Elite School

Elite School
00. Prolog


__ADS_3

***


Seperti kata pepatah; tidak perlu ribuan orang untuk mengubah dunia, satu orang saja sudah lebih dari cukup.


Yang ditanya adalah bagaimana caranya, bukan?


Yakni dengan menggunakan satu orang tersebut untuk mengendalikan ribuan orang yang ada. Ia yang mempunyai sifat kepemimpinan, ia yang mampu merangkul, juga yang mampu mencuci otak bawahan agar semua orang menurut padanya.


Daripada mengajarkan ratusan murid, kenapa tidak fokus saja pada sepuluh murid dengan bakat yang luar biasa? Daripada mementingkan kuantitas, coba perhatikan tentang kualitas yang ada.


Dengan cara pikir seperti itu, kami semua dikumpulkan di aula yang luas, sebuah aula yang jauh lebih luas dari lapangan futsal.


Masing-masing dari kami menggunakan pakaian bebas, dan bahkan tidak membawa tas sama sekali.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari kalau ada sebelas orang yang di sini. Mungkin itu alasan utama kenapa kami dikumpulkan.


Langkah kaki terdengar mengetuk berirama, ia menaiki anak tangga. Wanita berambut pendek-hitam hendak membuka jalannya sidang di tempat ini. Matanya terlihat gugup, melihat ke kiri-kanan.


“Apa kalian semua sudah berkumpul?” Ia bertanya, nada bicaranya datar. Wanita yang tiba-tiba muncul di atas podium itu memasang wajah malas. Ia menggunakan jas hitam dengan celana panjang yang selaras dengan warnanya.


“Haah …” Ia menghela napas. “Akan kubuat ini menjadi cepat. Aku bukan seorang guru di sini, atau pun salah satu petugas. Jika ditanya aku ini siapa, maka jawabannya … yah, hanya seorang pengawas yang ditugaskan untuk memerhatikan apa yang terjadi pada kalian semua. Kalian bisa memanggilku Oliv. Jika ada yang ingin bertanya ...”


Wanita yang menyebut dirinya Oliv itu memutus kalimat. Ia memerhatikan kami satu persatu dengan keraguan yang terlihat jelas.


“Hanya untuk menjelaskan saja, jangan berharap banyak kalau aku bisa menjawab semua pertanyaan kalian,” lanjut Oliv, kemudian sekali lagi ia menghela napas panjang.


 



waa ... dia benar-benar tidak bertanggung jawab, bukan?


Seorang gadis pendek yang sedang memeluk boneka beruang berwarna cokelat, mengangkat tangan kanan.


“Ya, kau gadis lolita yang di sana. Ada apa?” Oliv menunjuk menggunakan pulpen yang sedang dipegangnya.


“Kenapa kami dikumpulkan hari ini? Apa ada hubungannya dengan jumlah orang yang ada?” Suaranya pelan, tapi karena hening bisa cukup terdengar ke semua penjuru aula.


Gadis pendek yang mengenakan pakaian gothic berwarna hitam itu terlihat imut. Ia menengok kanan-kiri dengan raut wajah cemas.


Serius, ada apa dengan sekolah ini? Mereka bahkan mengundang anak kecil seumurannya. Tidak, tunggu. Dia memang kecil, tapi mungkin saja umurnya sudah mencapai anak kelas sepuluh.


“Soal itu ya, hmm …” Oliv berpikir, tapi, “Aku juga tidak tahu.” Dia menggaruk-garuk kepala.


Yup, benar-benar tidak bertanggung jawab. Untung saja dia bukan seorang guru.


“Tapi, yang diundang memang hanya sepuluh orang saja.” Kali ini ada sedikit keyakinan pada suara Oliv.

__ADS_1


“Jadi, satu dari kita tidak diundang dan datang diam-diam ke sini? Begitu?” Pria dengan mata serius itu memperbaiki kacamata merahnya. “Jika ini memang tes masuk, kenapa tidak mengakatakannya sejak awal?”


