
lima orang group berjalan dengan power suit mereka, kelihatanya mereka dari Nisco 3 dari mereka memakai crossbow, dan 1 nya adalah seorang penyihir dengan tongkat, pemimpin mereka yang paling mencolok dia memiliki dua jenis senjata, yaitu pedang dan sebuah senapan laras panjang itu memiliki model dari perang yang sangat jauh di masa lalu, di mana perdamain dunia belum ada.
"tuan Marcus kita telah berjalan melebihi batas yang seharusnya, haruskah kita mundur" kata seorang gadis di balik power suitnya terdengar khawatir.
"kita harus mencari Earth worm untuk menambah pasokan kita, keadaan Nisco saat ini sedang gawat darurat" kata Marcus menegaskan tindakanya.
"tuan saya paham alasan di balik pilihan anda ini, tapi kami hanya prajurit biasa kami bahkan belum lulus sekolah militer" kata anggota lain.
"maka dari itu kalian harus belajar untuk memilih keputusan sulit, bukankah alasan kalian menjadi tentara adalah untuk mensejeterahkan Nisco ?" kata Marcus kali ini lebih tegas dan keras berusaha menunjukan pointnya.
Mendengar itu sisanya terdiam dan terus melanjutkan perjalanan. Namun mereka tidak sadar bahwa mereka sedang di awasi.
Karena langit yang cerah dari matahari yang terik membuat mereka enggan melihat ke atas, walau kaca di armor suit mereka dapat menahan radiasi matahari itu tidak kuat dalam menahan cahanya panasnya matahari, mereka tidak sadar bahwa 3 drone sedang terbang tinggi di atas mereka mengikuti mereka, sepertinya itu adalah drone pengintai.
sesekali saat mereka berjalan mereka menghentakan kaki mereka dengan keras, berusaha memancing earth worm di bawah sana.
"earth worm benar benar menjadi sulit di cari" kata salah satu dari mereka
"tentu setelah penyerangan besar terhadap Nisco aku yakin semua Earth worm akan kabur setelah merasakan energi sihir yang meledak ledak itu"
kata salah seorang dari mereka lagi.
".... Hey Olivia apa kamu mendeteksi sesuatu ?"
"tidak... Sangat sepi.... Aku tidak bisa merasakan kehidupan apapun di bawah kita"
"haaa....."
"berhenti mengeluh" kata Marcus memperingkatkan bawahanya itu.
"kita telah berjalan selama 3 jam dan tidak menemukan apa apa"
Kali ini Marcus tidak menjawabnya ia tahu itu hanya akan buang buang waktu lagipula ialah yang memiliki radio untuk penjemputan jadi mereka harus mengikutinya mau ataupun tidak.
namun di saat mereka berjalan sesuatu jatuh di tengah tengah group mereka sebuah bom.
Bom itu meledak tepat di tengah tengah mereka, mereka semua selamat namun salah satu dari mereka terluka parah.
"Ethan !, sialan" kata Olivia sambil melihat lukanya.
Lukanya cukup parah, lengan kirinya hancur dan mengekspos daging, tulang otot dan nadinya yang berdetak dan ia mengeram kesakitan.
Dengan cepat Olivia merapal.
"pain killer, heal"
Seketika itu Ethan berhenti mengeram dan lukanya berhenti mengekuarkan darah walau tanganya tetaplah hancur, eraman rasa sakitnya berganti dengan suara nafas yang berat, ia nyaris tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Marcus dengan cepat menganalisa sekitarnya dan melihat area bebatuan besar yang bagus untuk bersembuyi karena terdapat batu besar di sana bisa di pakai untuk perlindungan.
"Semuanya ikuti aku !" kata Marcus sambil berlari ke arah bebatuan besar.
sementara itu 2 dari mereka berusaha mengangkur Ethan ke tempat aman juga.
selagi mereka berlari suara ledakan bisa terdengar dari kejauhan ledakan itu sangat cepat, dan kemudian tidak lama di ikuti oleh projektil projektil mulai melesat di sekitar mereka, Marcus baru sadar mereka sedang di tembaki.
Ketika ia berlari ia terkena tembakan di lengan kananya, tepat di bagian atasnya, walau begitu ia masih berlari, ia bahkan tidak sadar bahwa ia baru saja tertembak.
Mereka pun sampai di bebatuan besar, salah satu dari mereka langsung jatuh, ia awalnya tidak tahu kenapa namun ia baru sadar ketika melihat ke arah kakinya ia juga telah tertembak.
Ia mengeram kesakitan berusaha menutup luka nya dengan tangan. Di saat itu Olivia langsung datang dan merampal.
"Amelia tenanglah, heal"
Pendarahan nya berhenti dan timah yang berada di dalam tubuhnya keluar.
Hal yang sama di lakukan Olivia kepada Marcus.
Mereka yang terluka duduk menyeder kepada batu besar, sementara itu Marcus berusaha mengintip dan melihat serangan itu berasal dari mana, saat ia baru memunculkan kepalanya, sebuah ledakan mengelegat terdengar dari kejauhan dan sebuah peluru melesat nyaris mengenai Marcus.
"kapten !"
"aku tidak apa apa mereka meleset.... Tetap aku tidak tahu dari mana mereka menembaki kita"
"k-kapten.... A-apa yang harus kita lakukan ?" salah seorang yang belum terluka dari suaranya ia benar benar ingin menangis dan ketakutan.
"Bennett tenglah... Kita harus tetap tenang oke... Kita akan selamat.... Aku janji" kata Olivia menenangkan Bennett.
Marcus masih berpikir cara keluar selagi radio di armornya menghubungkan nya ke pangkalan.
