
***
Asrama punya tiga lantai. Lantai satu biasanya digunakan untuk berkumpul. Ruangan utamanya cukup besar. Ada tiga sofa mengelilingi meja panjang dan tv lcd besar yang terpasang di dinding. Jika ingin pergi ke kamar atau ke luar, semua orang pasti melewati ruangan ini.
Lantai dua khusus untuk kamar laki-laki, sedangkan lantai tiga untuk perempuan. Masing-masing ada enam ruangan. Di setiap lantai ada dua kamar mandi, jadi jumlahnya ada enam. Tidak ada dapur di asrama, tapi Oliv bilang lain kali kita bisa makan di kantin sekolah.
Liza bilang Grisella tidak dikeluarkan. Aku tidak ingat melihatnya ketika pergi ke aula, jadi mungkin dia ada di lantai tiga. Liza juga ada di lantai tiga, jadi mengunjunginya sekarang bukan pilihan yang tepat. Selain itu, aku tidak tahu kamar Grisella yang mana.
Aku masuk ke dalam salah satu kamar kosong.
Saat menyelesaikan masalah kasus orang luar kemarin, semua orang berada di sekolah sampai malam. Kami diberi izin untuk menginap di sini.
Sebuah ranjang rapih, lemari baju, meja dan kursi belajar, yang terakhir sebuah komputer di sudut ruangan. Ada juga pendingin ruangan. Di dalam lemari, ada seragam sekolah yang sudah disiapkan. Sedikit mengejutkan karena ukurannya pas.
Grisella tidak akan dikeluarkan. Itu bukan informasi yang bisa didapatkan siapa saja. Mungkin … karena ini aku tidak merasa senang sama sekali.
Aku berbaring di atas kasur.
Dari mana Liza bisa tahu? Bagaimana caranya?
Sesuatu berdering.
Rasanya aneh ketika kehilangan waktu dengan cepat hanya karena mencoba mencari sedikit ketenangan dengan berpikir.
Pesan singkat dari Kivan untuk segera datang ke kelas. Upacaranya sudah selesai. Setelah bolos lalu muncul di kelas rasanya sedikit tidak nyaman, tapi apa boleh buat.
Keluar dari asrama, aku melihat beberapa orang berseragam sama denganku berjalan-jalan. Jumlahnya tidak banyak. Beberapa dari mereka memandangaku. Pasti karena aku baru keluar dari bangunan berlantai tiga di belakangku.
Kelas yang kutuju ada di bangunan utama lantai satu.
Liza berdiri di depan pintu. Selain itu, ada dua orang lagi. Oliv dan Grisella juga. Apa yang mereka bertiga lakukan? Selain itu, kenapa Liza dan Grisella bisa sampai duluan?
“Kenapa kau lama sekali?” gerutu Oliv. “Cepat masuk ke dalam!”
Haruskah aku minta maaf ke Grisella sekarang? Ugh … Oliv sepertinya ingin mengatakan sesuaut yang penting. Mungkin nanti jauh lebih baik.
Liza yang pertama masuk, kemudian Oliv dan Grisella, lalu aku.
“Kalian semua sudah bertemu dengannya kemarin. Jadi, aku tidak perlu mengenalkannya lagi,” ucap Oliv dengan nada terbebani. “Grisella, ada yang ingin kau katakan?”
Benar-benar seperti perkenalan murid baru. Setidaknya, Liza tidak bohong.
Aku duduk di kursi baris kedua. Semuanya benar-benar ada di dalam kelas.
“Hehehe … t-tidak ada.” Grisella tertawa. Ia menggaruk pipinya yang memerah sambil memalingkan pandangan.
Melihat senyum bodohnya itu, rasanya sedikit membuatku lega. Seringai yang sama seperti ketika kita mengelilingi sekolah berdua. Memilih Grisella sebagai orang luar memang tepat.
“Karena suatu alasan, Grisella akan menetap di kelas ini. Artinya dia salah satu dari murid kelas elit. Ada yang keberatan? Atau pertanyaan? Selagi kondisi hatiku sedang baik, mungkin aku akan menjawab pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan masalah sekolah.”
Seseorang—Rise mengangkat tangan.
“Seandainya ada yang keberatan, apa akan ada bedanya?”
“Tentu saja, tidak ada bedanya,” jawab Oliv enteng. “Ini keputusan dari hmm, atasan. Jadi menunjukkan rasa keberatan padaku tidak ada gunanya sama sekali.”
“Yah, tentu saja!” Rise menurunkan tangan.
Aku bisa melihat jelas ekspresi sesalnya karena sudah bertanya. Yah, yang namanya pendapat terkadang memang tidak penting.
