Elite School

Elite School
01


__ADS_3

***


Merah, kuning, biru, hijau, ungu. Selain itu ada jingga, merah muda, cokelat, hitam, abu-abu, dan putih.


Semua surat berwarna dibariskan di atas lantai menjadi dua kolom agar mudah dilihat keseluruhannya.


Isi suratnya adalah menyatakan ungkapan selamat datang karena sudah terpilih ke dalam kelas elit dan sebagian besarnya adalah basa basi yang tidak penting. Tertera juga tanggal kapan kami harus mengikuti upacara penerimaan masuk bersama murid normal yang lainnya juga. Waktunya adalah besok.


Kenyataannya aku mendapat pesan singkat untuk datang hari ini ke sekolah dan … siapa sangka akan menjadi seperti ini kejadiannya.


“Gimana?” tanyaku pada dua orang yang saling berhadapan, mereka sangat yakin dengan kemampuan matanya. Si gadis lolita yang membawa boneka beruang dan pria… normal? Hmm, pria itu terlalu normal sampai-sampai tidak menarik perhatian sama sekali.


Lelaki berkacamata merah menggaruk batang hidungnya. “Tapi, sejak awal … jika isi suratnya disalin, bukankah tidak akan ada bedanya sama sekali?”


“Yah, begitulah.” Pria cokelat yang kuanggap terlalu normal itu mengangguk. “Tidak ada gunanya membandingkan isi surat seperti ini.”


Akan tetapi, meski begitu ….


“Percuma hah?!” Si gaun jingga memejamkan mata. Ekspresi serius terlihat di wajah. Entah apa yang dipikirkannya.


Pria berambut cokelat menggeleng kepala, mimik wajah terlihat pasrah. “Sepertinya harus dengan cara lain.”


“La-lagipula, memangnya apa yang bisa kita dapat dari melakukan ini?” Sambil memeluk erat boneka, gadis lolita dengan pita hitam di kepala menunjukkan ekspresi keraguan. Bola matanya menghindari kami semua, mungkin karena malu.


Dengan senyum tipis, lelaki berambut hijau membuka suaranya, “Bukankah ada hal lain yang jauh lebih baik untuk diperhatikan?”


Benar. Kami saling berpikir. Ada dua hal. Yang pertama adalah dua tanda tangan yang tertera di surat. Selain itu ada sebuah stempel lilin dengan pita berwarna juga yang melilit suratnya.


“Jika maksudmu tanda tangan, akan terlihat jauh lebih bodoh untuk dibandingkan. Untuk stempel lilin, hmm … meski ada yang berbeda, akan sangat aneh jika kita mencurigainya hanya dari itu.” Pria itu melepas kacamata merah kemudian mengelap menggunakan sapu tangan dan memakainya kembali.


Intinya, membandingkan tanda tangan yang jelas bisa ditiru dan stempel lilin adalah hal yang tidak mungkin. Sisanya yang kita punya adalah petunjuk yang Oliv berikan.


Aku mengambil daftar murid yang masih tergeletak di lantai.


“Bukankah di daftar murid juga ada yang ganjil?” tanyaku sambil memerhatikan lembaran kertas dari atas ke bawah.


Di sisi kiri, ada tampilan foto kami. Di sisi kanan, ada nama, umur, alamat, dan nomor ponsel kami. Satu kertas berisi tiga data murid, menjadikannya empat kertas. Ini adalah data umum. Mereka pasti mendapatkan ini semua dari sekolah kami yang dulu.


“Kenapa di daftar itu ada sebelas orang? Seperti itu, bukan?” Pria berambut hijau berbicara. Entah kenapa, dia terlihat seperti orang yang agak kuno.


Dengan antusias, gadis yang masih memakai seragam sekolah bertanya. “Apa maksudmu?”


“Jika orang itu bisa menambahkan namanya ke dalam, kenapa dia tidak menghapus nama salah satu orang yang sudah terdaftar. Dengan itu, jumlahnya tetap menjadi sepuluh,” jelasku.


Waktunya hanya sampai hari ini dan Oliv akan mengeluarkan salah satu dari kita. Kata ‘acak’ itu sendiri sebenarnya terkesan menakutkan. Beberapa orang mungkin tidak peduli, tapi beberapa orang juga mungkin saja akan merasa marah karena itu.


