
***
Aku benci matahari. Kulitku sensitif. Jantungku lemah. Napasku sering. Kepalaku sering pusing. Aku tahu tubuhku yang salah,tapi aku tetap membenci benda itu. Benda yang bertindak sebagai sumber kehidupan.
Apa aku aneh?
Suara langkah kaki mendekat. Tiga? Tidak, totalnya ada empat orang. Jam berapa sekarang?
Aku meraih ponsel yang ternyata mati. Aku … lupa untuk mengisi dayanya. Kalau diingat-ingat, kapan terakhir kali aku menyentuh ponsel? Yah, kurasa ini yang terjadi jika aku dirawat selama dua tahun di rumah sakit.
Dari cahaya yang masuk melalui jendela, mungkin jam enam atau tujuh pagi. Tidak biasanya aku bangun sepagi ini atau aku … memang tidak tidur? Tidak terlalu penting.
Aku menghela. Pintu terbuka.
Empat orang masuk ke dalam ruangan. Satu suster yang biasa merawatku, sisanya tiga orang berjas yang tidak ku kenal. Dua pria dan satu wanita. Umur kedua pria itu mungkin sekitar empat puluhan, lalu si wanita … hanya sekitar dua puluh.
Suster meninggalkan ruangan.
“Hmm … siapa? Ini … bukan waktu untuk berkunjung.”
Salah satu pria duduk di kursi. Sisanya berdiri di sampingnya. Pria itu menyerahkan surat berwarna biru. Setelah itu, mereka menjelaskan maksud kedatangannya. Mengundang orang sepertiku yang setiap hari harus dirawat di rumah sakit … untuk pergi ke sekolah.
Tidak masuk akal.
“Kenapa aku?”
“Ada orang yang merekemendasikan dirimu. Dia ada di sekolah yang sama denganmu.”
Sampai mencariku hanya untuk ini, serius sekali mereka ini. Kedudukan, kuasa, ilmu, dan yang lainnya, aku yakin mereka punya itu semua. Mereka seharusnya tahu kalau kondisi tubuhku sangat buruk. Dokter bahkan sudah menentukan kapan waktu kematianku.
“Siapa orangnya?”
“Namanya Neru Nakasa.”
Aku menurunkan pundak. Tiba-tiba aku jadi tegang seperti ini? Di saat aku pikir sudah bersembunyi dengan baik, ternyata dugaanku salah.
***
“Aku keluar dari sini!” Daniel yang mengenakan jaket ungu sudah berdiri di depan pintu. Ia benar-benar keluar. Setelah itu, satu-persatu yang lain ikut keluar meninggalkan aula.
“L-Liizaaa?!! A-apa yang harus kulakukan?!” Suara Oliv dari ponsel.
Setelah semua orang meninggalkan aula, aku memutuskan untuk menghubungi Oliv. Bukan pilihan yang tepat.
“Bagaimana kalau aku sampai dipecaat?!” teriak Oliv sehingga aku harus menjauhkan ponsel dari telingaku. “B-bantu aku!”
Pertama kali kita bertemu di rumah sakit padahal dia selalu tenang-tenang dan lumayan bisa diandalkan.
“Oliv, tenang sebentar!” Aku menarik napas perlahan. “Jawab baik-baik pertanyaanku. Apa hanya aku saja yang bertemu dengan kalian tiga saat dikirimi surat?”
“Eh, uuh … iya. Selain kau, seharusnya suratnya dikirim ke kotak pos atau diletakkan di depan pintu begitu saja.”
“Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Aku menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam kantung jaket.
Aku tahu kalau Oliv orang yang ceroboh, tapi sebenarnya saja ini sudah keterlaluan. Dia juga bilang kalau dia akan mengeluarkan saru orang secara acak jika orang luarnya tidak ditemukan. Sejujurnya saja … dia tetap akan dipecat seandainya dia berani melakukan itu.
Masalah murid kesebelas … Tidak sulit untuk mengetahui siapa yang memegang surat palsu, tapi bagaimana cara membuatnya, itu yang harus kucari tahu. Seharusnya, selain aku ada orang lain yang menyadari surat palsunya juga.