“Grisella kau boleh duduk.”
Grisella mengambil tempat yang paling dekat darinya, bersebelahan dengan Erlin. Kelasnya berisi tiga puluh pasang kursi dan meja, jadi tidak sampai setengah yang terisi. Aneh kita bisa dapat kelas kosong seperti ini.
“Aku punya tiga pengumuman penting di sini. Namun, sebelum itu, untuk menjelaskan statusku di sini bukan hanya bertindak sebagai pengawas, tapi juga sebagai wali kelas, meski posisiku bukan guru asli di sini. Ugh, aku harusnya memberi tahu ini kemarin. Menyebalkan sekali mendengarkan kalian menggunakan namaku untuk memanggilku.” Oliv mengeluh. “Kembali ke tiga masalah yang kukatakan. Yang pertama adalah ketua kelas—”
“Aku menunjuk Steven,” potong Liza secepat kilat. Ketika aku menengok, tangan gadis itu sudah menunjuk seorang pria.
“Aku menolak!” balas Steven tanpa ragu.
Reaksi mereka berdua terlalu cepat.
“Aku belum selesai bicara!” Dahi Oliv berkerut. “Kelas kalian sedikit berbeda dengan kelas yang lain. Ketua kelas sebenarnya tidak terlalu diwajibkan, tapi akan ada beberapa kasus atau masalah di mana pembagian informasi sangat penting nantinya. Ketua kelas ada atau tidak, yang paling penting aku ingin masing-masing dari kalian mengambil tanggung jawab yang sama ke depannya. Mengandalkan ketua kelas di kelas ini sepertinya kurang ideal. Aku juga tidak suka menunjuk orang untuk melakukan sesuatu.”
Oliv berhenti. Ia memperhatikan kami semua. Mungkin maksudnya menunggu jika ada yang ingin bertanya.
__ADS_1
“Kalau begitu, masalah ketua kelas kuserahkan pada kalian semua.” Oliv tersenyum. “Yang kedua adalah OSIS. Aku ingin ada perwakilan setidaknya satu atau dua orang ikut serta sebagai anggota OSIS. Penerimaan anggotanya dimulai bulan depan, jadi tidak perlu terburu-buru.”
Mata Oliv terarah pada gadis yang tangannya berada di langit. “Rise lagi? Ya, apa?”
“Kenapa OSIS?”
“Karena OSIS ikut terlibat hampir dalam semua kegiatan sekolah. Dalam keadaan tertentu, OSIS bisa memberi keuntungan lebih pada kelas ini. Aku juga ingin kalian ikut berpartisipasi dalam kegiatan utama sekolah secara langsung. Hmm …”
“Memberi keuntungan? Terdengar seperti … kelas kita meraih suatu tujuan. Oliv, kenapa kelas Elit dibuat? Lalu, bagaimana cara penyaringan muridnya? Pasti ada tujuannya ‘kan?” sambar Drian bertubi-tubi .
“Aku selalu penasaran, kenapa kalian bisa bicara sesantai ini dengan orang yang lebih tua?” Senyum Oliv menghilang. “Membicarakan keuntungan, aku hanya ingin kelas ini menjadi yang terdepan. Coba kalian cari arti kata ‘Elite’ di kamus. Orang-orang terbaik atau terpilih, memiliki derajat tinggi, dipandang! Hebat bukan artinya? Apa gunanya punya nama, tapi jika tidak digunakan. Untuk sisa pertanyaanmu, kuserahkan pada imajinasimu! Selanjutnya!”
Mungkin, ini hanya perasaanku, tapi mood Oliv sepertinya menurun.
“Seandainya kegiatan OSIS bentrok dengan kelas, mana yang harus didahulukan?” Kivan menutup pertanyaan dengan menurunkan tangan.
Aku belum pernah ikut OSIS. Kegiatan OSIS di SMP selalu diutamakan atas apa pun. Mereka dibebaskan bolos kelas, atau kegiatan yang lain. Walaupun begitu, para guru biasanya memberi nilai tambah pada mereka. Jujur saja, itu sedikit tidak adil.
“Kegiatan kelas selalu didahulukan.” Oliv menengok kiri dan kanan. “Kalau tidak ada yang ingin bertanya lagi, berikutnya adalah pembagian kelas.”
“Pembagian kelas itu maksudnya apa?” Steven terkejut. Nada bicaranya sedikit tinggi.
“Hmm … pembagian kelas?” gumamku reflek. Aku sama terkejutnya dengan yang lain.
“Sama seperti yang kukatakan tadi. Pembagian kelas. Memangnya kalimat itu punya dua arti?”
