur atau di batalkan sepenuhnya"
"hah !, di batalin ?!, aku datang jauh jauh dari Amicus ke sini hanya untuk ini ?!, ini omong kosong"
"Bardrey tahan dirimu... Bagaimana jika ini sebuah jebakan ?"
"mustahil, si pemimpin The order of holy flame masih sangatlah muda dan tidak berpengalaman sama sekali aku yakin dia membuat kesalahan dan atasanya menegurnya setelah itu"
__ADS_1
"itu akan menjelaskan hilangnya foto originalnya..."
"yah ini omong kosong aku akan pergi!"
"kamu tahu apa ?, aku akan pergi juga, bagaimana dengan mu Phantom ?"
"...ada urusan yang harus aku lakukan di hive city ini terlebih dahulu"
"ah begitu... Jangan lama lama yah"
Phantom mengagguk dia masih duduk sambil memainkan handphonenya.
Sementara itu Bardrey dan Priya pergi, mereka menuju sebuah ruangan yang kemudian mereka masuk ke dalam sebuah kapsul dan kapsul itu dengan kecepatan tinggi meluncur langsung keluar hive city dan berubah menjadi kendaraan yang berkamuflase dengan daratan pasir, rodanya tidak meniggalkan jejak maupun bersuara, mereka menuju arah yang berbeda.
Mereka pergi seakan mereka memiliki kepentingan diri sendiri... Seakan alasan mereka mau datang ke base bagian itu hanya untuk bertarung... Hanya untuk melakukan kekacauan.
Barikade yang telah di pasang pun di lepas, dan pasukan yang berjaga pun di kurangi secara drastis, banyak dari mereka di alihkan ke pekerjaan yang lebih produktif.
...****************...
Sementara itu Ezra sedang duduk di sebuah balkon hotel, hotel itu dekat dengan lokasi base Serpent's, dia melihat ke arah tonjolan pada dinding hive city yang terlihat seperti bagian pendukung walau dia tahu itu bukan dia duduk sambil meminum kopi di balkoni dengan meja di sebelahnya, meja itu memiliki dua kursi dan dia duduk sendiri, dia seperti sedang merenungkan sesuatu, dan saat itu sedang malam di mana layar langit langit middle city menunjukan gambaran langit penuh bintang.
Aku tidak menduga aku akan memimpin bagian alteleri dan bala bantuan, yah lebih baik di banding garis depan.... Aku harap aku tidak akan mengubah banyak hal... Jika aku ingat baik baik bagian bala bantuan dan alteleri akan terbantai oleh Phantom dan pasukanya.... Bagaimana cara aku mengindarinya yah....
Tiba tiba suara ketukan pintu ter dengar, Ezra langsung mengambil topengnya dan mengenakanya.
"silakan masuk"
Pintu terbuka dan itu adalah Raphaella di pintu dia menggunakan sihir ilusi untuk terlihat seperti orang lain yang jelas berbeda namun Ezra langsung tahu siapa dia.
"um.... Yang lain mau mengadakan makan malam bersama.... Apa kamu mau ikut ?"
"ahhh.... Tidak aku masih kenyang..."
"oh... Baiklah.... Sejujurnya aku juga tidak ingin ikut"
"sungguh ?, mau duduk dan ngobrol bareng ?"
"e...eh.....um....o-oke jika kamu mau"
Raphaella berjalan ke arah balkon ruang Ezra dan duduk di sisi lain meja balkon kamar hotel itu.
"kopi ?"
"ah... Tidak terima kasih"
Raphaella kemudian memasang sihir sebuah field yang membuat mereka akan sulit di lihat dari kejauhan dan juga sihir untuk membuat suara mereka senyap sehingga tidak bisa di dengar siapapun.
jantung Raphaella berdetak begitu kencang jika bukan karena suara kendaraan di bawah yang berlalu lalang dan tv yang menyala di dalam mungkin Ezra dapat mendengarnya, dan Raphaella berusaha tenang namun nafasnya begitu berat dan sulit bernafas, dia bingung bagaimana cara membuka pembicaraan yang sekarang hanya ada mereka berdua di bakoni itu.