“Hmm … Mendengarmu bicara seperti itu, sepertinya kalian semua tahu betul apa yang sedang terjadi. Kalau begitu, satu-satunya yang ku beritahu pada kalian adalah, bahwa ini bukan tes.”


Kami semua terdiam. Dengan kondisi dan situasi yang kami ketahui sangat terbatas, aku tidak yakin harus bereaksi seperti apa.


“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” tanya si kacamata merah menarik perhatian semua orang. “Mencari si penipu yang menyamar menjadi salah satu dari kita dengan alasan yang tidak masuk akal? Jangan bercanda!”


Kata ‘penipu’ yang baru saja disebutkan memunculkan senyum kecil Oliv. Bagaimana cara pria itu menjelaskan situasi yang saat ini sedang terjadi juga terdengar aneh.


“Ooh, pemikiran yang bagus. Kenapa kalian tidak melakukannya? Eh, tunggu. Sejak awal, memang ini alasan utama kalian semua dikumpulkan.”


“Hah? Kenapa kami harus melakukannya? Kalian pasti punya data muridnya!Kenapa kami harus repot-repot melakukan itu?! Sangat tidak bertanggung jawab!” Gadis bergaun jingga mencolok itu berteriak.


Walaupun perkataannya benar, tapi melihatnya sampai marah seperti itu sepertinya sedikit berlebihan. Menghindar dari orang seperti itu adalah pilihan yang tepat.


Tangan Oliv mengambil sebuah dokumen. Ia melemparkannya ke arah kami dan terjatuh dalam kondisi terbuka ke lantai. Beberapa lembar kertas keluar, isinya tentang informasi umum kami.


“Itu adalah daftar murid yang masuk ke kelas pilihan. Fotonya pun bisa kalian lihat. Kalian bisa melihatnya dan mencari siapa penipunya.”


Lagi-lagi dia berbicara seperti orang yang tidak punya otak, seolah-olah wanita yang sedang memalingkan pandangannya itu tidak ingin mengambil tanggung jawab berat ini.


“Ini pertama kalinya aku ditugaskan sebagai pengawas. Aku rasa ini cukup bagus untuk melihat seberapa hebat kalian. Jadi, kenapa tidak kita mencari siapa orang luarnya saja? Semakin cepat semakin baik.”


Seberapa hebat kami? Memangnya dia pikir kami ini apa? Detektif?


Apa ini salah satu tes sebelum kami benar-benar diterima di sini? Aku belum pernah mendengar hal ini sebelumnya.


“Hmm …” Satu-satunya gadis yang mengenakan seragam sekolah di tempat ini, mengangkat tangan. "Intinya, kami hanya perlu mencari orang luarnya, bukan?”


Oliv mengangguk kepala sekali.


“Hah?!” Aku terkejut. Tunggu sebentar. Tolong jangan menerima pernyataannya semudah itu.


“Akan ku beritahu kalian semua!”Oliv menegaskan suara. “Aku punya wewenang agar bisa mencoret nama kalian dengan mudah dari daftar murid. Yah, ini bukan ancaman. Namun, seandainya kejadian memburuk, pekerjaanku juga ikut terancam. Bukankah itu terdengar menyedihkan? Jadi, kenapa tidak kita bekerja sama saja agar semuanya bisa selesai dengan damai dan tentram.” Oliv nyengir.


Itu bukan urusan kami.


“Kalian yang mengundang kami ke sini, berikutnya kalian juga yang menendang kami keluar. Bisakah kita sedikit membahas tata karma di sini?” tutur kesal si pria berkacamata merah.


Terdengar seperti sarkas. Akan tetapi, saat melawan orang dewasa, anak-anak sejak awal tak pernah punya kesempatan.


“Kami yang memberi makan dan kami yang mengambil makanannya juga, itu terdengar cukup masuk akal,” balas Oliv.


Sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Oliv memang tidak berniat serius, tapi keadaan terkadang bisa memaksa. Aku bisa sedikit memahaminya.


