
***
Warna putih tidak cocok untukku, karena itu aku memberikannya pada seseorang yang lebih berhak memilikinya. Warna yang terlalu polos, terlalu kosong. Pudar dan hampa.
Milyaran bintang di langit menerangi angkasa yang luasnya tak terhingga, mereka bersinar, terang benderang. Rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak melihat pemadangan seperti ini. Mungkin, sekali-kali aku harus merasakan nikmatnya hidup di dunia.
Sentuhan dingin tiba-tiba terasa di salah satu pipiku yang merah.
“Yoo … !”
Aku menoleh ke belakang. Si gadis berjas hitam, Oliv menempelkan minuman kaleng dinginnya di pipiku yang kesakitan.
“Jadi, bagaimana rasanya dipukul sekeras itu?” Segores senyum di wajahnya terlihat seperti orang yang sedang mengejek.
Aku mengelus pipi untuk menghilangkan rasa dinginnya.
“Ini pertama kalinya aku dipukul. Rasanya sangat sakit,” keluhku malas.
Saat pipi dipukul, bahkan hidungku sampai ikut berdarah. Aku sempat tidak menduganya kalau Daniel sekuat itu. Aku kira aku akan dipukul beberapa kali, tapi beruntung ternyata hanya satu pukulan di wajah saja.
Di kursi taman sekolah, kami duduk berdua ditemani sepoi dingin angin malam. Kami bersebelahan dengan jarak hanya satu jengkal tangan.
“Ini.” Oliv memberikanku sebuah kaleng minuman.
Aku menerima dengan senang hati. Rasanya aneh aku bisa merasakan ketenangan setelah apa yang baru saja terjadi.
“Aku kira semua orang akan membenciku setelah apa yang kuperbuat,” ucapku menatap Oliv. “Bagaimana dengan kondisi Grisella?”
Aku kembali mengalihkan pandangan ke langit hitam.
“Ada di asrama,” jawab Oliv. Ia menengguk kaleng sodanya. “Mungkin dia sedang berada di kamar Liza. Gadis yang lain sedang bersamanya juga. Mereka sedang menenangkannya.”
Karena sudah larut malam, kami semua menginap di asrama sekolah, termasuk Grisella walaupun dia bukan murid yang diundang. Selain itu, asrama itu terlalu luas meski ada sebelas orang yang menggunakannya.
Bagi kelas elit pun, disarankan untuk tinggal di asrama selama masa pelajaran berlangsung. Aku tidak mengerti kenapa.
Setelah itu, kami terdiam untuk beberapa menit.
Aku membuka minuman kaleng yang diberikan olehnya, dan terdengar bunyi soda yang menguap. Dalam hal ini, aku bukanlah orang yang suka pilih-pilih, apalagi saat ada seseorang yang repot-repot datang mengecekku hanya untuk memberikan ini.
Aku mulai meminumnya.
“Ngomong-ngomong, kau yang melakukan crackingnya atau orang lain?”
“Aku yang melakukannya sendiri. Walaupun aku sempat mendapat masalah di awal-awal. Mempelajari cara melakukan itu tidak semudah yang kukira.”
“Dari tadi siang kau selalu menyombongkan bakatmu tentang psikologi, tapi aku baru tahu kalau kau ternyata pandai di bagian lain juga.”
Aku mengambil kertas berisi daftar murid yang sudah lecek dari kantung celana. Tidak tertuliskan bakat atau informasi spesial yang tertera di dalamnya. Bagaimana cara mereka menentukkan siapa yang akan diundang untuk mengikuti kelas elit?
__ADS_1
“Satu-satunya keahlian yang bisa kulakukan hanyalah mengamati dari jauh. Kenyataannya tidak berbeda dari cara mempelajari sesuatu, hanya saja fokusku sedikit lebih tinggi. Entah sejak kapan otakku bisa menangkap suatu pergerakkan dengan cepat dan detil.”
“Intinya dengan itu, kau bisa melakukan dan mempelajari apa pun. Itu seperti bermain curang dalam game?”
Tolong, jangan bandingkan dunia asli dengan game.
Oliv datang ke sini bukanlah sebuah kebetulan. Dia bahkan duduk di sebelahku dan menengguk minuman dengan santai. Raut wajah itu menunjukkan senyum kecil. Rasanya sungguh aneh, dia ingin terus duduk di sampingku meskipun tak ada sesuatu yang menarik di sini.
Dan … aku bukanlah orang bodoh yang tidak peka akan hal itu. Sudah pasti gadis yang duduk di sebelahku ini menungguku untuk mengatakan sesuatu.
Aku menghela napas.
“Oliv,” sapaku lembut memanggil namanya. “Apa menurutmu aku harus minta maaf?”
Ini semua karena Liza mencuri kalimatku saat si orang luar terungkap identitasnya.
“Hmm …” Oliv tidak menunjukkan reaksi pada pertanyaanku. Satu-satunya yang ia tunjukkan adalah wajah penuh kebosanan. Itu mengingatkan tentang diriku.
Aku menunggu jawaban. Bahkan sampai kaleng minuman miliknya kosong dia masih tetap terdiam. Untuk pertama kalinya aku merasa canggung.
Selang beberapa menit, Oliv menghela napas dalam. Wanita itu melempar kaleng minumannya ke tempat sampah yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat kami berdua duduk.