Mulut Raphaella terbuka namun tidak ada suara yang keluar sukurlah ia menggunakan topeng kerangka rusanya sehingga kecanggunganya tidak terlihat oleh Ezra.
Namun sebelum Raphaella mengatakan sesuatu Ezra membuka mulutnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"hey Raphaella.... Terimakasih telah menutupi ku saat di Nisco waktu itu... Itu sangat membantu"
"o-oh... Yah.... I-itu tidak masalah...."
"dan aku akan mengatakanya di sini juga dan sekarang juga...."
Astaga apa yang Ezra bicarakan.... Akankah dia.... AAAAAAA....... Ini terlalu tiba tiba.
Wajah Raphaella yang tertutup topeng kerangka rusa itu telah menjadi merah tomat, jantungnya tidak mau berhenti berdetak dengan cepat dan kencang, nafasnya semakin berat.
"aku akan mengatakan bahwa aku percaya pada mu"
Eh ?.
Rasa kecewa bisa di rasakan menembus hati Raphaella yang sudah berexpetasi tinggi menembus langit middle city, namun yah.... Apa yang dia harapkan dari seseorang yang tidak tahu bahwa dia di sukai oleh seseorang.
"a-ah... Yah.... T-terimakasih"
Y-yaahhh..... Aku berekpetasi terlalu tinggi.... Ya sudah lah setidaknya dia percaya pada ku... !!!.
Ide brilian baru saja memasuki kepala Raphaella.
"h-hey Ezra.... Jika.... Jika kamu memang percaya padaku.... Maukah.... Maukah kamu menunjukan wajah mu pada ku ?"
"hm ?, mengapa tidak ?"
"Eh !"
Ezra perlahan memuka topeng dan hoodie nya dan terlihat lah wajahnya, rambut hitam pendek, matanya berwarna cokelat, dengan bekas luka sayatan di pipinya, walau begitu ia terlihat begitu muda.
Mata Raphaella terkunci pada mata Ezra jantungnya berdetak lebih cepat dan tentu perasaan shock dan malu bisa di rasakan olehnya.
"hehehe kenapa kamu melihat ku seperti itu ?"
"a-ah!, t-tidak a-aku hanya.... Hanya... Kamu !, aku terkejut ternyata kamu lebih muda dari pada yang aku duga"
"oh ayolah apa aku terdengar begitu tua dengan topeng ini ?"
"y-yah begitulah... Haaah..."
Raphaella kemudian meraih ke arah wajahnya dan melepas topeng kerangka rusa miliknya, Ezra sedikit kaget namun membiarkanya.
Wajah milik Raphaella pun terlihat, matanya berwarna kuning cerah rambutnya panjang berwarna putih ke silveran, wajahnya begitu dewasa namun juga cantik, matanya yang berwarna kuning cerah itu seakan bersinar karena pantulan lampu dan cahaya kota.
dia melihat ke arah Ezra dan Ezra melihatnya balik kulit wajah yang awalnya putih cerah mulai memerah dia langsung memasang topengnya kembali sebelum Ezra mengetahui wajahnya memerah.
"s-sekarang kita impas oke.... Tolong jangan bilang siapa siapa dan aku tidak akan bilang siapa siapa tentang wajah mu"
"hahahaha baiklah..... Kalau saja middle city memiliki simulasi hembusan angin mungkin rambut mu akan tertiup olehnya.... dan aku yakin itu akan sangat indah"
sukurlah Raphaella langsung kembali menggunakan topengnya jika tidak Ezra akan melihat wajahnya yang merah saat itu.
"e-eheh.... Kamu bisa aja....,haaaah..... Semoga penyerangan besok berjalan lancar..."
__ADS_1
"iya.... Aku harap semua berjalan seperi mana mestinya"