“Itu karena, meski dia membuat datanya menjadi sepuluh, tapi hasilnya akan sama jika orang jumlah orang yang datang menjadi sebelas.” Kacamata merah bernapas, lalu melanjutkan. “Menurutmu kenapa kita datang berkumpul di sini? Karena pesan singkat mendadak? Ya, tapi berbeda dengan besok. Semua orang yang memegang surat akan datang. Jika orang luarnya ikut muncul, maka yang datang besok jumlahnya akan sebelas.”


Dia mengatakan seolah-olah kertas yang kupegang ini tidak penting dan yang penting hanyalah suratnya saja.


“Aku keluar dari sini!” Dia berteriak kesal. Pria dengan jaket ungu tanpa kusadari sudah ada di depan pintu. “Aku tidak keberatan jika salah satu dari kita dikeluarkan. Kenapa kita harus repot-repot berpikir hanya untuk hal bodoh seperti ini! Cih!”


Dia meninggalkan kami dengan cara yang buruk. Bukan berarti aku peduli, hanya saja .…


“Hmm, sebenarnya aku juga tidak pandai memikirkan sesuatu yang seperti ini.” Raut pesona wajahnya malas. Gadis dengan gaun jingga itu mengeluh. “Kalian urus saja sisanya! Lagipula, satu banding sebelas, yah, tidak terlalu buruk.”


Gadis bertempramen buruk itu keluar dari ruangan, menjadikan desir atmosfir terasa panas tak menemui titik temu.


Lalu kami yang tersisa saling menatap satu sama lain.


“D-daripada mencari orang luar, kenapa kita tidak mencoba untuk memperkecil kemungkinannya saja?” Dengan gugup, gadis berambut pirang yang daritadi diam, berbicara. Wajahnya nampak malu saat ia mengangkat tangan mungilnya. Matanya berkedip tak henti.


Memperkecil kemungkinan artinya menggunakan cara eliminasi. Satu demi satu dikeluarkan dan yang terakhir adalah si orang luar.


“Hmm, yah.” Aku mengangguk.  “Butuh waktu lumayan lama, tapi patut dicoba.”


Gadis berseragam sekolah menatap lantai dengan pilu. “Tapi beberapa sudah pergi. Melakukannya tanpa mereka berdua seperti mustahil.”


“Kita urus mereka berdua nanti,” jawab si kacamata merah mendinginkan situasi.  “Fokus saja dulu pada semua orang yang berkumpul di sini.”


“Sebenarnya, aku sempat berpikir bahwa pria yang baru saja keluar barusan, bukanlah penipunya.” Setelah berasumsi demikian, semua mata tertuju padaku.


Jika ditanya kenapa? Mungkin karena …


Pria berkacamata merah itu menatapku dengan curiga. “Kenapa menurutmu begitu?”


“Karena psikologi adalah salah satu dari keahlianku. Kau tahu. Saat dia pergi, dia benar-benar tidak peduli pada apa yang terjadi.” Setidaknya, itulah yang kulihat.


Walaupun aku percaya diri dalam hal menilai orang, bertemu dengan orang yang pandai berbohong sedikit berbeda. Terutama, mereka yang hampir setiap saatnya berbohong.

__ADS_1


“Oh, bagus. Kalau begitu, kenapa kita tidak bertanya satu persatu siapa penipunya? Dengan itu masalahnya akan segera selesai. Kenapa kita tidak melakukan ini dari awal saja kalau begitu?” ejek si kacamata merah.


Aku mengerti. Dia tidak percaya padaku. Sekarang aku mengerti perasaan Oliv yang baru saja diragukan oleh semua orang.


“Uuh … Aku tidak yakin kita bisa melakukan itu.” Gadis berseragam di sebelahku terlihat sedang berpikir. “Petunjuknya terlalu terbatas, akan lebih baik jika kita mencari Oliv.”


“Mengandalkan wanita tidak bertanggung jawab itu sepertinya tidak akan memberikan perubahan.” Pria berkacamata merah seakan baru saja kehilangan harapan atas Oliv.


Kalau dipikir-pikir sebentar, beberapa dari kami cukup percaya diri akan bakatnya. Lulus kuliah, mencari pekerjaan, sukses dan kaya. Jika kukatakan, itu sangatlah mudah. Jadi, ada dari kami yang tidak mempunyai alasan cukup kuat untuk benar-benar menangani kasus ini dengan serius.