Aku ikut mengangkat tangan. “A- aku juga tidak mengerti. Kalau ada pembagian kelas, terus gunanya kelas Elite itu apa?”
“Hmm, ada yang tahu setiap angkatan ada berapa kelas?”
“Lima,” jawab Kivan.
“Murid kelas Elite akan dibagi jadi lima, kemudian lima kelompok itu akan masuk ke dalam kelas yang berbeda. Karena jumlahnya ada sebelas, satu kelompok ada yang isinya tiga orang.”
Pertama kalinya aku dengar hal ini. Serius, gunanya kelas Elite apa, kalau kita semua akan dibagi-bagi?
“Ini sedikit mendadak. Kenapa baru sekarang dikasih tahu?” Steven melanjutkan pertanyaan.
“Mendadak? Ini hari pertama sekolah. Wajar kalau aku memberi tahu kalian sekarang. Baru satu hari kenal, kalian sudah sedih ketika dipisahkan. Kalian semua terlalu khawatir. Tenang saja, pembagian kelasnya hanya berlaku satu bulan saja. Setelah itu, kelasnya akan disatukan kembali.”
“Iya, hanya satu bulan.”
“Rasanya sedikit tanggung. Kenapa hanya satu bulan?”
“Aku ingin kelas kita terhubung ke setiap kelas yang ada, setidaknya satu angkatan. Semakin banyak orang yang kalian kenal, semakin bagus. Tujannya hampir sama seperti bergabung dengan OSIS. Aku berharap kalian bisa membuat teman sebanyak mungkin. Ada lagi?”
Oliv menunggu.
“Sebenarnya, masih ada beberapa informasi yang harus ku jelaskan. Tapi, karena aku sudah berjanji hanya tiga, kurasa ini cukup. Nanti, akan ku beritahu kelompoknya. Aku masih ada urusan.” Oliv meninggalkan kelas.
Oliv pergi, tapi … tidak menjelaskan apa yang harus kita lakukan setelah ini. Nanti akan ku beritahu, artinya menunggu tanpa kejelasan. Bukan berarti aku sibuk, tapi karena tidak ada kegiatan sama sekali, jadi sedikit bingung mau melakukan apa.
Mengingat kejadian murid tambahan, yang namanya perkenalan sudah tidak penting lagi.
Suasananya tidak sehening itu, tapi gesekan kursi yang disengaja sangat terdengar. Daniel keluar kelas melalui pintu yang sama dengan Oliv. Entah ia akan pergi ke mana. Sangat sulit berbicara dengan Daniel. Aura di sekitarnya menjelaskan kalau dia tidak ingin didekati.
Aku berdiri mendekati Grisella yang sedang duduk.
“Yoo …” sapaku pelan memasang wajah kaku.
Tidak ada yang salah dengan meminta maaf. Namun, membayangkan sesisi kelas memperhatikanku, jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
“Hmm, Ray? Ada apa?” Grisella menoleh, tapi tidak lama. Matanya tidak tertarik sama sekali.
Apa dia masih marah? Atau sedih? Mungkin juga dua-duanya? Aku dengar dari Oliv, semua perempuan mencoba menenangkan Grisella semalaman.
“Aku minta maaf untuk yang kemarin. Aku melakukannya sedikit berlebihan. Maksudku… ugh, bukan berarti aku ingin memojokkanmu atau semacamnya, hanya saja—”
“Permintaan maaf, ditolak!” potong Grisella bernada rendah. Gadis itu berdiri. Kami saling berhadapan. “Tidak mungkin aku memaafkanmu begitu saja ‘kan?!” Dia menunjukku dengan jari telunjuk, membuatku mundur beberapa langkah.
Setidaknya bersikap biasa aja. Kenapa dia ingin sekali menarik perhatian? Ekspresinya bahkan lebih serius dibanding saat dia mencoba memecahkan kasus murid kesebelas kemarin.
“Jika maaf cukup, apa gunanya penjara?”
Aku mencoba bersikap serius, tapi membawa kata penjara ke dalam pembicaraan ini membuat isi pikiranku jadi sedikit berubah.
__ADS_1
“Tolong jangan bawa kata penjara.” Aku menghela. Mungkin ini akan jadi sedikit ekstrim, tapi sesekali tidak akan jadi masalah. “Kalau begitu ehm, aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan, tapi hanya satu kali saja.” Aku mengangkat tangan, mengeluarkan jari telunjuk.
“Hmm… Ray, kau yakin?” Grisella menurunkan pundak. Mimik wajahnya berubah. Ia terlihat bimbang.