“Ngomong-ngomong, tolong jangan marah padaku. Jika kalian kesal, salahkan saja si orang luar kenapa bisa mencoba menyamar ke dalam. Jika kalian berhasil menemukannya, kalian juga boleh menghajarnya. Tenang saja, sekolah ini tertutup. Aku akan merahasikannya.”

__ADS_1


Akan jauh lebih masuk akal jika kita menyalahkan seseorang yang membiarkan orang luar itu masuk ke dalam.


“Intinya, kalian bisa bertanya kepadaku. Aku akan membantu sebisa kalian, tapi jangan terlalu berharap banyak. Aku juga tidak ingin sampai dipecat, jadi tolong lakukan dengan serius. Ngomong-ngomong, orang luar ini melakukan cracking pada sistem sekolah untuk memasukkan namanya sendiri ke dalam. Karena itu, kita tidak bisa meminta bantuan pemerintahan.”


Sesaat suasana hening.


“Tidak bisa? Dan, kenapa tidak bisa?” tanyaku.


Oliv memandangku. Senyum kecil keluar, tapi entah apa maksudnya. Apa pun itu, wanita itu tidak berniat membeberkan lebih banyak lagi.


“Aku masih tidak percaya denganmu.” Pria kacamata merah itu memalingkan pandangan.


“Ugh… boleh aku menangis?” Oliv kecewa. ”Kesampingkan masalah itu. Kelas Elit sejak awal hanya menerima sepuluh orang saja. Apa pun yang terjadi, satu dari kalian akan dikeluarkan dan itu sudah pasti.”


Yang barusan terdengar benar-benar serius.


“Bagaimana jika kami gagal menemukan si orang luar?” Si gaun jingga mengeraskan suara agar mendapat perhatian.


“Aku tidak tahu kenapa dia berani menyamar masuk ke dalam, tapi sama seperti yang aku katakan. Salah satu dari kalian akan kucoret namanya. Tentu saja secara acak. Terdengar adil, kan?”


Dia mengucapkannya dengan nada yang terlalu santai. Justru karena itu setiap orang yang ada di sini jadi tidak bisa tenang.


“Besok adalah acara penerimaan murid baru, jadi waktu kalian hanya sampai hari ini saja. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Oliv turun dari podium. Dengan cara yang tidak bertanggung jawab ia berjalan keluar, meninggalkan kami di sini.


Setelah kami menemukan siapa orang luarnya, akan kupastikan untuk melaporkan wanita tidak bertanggung jawab itu agar ia benar-benar dipecat. Padahal beberapa menit lalu dirinya mengatakan kalau kami semua harus bekerja sama.


“Hmm …” Aku berdeham.


Untuk mencari orang luar yang masuk ke dalam. Berarti sebuah petunjuk, jejak, dan juga keanehan. Kira-kira apa?


“Surat?” gumam si gadis seragam sekolah.


Ah, benar juga! Surat undangan.


Semua orang yang ada di sini seharusnya mendapat surat undangan. Tanpa banyak bertanya, aku segera mengambilnya dari kantung jaket. Yang lain mengikuti.


Suratnya ditulis di kertas yang sama, tapi dengan warna amplop yang berbeda. Berarti ada sebelas warna amplop yang berbeda.


Kami melihat suratnya dan membedakannya satu sama lain. Tanda titik, koma, huruf kapital, semuanya tidak terlewat. Semuanya sama persis. Surat yang kami terima tak ada yang berbeda.


Kalau begini, mau bagimana lagi? Suratnya dibuat dengan mesin cetak, tentu saja akan sama persis. Jenis font, margin, atau cara penulisannya.


Yah, jika orang luar itu bisa meretas sistem sekolah, menyalin surat seperti ini bukankah terlihat seperti membalikkan telapak tangan baginya?


Kelas Elit ini seharusnya hanya berisi sepuluh murid, ditambah satu maka jadi sebelas. Di sini, kami diharuskan menemukan si penyusup yang berani masuk tanpa diundang.


***

__ADS_1


__ADS_2