“Yah, maaf, tapi kurasa aku juga akan keluar.” Pria berambut hijau angkat tangan, ia segera melangkahkan kaki menuju daun pintu, lalu hilang ditelan bayangan.


Aku mengambil napas panjang. Saat aku sadari, hanya tersisa lima orang di antara kami.


“Semuanya mulai pergi,” keluh seorang pria di hadapku, ia memasang mata cokelatnya pada seseorang yang baru saja meninggalkan tempat.


“Ergh, ini semakin sulit.” Pria berkacamata merah ikut kehabisan akal, menggaruk kepala dengan gesekan cepat. “Ini sebenarnya akan mudah jika kita saling bekerja sama.”


Aku melirik. Ada tiga laki-laki termasuk aku, dan dua gadis. Gadis berseragam dan gadis pendek dengan tas merah muda. Hawa kehadiran gadis pendek itu terlalu lemah sampai-sampai aku tidak menyadari kalau dia belum berbicara sama sekali dari tadi.


Meski gadis lolita dengan gadis tas merah muda tingginya sama, aura yang mereka berdua keluarkan berbeda. Sejujurnya saja, aku tidak yakin kalau mereka benar-benar sudah seumuran dengan kita atau belum.


“Lebih baik kalau menjernihkan pikiran kita terlebih dahulu. Kita masih punya waktu sampai malam ini,” ujar si pria berkacamata merah, mencoba menyejukkan kembali situasi. Aku tidak mengerti, tapi ada perasaan bahwa dia tidak ingin menyerah dalam kasus ini.


“Ya, aku setuju.” Aku mengangguk.


Kami semua akhirnya berpisah, dan meninggalkan ruangan ini.


***


Menyebut sekolah ini seluas lapangan sepak bola tidak berlebihan, menurutku. Berkeliling menggunakan kaki mungkin butuh waktu sekitar dua puluh menit. Dengan jumlah murid yang sampai seribu orang lebih kurasa tidak aneh jika bangunan ini harus dibuat luas dan megah.  Yang terpenting adalah, aku menjadi satu dari sepuluh orang yang dipilih untuk masuk kelas elit.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, aku tidak berhasil menemukan siapapun sudah menjadi bukti seberapa besar sekolah ini. Kemungkinan besar pula bagi mereka yang pertama kali mengunjunginya akan tersesat.


Hmm?


Langkah kaki ini terhenti seketika. Kulihat seorang seorang gadis tengah berjongkok di bibir kolam. Sayu mata itu menatap genangan air, ia memandang ikan yang tengah berenang di sana.


“Jadi … apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku berjalan menghampirinya.


Akan kukatakan ini, tapi tidak biasanya bagiku untuk mengawali obrolan.


“Tidak ada,” jawabnya datar. Mata itu bahkan tak menoleh sedikit pun padaku. “Suratmu berwarna abu-abu, ‘kan?” Gadis itu adalah satu-satunya orang yang memakai seragam sekolah saat pertemuan tadi.


“Cocok sekali dengan warnamu.”


“Hmm, maksudmu pandai, tenang, serius, dewasa?”


“Tidak. Bukan itu.” Ia menggeleng. “Maksudku adalah bosan, kuno, sederhana, dan formalitas.”


Tolong berhenti berbicara dengan jujur. Sedikit menyakitkan. Dan juga kuno? Apa ini karena pakaian yang kukenakan? Aku bukan kakek-kakek tua yang tidak punya pekerjaan. Batinku menggerutu mendengar jawabnya.


“Kau tidak mengingatku?” Seraya bertanya, gadis itu berdiri. Kedua bola mata itu tajam menatapku, mengharapkan sesuatu.


Aku tak tahan. Segera kutolehkan mata ke langit, kutemukan ada beberapa bayangan yang melintas di kepala. Namun tidak. Kutepis bayang-bayang itu agar menghilang.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Aku balik bertanya.


“Kau ini bodoh atau apa?” Gadis itu mengeluh, membuang napas panjang. “Karena itulah warna abu-abu sangat cocok untukmu.”


Seratus persen tidak ada hubungannya dengan warna surat yang kudapat.


“Meski tidak satu kelas, sekolah kita sama saat SMP. Karena kau selalu dapat rank satu, semua orang tahu namamu. Menyebalkan sekali melihatmu selalu bisa mendapat rank satu,” kesalnya. Kini ia kembali jongkok. “Kau pasti tidak tahu betapa besar usahaku untuk mengejarmu, tapi tidak pernah berhasil.”