... Semua musuh kami menggunakan senjata api.... Yang pertama itu senapan serbu... Yang ke dua itu senapan laras panjang... Aku tidak bisa memprediksi jumlah mereka.... Dua ?, tiga ?, aku tidak tahu tapi aku harus menjaga mereka.
sudah cukup lama namun Koneksi radio dari armorsuit nya belum juga terkoneksi, ia pun menyadari mereka dalam area isolasi, sebuah mantra/alat untuk memotong koneksi radio.
"cth.... "
Aku rasa aku tidak punya pilihan lagi.
"Olivia apa kamu bisa mendeteksi di mana musuh berada ?" kata Marcus sambil melihat ke kanan dan kirinya"
"tidak, musuh terlalu jauh... Yang artinya musuh berada di luar jarak radar ku.... Kemungkinan besar ada di jarak mereka berada di atas 300 meter..."
"300 meter yah.... Dan pengguna senapan itu berada dari jarak 1 km...."
observasi milik Olivia hanya bisa mencapai jarak 200 meter....
__ADS_1
"Olivia fokus dalam mengibati Ethan dan Amelia aku akan berusaha melakukan kerusakan" kata Marcus sambil percaya diri mengintip di balik bebatuan.
"baik" Olivia langsung pergi berusaha memulihkan Ethan dan Amelia.
Sementara itu Bennett tidak bisa melakukan apapun, ia terlalu takut.
ketika Marcus mengintip ia berhasil melihat musuh, mereka berusaha menghimpit (flanking) mereka dari kanan dan ia pun baru menyadaru mereka menghadapi android.
Android ?!, apa yang mereka lakukan di sini ?, mengapa para humos mengurim mereka di sini ?, tunggu jika tidak salah ada salah satu fasilitas Nisco di sini yang kehilangan komunikasi dengan pangkalan.... Jangan jangan mereka yang melakukan ini.... Sial, mereka benar benar memiliki senjata yang memadai....
Ia melihat salah satu android yang paling mencolok, android itu tidak menggunakan senjata apapun, namun memegang sebuah tongkat, dan memiliki sebuah tas radio yang benar benar terlindungi, dan android itu penuh dengan perlindungan dengan armor yang tebal, jelas android itu adalah operator radio di tim musuh.
dan kelihatanya mereka belum melihat Marcus di antara bebatu itu malahan para android itu seperti memantau ke arah lain, Marcus yang melihat kesempatan ini langsung membidik senapanya, walau hanya menggunakan bidikan besi, posisi bidiknya sempurna, nafasnya tidak menggerakan arah bidukanya dan ia memasukan semua energinya ke arah operator radio itu, dan ia pun menembak.
Energi kinetik yang di sebabkan oleh satu tembakan itu begitu besar, kecepatanya mengerikan peluru itu sampai sebelum suara ledakan terdengar, sebelum peluru itu menghantam operator radio itu sebuah barrier energi tercipta seperkian detik melindunginya, namun barrier itu tertembus dan menhantam kepalanya hingga jatuh, para android yang lain langsung tiarap namun sang operator radio itu tidak bangkit lagi.
namun ketika Marcus melihat ke belakangnya, ia melihat genangan darah.... Ia baru menyadari para android itu hanya mengevaluasi area sekitarnya, dan ancaman sebenarnya telah berhasil masuk, Marcus kemudian melihat semua krunya mati di antara mayat mayat itu berdiri seorang android yang berbeda dengan yang lainya, jelas pemimpinya.
Dia memiliki rambut blonde, mata kirinya berwarna biru dan kanan berwarna merah, ia memiliki tangan cakar yang cukup besar itu adalah Madpay, pedangnya penuh dengan darah dari bawahan Marcus, dan ia menunggu Marcus di sana.
"sibuk menembak ?.... Tuan..."
"Marcus.... Namaku adalah Marcus"
"ah senang bertemu dengan mu... siap untuk bertarung ?"
"yah.... Yah.... Aku siap" jawabnya dengan dinggin.
Marcus pun menarik pedangnya, dan siap bertarung.
Marcus langsung lompat dan mengayunkan pedangnya, dan dengan mudah Madpay menangkis nya dengan pedang kirinya sementara oedang kananya siap menusuk Marcus.
Namun secara tiba tiba Marcus menambahkan kekuatan di pedangnya, itu membuat Madpay harus menambahkan perlindungan dengan pedang di bagian kanannya.
Mungkin Marcus terlihat tenang namun di dalam hatinya ia sangat marah, ia ingin mengakhiri Madpay bagaimanapun caranya, ia kemudian memutuskan untuk menggunakan teknik pedangnya.
Ia kemudian mendorong Madpay dengan menendangnya, dan kemudian mengangkat pedangnya.
"The rapid sword of binding"
Tiba tiba muncul bayangan pedang di belakanya jumlahnya ada 3, dan ia mengayunkan pedangnya, ketika serangan pertama itu satu pedang ikut menyerang dan di ikuti oleh satu pedang lagi dan pedang terakhir mengikuti pedang kedua.
di tambah serangan yang cepat dari Marcus membuat serangan pedqng bayangan itu semakin cepat.
Namun Madpay dengan mudah menangkis semua itu seberapa cepat pun Marcus menyerang pedangnya selalu gagal untuk mengenai tubuhnya.
"ini sangat menyenangkan.... Namun sayang ini harus berakhir"
__ADS_1
Madpay dengan gerakan cepat tiba tiba berada di belakang Marcus, dan Marcus pun jatuh, ke tanah genangan darah mulai terbuat dari darah yang terbuat daru lehernya yang ter buka, saat ia jatuh ia melihat bawahnya untuk terakhir kalinya sebelum mengeluarkan kata kata terahkirnya.
"maaf...." suaranya bercampur batuk darah dan suara udara yang keluar dari tenggorokanya.