Aku bergegas keluar dari aula.
Cahaya matahari menusukku bagai jarum. Oliv memilih waktu yang buruk untuk mengumpulkan semua orang. Namun, jika aku tidak membantu menemukan orang luarnya, aku akan ikut repot nantinya.
Sepuluh menit berjalan, istirahat, sepuluh menit berjalan, istirahat, sangat menyebalkan punya tubuh yang sangat lemah seperti ini. Aku juga tidak membawa air.
Aku bersandar pada tembok sambil memejamkan mata. Meski berada di bawah bayangan, kehangatan matahari masih bisa menyentuhku. Mungkin, harusnya aku tidak keluar aula.
“Kau tidak apa-apa?”
Suara yang tidak asing membangunkanku. Aku membuka mata untuk melihat siapa orangnya.
Kalau tidak salah namanya, “Kivan Yudhistira?”
__ADS_1
Beruntung. Orang yang ku cari datang sendiri.
“Melihatmu mengeluarkan aura positif seperti itu, sepertinya aku tidak perlu khawatir.” Kivan tersenyum kecil. Pria itu berdiri di sampingku seolah menunggu sesuatu. “Ada yang ingin kau tanyakan?”
“Mataku sedikit sensitif kalau terkena cahaya. Aku hanya ingin memastikan satu hal,” ucapku datar. “Surat yang palsu itu … warnanya abu-abu?”
“Hmm …” Kivan mengangguk.
Seperti yang aku duga. Kivan tahu. Hanya untuk berjaga-jaga, aku bertukar nomor dengan Kivan.
“Yah, itu cukup.” Aku bangkit dengan usaha yang lumayan. “Ngomong-ngomong, kau ingin ke mana?”
“Tidak ada tujuan khusus, tapi aku baru ingin mengecek asramanya. Mau ikut?”
Aku menggelengkan kepala. Masih ada yang harus ku lakukan.
“Begitu, ya? Hmm, meski aku tahu surat siapa yang palsu, aku tidak bisa berperan sebagai detekrif. Semoga berhasil.”
Kami berdua berpisah.
Aku mendekati mesin minuman. Ini pertama kalinya aku membeli dari mesin minuman. Hmm … bagaimana cara menggunakannya?
Seseorang menarik pergelangan jaketku. Tubuhku hampir di ambang batas. Sulit rasanya untuk merasakan hawa kehadiran orang lain. Terutama, jika orang itu tipe yang tidak pernah membuat suara.
Erlin Talitha, salah satu dari dua gadis terpendek. Tas merah mudanya sangat mencolok. Warnanya … sangat menganggu. Namun, dia menolongku membeli minuman dari mesin minuman. Bukan hanya itu, dia juga mengajariku bagaimana cara menggunakannya.
“Makasih Erlin,” ujarku.
Sekali lagi, aku beristirahat. Kali ini, tidak sendirian. Erlin menemaniku. Meski Erlin bisa berbicara, dia lebih memilih berkomunikasi menggunakan mesin ketik. Kenapa? Yah, aku belum cukup akrab untuk berani menanyakannya. Sedikit merepotkan, tapi apa boleh buat.
“Erlin … kau ini pandai menggunakan mesin ‘kan? Ada yang ingin kutanyakan?”
“??” Erlin memiringkan kepala.
Aku meminta tolong untuk mengeluarkan laptop miliknya. Ketika di aula, aku belum yakin,tapi setelah memahami cara berkomunikasinya, aku segera tahu kalau isi tasnya adalah laptop.
Erlin menggunakan wifi sekolah agar bisa terhubung ke internet. Situs utama sekolah, itu tujuanku. Beberapa daftar yang ku perhatikan seperti tahun lahir, alamat, alumni, dan berbagai macam lainnya. Menarik kesimpulan dari hal yang sudah ku pelajari, sangat mudah.
Untuk membuat surat palsu, kau harus melihat isi surat yang asli. Setelah si pelaku mendapat surat yang asli, foto, lalu mengirimkan surat itu kepada Grisella di hari yang sama. Kenapa dia mau melakukannya sampai sejauh itu? Yah, bagi orang yang kegiatannya hanya tidur di rumah sakit setiap hari, mustahil aku akan mengerti.