“Begitu, ‘kah?”


Setelah menghela, gadis itu melanjutkan. “Di sisi lain, aku selalu berakhir di urutan nomor dua. Berbicara denganmu seperti ini dan menyadari kalau kau tidak mengingatku, seperti mendengar bahwa aku hanya batu kecil yang berada di pinggir kolam. Menyebalkan sekali!” gerutu gadis itu.


Hmm … apa hal seperti itu patut disesali?


Jika diingat, aku saat SMP memang sedikit egois. Merasa dunia begitu membosankan, pada akhirnya kedua mataku ini tertutup. Selalu berharap ada kejadian menarik yang akan terjadi dalam hidup yang datar ini, tapi dunia tidak bekerja seperti apa yang kuinginkan.


“Maaf,” jawabku lirih. Sekarang aku yang berganti menatap ikan-ikan tersebut berenang.


Wajah manis itu masih menatap jauh pada kolam di hadapan. Tak ada suara. Gadis itu tak menjawab. Ia membawaku, membawa kami memutar waktu yang hampir kulupa bahwa pernah kurasa.


Agar tidak terbawa suasanan keheningan, aku kembali membuka mulut.


“Orang luar dalam kasus kali ini bukanlah orang biasa. Ini hanya dugaanku saja, tapi dia sepertinya cukup pandai berbohong sampai-sampai aku tidak bisa melihat reaksi berbohongnya.”

__ADS_1


Ada jeda antara kami sebelum gadis itu membuka mulutnya.


“Hmm, benar juga, ya. Kau bilang kau cukup ahli di bidang psikologi, benar?” Mata miliknya kembali menatapku. “Memangnya semudah itu ya membaca pikiran seseorang?”


Kenapa seorang psikolog selalu disangkut pautkan dengan yang namanya membaca pikiran? Bukan seperti itu cara kerjanya.


“Tunggu sebentar,” ucapku sambil membuka dokumen.


Dokumen yang Oliv tinggalkan berisi tentang informasi umum. Karena tidak seorang pun mempedulikannya, aku memutuskan untuk membawanya. Siapa sangka selebaran kertas ini akan berguna.


Grisella Yunia. Fotonya sama, jadi tidak mungkin salah.


“Apa yang kau lakukan?” Gadis bernama Grisella itu berpindah ke sampingku untuk melihat apa yang kulihat. “Nama? Uuh … kau tahu?! Kau bisa bertanya langsung pada orangnya. Maksudku, saat ini aku ada di hadapanmu!” Grisella terlihat kecewa.


“Yah, itu tidak penting,” elakku. Dia cukup tahu tentang diriku, akan aneh jadinya kalau aku harus bertanya namanya.


“Ugh, karena itu kau terlihat membosankan!” Ekspresinya berubah. Grisella menunjukkan wajah tertarik, seakan berlian menghiasi bola matanya. Dengan senyum kembali ia bertanya, “Ngomong-ngomong, dari mana kau mempelajarinya?”


“Maksudmu psikologi? Buku,” jawabku tak selera.


“Hmm …” Grisella menghela napas lagi, bersamaan dengan kedua bola mata yang kembali menatap kolam.


Membosankan? Serius, berhenti berpikir seperti itu. Tidak mungkin aku menjawab, tiba-tiba aku mendapat kekuatan mistis, atau sejak lahir aku bisa membaca pikiran. Karena suatu alasan, Grisella terlihat menaruh banyak harapan padaku. Mungkin karena aku selalu berada di atasnya.


“Kesampingkan masalah itu, tapi ini pertama kalinya aku mengalami kejadian seperti ini.” Meski situasinya sedikit gawat, aku terkagum.


“Ooh, kau memberikanku sedikit petunjuk.” Senyum di wajahnya nampak yakin dengan rasa semangat yang tidak kuketahui datangnya dari mana. Cepat sekali suasana hatinya berubah.


“Jika kau tidak keberatan menceritakannya, aku bersedia mendengarkan.”


“Berhentilah bersikap formal!” omel Grisella. “Kau bilang ini pertama kalinya, ‘kan? Itu artinya, kemampuan psikologimu itu amatlah tinggi. Orang itu bisa mengelabuimu, tentu rasanya cukup aneh.”