“Kau tahu …” Oliv melempar pandang pada purnama untuk melihat langit malam yang ditabur bintang. “Untuk apa bertanya padaku jika kau sudah tahu jawabannya.”
Haah …
Oliv melanjutkan ucapannya, “Tidak ada yang salah dengan meminta maaf setelah melakukan kesalahan. Justru akan lebih baik kalau kau melakukan itu, apalagi jika kau melakukannya dengan sengaja.”
“Memangnya karena apa?” Mungkin karena lelah, Oliv menurunkan bahunya. “Kau ingat? Kau juga hampir membuatku dipecat hari ini. Jadi, kau juga harus minta maaf padaku. Bukan hanya aku atau Grisella saja, tapi yang lain juga.”
“Ya, ya. Tentu saja.” Suaraku mulai tidak peduli.
Nadanya terdengar bahwa ia benar-benar kesal hari ini.
Aku beranjak dari kursi dan berjalan beberapa langkah. Aku merenggangkan tubuh, merasakan dingin angin yang masuk lewat pori-pori hingga menusuk tulang.
Aku kembali mengingat sesuatu yang terjadi di masa lalu.
Kenapa aku melakukan ini?
“Ini semua karena ada seorang gadis yang mencoba untuk mengejarku.” Tanpa sadar aku tersenyum. Aku kembali melihat langit sekali lagi. “Karena dia, aku bisa melakukan hal ini.”
“Huh? Apa-apaan itu?”
Dari nada suara, sepertinya Oliv tidak mengerti.
“Aku penasaran, kenapa mereka yang tidak berbakat terkadang tidak diberi kesempatan sama sekali? Kenapa mereka yang tidak berbakat harus dibedakan dengan orang-orang yang berbakat?”
Aku membalikkan posisi tubuh untuk menghadap Oliv yang masih duduk di tempatnya. Aku melempar senyum, sebuah senyum yang sama seperti saat sudah ketahuan beberapa jam lalu. Jarang-jarang aku bisa menikmati hal yang seperti ini.
__ADS_1
“Jika kau bertanya seperti itu …” Oliv menunjukkan ekspresi ragu. “… aku juga tidak tahu.”
Aku mengambil surat putih milikku yang kutaruh di kantung baju.
“Oliv, apa aku bisa memberikan surat ini pada Grisella agar dia bisa diterima di sini?”
“Hmm, kau ingin memberikannya?” Oliv bertanya balik padaku. “Aku ragu kau bisa melakukan itu. Tapi, jika bisa pun, itu artinya kau akan dikeluarkan.”
Aku tahu betul kenapa Grisella terobsesi untuk mencari diriku yang merupakan si penipu. Di antara kami semua, dialah orang yang benar-benar ingin mencari si penipu dan orang luar di saat yang bersamaan.
Karena dia tidak berbakat, dia ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu agar dirinya tidak meragukan kalau dia bukanlah orang luar.
Karena dia tidak berbakat, dia ingin merasa diakui bahwa tanpa bakat pun dia benar-benar diterima di sekolah ini.
Dan, mungkin … di saat yang bersamaan Grisella juga ingin mengalahkanku untuk pertama kalinya.
“Kalau begitu, bagaimana jika ada satu murid tambahan yang akan hadir di kelas elit?”
“Perasaanku mulai tak enak.”
Ekspresi wajah Oliv menjadi sedikit ketakutan.
“Berhenti berprasangka seolah kau bisa membacaku seperti buku!” cetusku padanya.
“Aku memang tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku tahu kalau kau sedang membuat rencana untuk melakukan hal yang aneh lagi.”
“Begitukah? Aku hanya berpikir untuk berdiskusi saja.”
“Berdiskusi?” Oliv terlihat bingung. “Berdiskusi dengan siapa?”
“Ya siapa lagi kalau bukan dengan pihak sekolah. Tidak, orang yang mengundang kami itu pemerintah bukan? Mungkin mereka juga.”
Bahasa tubuhnya meragu. “Uh, ha-hanya berdiskusi saja, bukan?”
“Jika mereka menerima proposalku secara langsung. Tentu saja, iya. Tapi, jika tidak mungkin aku juga akan melakukan hal yang lainnya.”
“Firasat semakin buruk. Kau tahu, aku bisa saja dipecat hari ini. Jika kau melibatkanku lagi, aku pasti akan benar-benar dipecat.” Ia menutup mata, seakan menahan tangis.
“Tenang saja. Kali ini aku tidak akan melibatkan siapapun.” Untuk sesaat aku terdiam, menggaruk kepala sedikit bimbang. “Yaa, mungkin nanti.”
Aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti.
Akan tetapi, jika aku memang ingin mencoba mengancam pihak sekolah, aku tidak bisa melakukannya sendirian. Jika aku benar-benar ingin melakukannya, mungkin aku akan perlu sedikit bantuan.
Tentu saja orang biasa tidak akan bisa. Karena itu, mungkin aku harus meminta tolong pada beberapa orang yang ada di sini.
Aku meregangkan tubuhku sekali lagi.
“Bukankah tempat ini benar-benar hebat?” ucapku dengan senyum lebar. “Rasanya aku selalu dibuat takjub dengan sekolah ini.”
__ADS_1
***