Grisella masih punya akal sehat. Aku percaya, kalau dia tidak akan meminta atau menyuruhku sesuatu yang aneh. Kuharap begitu.
“Tambahan … permintaannya harus yang masuk akal.” Hanya untuk jaga-jaga saja. Aku membuat wajah serius. Sudah lama aku tidak setakut ini.
“Hmm … apa aku harus menggunakannya sekarang?”
Semakin banyak waktu yang diberikan, semakin banyak permintaan yang bisa Grisella pikirkan. Mendesaknya jauh lebih baik.
“Pembagian kelasnya besok. Aku tidak yakin kalau kita akan masuk ke kelas yang sama. Kalau bisa sekarang. Mungkin, sampai sore ini.”
Aku membalikkan badan, Grisella menarik perhatianku kembali.
“S-sebentar… yang barusan itu cuma pertanyaan biasa. Aku tidak bilang aku tidak ingin menggunakannya sekarang. B-beri aku waktu sebentar.”
Rumit sekali. Setidaknya, berhasil.
Grisella memejamkan mata. Cara ia berpikir membuatku sedikit takut.
“Jus.”
“…”
“Aku ingin kau membelikanku jus apel yang dijual di mesin minuman.”
Ooh, gadis ini lumayan baik juga ‘ya?
“Hanya itu?”
Aku tidak keberatan jika hanya membeli satu atau dua minuman kaleng. Harganya tidak terlalu mahal. Jaraknya juga tidak jauh. Akan tetapi, apa ini sudah cukup untuk menebus semuanya? Grisella sampai menangis di depan umum kemarin.
“Mau gimana lagi? Aku tidak bisa memikirkan permintaan yang lain.” Grisella kaget. “Tunggu sebentar. Kau yang ingin meminta maaf, kenapa jadi aku yang terdesak untuk memilih?” Grisella kesal. “Jangan bilang ini rencanamu untuk membuatku bingung?!”
Yup, benar-benar rumit.
“Kalau begitu aku teh. Rasa tidak penting, yang penting dingin.”
“Eh?!” Aku memutar kepala.
“Aku sama dengan Grisella.” “Kopi?” “Tolong air putih dinginnya juga.”
“T-tunggu sebentar!! Kenapa kalian juga?” Ini sudah di luar batas namanya.
“Apa? Kau punya masalah?” Rise berdeham. Dengan suaranya yang tajam, gadis itu menarik semua pandangan. “Sepertinya ada yang lupa, kenapa kita bisa sampai bermalam di asrama sekolah!”
S-sebentar…! Kenapa jadi ikut marah?
“Tidak adil jika hanya Grisella saja yang mendapat perlakuan spesial. Kau juga harus meminta maaf kepada semua orang yang ada di sini?” “Setuju.”
Kenapa jadi aku yang tersudut?
“Selagi ada waktu kosong, mungkin aku bisa menyebutkan satu-persatu masalah yang disebabkan karena ulahmu itu. Mungkin butuh waktu, tapi aku yakin semua orang di sini akan senang untuk mendengarnya.”
Pelajaran pertama, jangan buat Rise marah.
Ini pertama kalinya aku meminta maaf dengan serius. Kenapa jadi begini? Yah, terserahlah.
Grisella jus apel. Ini mudah. Steven teh dingin. Aku tidak tahu di mesin minuman ada atau tidak. Kivan bilang terserah apa saja, asalkan dingin. Air putih tidak apa ‘kan? Aku harus menghemat. Erlin tidak menggunakan mesin untuk berbicara. Jika aku membaca gerakan bibirnya, ia minta kopi. Liza susu. Aku tidak terkejut. Niki terlihat bingung, jadi Grisella menyarankan jus apel. Drian minuman yang bersoda. Luna jus strawberry. Dan yang terakhir…
“Rise … kau mau apa?”
“Aku ikut.”
“Huh…?” Ini di luar dugaan.
“Kenapa sampai terkejut seperti itu?” Rise mendekap.
Setelah menyudutkanku, sekarang dia ingin mengikutiku. Ya, tentu saja boleh. Bisa bahaya seandainya Rise bersemangat kembali seperti barusan. Membawa sembilan minuman sekaligus pun rasanya berat, Rise ikut mungkin bukan hal yang buruk.
Setelah mencatat semua pesanan dalam kepala, aku meninggalkan kelas bersama Rise.
Rise pernah bilang, karena ekspresi wajahnya selalu buruk dan cara bicaranya sedikit kasar, banyak orang yang salah paham. Aku tidak tahu faktanya, tapi tidak ada yang buruk dari menerima bantuan seseorang.
__ADS_1
***