Senyumnya pudar, berganti oleh kedua alis mata yang mengernyit. Ekspresinya seserius di adegan detektif saat mencari pembunuh sesungguhnya. Ia amat berambisi untuk memecahkan kasus.


Berhentilah bertingkah aneh! Ingin sekali rasanya kukatakan. Akan tetapi jauh lebih baik untuk diam sementara ini.


“Bagaimana jika orang luar itu sebenarnya tidak berniat masuk ke dalam?”


“Hmm …?” Aku menaikkan kedua bahu sambil menahan terkejut.


“Mana ekspresi terkejutmu? Membosankan.” Grisella kecewa.


“Tolong berhenti menyebut kalau aku ini membosankan.” Aku benar-benar mengucapkannya. “Tapi, akan lebih bagus jika kau sedikit memperjelasnya.”


“Maksudku, bagaimana jika orang luar ini masuk ke dalam tanpa sadar. Selagi kejadiannya seperti itu, dia ternyata tidak menyadari bahwa dirinya adalah orang luar. Hohoho! Lihat, aku pintar, bukan?” cetus Grisella membanggakan diri.


“Oh, kenapa tidak terpikir. Ya, kau memang pintar. Kau cocok jadi detektif,” pujiku tanpa niat.


“Dataar! Terlalu datar … !” Grisella kesal.


Akan tetapi, aku rasa ini cukup masuk akal. Jika orang itu tidak sadar kalau dirinya adalah orang luar, maka dia perlu berbohong untuk menutupi kesalahannya. Ini menjadi alasan yang masuk akal kenapa tidak ada satupun dari mereka yang terlihat berbohong.


Di saat yang sama, ini juga menjelaskan kenapa di daftar nama ada sebelas orang yang terdaftar. Dengan cara seperti ini, masing-masing dari kami bisa membela diri tanpa perlu takut bahwa kami memanglah orang luarnya.


Meski aku mendapat surat undangan pun, aku juga tidak tahu kalau aku ini sebenarnya si orang luar.


“Itu artinya, orang luar ini bisa siapa saja, bukan? Aku atau kau? Tidak seorang pun tahu,” jelasku.


Hal ini menimbulkan dua pertanyaan lebih. Bagaimana dan kenapa bisa ada orang luar yang tanpa sengaja masuk ke dalam? Jika ini hanya sebuah tes yang dibuat oleh pihak sekolah atau pemerintah, maka cukup masuk akal. Namun, seperti yang aku bilang. Oliv pun tidak berbohong.


Tidak, salah. Oliv tidak berbohong. Oliv pun tidak tahu apa pun tentang masalah ini.


“Bukan hanya itu saja, semuanya mendapat surat yang sama dan membedakannya. Bagaimana jika sebelas surat itu ternyata semuanya adalah asli? Termasuk tanda tangan dan stempelnya.”


“Semua suratnya asli, kau ingin bilang kalau orang luarnya ini dikirim oleh pihak sendiri atau pemerinah? Kalau begitu kejadiannya, ini hanya sebuah tes biasa.” tanyaku dengan memiringkan wajah.


Seandainya ini hanya tes yang direncanakan oleh orang dalam, aku merasa kasihan pada orang luar itu yang tidak tahu apa-apa tapi terlibat dalam masalah ini dan hanya akan berakhir unruk dikeluarkan.


“Tidak, jika benar seperti itu maka akan menjadi semakin aneh. Oliv benar-benar terlihat ketakutan. Aku pikir ada orang lain yang melakukannya. Dan dialah dalang di balik ini semua!”


Oliv ketakutan? Kenapa Grisella bisa berkata seperti itu?


“Tapi jika teorimu benar, untuk apa dia melakukan ini semua?” tanyaku memperpanjang topik.


“Aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti. Tapi, ada yang jauh lebih penting daripada memikirkan hal itu. Waktu kita hanya sampai malam ini saja, jadi kita harus memecahkannya sebelum saat itu tiba,” seru Grisella dengan semangat panas yang sampai membakarku.


Aku tidak mengerti kenapa dia bisa seyakin ini, tapi ini bukan hal yang buruk. Dengan ini kami melangkah lebih dekat dengan kebenaran.


“Dan juga, aku punya ide!”

__ADS_1


“Hmm? Terserah kau saja.” Kurasa mengikutinya akan jauh lebih mudah.


***


__ADS_2