“Erlin, apa ada tanda-tanda situsnya sudah diretas?”
Erlin menggelengkan kepala. Tidak tahu? Atau tidak diretas? Membingungkan.
“Bagaimana dengan cara lain? Contohnya … masuk sebagai admin?”
“...” Erlin terdiam.
Oliv bilang situsnya diretas dan diubah. Namun, tidak ada kejelasan sedikit pun dari mana Oliv mendapatkan informasi itu. Jika pelakunya masuk menggunakan akun admin, mungkin tidak akan ada buktinya sama sekali. Pelakunya sudah ketahuan, jadi kurasa tidak penting caara dia mendapatkan ID dan Passwordnya.
Aku memperhatikan Erlin. Mata gadis itu bergetar, seolah bertanya ‘ada apa?’ Aku tidak membenci sifatnya yang diam. Akan tetapi, perilakunya pasti akan membawa masalah kepada dirinya sendiri.
Gadis itu tak pernah berbicara. Lumayan mengerti tentang mesin dan program. Membawa laptop ke mana-mana. Sangat mencurigakkan. Dia jadi tipe kandidat utama yang akan dicurigai oleh orang-orang. Aku penasaran, apa dia akan berbicara ketika dirinya disudutkan nanti? Memberinya sedikit petunjuk mungkin akan berguna.
Aku memberi tahu Erlin kalau pelaku dan orang luarnya adalah orang yang berbeda. Erlin menyangkal, tapi setelah ku berikan beberapa alasan, dia jatuh hening. Tidak percaya, tidak apa. Selama dia memikirkan informasi yang ku berikan, itu sudah cukup.
Aku berpisah dengan Erlin.
Berjalan-jalan sendirian rasanya jauh lebih nyaman dan tenang, tapi … sedikit sepi juga. Mengingatkanku kondisi rumah sakit. Keluargaku jarang mengunjungi, bukan berarti mereka tidak peduli. Justru, aku yang meminta seperti itu.
Punya tubuh lemah itu … sangat merepotkan … orang lain bukan?
Entah sudah berapa lama, tapi rasanya entah kenapa semakin. Haus! Tidak ada seorang pun. Ugh, mesin minumannya … ada di … ada di seberang?! Kenapa?
Aku menghela.
Dokter bilang, aku masih punya beberapa tahun lagi. Hanya terkena matahari sebentar, bukan berarti aku akan mati. Paling buruk … hanya pingsan. Kivan dan Erlin, mereka berdua sangat baik. Aku yakin semua orang yang dipilih pun adalah orang yang baik. Jika aku pingsan, pasti ada yang akan menolongku.
Hmm …
Mungkin … berjalan di bawah bayangan awan bukan ide yang buruk.
__ADS_1
…
Gagal. Pada akhirnya, aku terjatuh karena pusing. Setidaknya, delapan puluh persen tubuhku tertutup. Hangat. Panas. Aku terbakar.
Entah berapa lama aku terbaring. Sepertinya ada dua atau tiga orang yang lewat. Mengingat kondisi tubuhku yang seperti ini, wajar saja jika tidak ada yang ingin menolongku. Menyalahkan orang lain rasanya tidak benar. Aku juga tak ingin membenci diriku, jadi aku membenci matahari.
“Hallo … apa kau baik-baik?”
Akhirnya …
Grisella dan … mereka berdua bersama? Kenapa?
***
Mereka berdua membawaku ke tempat yang lebih sejuk. Aku juga dapat minuman gratis. Walaupun dia si membuat surat palsu, dia juga orang baik. Atau ini salah satu akalnya agar tidak dicurigai? Jelas tidak mungkin. Setidaknya, aku tidak jadi mati.
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan?”
“Kami sedang mengumpulkan semua orang. Aku pikir akan lebih baik kalau kita semua membicarakan masalah ini sekali lagi,” ucap Grisella lembut.
Cara Grisella mengucapkannya sedikit familiar. Sensasi yang sering ku rasakan. Berusaha sekeras mungkin untuk tegar, tapi mulutnya bergetar ketakutan. Grisella selalu menjadi yang kedua. Dirinya adalah orang luar, tapi sebisa mungkin ia tidak ingin mengakuinya.
Sering sekali berjumpa dengan orang seperti itu di rumah sakit. Kanker, diare, malaria, HIV, berpikir dan berucap bahwa semuanya akan baik-baik dengan sabar, tapi yang mereka lakukan hanya menyangkal kenyataan.
“Kami sudah menyelamatkanmu, jadi sebagai ganti, aku ingin kau ikut dengan kami dan bantu kami menyelesaikan masalah ini.”
“Tapi …” Aku menundukkan kepala. Orang sepertiku hanya akan menyulitkan orang lain.
“Tidak ada penolakan. Lagipula, kami hanya perlu mencari satu orang lagi. Semakin cepat masalah ini selesai, semakin bagus!”
Hmm … kalau begini, aku jadi tidak enak jika harus membuka kedoknya. Untuk saat ini, mungkin menurut akan lebih baik. Aku juga penasaran, apa yang akan mereka berdua lakukan?
Kami bertiga berhasil menemukan Nikita Karin. Gadis berambut pirang. Orang luar negeri asli? Tapi, bahasa indonesianya fasih. Yang lebih penting lagi, diskusinya jam empat. Sekarang jam berapa?
Aku memeriksa ponsel. Ada pesan dari Kivan.
‘Aku sudah bertemu dengannya. Jangan terlalu serius memikirkan masalah ini.’
Ada makna lain di kalimat singkat itu. Cepat atau lambat, kasusnya akan terbongkar dengan aku terlibat atau tidak terlibat. Maksudnya … menyerahkan diri? Aku belum pernah melihat atau mendengar ada pelaku kejahatan yang menyerahkan diri ke kantor polisi sebelumnya.
“Kau dituduh menjadi salah satu dari tersangka si penipu itu!” Grisella menunjuk Nikita dengan jari telunjuk. Matanya bersinar. Pertama kali aku menyaksikan orang penuh semangat seperti ini, meski aku tidak paham kenapa Grisella melakukan hal konyol seperti itu.
Niki sangat ketakutan. Dia ingin mengehentikan Grisella, jadi aku menarik sedikit bagian bajunya. “Tunggu sebentar.”
Mata Niki berputar-putar. Tangan dan kaki gadis itu bergetar. Cara bicaranya yang gugup sangat mengkhawatirkan. Niki menangis.
Selain kematian … memangnya ada yang lebih ditakuti dari itu?
“Bukankah ini sudah cukup?” ucapnya.
Aku melepas peganganku. Dia menghentikkan Grisella.
“Kau membuatnya menangis barusan.”
“Karena inilah kau membosankan. Padahal aku sedang bersenang-senang.”
Bersenang-senang? Begitu, ya.
Memalsukan surat. Mengantar surat kepada Grisella. Memalsukan data pada situs sekolah. Lalu berjalan-jalan di sekolah seolah seperti tidak tahu apa-apa. Semuanya hanya untuk bersenang-senang?
Aku sedikit mengerti sekarang. Ketika orang-orang melakukan hal yang mereka sukai, mereka akan melakukannya dengan sepenuh hati. Kemudian, setelah puas mereka akan berhenti. Apa itu maksud Kivan dari menyerahkan diri? Aku hanya perlu membuatnya puas, lalu semuanya akan berakhir.
Dari melihatnya saja, aku tahu bahwa Grisella yang paling berusaha keras. Dia berkeliling sekolah mengumpulkan semua orang untuk kembali. Berpikir keras memilih metode untuk menyelesaikan masalah. Menyangkal keraguannya dengan berjalan ke depan.
“Maaf, Grisella.”
Bagiku yang sejak awal sudah tahu siapa pelakunya, pertama kali aku merasa bersalah sampai sebesar ini. Hanya karena aku menahan diri, orang lain sampai menangis. Masalah Oliv sudah tidak penting lagi kalau begini.
Grisella menangis. Ia menjatuhkan buku catatan miliknya, kemudian berlari meninggalkan ruangan.
Aku harus berdiskusi dengan Oliv setelah ini.
__ADS_1
***